Lanun Alang Tiga, Cermin Semangat Perjuangan Dalam Bingkai Sejarah: Catatan Riki Utomi (Bagian-1)

117

Kita patut menyambut gembira dengan hadirnya novel bertema sejarah Lanun Alang Tiga karya Datuk Seri Lela Budaya Rida K Liamsi ini. Setelah sukses dengan masterpiece-nya Bulang Cahaya, kini hadir kembali dengan karya terbarunya yang menggugah. Datuk Rida memang sangat piawai dalam menggali sejarah ke dalam karya prosa fiksi yang memikat; berkesan, memotivasi, menginspirasi, dan memberi kontribusi besar bagi masyarakat Melayu, baik di Riau dan Kepulauan Riau, juga umumnya masyarakat Melayu di Indonesia bahkan sampai negeri jiran, Malaysia. Novel yang sarat nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal Melayu ini, menurut saya, mampu menjadi barometer untuk kembali mengenang tentang betapa besarnya, gagahnya, dan mulianya kita (bangsa Melayu) pada masa lalu. Tentu bukan hanya besar, gagah, dan mulia secara kekuasaan namun juga dalam kekuatan melawan kezaliman penjajah (Belanda).
Melalui pembacaan novel ini kita dapat mengetahui bahwa sejak dahulu, sebelum terbentuk NKRI, Belanda telah kemaruk dan menyusah di tanah Melayu; selalu berusaha ingin mendapatkan apa-apa yang bukan miliknya dan lebih parah ingin mencampuri urusan kerajaan-kerajaan Melayu dengan menekan para sultan dalam perjanjian-perjanjian tertulis. Hal itu menunjukkan bangsa asing begitu masif ingin mendapatkan apapun di bumi Melayu ini. Tetapi, tentu hal itu tidak serta-merta mereka dapatkan dengan mulus, meskipun jalan licik melewati perjanjian-perjanjian penandatanganan secara politis itu dilakukan dengan petinggi kerajaan. Sebagian dari kaum bangsawan kerajaan yang memang menaruh kebencian terhadap kaum kolonial tersebut akan bersikeras untuk berontak dengan menyimpan persiapan-persiapan untuk melawan, seperti ibarat “menyimpan api dalam sekam”. Untuk itulah tidak jarang terjadi pertempuran dahsyat yang merugikan pihak penjajah. Ini menunjukkan bahwa sejak dulu bangsa Melayu telah memiliki karakter sebagai manusia-manusia tangguh dalam berperang, selain juga rasa kesetiaan dalam menjaga resam dan marwah adat untuk dijunjung tinggi yang tidak rela diinjak-injak oleh kekuasaan bangsa asing.
Lihatlah betapa seenaknya saja Belanda mengatakan bahwa kerajaan Melayu sebagai “negeri pinjaman” yang bilamana sewaktu-waktu terjadi pembangkangan diantara para sultan akan diambil alih oleh pihak Belanda. Hal ini—seperti pula yang digeramkan oleh para sultan dalam cerita ini—membuat saya pribadi sebagai pembaca juga menjadi ikut geram. Hal ini dapat kita tinjau dari ungkapan Sultan Mahmud Muzaffar Syah pada 1841 yang di nobatkan menjadi sultan yang baru menggantikan ayahnya yang wafat.

“Beta paling sakit hati dengan isi perjanjian ini yang mengatakan bahwa negeri kita ini sebagai negeri pinjaman. Padahal ini negeri milik nenek moyang kita, orang Melayu yang didirikan dengan darah dan air mata. Gara-gara kita cuai dan kalah dalam berunding, lalu penjajah Belanda itu dengan senang lenang merampas kedaulatan kita dan mengatakan negeri kita ini milik mereka dan kita cuma meminjam. Kalau bisa beta rampas! Besok pagi pun beta rampas!” (hlm. 167-168)

Berita Lainnya

Bisa-bisanya bangsa kaum kafir laknatullah itu berkata begitu! Dan kita sebagai pemilik sah tanah ini, bangsa ini, akan mudah saja diambil oleh mereka? Nauzubillahiminzallik! Namun sebagai pembaca, rasa geram saya itu terobati juga karena dibuat kagum oleh perjuangan sebagian besar para sultan baik dari bangsa Melayu sendiri dan dari Yang Dipertuan Muda belah Bugis dengan para pengawal-pengawal setia mereka untuk mempertahankan marwah. Lihatlah, betapa gigihnya para lanun Tempasuk menghancurkan Belanda di Tanjungpinang, lalu mereka membantu Sultan Mahmud Riayat Syah membangun istana di Daik, Pulau Lingga untuk menjadikan pusat pemerintahan. Juga betapa gigih dan setianya kepada sultan dari sosok Tengku Sulung sebagai panglima besar Reteh yang mengabdi kepada Sultan Lingga. Begitu pula ayahnya Tok Lukas yang juga senantiasa setia kepada sultan. Mereka sebagai sosok pemberani menentang kezaliman penjajah.

“Yang Dipertuan Besar Mahmud Muzaffar Syah telah dimakzulkan oleh Belanda. Pihak Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga tidak berdaya melawan dan terpaksa mendukung Belanda. Beta tidak mau menyembah raja lain, selain Mahmud dan keturunannya! Yang menggantikannya, bapak saudaranya, Tengku Sulaiman. Kita harus membela Baginda Mahmud karena dialah yang telah menyelamatkan kita, orang-orang Iranun dari kejaran Belanda. Dialah yang telah memberi kita negeri tempat berpijak dan beta telah berjanji akan membela Baginda Mahmud sampai mati. Besok kita membuat kubu yang baru dan bersiap perang. Kita pindah ke Sungai Batang. Di sana ada tempat yang bagus, menghadap ke Kuala Indragiri. Kita boleh menanti Belanda dan sekutunya, Sultan Riau, di sana. Kalau takdir kita harus mati, biarlah kita mati secara terhormat. Pantang kita bangsa Iranun ini bertekuk lutut pada penjajah!” kata Panglima Besar Sulung memberi tahu para pengawalnya. Kemudian mereka bersumpah untuk sehidup semati. (hlm. 178-179).
***
Novel Lanun Alang Tiga karya Datuk Rida ini bukan sebatas mengisahkan unsur-unsur sejarah saja, tetapi juga unggul dalam mengisahkan tokoh-tokoh utamanya sebagai sosok dengan karakter kuat dalam menjalani hidup. Masing-masing tokoh mampu menunjukkan karakternya yang khas. Nadin Sukmara dalam novel ini sebagai seorang wartawan Suara Borneo di Sabah, Malaysia, menjadi tokoh sentral yang mengawali kisah novel ini. Setelah berhasil menuliskan berita tentang sepak terjang suku Iranun, ia disokong pihak redaksi untuk mengadakan penelitian dan peliputan khusus tentang hal itu ke Riau dan Kepualaun Riau. Kebetulan karena ia sendiri juga keturnan Iranun, begitu pula Pemimpin Redaksinya. Maka ia pun pergi dari Sabah menuju Pekanbaru. Dimana dalam perjalanannya mengumpulkan bahan berita selama sebulan itu ia ditemani oleh Profesor Kazzai seorang ahli sejarah dan Mustam seorang wartawan tempatan yang senantiasa menceritakan tentang sejarah kaum Iranun yang telah memencar kemana-mana pada seantero jagad Melayu ini.
Novel ini dikisahkan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, yaitu pengarangnya sendiri. Sehingga secara garis besar pengarang dapat bebas dan leluasa mengisahkan tentang segala tokohnya baik dari sosok Nadin dan lainnya, maupun tokoh-tokoh masa lalu dalam sejarah, seperti para Sultan dan orang-orang kepercayaannya. Secara jauh, novel ini mampu diungkapkan secara lihai oleh Datuk Rida dengan segala konflik yang melanda para tokohnya.
Mengangkat sejarah masa lalu ke dalam karya fiksi memang tidak mudah. Sejarah masa lalu yang memang pernah ada terjadi di negeri Melayu ini merupakan harta yang tidak ternilai bagi kita sebagai generasi masa kini. Hanya melewati orang-orang yang memiliki kecerdasan dalam mengolah imajinasilah yang mampu meresap kembali nilai-nilai resam itu dan mengungkapkannya untuk dijadikan kisah spektakuler dalam bentuk karya sastra. Maka Datuk Rida, hemat saya, merupakan salah seorang yang luar biasa dalam menggali khazanah sejarah itu untuk dapat kita nikmati kembali saat ini.
Lihatlah betapa runtut kisah yang dipaparkan tentang bagaimana kehidupan pada masa kerajaan itu. Jalinan yang selaras dari sejumlah tokoh dari berbagai kerajaan Melayu di Riau maupun di daerah lain yang juga saling terpaut. Hal ini diperkuat oleh angka tahun yang runtut dan jelas melatarbelakangi setiap peristiwa penting pada masa itu. Dijalin pula oleh konflik, baik internal maupun eksternal dari kaum-kaum elit bangsawan Melayu dengan pihak Bugis atau juga dengan pihak Belanda. Tidak luput kisah-kisah terjadinya sengketa yang saling berebut kekuasaan dalam menggantikan kedudukan sebagai pucuk pimpinan negeri hingga berakhir pertikaian sesama anak negeri. Namun pula kadang kala dapat diredam oleh jalinan tali perjodohan antaranak bangsawan untuk kembali merekat persaudaraan antarsesama puak agar tidak larut dalam sengketa berkepanjangan. Ya, selain dengan mengangkat tombak dan menghunus keris, juga dengan jalan pernikahan dalam menjaga pertalian persaudaraan itu mampu dirasa menjadi jalan tengah agar dapat menepikan keegoan masing-masing pihak yang memiliki kekuasaan.
Ketertarikan dari dua insan seperti yang terjadi pada Tengku Maimunah, anak gadis Tengku Yahya yang menyukai Tok Lukus pengawal setia kerajaan juga dirasa memiliki jalinan persebatian untuk mempererat antara bangsa Iranun dengan kaum bangsawan Melayu. Meskipun sebelumnya terjadi konflik batin di pihak Tengku Yahya karena masalah perbedaan derajat, karena Tok Lukus berasal dari kaum bajak laut.

“Apa Ayahanda tidak malu bermenantukan Raja Lanun? Raja perompak?” tiba-tiba Tengku Maimunah berkata dengan suara serak, sambil memandang ayahnya. Tapi ayahnya tersenyum, “Apa yang salah? Apa yang sumbang? Moyang kita dulu, Raja Kecik atau Abdul Jalil Rahmat Syah, pada mulanya sebelum menjadi Sultan Johor, juga seorang bajak laut. Tapi dia berdarah Melaka. Darah Bukit Siguntang. Malanun itu bukan mencari hidup, tetapi salah satu cara merebut yang hak. Hak kita raja-raja Melayu. Cuma caranya melalui cara bajak laut untuk mengumpulkan harta dan pengikut. Datuk ananda dulu, Sultan Ismail juga merayau sampai ke Siantan. Bukan mencari makan, tetapi mengumpulkan kekuatan untuk merebut kembali tahta Kerajaan Siak. Yang mengatakan kita ini jahat, musuh-musuh kita. Hanya Belanda. Mereka orang asing. Ini bukan kampung halaman mereka. Mereka itu yang merampas hak kita. Mereka juga datang dengan perahu perang, jauh dari negeri orang putih dan mereka itu sebenarnya yang bajak laut. Merompak negeri kita. Raja Laut, merampas hak orang lain. Sama, tinggal siapa yang mengatakannya. Siapa yang berkuasa,” Tengku Yahya memberi tahu anaknya, apa yang dia pikirkan, bagaimana sikapnya jika sampai anaknya menikah dengan Tok Lukus. (hlm. 232-233).

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan