Sastra bukanlah hal baru, karena sastra sudah dikenal sejak dahulu. Bahkan pada zaman dahulu sastra dibuat sebagai media ajar atau menyampaikan sesuatu. Karya sastra apapun bentuk dan jenisnya tidak akan pernah terlepas dari penulis dan pembaca. Keduanya memiliki hubungan yang erat dalam pemaknaan sebuah karya sastra. Seorang penulis membuat sebuah karya dengan berbagai pertimbangan, meramu ide menjadi sebuah karya utuh bukanlah pekerjaan yang mudah. Penulis tentu harus mengumpulkan data dengan melakukan riset maupun membaca banyak referensi agar karyanya logis dan realistis. Hal ini tentu sangat berguna agar karya yang dihasilkan tidak cacat logika namun tetap memiliki nilai estetis. “Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni.” (Wellek & Warren, 1990:3). Pernyataan tersebut menguatkan pendapat bahwa karya sastra hanya dapat dihasilkan oleh orang-orang yang kreatif.
“Kegiatan sastra memerlukan tangan yang lasak dan hati yang gelisah. Ini adalah konsekuensi dari pada sikap kreatif.” (Hamidy, 2002:1). Secara umum sebuah karya sastra adalah hasil imajinatif seorang penulis, tetapi meski demikian karya sastra tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat sebagai konsumen atau penikmat karya tersebut. Sebuah karya sastra akan berhasil apabila mendapat tempat di hati pembacanya, menjadi sesuatu yang dipikirkan atau direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, karya sastra erat hubungannya dengan masyarakat dan nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat tertentu.
Hal tersebut tergambar pada cerpen Perkara Sebilah Pisau, karya cerpenis Riau, Ahmad Ijazi. Sebuah cerpen sederhana yang dikemas dengan apik dan bahasa yang menarik sehingga mampu menarik perhatian pembaca. Membaca cerpen ini kita seperti dipaksa untuk berpikir apa yang sedang terjadi dan konflik apa yang dialami tokoh? Ijazi begitu cerdas mempermainkan perasaan pembaca sehingga secara sadar maupun tidak akan berpikir tentang makna Perkara Sebilah Pisau tersebut.
Akan tetapi meski berhasil menarik perhatian pembaca, cerpen ini juga menunjukkan pada kita bahwa menggali makna untuk mendapatkan amanat yang ingin disampaikan penulis tidaklah mudah. Ada banyak nilai yang bisa digali pada karya sastra ini. Oleh karena itu, sebagai pembaca dan penikmat saya merasa pendekatan mimetik dan psikologi sastra adalah pasangan serasi dalam mengkaji cerpen Perkara Sebilah Pisau ini.
Seperti kita ketahui, mimetik adalah tiruan atau imitasi. Hal ini terlihat pada cerpen Perkara Sebilah Pisau yang mengangkat permasalahan yang sangat sederhana tetapi justru kesederhanaan inilah poin pentingnya. Dalam cerpen tersebut, kita dapat melihat tokoh utama yang diciptakan penulis merupakan gambaran kebanyakan generasi sekarang yang menganggap budaya atau kebiasaan orang-orang tua dulu adalah sesuatu yang tidak terlalu penting dan terlalu berlebihan. Kebiasaan ini tentu berbeda dengan keadaan sekarang yang semua serba instan. Tidak hanya karakter tokoh, konflik yang ditawarkan dalam cerpen ini pun bukan lah sesuatu yang baru, konflik yang mengangkat tema budaya sudah sering kita baca tetapi istimewanya cerpen ini menyajikannya dengan sangat cerdas dalam bentuk tulisan yang sangat menarik.
Konflik yang ada dalam cerpen ini sering terjadi dalam dunia nyata, bagaimana generasi sekarang memandang budaya, bagaimana mereka menyikapinya semua di kemas dengan sangat apik. Hal ini bisa kita lihat pada dialog si Ibu, “Pisau adalah simbol kekuatan tenaga dan pertanda kita ada. Jika kau tak datang membawa pisau, maka kau tak pernah ada di mata orang-orang.” Dialog ini sarat dengan makna, ada petuah yang luar biasa di dalamnya. Salah satunya adalah, hal sederhana yang menurut kita tidak penting ternyata bisa membawa dampak besar pada diri kita, inilah sebenarnya yang ingin disampaikan oleh penulis. Mari sejenak kita kembali ke masa lalu ketika gotong royong merupakan hal yang biasa, ketika kita bergabung maka kita akan diingat oleh kerabat maupun tetangga. Semakin sering kita ikut kegiatan masyarakat maka kita akan semakin dianggap penting terlepas dari siapa kita dan apa status social kita di masyarakat. Keadaan ini tentu sangat berbeda dengan sekarang, gotong royong sudah tidak terlalu penting, sepertinya budaya ini mulai tergerus zaman. Masyarakat kita lebih memilih cara cepat dan terkesan individualis. Tokoh Neina sangat menggambarkan keadaan ini. Sedangkan tokoh ibu, mewakili keadaan di masa lalu.
Selain pendekatan mametik, melihat karya ini dari sudut psikologi sastra juga sangat menarik. Seperti yang dijelaskan oleh Minderop dalam bukunya Psikologi Sastra bahwa menikmati sebuah karya baik itu novel, drama, puisi atau cerita pendek berarti bergumul dengan para tokoh dan penokohan dalam karya tersebut. Para tokoh rekaan ini menampilkan watak atau prilaku yang terkait dengan kejiwaan dan pengalaman psikologis atau konflik-konflik sebagaimana dialami oleh manusia di dalam kehidupan nyata.
Pada cerpen ini konflik utamanya bukanlah pada pisau Ibu, bukan juga pada kehilangan pisau, melainkan pada rasa bersalah tokoh Neina pada tokoh Ibu. Perasaan bersalah yang muncul karena telah menyembunyikan pisau Ibu, ini dapat kita lihat pada teks, “Kata-kata itu menerorku sekaligus memukulku ke sebuah tempat yang hening; yang tidak ada apapun.” Teks ini menjelaskan pada kita bahwa tokoh Neina merasa sangat bersalah pada Ibu. Rasa bersalah yang sangat dalam, dilihat dari kata “hening”, pilihan kata tersebut tentu menggambarkan rasa bersalah yang luar biasa. Dialog pada bagian akhir semakin menjelaskan tentang perasaan Neina, “Mana pisau? Mana Ibu?”
Perkara Sebilah Pisau, merupakan cerpen yang sangat menarik, meski demikian setiap karya memiliki kekurangan demikian juga halnya cerpen ini. Terlepas dari bahasa yang menarik, tokoh dan penokohan yang berkarakter, konflik sederhana tapi memikat cerpen ini memiliki kelemahan pada bagian alur. Alur yang diciptakan belum terlalu kuat untuk menjadi sebuah cerita. Ketika membacanya kita seperti berada pada tiga kotak yang hampir tidak bersinggungan, yaitu bagian pertama tentang persahabatan, kedua tentang pisau dan Ibu, ketiga tentang Neina dan rasa bersalahnya. Seperti ada sekat atau jarak diantara ketiganya. Akan tetapi meski demikian penulis berhasil menciptakan sebuah karya yang menggugah dan sarat makna.
Reni Juniarti, M.Pd. Guru Bahasa Indonesia SMKN 4 Rambah. Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Rokan Hulu. Ketua Divisi Penulis Komunitas Lenggok Media Production.