Membaca sejumlah puisi Saini Km tak ubahnya membaca sebuah hikayat yang bersumber dalam referensi sejarah budaya umat manusia. Saini Km laksana sang nakhoda mengajak dan membawa para pelayat berpesiar ke lautan. Penumpang diajak singgah ke pulau demi pulau yang akrab dengan pengalaman penumpangnya sendiri. Syahdan, sang nakhoda pun bercerita tentang pengalaman personalnya yang menciptakan pengalaman korelatif dengan orang lain.
Saini Km telah membuat pilihan gagasan dan sikap pemikiran untuk menghadapi kenyataan yang nyaris tidak sama dengan kebenaran hati. Beberapa puisinya yang cukup kuat mewakili sepilihan puisi (Editor, Agus Sarjono, Rumah Cermin, 1996) ini ialah Imam Besar yang menceritakan mitos pemimpin yang menetapkan benar – salah melalui fatwanya. Namun, selaku manusia sang imam tak luput dari kesilapan dan merasa tetap berada dalam kebenaran dan merasa tetap berhak menetapkan putusan. Para kawula yang berada pada posisi awam yang lemah dan sering tetindas ternyata menyatakan sikap dhaifnya menghadapi palu sang imam. Saini Km menulis:
Atas nama-Nya kau bakar kota-kota, kau cincang bayi,
Dan dengan tangan merah kau sujud pada-Nya
Berkata: “Tuhan, kami hancur leburkan musuhMu!”
Sementara Dia menangis dengan janda dan piatu
Korban telah berjatuhan dan penyair menebus tindasan sang imam dengan baris-baris bait terakhir:
Di rimba rambu-rambu, dalam belantara tabu
Kauasingkan dan kautabiri Dia dari manusia
Yang dicintainya.
la pun lolos dan duduk di tanah
Tersenyum mendengar kata hujatan yang tulus.
Puisi Nina Bobo mengisahkan hubungan antarmanusia yang kental dan bersahaja. Penyair mendambakan suatu pertemuan personal antarmanusia tanpa memperhitungkan untung-rugi, kepentingan yang terselubung bahkan kenyataan yang pahit dan duka.
Wahai, berilah saya bulan, ya bulan dongengan!
Bukan bola cadas yang debunya diusik antariksawan
Didadaku kusemai jua benih mimpi,selagi dunia
Bergegas siuman dalam ambulance, di medan perang
Maka, karena hati tak berpintu dan tiada satu
Dan isinya jadi milik kita, kukatupkan saja
Kelopak mata. 0 berilah saya bantal paha yang lembut
Tempat roh yang lelah dapat meletakkan kepala.
Penyair memberontak dengan segala jubah formal yang dikenakan para pemakainya Puisi yang lain amat menarik untuk disimak adalah, Kepada Perempuan Yang Sedang Tidur. Ada suatu teropong yang digunakan untuk mengungkapkan rahasia perempuan. Mitra lelaki dalam kehidupan yang keduanya saling tidak berjarak dan berahasia. Namun, bagi penyair ada sisi lain yang perlu disikapi secara bijak oleh karena kepedulian dan keperluan manusia untuk memasuki wilayah lain yang bernama kemanusiaan.
Puisi ini mengingatkan kita pada puisi Sutardji yang berbunyi ‘apa guna gunung lambai kalau lambai tak sampai/apa guna peluk diketatkan kalau hati tak sampai’. Dunia fisikal memiliki batas yang tak mampu melampaui dunia batin yang sering mengembara ke daerah-daerah spiritual. Kita turunkan puisi ini secara utuh:
Mawar bibirmu, sejauh dahaga tubuh, menyejukkan
Dengan madu gaibnya.
Namun kita kembali berpisah
Dan walaupun masih berdekapan, saya seorang diri
mengembara di seberang batas tidur – nyenyakmu
Dihimbau cinta yang lain,yang tak kau mengerti
Tapi kaucemburui, lelaki kembali pada dunia
Pada sejarah. Ingin kukatakan padamu, wanitaku
Bahwa atas bantal pahamu saya akan tetap bermimpi
Tentang kehidupan di luar teduh alismu.
Gelisah antara mulut meriam yang memuntahkan kebencian
Dan mulut kanak-kanak yang tak henti-hentinya
Menyanyikan masa depan
Di pelosok bumi yang tak tercapai oleh wangi rambutmu.
Puisi berikutnya adalah rumah cermin yang juga menjadi judul Kumpulan puisi ini (Sarjono, 1996) yang merupakan potret manusia yang berenang dalam lautan kemanusiaan. Keberadaan manusia yang tampil penuh dilematis. Di satu pihak manusia berangkat meninggalkan bumi kenyataan untuk mengembara ke dunia impian sebagai konpensasi atau pelarian. Namun, dari dunia mimpi tidak pula menawarkan suatu terapi penyembuhan diri. Pada bait kedua penyair menulis:
Layu dan pucat bagai bibirmu, pada suatu kali
Walau kini satu-satunya bentuk yang dapat kuhayati
Dalam kemayaan semesta, antara mimpi dan kenyataan
Dua kerajaan yang sama-sama menolak kehadiran kita.
.
Puisi Paradise Lost merupakan puisi yang terindah dalam kumpulan ini. la menampilkan kritik yang lembut namun ironik dan menyindir pemakaian bahasa dan sejumlah kosa kata yang kehilangan dukungan arti. Bahkan kata dalam doa kehilangan nilai dan kekuatannya sebagai alat komunikasi.
Saya pun kembali terbuang dan mengembara
Dalam belantara istilah yang kehilangan arti
Sesat dan buta tuli dalam kelam-kabut perasaan
Mengunyah namaMu, kecut di ujung lidahku.
Demikianlah beberapa nukilan puisi Saini KM seorang penyair dan pernah jadi birokrat seni selaku Direktur Kesenian Direktorat Jenderal Kebuadayaan Indonesia.**
Oman, 12 Oktober 2023