PENTIGRAF : Telentuk – M. Rizal Ical

Telentuk

Semua orang memuji ketampananku. Sangat tampan. Setiap jeling mata para gadis mengisyaratkan kalau mereka tertawan. Bahkan ada di antara mereka secarang berterus terang mengajakku berumah tangga. Mungkin semua terkejut setelah mengetahui kalau sampai saat ini aku belum menikah. Usia sudah kepala tiga. Kacak, tinggi tegap, badan atletis dan punya pekerjaan yang mapan. Lalu kenapa aku belum menikah?

Pernah ada yang tesasul bertanya, bahwa mungkin aku ini sangkan. Tak menyukai perempuan. Pertama-tama marah juga dicakap macam itu, tapi lama kelamaan aku tak kesah lagi. Sudah aku anggap sebagai angin lalu saja. Ada juga yang menyebutkan aku terlampau pemilih, padahal tidaklah demikian. Asal paham agama, sudahlah. Harta dan kecantikan tidaklah menjadi pertimbangan utama. Begitulah bicara orang-orang kampung terhadapku. Dari pada membuang tenaga lebih baik aku menyibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat.

Aku tak tahu mengapa? Sulit hendak dijelaskan. Sangat sensitif sekali. Terbit geram mengkhayal perempuan cantik dengan bibir ranum menggetarkan. Apalagi kalau pergi menghadiri undangan pernikahan. Terbersit hasrat membayangkan malam pertama yang menjadi dambaan dua hati untuk memadu kasih. Pernah aku bayangkan malam sakral itu hingga mukaku memerah pertanda gairah meluap. Aku tentu saja sangat mau melampiaskan. Tapi sayangnya, ketika hasrat memuncak, malah kejantananku telentuk. Tidak memiliki kekuatan bahkan hanya untuk sekadar berdiri tegak.

Kosa Kata Melayu:

Kacak: perawakan tampan

Tesasul: keceplosan

Sangkan: Bencong/homoseks

Telentuk:  lemah syahwat

Bengkalis, 18 Zulkaidah 1442 H

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan