Perjalanan Budaya Tradisional Masyarakat Banua Banjar: Orasi Budaya Rustam Effendi

133

Pendahuluan

Masyarakat Banjar adalah masyarakat yang mendiami kawasan Kalimatan Selatan. Kawasan Kalimantan Selatan yang tidak terlalu luas (38.744 Km2), tidak hanya dihuni oleh masyarakat Banjar, tetapi juga dihuni oleh masyarakat Dayak. Masyarakat Dayak tinggal di sebuah kabupaten di Kalimantan Selatan, yakni Kabupaten Barito Kuala atau Kabupaten Bakumpai. Di samping etnik asli (Banjar dan Dayak), Kawasan Kalimantan Selatan juga dihuni oleh berbagai etnik pendatang, seperti Jawa, Bugis, Madura, Cina, Batak, Minang, dan lain-lain.

Masyarakat Banjar menggunakan sebuah bahasa yang disebut bahasa Bajar. Bahasa Bajar merupakan turunan bahasa Austronesia yang untuk pertama kali, bahasa itu digunakan di kawasan Kalimantan Barat atau Pontianak dan sekitarnya. Dari Kalimantan Barat inilah bahasa Melayu Austronesia menyebar hingga ke Bajarmasin dan selanjutnya menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara.

Bahasa Banjar terdiri dari tiga dialek, yakni (i) dialek Kuala yang digunakan oleh masyarakat Banjar asli di Kota Banjamasin, Martapura, dan Pelaihari, (ii) dialek Hulu yang digunakan oleh orang pahuluan, seperti Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Tabalong, dan lain-lain. (iii) dialek Bukit yang digunakan oleh masyarakat Bukit yang tinggal di gunung dan atau di lereng-lereng Bukit Meratus.

Masyarakat Banjar, seperti masyarakat lainnya, memiliki falsafah hidup, yang falsafah hidup itu mereka gunakan untuk pedoman berpikir, bertindak, dan berbuat. Filsafat hidup itu mereka warisi dari datuk-neneknya sejak berabad-abad yang lalu. Bagaimana filsafat hidup orang Banjar dapat dipelajari melalui cerita rakyat, puisi rakyat (khususnya pantun dan syair), seni pertunjukan, upacara-upacara ritual adat, dan lain-lain produk sastra tradisional Banjar.

Sebuah budaya selalu berlaku pada satu etnik/masyarakat tertentu, kawasan tertentu, dan kurun waktu tertentu. Hampir tidak ada budaya yang dapat berlaku/bertahan melintasi kurun-kurun masa/waktu yang dilakoni oleh masyarakatnya. Dalam perjalanan waktu itu, budaya suatu etnik ada yang bisa dipertahankan, ada yang direvisi atau disesuaiakan dengan kondisi zaman, dan ada yang wajib ditinggalkan.

Bagian budaya yang mampu hidup hingga saat ini dan diupayakan dilestarikan hingga saat-saat yang akan datang merupakan budaya inti suatu etnik atau bangsa. Budaya itu (budaya inti) menjadi identitas suatu etnik dan sekaligus sebagai filter terhadap masuknya budaya asing yang tidak bersesuaian dengan ajaran budaya inti ini. Budaya inti telah terbukti mampu bertahan setelah melewati beberapa zaman. Tugas generasi bangsa adalah menjaga dan memertahankan budaya inti. Budaya inti menjadi identitas atau ciri khas sebagai pembeda antara satu etnik dengan satu etnik yang lain.

Masyarakat dan budaya Banjar paling tidak telah melalui beberapa fase atau zaman, yakni, zaman Prasejarah, zaman Pengaruh Hindu, Zaman Peralihan Hindu ke Islam, Zaman Islam, Zaman Pengaruh Barat, dan Zaman Teknologi Informasi (bandigkan dengan Effendi, 2021:1-30; Deraman, 2001:20-23).

Zaman Prasejarah adalah suatu masa semua masyarakat Banjar tidak mengenal tulisan sehingga peninggalan budayanya hanya bisa terekam melalui tradisi lisan. Budaya yang dihasilkan pada masa ini dapat disebut budaya asli Banjar. Pada masa ini, masyarakat Banjar belum berinteraksi dengan masyarakat luar/asing. Dengan kata lain, zaman Prasejarah bagi masyarakat Banjar adalah zaman sebelum kedatangan pedagang-pedagang Eropah dan Cina ke Banjarmasin.

Zaman Hindu adalah suatu masa kedatangan agama Hindu di tanah Banjar sekaligus budaya Hindu hingga runtuhnya kerajaan Hindu di Banjar. Sebagian budaya Hindu terefleksi dalam cerita rakayat (misalnya Hikayat Lambung Mangkurat) dan puisi rakyat (misalnya Syair Burung Simbangan). Masyarakat Banjar sebaiknya mengetahui bahwa di tanah Banjar pernah berlaku suatu zaman, yakni Zaman Hindu. Zaman Hindu itu sangat lama bertahan di tanah Banjar sehinga sangat susah mengikis habis ajaran Hindu itu di dalam kehidupan berkesenian dan beragama.

Beberapa ciri sastra Hindu adalah: (i) ada benda-benda keramat yang dapat membantu tokoh cerita dan mengawal perjuangannya, (ii) ada tokoh raksasa atau binatang yang ganas, membuat huru-hara, (iii) ada burung garuda yang ganas yang mengancam eksistensi kerajaan, (iv) ada sayembara dan perang tanding yang dilaksanakan oleh raja untuk mencari suami bagi putrinya, (v) ada tokoh yang bertapa untuk memperoleh kesaktian, (vi) ada tokoh cerita yang mati dapat hidup kembali, (vii) ada tokoh yang gaib; gaib merupakan akhir kehidupan tokoh, seerti Lambung Mangkurat, Junjung Buih, dan lain-lain, (viii) ada cerita tentang kutukan yang mengubah manusia menjadi makhluk lain.

Tulisan Terkait

Puisi-Puisi Qinoy

Sastra Zaman Islam dimulai dengan masuknya agama Islam ke tanah Banjar. Masuknya agama Islam sekaligus juga membawa budaya Islam. Dalam sastra Banjar, sastra Islam tergambar dalam banyak cerita Datu, seperti Datu Sanggul, Datu Kalampayan, Datu Baduk, dan lain-lain. Meski demikian, tidak semua cerita Datu menggambarkan sastra bernafas Islam. Salah satu cerita Datu di Tapin menggambarkan seorang Datu yang masih hidup sampai sekarang, Datu itu menjadi urang gaib, dan tinggal di pulau Kadap Tapin. Dengan kata, lain, walaupun cerita Datu yang beragama Islam dan mungkin juga menyebarkan Islam, namun, memiliki ciri ke-Hindu-an maka cerita itu dimasukkan ke dalam sastra Pengaruh Islam (sastra yang mengandung unsur Hindu dan unsur Islam).

Sastra Zaman Peralihan adalah sastra yang ada pada masa permulaan datangnya Islam. Pada masa itu, masyarakat Islam belum mempunyai kebudayaan dan atau sastranya sendiri. Sehingga, untuk mengisi kekosongan, maka sastra Hindu “di-Islam-kan.” Peng-Islam-an cerita (termasuk syair) dilakukan dengan cara menyisipkan nama-nama tokoh yang ada dalam sejarah Islam, seperti Iskandar Zulkarnain, Nabi Chaidir, Ali bin Abi Thalib, dll. Peng-Islam-an itu juga biasa dilakukan dengan menyisipkan kata/frase/kalimat yang bernuansa Islam, misalnya, bismillah, Alhamdulillah, Allah subhanahu wata’ala, dan lain-lain. Namun, seluruh cerita itu adalah cerita Hindu belaka. Contoh yang paling nyata sastra Peralihan adalah mantra yang aslinya (Hindu) tidak menggunakan kata bismillah, tiba-tiba dibuka dengan bismillah dan diakhiri dengan barakat lailaha ilallah.

Zaman Pengaruh Barat adalah zaman kedatangan penjajah dan tulis-menulis atau literasi telah dikuasai oleh sebagian masyarakat Banjar. Pada zaman ini, para misionaris Barat juga menyiarkan agama Kristen/Katolik. Agama Kristen/Katolik dianut oleh sebagain masyarakat Banjar Bukit. Zaman Teknologi Informasi adalah zaman dikuasainya teknologi informasi oleh masyarakat Banjar. Pada masa ini, masyarakat Banjar mulai menulis karya-karya budaya (puisi, prosa, dan lain-lain) melalui media berbasis teknologi.

Zaman teknologi dan informasi adalah masa yang seolah batas wilayah budaya etnik/negeri/negara menjadi tidak jelas akibat kemajuan teknologi dan informasi. Pada masa ini, budaya asing berseleweran di depan setiap mata. Pada masa ini pula, satu etnik yang menguasai teknologi dan informasi akan sangat bebas ‘memasarkan’ budayanya ke etnik-etnik di seantero bumi. Etnik yang menguasai teknologi dan informasi akan menjadi superpower dalam pertarungan budaya, dan etnik yang tidak menguasai teknologi dan informasi serta lemah pembinaan kebudayaannya akan menjadi ‘mangsa’ etnik superpower dan pada suatu saat, etnik yang lemah itu hanya tinggal nama sedangkan isinya (budayanya) adalah budaya penjajah kebudayaan. Mungkin saja, namanya masih “Indonesia” tetapi isi budayanya adalah “Korea.” Mungkin saja, namanya masih Dayak, tetapi isi budayanya adalah Melayu, Mungkin saja, namanya masih Banjar, tetapi isi budayanya adalah “Indonesia.”

Budaya daerah merupakan warisan berharga dan menjadi salah satu modal pembangunan bangsa Indonesia. Kita tidak ingin budaya-budaya dan bahasa-bahasa daerah punah karena higemoni budaya superpower. Karena itu, kita di sini berkumpul, semata-mata untuk mengawal eksistensi keragaman budaya, khususnya keragaman budaya Banjar di Kalimantan Selatan.

Sejak ratusan tahun yang lalu (sejak Sultan Suriansyah berikrar memeluk agama Islam) hingga saat ini, sebagian besar etnik Banjar memeluk agama Islam. Keragaman agama dan kepercayaan di Kalimantan Selatan menambah kedewasaan masyarakat Banjar dalam beragama. Mereka semua rukun dan bahkan bertukar budaya. Tidak jarang ditemui, mantra berbahasa Dayak dan diamalkan oleh Pemantra Dayak beragama katolik/kaharingan, menggunakan kata basmalah. Banjar Islam saat ini melewati berbagai kurun waktu dan setiap kurun waktu itu melahirkan kebudayaan baru. Yang dimaksud kurun waktu di ini, sekali lagi, adalah, kurun animesme, Hindu, Peralihan Hindu ke Islam, Pengaruh Islam, Zaman Modern, dan Zaman Modern berbasis teknologi Informasi.
Dari sisi keyakinan beragama, etnik Banjar memulai kehidupannya dengan berkeyakinan bahwa Tuhan itu ada pada pohon-pohon, batu-batu, makhluk-makluk halus, dan karena itu, mereka meminta rezeki, keselamatan hidup kepada pohon, batu, dan makhluk-makhluk halus itu. Setelah kurun itu, masuk agama Budha dan Hindu. Agama Budha mengajarkan reinkarnasi (penjelmaan), yaitu kelahiran kembali seseorang melalui perjalanan ruhnya. Agama Hindu adalah agama yang mengajarkan adanya kekuasaan tuhan pada segala sesuatu; Atman menurut agama Hindu. Tuhan mewujudkan diri dalam berbagai sifat yang mewakili segala aspek kehidupan nyata, misalnya, Syiwa adalah dewa pencipta sekaligus penari dengan empat tangan, Brahma adalah dewa pencipta, Wisnu dianggap sedang menjaga kelangsungan dunia, dan lain-lain. Menjadi penganut agama Hindu dengan sendirinya masuk ke salah satu kasta (strata sosial). Kasta/strata sosial seseorang ditentukan oleh sikapnya dan merupakan karma dalam kehidupannya sekarang. Setelah kurun kepercayaan terhadap agama Hindu maka datanglah agama Islam yang mengajarkan bahwa Tuhan itu esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada yang menyerupai-Nya.
Sesungguhnya keyakinan beragama inilah yang mendorong dan memandu lahirnya kebudayaan. Hampir dipastikan, kebudayaan yang meliputi kebudayaan fisik dan nonfisik (cara berpikir dan bertindak/berkelakuan) semuanya dijiwai oleh keyakinan beragama. Arsitektur rumah, permainan rakyat, makanan rakyat, nyanyian rakyat, cerita rakyat, dan lain-lain, sadar atau tidak sadar, selalu terdapat hubungannya dengan kaidah kepercayaan atau agama. Arsitektur rakyat selalu ada bagian-bagian rumah yang letak dan cara pembuatannya dengan bentuk dan arah tertentu agar dengan cara itu pemilik rumah dapat hidup tenteram di dalamnya. Permainan rakyat dibuat dengan tidak menyalahi aturan agama dan terkadang ada mantera untuk memulai permainan. Makanan rakyat selalu mempertimbangkan halal dan haram serta berkah. Begitu juga unsur budaya yang lain, selalu dijiwai oleh keyakinan agama. Bila membuat tapai (permentasi ubi atau ketan), di tempat menaruh bibit tapai itu (bakul purun, dan lain-lain.) di tempat menaruh itu diberi tanda tambah + (seperti salib) atau disebut cacak burung oleh orang Banjar.
Pendidikan juga melahirkan budaya. Masyarakat Banjar yang lama terjajah dan tidak terdidik (karena pendidikan tidak difasilitasi oleh penjajah bahkan dihalang-halangi) menyebabkan etnik Banjar menjadi etnik terkebelakang. Masyarakat Banjar pada masa penjajahan adalah masyarakat yang buta aksara dan atau masyarakat yang sangat minim pendidikan. Lembaga pendidikan pribumi juga sangat tidak memadai.

Sekolah pribumi, pesantren, dan sekolah-sekolah nonformal lainnya sangat terbatas dan sangat dibatasi oleh penjajah. Kondisi masyarakat pada masa itu yang minim pendidikan juga melahirkan budaya. Budaya wajib ada tanpa memperdulikan bagaimana dan seperti apa kondisi masyarakatnya karena budaya merupakan keniscayaan dalam masyarakat. Deraman (2001:11) mengemukakan, “Kebudayaan mempunyai hubungan yang amat rapat dengan masyarakat, kerana, kalau tidak ada masyarakat tidak ada budaya.” Budaya yang mereka lahirkan tentu adalah budaya yang sesuai dengan wawasan/pendidikan mereka pada saat itu.
Pada masa lalu, yakni tatkala masyarakat Banjar minim pendidikan formal, maka pendidikan generasinya (dari satu generasi ke generasi) tidak melalui pendidikan formal tetapi melalui sastra, seperti cerita rakyat, ungkapan, peribahasa, teka-teki (cucupatian), syair, pantun, mantra, dan lain-lain. Semua produk sastra itu disampaikan dengan bahasa lisan. Dengan kata lain, pada masa lalu, sastra (cerita dan puisi) adalah lembaga budaya sekaligus lembaga pendidikan.
Mungkin anak muda sekarang menertawakan, mengapa mantra untuk pengobatan atau mengapa ungkapan jangan duduk di bantal kaina babisul digunakan sebagai sarana pendidikan? Jawabnya! Mari kita berandai-andai. Kita hidup 130 tahun yang lalu (karena sastra tradisional eksis dua geneasi yang lalu, jadi, kalau satu generasi 65 tahun, maka dua generasi 130 tahun), dan pada saat itu kita sakit. Pada masa itu, jangankan dokter, mantri pun tidak ada, maka, siapapun waktu itu, akan akan menyerahkan badannya untuk dirawat atau diobati oleh orang yang bernama dukun, tukang mantra, dan lain-lain. Begitu juga tentang pendidikan. Lembaga pendidikan masa itu adalah cerita rakyat, ungkapan, dan belbagai karya sastra tradisional. Karena itu, mari kita apresiasi karya-karya sastra lama/tradisional sebagai bentuk kecintaan kita dan bentuk wawasan intelektual kita yang berbudaya.

Kita semua harus sadar, kita yang ada sekarang bukan tiba-tiba saja menguasai ilmu pengetahuan dan atau teknologi. Kita hidup bertahap melalui fase-fase yang menegangkan. Dari manusia nomaden, berburu, berkebun, berpakaian compang-camping, memegang tombak, panah, berwajah kusut dan lain-lain. Kini kita hidup nikmat setelah fase-fase menegangkan itu. Mari kita hargai pendahulu budaya, nenek-moyang kita, dengan mengenang sejarah hidup dan kehidupan mereka. Selamat ber-Tadarus Puisi dan Bersilaturahmi.

 

Orasi dibacakan di Halaman Kantor Disporabudpar Kota Banjarbaru dalam acara Gelaran Tadarus Puisi Dan Silaturahmi Sastra (TPSS)

Daftar Bacaan

Daud, Alfani. 1997. Islam dan Masyarakat Banjar Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar. Jakarta: PT RjaGrafindo Persada.
Deraman, A. Aziz. 2001. Masyarakat dan Kebudayaan Malaysia Suatu Analisis Perkembangan Kebudayaan di Malaysia. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Effendi, Rustam. 2011. Sastra Banjar; Teori dan Interpretasi. Banjarbaru: Scripta Cendekia.
Effendi, Rustam. 2017. Sastra Banjar Pengaruh Hindu; Syair Burung Simbangan. Pustaka
Pelajar. Banjarmasin.
Effendi, Rustam.2021. Mahilung Bahasa, Sastra, & Budaya Banjar. Jurusan Pendidikan Bahasa
dan Sastra FKIP ULM.
Effendi, Rustam. 2019. Similarities in Textual Contents between Burung Simbangan Poetry
and Siti Zubaidah Poetry. Vol. 9. Num. 9. Pp 1173-1182. September 2019.
http://dx.doi.org/10.17507/tpls
Effendi, Rustam. 2017. Semantic Analysis of River Fauna in Banjarese Proverb, South
Kalimantan, Indonesia. Mediterranian Journal of Social Sciences. Rome-Intaly:
MCSER Publising.
Kawi, Djanter & Effendi, Rustam. 1995. Syair Burung Simbangan. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Eacana Yogya.
Muljana, Slamet. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu – Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.
Noerhadi, Toeti Heraty. 2013. Aku dalam Budaya Telaah Metodologi Filsafat Budaya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ras, Johannes Jacobus. Penterjemah: Salleh, Siti hawa,1990. Hikayat Banjar. Selangor Darul Ehsan: Percetakan Dewan bahasa dan Pustaka.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan