Puisi : Grafitti Muharram – Karya Rida K Liamsi

Grafitti Muharram

Aku menggrafitti lagi namamu di tembok imanku . Masihkah aku ummat mu yang tetap tawadduk ?

Dulu, di Muharram muharram yang dulu
Aku menggrafitti namamu di tembok imanku bersama baris baris puisi yang aku tahu aku malu karena Imanku masih berkecai kecai didera gemerlap dunia yang tak henti menggelapkan ingatanku pada Mu. Meski sujudku masih tiap waktu, tetapi kedaifan ku mengembara dari pintu ke pintu dari ruang ke ruang dan tak pernah dapat menjawab : wahai masa depan , sejarah apa yang akan kutulis bersama gelegak nafsu yang seakan mabuk kepayang ?

Dulu di muharram muharram yang lalu ,
Aku menggrafitti namamu di tembok rinduku meski selalu terjerembab lagi ketika menemukan sesuatu yang berdenyar dalam sepasang mata yang tiba tiba bertanya : adakah waktu bagi kita untuk saling menyapa dan menulis puisi bersama ?

Malam ini di Muharram ini ,
Aku berada pada denting sejarah waktu yang hanya ada sekali sepanjang hayat dan aku mencatatnya dalam gelembung ingat yang sedang larat dan penat. Puisi rasa yang masih terus berkarat

Tanganku gemetar menulis namamu meski hanya sehuruf karena takut akan dihapus rasa malu masa lalu.
Mulutku bungkam menyebut namamu meski hanya sesebut karena takut angin mencuri dan membawanya pergi ke negeri yang tak sanggup aku seberangi
Pikiranku berhenti membayangkan mu karena takut waktu menghitamkan sajjadahku
Jantungku berhenti gemuruh karena takut kealpaanku telah berubah menjadi racun yang sesudu demi sesudu kuhirup dan kubiar jadi rasa riya ku

Malam ini , di Muharram ini, aku menggrafitti nama mu di tembok rinduku dengan sebaris puisi yang tak sesiapa perlu tahu, karena kata kata tak cukup sampai menyimpai taqwa ku . Syahadat ku telah menempuh waktu sepanjang usia ku, sepanjang muharram muharram ku tapi aku selalu ragu : Sudahkah aku menjadi umat mu yang tawadduk ?

2020

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

1 Komentar
  1. MH ABADI mengatakan

    sudahkah aku menjadi umat MU yang tawadduk ?

    oh