Puisi-Puisi Rida K Liamsi (1)

KELEKATU

Kepada : Thab

Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu

Terbang dari lampu ke lampu

Dari pintu ke pintu

Dan akhirnya terdampar di bawah bangku

Tapi tak ada yang menyapa

Tak ada yang bertanya

Kesepian seperti degup maut yang berdetak di ujung

stateskop

Hanya kita yang merasa Aduhai

Aduhai

Aduhai

Hanya kita yang tahu, apa yang tak pernah sampai

Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu

Memandang kilap air dan terhunjam ke batu

Tapi tak ada yang menyapa

Tak ada yang bertanya

Keterasingan seperti sebuah lemari masa lalu tercuguk

di balik pintu

Hanya kita yang merasa kepedihan yang mengalir dalam

kabel lampu-lampu

Hanya Senyap

senyap

Senyap

Hanya kita yang tahu, apa yang tak sempat terucap

Ada ketika kita menjadi seperti kelakatu

Menunggu resa angin, menjadi isyarat musim

Memburu cahaya, dan gugur saat gelap tiba

Tapi kita tak tahu Bila

Bila

Bila

2006

NGUYEN

Selamat malam

Aku mencium rambutmu yang masih bau mesiu

Aku kecup dahimu yang masih rasa asin

Aku lihat di matamu laut yang dalam dan mimpi yang kelam

Dan aku tutup pintu tenda sambil melihat langit, menandai

bintang

Ke mana perahumu akan menyeberang?

Di bibir pantai aku dengar nyanyian

Getir dan sayup

Mungkin dari sela-sela lunas perahu,

Mungkin dari jerigen air, dan sisa layar yang koyak

: Kebebasan itu hak

Kebebasan itu mimpi

Kebebasan itu harga diri yang berdarah jika menyerah

Kebebasan itu lubang kematian yang menunggu saat kau kalah

Kebebasan itu, burung elang yang terbang jauh dan kau duduk

di paruhnya

Selamat malam,

Kulihat kau tak pernah mengeluh

1985

PERJALANAN

Inilah Besitang!

Tak ada suara senapan dan tak ada hardik menjelang sarapan

Tapi mengapa gelisah?

Hutan karet dan sawit diam dalam kelam. Ada sisa hujan

Dari pos jaga wajah letih dan mata yang waspada saling

menyapa

: Apa kabar Jakarta?

Di arah tikungan yang menajam,

Di antara meja teh panas dan kue bolu

Ada puluhan bekas peluru. Seperti lukisan perahu

: Di sini, kemarin, seorang letnan di tembak. Tak sempat

berteriak

Di sini maut singgah seperti jejak seekor biawak

Inilah Besitang!

Ada papan nama dan bendera-bendara

Ada penjaja surat kabar dan kartu telepon genggam

Ada suara kereta dan truk yang lewat

Ada suara senapang dikokang

Ada nasehat: Malam memang bisa sangat kelam

2005

SHANGHAI BABY*

Di Nanjing Luk, ujung semi menyisakan gigil

Plaza basah, sehabis renyai

Dan kau datang dari sebuah sudut yang hiruk

Dari balik trem dan kereta turis

: Sir,

Aku tawarkan sebatang rokok dan sejenak kehangatan

Punyakah anda 100 yuan?

Dingin memang membangkitkan rindu

Denyar lampu di antara taman yang basah

membangkitkan gairah

Dan aku bayangkan kita berdiri

di sisi jendela

di puncak menara

Dan memandang Pudong yang gemerlap dan Yang Tse

yang gelap

Wahai pualamnya tubuhmu dan berahinya parfummu

100 yuankah?

Di tong sampah, selembar koran siang tengadah

: Ini sebuah negeri yang sedang berubah

Harapan memang berdarah. Tapi jangan menyerah!

Itu mungkin hanya suara angin pegunungan yang

bergeser ke lembah

Ayo terus melangkahlah!

Kemarin, di balik kaca bus dari Su Zou

Aku menyaksikan ladang sayur dan danau mutiara

Berombak dan gelisah

Tour Leader cantik bersutera merah menyapa di ekor

mata,

: Jalan tol dan listrik melimpah, membuat cinta seperti

sebuah sedekah

100 yuan kah?

Malam makin larut dan langit seakan keriput

Dari balik patung sang Walikota yang berwajah baja

Kudengar Shanghai bernyanyi: jangan menangis Baby!

2003/2005

*Shanghai Baby, judul sebuah novel karya Wien Hui

SURAT KEPADA GM

Adakah kita masih percaya pada keniscayaan kata-kata?

Di bendul pintu, setiap minggu kau letakkan kata-kata

Dan aku memungutnya sambil beringsut ke jendela

Di luar langit beragam warna, beragam makna

Dan kata-katamu berubah jadi ribuan kata,

ribuan makna,

ribuan warna

Jadi taman,

jadi hutan,

jadi kota,

jadi kita,

jadi KATA

Tapi apakah kita masih percaya pada keniscayaan kata?

Pada hanya sebuah kata?

Di luar orang membawa lembing, membawa belati, dan

meluah kata-kata

Dan kita tak bisa menegahnya dengan bilang: Jangan!

Sabar!

Istighfar!

Seperti kampak, mereka harus menetak

Seperti belati, harus ditikam berkali-kali

Kita ternyata tak bisa bilang KUN!

PAYAKUN!

JABBARKUN!

Kita tak punya kuasa

Kita perlu beratus kata, beribu kata

Pun untuk bilang YA!

Di bendul pintu, setiap minggu, kau letakkan kata-kata

Dan aku memungutnya sambil menatap ke luar jendela

Seperti helai-helai kelopak, aku taburkan kata-katamu

Biar jadi beratus kata, beribu kata, jadi berkata-kata

Hidup ternyata semakin niscaya, semakin tak percaya pada

kata-kata

Pun pada KITA!

2005

SEEKOR LUMBA-LUMBA YANG NGEMBARA

Kepada Idrus

Seekor lumba-lumba yang ngembara dari beting ke beting,

dari teluk ke teluk, satu ketika akan lelah dan mengapung

di puncak alun. Angin timur, alangkah teduhnya. Saat

bermain, mengibas ekor dan menyemburkan pelangi ke

pucuk awan. Saat menikah dan menanam berahi. Saat

langit membentang harap, saat mimpi membentang layar.

Tapi apakah selalu harus berharap?

Di setiap teluk ada pelabuhan. Di setiap teluk ada perahu.

Di setiap teluk ada yang berlabuh. Tapi apakah selalu harus

mengeluh?

Di laut tak selamanya ombak. Di laut tak selamanya

karang. Di laut tak selamanya surut. Di laut tak selamanya

segala mimpi hanyut. Ada yang tersangkut. Ada yang

terdampar. Ada yang jadi lumut, jadi karang, jadi pasir,

jadi badai.

Seekor lumba-lumba yang ngembara, jika tiba masanya

akan ngembara lagi. Bermain ombak, bermain angin,

mengejar laju, memburu rindu. Tapi bilakah akan

terdampar? Bilakah sayap kekar berhenti menampar?

Bilakah ekor liar berhenti melayar?

Seekor lumba-lumba yang ngembara, seperti musim,

sekali datang sekali beredar. Tapi laut tak henti menunggu

kembara membentang layar, kembara menurunkan layar.

Dan kau seperti perahu-perahu yang lelah, kini saatnya

melabuh jangkar.

2004

SUATU SIANG DI JAKARTA

Suatu siang di Jakarta

Aku terperangkap dalam taksi

Jalanan sesak dan kelakson tersedak

Kereta beringsut

Jam berlari

Emosi menari

Nyeri

Lalu lelah

Lelah

Seseorang melintasi jalan

: Air mineral?

Atau lagu dangdut?

Sialan,

Di kota seperti ini

Orang masih bisa memupuk mimpi

2000

DI JABBAL RAHMAH

1

Sehabis tawaf, aku ingat pesanmu, sebelum panggilan terakhir pesawat berangkat: Singgahlah di Jabbal Rahmah. Tulis nama Kita dan berdoalah. Tentang kesetiaan, tentang cinta, tentang harapan yang akan dibawa sampai ke akhir usia.

Sekarang dari Jabbal Rahmah aku kirimkan cerita ini:

Aku sudah menulis nama Kita di pilar kesetiaan itu yang aku tak tahu apakah Adam dan Hawa juga menuliskan nama mereka di sana. Tapi seorang Habsyi, memakaikan aku kapiyeh putih, dan memotretku saat kupahat nama Kita dengan spidol hitam. Syukron! Sekeping polaroid dan seratus riyal bertukar dengus, dan aku akan menyimpannya sebagai ingatan.

Sekarang aku memandang ke puncak pilar yang menembus langit dan berharap dia akan kekal di sana, seperti sebuah jejak, seperti sebuah perhentian, tempat kita membukukan waktu. Tapi aku tak tahu adakah besok nama kita masih ada di sana. Mungkin segera lesap bersama hujan, mungkin terhapus cuaca, mungkin ditelan debu, mungkin ditindih oleh nama-nama baru yang datang bagai deru serdadu yang ingin mencatat gelora rindu mereka di sana.

2

Sekarang aku juga berdoa, sambil memandang langit yang pucat dan siang yang kehilangan cuaca: Tuhan, peliharalah cinta Kami sampai ke batas yang kami bisa menjaganya.

Meski aku tak tahu doa apa yang dipanjatkan Adam dan Hawa di sana dan adakah cinta mereka tetap terjaga menjadi sukma di puncak pilarnya. Karena aku masih mendengar suara zikir, suara ratap, suara desah sedih dan rintih yang tertindih. Juga suara gemetar lutut yang bersujud di teras keras yang bagai tak haus dimakan maksud. Adakah doa yang luput?

3

Sekarang aku memandang ke arah bebatuan hitam yang bertumpuk menyusun jenjang, tempat beribu-ribu harapan dan cemas pergi pulang. Aku dengar desah angin kering yang menyambar padang gersang dan belukar rendah. Suara gesekan dedaunan yang gelisah seakan tak pernah dijamah musim basah. Aku melihat berpuluh puluh unta yang berjubah sedang menggendong harapan, mimpi, dan kesia- siaan berhelah mengelilingi Jabbal Rahmah dan sepasang cinta terduduk di atasnya, seakan tak bersalah.

4

Sekarang, dari Jabbal Rahmah, aku ingat perjalanan bathin ku: Tuhan, di bentangan padang seluas pandang, aku pernah wukuf. Pernah bersujud. Pernah meratap. Pernah pasrah. Pernah menyerah. Tuhan, aku malu …

2007/2008

DAYANG KU LAUT

1

Selagi laut bernama laut

O, Dayang Ku

Selagi masih boleh menyimpai kail

Mengasah tempuling

Mengencang sauh

Memakal sampan

Masih boleh kita menyimpan mimpi

Mencacak pancang

Melepas umpan

Menanda arus

Mencium musim

Menunggu kemejan datang

Menunggu kail mengejang

Menunggu bulan mengambang

Menunggu punggung biru menderu

Menunggu hulu melepas tikam

: Tikam ngidam Dayang Ku

Tikam geram berahimu

Tikam harap kemejanmu

Tikam angit daging salaimu

Tikam rindu, saat kau selak kainmu dan gemuruh malam

Menyambut deraikilaimu

O, Dayang Ku Laut

Selagi laut bernama laut

Selau ada yang hanyut

tersangkut

luput

tak tersebut

2

Selagi laut bernama laut

O, Dayang Ku

Selagi ada surut

Selagi masih boleh kita mengemas ambung

Menajam serampang

Menunggu karang mengerang

Menunggu kisar angin

Menunggu gerak arus

Menunggu saat menikam jejak

Jejak hendak

Jejak tidak

O, Dayang Ku Laut

Dengarlah ratap panjang pepohon setu menunggu pasang

Dengarlah derai camar mencari pantai

Dengarlah kisah si peri bersirip kaki dan berambut gerai

Menyadai dada di tebing aduhai

Wahai, menatap rindu ke bumbung petang

ke kepedihan berahi tak berpantang

O, Dayang Ku Laut

Selagi laut bernama laut

Selalu ada surut

Selalu ada yang hanyut

Luput

Tersangkut

Tak tersebut

3

O, Dayang Ku

Selagi laut bernama laut

Selalu ada pasang

Selalu ada beribu mimpi hanyut

Beribu kata luput

Beribu harap lesap

Beribu haru biru

Maka pasang pun membawa gelombang

Maka pasang pun merendam pancang

Maka pasang pun mengubur jejak, merubuh cacak

Maka hanya ada suara angin

hanya ada desir pasir, menyindir:

Ini lagu Serampang Laut

Layar dikembang, kemudi dipaut

Hidup ibarat pasang dan surut

Ke mana angin, ke situ hanyut

4

O, Dayang Ku Laut

O, pasang

O, surut

O, musim yang kini penuh ingin

Jangan biarkan angin berhenti bermain

Biarkan kami bercakap seperti kerap di tingkap

Tentang karang

Tentang kerang

Tentang setu

Tentang gonggong

Tentang gamat

Tentang segalanya yang segera akan tamat

Akan Tamat!

O, Wahai

O, Wahai Ku

Jangan biarkan Laut Ku kehilangan pasang karena Pasang

Jangan biarkan Laut Ku kehilangan surut karena s-u-r-u-t

Jangan biarkan Laut Ku kehilangan LAUT

Janan biarkan Laut Ku kehilangan DAYANG KU

O, Dayang Ku Laut

2008

Tentang Rida K Liamsi
Rida K Liamsi jika dibaca dari belakang (kanan ke kiri) maka akan muncul nama Ismail Kadir. Itulah nama sebenarnya dari penyair ini. Juga pernah menggunakan nama pena Iskandar Leo. Lahir di Dabosingkep, Provinsi Kepulauan Riau, 17 Juli 1943. Pernah menjadi guru Sekolah Dasar, sebelum terjun menjadi Jurnalis. Delapan tahun jadi wartawan Tempo, lima tahun di harian Suara karya, kemudian ke Riau Pos, hingga menjadi CEO Riau Pos Group (RPG). Kumpulan puisinya: Ode X (1971) dalam bentuk stensilan, Tempuling (2003). Novelnya Bulang Cahaya (2007). Kumpulan puisinya yang terbaru Rose. Mendirikan Yayasan Sagang, di mana sejak 1997 telah menerbitkan Majalah Budaya Sagang. Dan setiap tahunnya, sejak 1996, memberikan penghargaan kepada Seniman dan budayawan, karya-karya budaya, institusi budaya, penelitian budaya serta jurnalisme budaya yang bernafaskan budaya Melayu, yang diberi nama Anugerah Sagang.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan