Kumpulan Puisi Air Mata Musim Gugur Karya Fakhrunnas MA Jabbar (1)

Orang kampung bermimpi tentang Paris
*untuk etienne naveau

kala malam membasuh mimpi
di ceruk kampung
di tanjung kecil
menyorong selat melaka
berdiri aku menatap jauh
nun di sana
paris berkaca-kaca di rindang siang
di kepungan malam dan bintang-bintang
sungguh aku tergagap membaca
angka-angka statistik di kampung kecilku
seketika kuterngaga membilang
julang menara dan syahdu burung bernyanyi
di sana
beda selalu di kampungku

kubertanya terang saja
kubermimpi tanpa maumu
paris mendedahkan eiffel dan le seine
di sepanjang tidur yang tak uingin berakhir
di musim gugur
dan tungku perapian
selalu begitu
aku mengingau di antara kata-kata dan siulan kolibri
paris menyergam
di otak belakangku yang merendam hasrat
sejak jauh
begitulah
aku berterus terang kini
mimpiku berulang datang
di malam dan siang
pada musim gugur ini

jambat kecil tiang bamboo
kecipak laut sunyi
di tiang-tiang penuh teritip
teripang kian jauh
mematah mimpi
membenam sunyi

pekanbaru-paris, 7 0kt 2014

Samudera Kata

katamu
kata-kata diucapkan
suara dilaungkan
katamu
kata-kata rindu pulang
kerja jua menanti
katamu
segala kata dan kerja
bermuarakah di samurera sunyi

milan, 26 okt 2014

Di Milano angin musim gugur masih memburuku

antara malpensa hingga gembara
tak ketemu matahari meski petang masih ada
dingin angin musim tak kunjung diam
masih saja seperti sediakala berebutan mengulur
salam berebutan memburu menyapa

inilah negeri sepakbola dan gaya saat karpet merah
menjajakan langkah dan wangi
meski tak semua lorong kulewati
tersebab jarum jam berputar begitu laju
tak sepandang malam kubisa menyerdu
secangkir kopi espresso yang mungil

hatiku masih saja menggigil
tersebab hawa dingin musim gugur berebutan mengepungku
di dalam mantel dan syal bulu
seperti orang-orang yang lalu lalang di lintasan
kereta pagi dan malam
aku terkesima
aku takjub
selalu takjub pada-Mu
yang menunjukiku masih banyak negeri lain seperti milano ini
penuh warna dan aroma
kupatut bersyukur selalu
masih ada waktu
dan embun yang jatuh terbawa angin musim gugur ini

milano – malpensa, 26 okt 2014

Dan pepohonan pun meranggas

pepohonan
dedaunan dan musim gugur
persebatian tak pernah berakhir sia-sia
Allah mengajariku banyak makna

burung-burung,
embun, mendung dan angin musim
mangabarkanku riwayat hidup yang kian panjang

hingga tiba di sini
pepohonan yang meranggas adalah tamsil kata
begitulah diriku kala diluruhkan
semakin kering dan ringkih
semakin sunyi
semakin renik
dan sembunyi

daun rindang di kala terang
di helai yang wangi kucatat detak jantung dan langkah kaki
ingin kubekali diri agar saat pulang
membawa sesuatu pertanda aku telah merantau lama
dedaunan yang gugur dari pohon yang meranggas
di musim gugur ini adalah
cermin kuberkaca
agar mataku berkaca-kaca
menatap dan membaca
setiap aksara dan angka

schiphol, 25 okt 2014

Penyataan musim gugur

perjalanan
singkat seorang nenek dan cucu itu
terhenti di taman kota
pepohonan tersus saja meranggas
dan daun-daun kering keriting
gugur terjerembab di tanah
sebagian dihempas angin musim meski tak garang

sang cucu trus saja bertanya
kenapa daun-daun berguguran tak sepanjang tahun
padahal daun-daun itu punya nafsu
dan bertahan seperti yang lain
tidak, cucuku, semua daun pasti ada akhirnya
ihwal daun yang berjatuhan
tersebab daun juga ingin istirah
daun-daun itu tak lagi mencatat riwayatnya sejenak
agar ada waktu luang
membilang diri dan waktu yang terbuang
kita pun

saint michel, paris, 7 okt 2014

Belajar sejarah pada batu

sejarah ada di mana-mana
ada di batu
batu tak dam kala kusapa

di antara batu-batu
kubelajar sejarah
ada yang terbantai di kelam waktu
masa lalu
di holocaust memorial ini
kuterkenang segala
kubelajar segala
tak sia-sia
kini

berlin, 23 okt 2014

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan