Puisi-Puisi Kritik Sosial Sejengkal Tanah Kopak (AGUS S. SALAM)

PEKANBARU – TIRASTIMES

PUISI-PUISI  KRITIK SOSIAL SEJENGKAL TANAH KOPAK (AGUS S. SALAM) 

Oleh Husnu Abadi 

(1) Bulan-bulan Oktober dan November ini, negeri ini penuh dengan suasaana yang panas, akibat sejumlah peritiwa politik dan hukum. Disahkannya UU Omnibus Law tentang Cipta Lapangan Kerja, yang berkaitan dengan prosedur proses pembuatan dan substansinya,  reaksi masyarakat atas UU tersebut, deklarasi KAMI di beberapa daerah, penolakan pemberian Bintang Mahaputra , sambutan yang luar biasa atas kepulangan seorang Imam dari Mekkah setelah 3 tahun lebih mengungsi disana, dan seterusnya. Keadaan ini tidak lepas dari perjalanan bangsa ini, ketika negara melaksanakan fungsinya, dari yang seharusnya memberikan kesejahteraan pada sebesar-besar kemakmuran rakyatnya, kepada memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada kaum kapitalis untuk mengeksploitasi semua kekayaan alam negeri ini.  Dari penegakan hukum yang tidak membeda-bedakan antara orang kaya dan orang lemah, kepada penegakan hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Dari penegakan hukum yang harus tegas kepada siapa saja, termasuk kepada mereka yang pro pemerintah, kepada penegakan hukum yang tajam ke kaum pengeritik pemerintah dan tumpul kepada mereka yang penyokong pemerintah. Sejak tahun 1980 an, sejumlah kaum seniman dan buyawan, telah mengambil sikap untuk melakukan koreksi dan kritikan secara terbuka terhadap proses pembangunan ini, yang dianggap tidak memihak pada rakyat banyak dan hanya memanjakan kaum investor. Trilogi pembangunan di masa lalu, telah menomorsatukan pembangunan ekonomi, dan menomor duakan pemerataan. Stabilitas politik harus diabdikan untuk pembangunan ekonomi, dan pengertian pembangunan ekonomi itu harus memberikan karpet merah pada sektor swasta, pada kaum kapitalis,  tanpa terlalu mempertimbangkan nasib rakyat banyak seperti bencana lingkungan, ladang rakyat yang terpinggirkan, bencana banjir dan kekeringan, dan akhirnya menimbulkan akibat lainnya pada proses pemiskinan pada rakyat banyak. Rhoma Irama dalam sebuah syair lagunya merumuskannya dengan …. yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.
(2) Indonesia baru memulai pembangunan secara sistematis dan berencana, pada masa orde baru, yang ditubuhkan pada 1967/1968  atau 1973, bilamana dilihat sebagai permulaan rezim orde baru yang memperoleh legitimasi melalui proses pemilihan umum (1971). Namun sejak awal itu pula, banyak seniman yang melihat bahwa pelaksanaan pembangunan sangat menekan rakyat, baik kebebasan berpendapat ataupun kebebasan berserikat dan berkumpul. Negara melihat, bahwa adanya kebebasan ini sangat menggganggu ambisi negara untuk melasaknakan pembangunan ekonomi atau pembangunan fisik.  Awal orde baru, dimulai dengan memberikan karpet merah bagi pembangunan ekonomi, lewat pemberian jalan lapang  bagi kaum kapitalis, baik kaum kapitalis multi nasional ataupun nasional, dengan munculnya Undang-Undang Penanaman Modal Asing dan kemudian baru setahun kemudian terbit UU PMDN (lihat UU PMA No 1/1967 dan UU No. .. /1968). Walaupun demikian, pada tahun 1974, terjadi peristiwa politik yang sangat penting, yang berkaitan dengan jalannya dan arah pembangunan serta reaksi masyarakat dan mahasiswa yang kritis terhadapnya. Peristiwa itu  kemudian disebut sebagai MALARI. Peritiwa Lima Belas Januari atau pihak pemerintah selalu menyebutnya  Malapetaka Lima Belas Januari. Dominasi penanaman modal Jepang atas pembangunan Indonesia, menyebabkan mahasiswa dan masyarakat harus melakukan koreksi. Namun, kekuatan perusuh berhasil masuk ke dalam demonstrasi mahasiswa, dan kemudian membuat kerusuhan dan pembakaran di Pasan Senin, Jakarta. Akhirnya sejak itu, rezim yang berkuasa semakin repressif terhadap kaum kritis dan juga terhadap para mahasiswaa. Barisan seniman yang antara lain ikut aktif melakukan perlawanan adalah WS Rendra. Dalam sebuah sajaknya, yang ditulis tahun 1974, ia menulis : ……….. Aku mendengar suara/ jerit hewan yang yang terluka/ada orang memanah rembulan/ ada anak burung terjatuh dari sarangnya/ orang-orang harus dibangunkan/ kesaksian harus diberikan/ agar kehidupan bisa terjaga/ Kumpulan puisi WS Rendra yang berjudul Potret Pembangunan dalam Puisi, diterbitkan oleh Lembaga Studi Pembangunan, sebuah LSM yang fokus dalam kajian pembangunan ekonomi, namun kali ini menerbitkan kumpulan puisi. Hal ini menurut LSP,  wajah pembangunan dapat ditampilkan dalam statistik yang dingin, tapi dapat pula ditampilkan dalam puisi yang merekam denyut nadi, tetesan keringat, berkembang biaknya sel kanker dan tatapan mata yang membisu. Rendra menangkap bunyinya dan menggemakannya. Seperti yang dikatakan A. Teeuw  dalam kata pengantar buku ini, bahwa … Pamflet Penyair yang dipublikasikan  di sini bukanlah merupakan program ideologi atau selebaran politik. Tulisan ini adalah pamflet –pamflet seorang penyair; suatu kenyataan yang diimajiinasikan, kesaksian dari kecemasan dan keyakinannya, keresahan dan harapannya, pedih dan cintanya. Dia melihat kehidupan manusia terancam,  daya manusia dikekang, eksistensi manusia terganggu.  Tema dominan-dominan pamflet-pamflet ini merupakan bayangan-bayangan kengerian generasi muda yang tanpa masa depan. Suatu generasi remaja tanpa pendidikan, hal yang sangat memprihatinkan,  tetapi itu bukannya yang terparah.  Saya kutipkan sajak WS Rendra, Aku Tulis Pemflet Ini:  Aku tulis pamflet ini/ karena lembaga pendapat umum/ ditutupi jaring labah-labah/orang-orang bicara dalam kasak-kusuk/ dan ungkapan diri ditekan/ menjadi peng-iya-an/ …/ aku tulis panflet ini/karena pamflet bukan tabu bagi penyair/aku inginkan merpati pos/ aku ingin memainkan bendera=bendera semaphore di tanganku/ aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian/ …/ aku tidak melihat alasan/ kenapa harus diam tertekan dan termangu/ aku ingin secara wajar kita bertukar kabar/ duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju/ kenapa ketakutan menjadi taabir pikiran?/ kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan/ ketegangan  telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka/ 

(3). Riau adalah tamannya para penulis, Bushtanul Khatibin, demikian banyak pengamat melukiskan tentang potensi para penulis di Riau.  Pulau Penyengat, dapat dinilai  sebagai sumur yang tak berhenti mengalirkan air bagi  para penulis. Riau yang terkini terbagi dalam 2 provinsi otonom, setelah kegaduhan di tahun 2001/2002, lahirnya UU No. 25 Tahun 2002, tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau), namun secara kutural merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.  Riau yang merupakan penghasil kekayaan alam yang besar  dan telah dipergunakan bagi pembangunan Indonesia, ternyata masih kategori provinsi yang miskin rakyatnya, termasuk infrastruktur,  baik yang umum maupun yang khusus (pendidikan, kesehatan, perekonomian). Riau bergabung dengan Indonesia selama ini, tetap melahirkan ketidak puasan daerah, yang umumnya juga dirasakan oleh rakyat daerah lainnya seperti Aceh, Papua atau di Kalimantan. Ketimpangam pembangunan bukannya tidak dirasakan oleh para senimannya. Bahkan, bencana banjir, pembakaran hutan yang melahirkan asap, seolah-olah hanya dinilai  ritual rutin yang tak berdampak pada keterpurukan rakyat banyak.  Ediruslam Pe Amanriza melukiskan hal ini dalam puisi Riau:   Di Riau/ banjir jadi pantun sepanjang sungai/ air menjilat lantai rumah kami/ air padamkan api di tungku kami/ air basahkan tikar/ dan bubung dalam kelambukami/ banjir menghanyutkabn mimpi-mimpi kami/ di Riau/ kami tak sempat lagi bernyanyi/ 1978. Ediruslan sebagai penyair,  menggambarkan kesedihan dan kepiluan negeri Riau dengan pemggunaan metafora yang bagus, menyentak dan memilukan, sekaligus semacam suara protes, segalanya telah Riau berikan kepada Indonesia, tetapi apa yang telah Indonesia berikan kepada Riau ?  Puisi Riau ditulis di tahun 1978, ketika rezim Orde Baru masih sangat perkasa, dan sangat repressif, dan Riau menjadi korban ketidak adilan yang dilakukan pemerintahan republik ini.  Bagaimana suara penyair ini, setelah reformasi, 1998, ketika rezim negara telah berkurang garangnya terhadap daerah-daerah, namun masih tetap menyisakan kesombongannya pada daerah –daerah ? Sidang pleno Kongres Rakyat Riau yang diadakan pada 1 Februari Tahun 2000, di Pekanbaru, telah memilih opsi merdeka sebagaiopsi dengan pilihan terbanyak (270 suara), dibandingkan dengan opsi perubahan NKRI ke negara federal (146 suara ) dan opsi otonomi luas (khusus) dengan 199 suara.  Beriringan dengan itu, Jakarta pun bereaksi terbatas secara verbal bahwa pemisahan diri itu merupakan perbuatan separatis dan makar. Ediruslan Pe Amanriza sepertinya ikut mewakili suara kongres, dan menuliskannya dengan cukup menyentuh. Puisinya berjudul Akan Berpisah Jua Kita Akhirnya Jakarta:   Akan Berpisah jua kita Akhirnya Jakarta/dari negeri kami yang jauh/ kau terlihat semakin angkuh/ tak tersentuh/…/setelah 55 tahun bersama nyatanya/ tak seharipun kami merasa bahagia/hidup kami sepanjang tahun/asyik dirundung duka nestapa/. ../55 tahun kalian bangun/ tasik yang penuh air mata/ dan kami tenggelam di dalamnya/ …/ 55 tahun kami daki/ gunung darah dan keringat kerja/   dan kami tergapai-gapai di atasnya/../ akan berpisah jua kita akhirnya Jakarta/ kerongkongan kami telah kering/ tekak rakyat kami dahaga/ kehausan jadi bencana/laut biru kami telah kau timba sejak lama/ sungai, teluk dan tanjung kami/kalian  belenggu/…/ akan berpisah jua kita akhirnya, Jakarta/tatkala semangat Hang Jebat/di jiwa kami/ kembali membara?   

(4) Dalam sebulan ini, saya menikmati puisi-puisi yang ditulis oleh rekan-rekan,  antara lain dalam antologi Seperti Belanda,  Jangan Teriak Merdeka Malu Kita,  dan rekan saya dari Dumai, Agoes S. Alam. Secara sengaja saya membicarakannya kali ini  karena ada suara-suara yang sama,  yaitu mencoba bersuara untuk mengoreksi dan melawan kezaliman yang dilakukan oleh yang empunya kekuasaan. Seperti Belanda, adalah antologi puisi untuk mengenang 15 tahun perdamaian di Aceh. Aceh adalah wilayah negeri ini yang penuh bara dan penuh perlawanan, karena ketidak adilan yang diterima oleh rakyat Aceh sejak masa-masa awal kemerdekaan, ketika likwidasi provinsi Aceh ke dalam Sumatera Utara. Penyelesaian yang berlarut-larut menyebabkan bara dalam sekam itu menyala dan sesekali  mendingin. Namun masa orde baru, penerapan Daerah Operasi Militer (DOM) sampai datangnya reformasi (1998) serta sekaligus gelombang Tsunami (2004), menyadarkan para pemimpinnya untuk melakukan perdamaian. Selesaikah ?  Seorang penyair tanah Gayo, Fikar  W. Eda  menulis puisi, yang sebetulnya ia tulis pada Tahun 1999, namun untuk antologi  puisi iniyang terbit di Tahun 2020, Fikar mengirimkannya kembali, dan malahan judul puisinya menjadi judul buku antologi ini, SEPERTI BELANDA. Apa yang bisa kita tarik pemahaman dari kejadian ini. Adanya kesamaan suasana batin dan suasana kekinian dari masyarakat Aceh, masih juga sama dengan puluhan tahun yang lampau,  seperti tergambarkan  dari pesan dan makna puisi dari Fikar W. Eda, yaitu menentang kezaliman dan ketidak adilan yang dirasakah oleh negeri Aceh. Seperti Belanda/mereka atur siasat/membuat kami takluk/bertekuk lutut// Seperti Belanda/mereka merebut hati kami/dengan cahaya janji/ sambil mengutip kitab suci// Seperti Belanda/mereka suguhi kami anggur/hingga kami mendengkur/lalu dengan leluasa/ mengeruk perut kami/gas alam, minyak, emas, hutan/ sampai akar rumput bumi//  Seperti Belanda/merekapun menghunus sangkur/dengan senapan siap tempur/ rumah-rumah digempur/ mesjid menuasah/dibuat hancur// Melebihi Belanda/mereka perkosa isteri-isteri kami/ mereka tebas putera-puteri kami/ mereka bunuh harapan dan cita-cita kami// Melebihi Belanda/ itulah Jakarta !

Kalau  Fikar W. Eda seorang penyair yang mewakili mereka-mereka yang ada di daerah, berhadapan dengan Jakarta, sebagai pusat kekuasaan, baik sipil maupun militer, seorang dosen (akademisi) dari sebuah universitas di Bogor, yang dikenal sebagai aktifis  Islam, ternyata melihat  ketidak adilan dan kezaliman Jakarta,  terhadap ketidakberesan penyelenggaraan negara yang tidak pro rakyat, dan menghamba pada kepentingan kaum kapitalis (cukong ataupun konglomerat). Nasib rakyat, nasib lingkungan, nasib tenaga kerja, nasib sumber daya alam, nasib dunia tambang, seolah-olah akibat tata kelola penyelenggara negara yang korup, yang tidak pro konstitusi, dan ini semua mengakibatkan pada cita-cita adil makmur tidak semakin tercapai. Bahkan Dr. Ahmad Sastra, dengan cukup bagus menulis puisi  agar bangsa ini ketika  memperingati hari kemerdekaan setiap 17 Agustus , agar melakukan muhasabah dan refleksi diri, apakah kita tidak malu untuk berteriak merdeka danmerdeka, padahal nasib negeri ini betul-betul sudah berada dibawah kaki kaum kapitalis yang asing dan aseng, yang  serakah,  yang bermain mata dengan penguasa yang tidak punya visi dan misi  konstitusi. Dengan judul puisi, Jangan Teriak Merdeka, Malu Kita, ia menulis sebagai berikut, beberapa penggalan kalimat puisinya:
Negeri ini masih dicekik ribuan triliun hutang berbunga haram/jika negeri ini telah mampu melunasi hutang itu/ silahkan teriak merdeka/ jika belum mampu, lebih baik diam dan berfirkir/ malu kita// banyak anak negeri yang hanya menjadi babu di negeri orang/ mereka seringkali disiksa dan dianiaya/ jika negeri ini belum mampu memulangkan mereka/ memberi pekerjaan yang layak dan mensejahterakan/ jangan teriak merdeka/ lebih baik diam dan berfikir/ malu kita//   negeri khatulistiwa ini dihampiri kekayaan alam yang luar biasa/ namun dikelola dan dimiliki negara  lain/membiarkan sumber daya alam milik rakyat dirampok penjajah/ rakyat hampir tidak pernah bisa menikmatinya/ jika kekayaan alam ini belum bisa dikuasai negara/ jika penjajah asing dan aseng belum diusir dari negeri ini/ jangan teriak merdeka/lebih baik diam dan berfikir/ malu kita // luas negeri jutaan hektar/ namun lebih dari setengah dikuasai asing/ hingga rakyat tak lagi punya lahan luas/ berdesak-desakan di tanah yang sempit/ jika tanah negara belum bisa direbut kembali/jangan teriak merdeka!/ lebih baik diam dan berfikir/ malu kita/ malu kita/ malu kita tak berdaya/ tak kuasa/ lumpuh di ketiak penjajah/ malu kita….
(5) Dari Dumai, saya menerima kumpulan puisi dari Agoes S. Alam, atau nama aslinya Agoes  Budianto, kelahiran 22 Agustus 1973,  menamatkan pendidikannya di Dumai (SDN 12 Karanag Anyer,  SMPN 1, SMEA Erna), Akademi Akutansi Riau dan Fekon UNRI, serta ke UKM Bangi Malaysia.  Dilihat dari latar belakang profesi, amat beragam, dari konsultan , tenaga ahli, direktur utama sebuah perusahaan,  pengurus lembaga adat,  sebuah LSM  dan pengurus dewan kesenian. Dari sini terlihat penulis merupakan orang pergerakan dan juga tak asing dalam bidang kebudayaan dan kesenian.  Melalui buku puisinya SEJENGKAL TANAH KOPAK,  saya melihat penulis hendak mendeklarasikan manifesto politiknya, keberpihakannya kepada nasib rakyat banyak. Oleh karena itu, melalui judul-judul puisinya yang antara lain berbunyi: Tersebab Haku Sakai, Jazirah Tapak, Sedot Terus sampai Pupus Biar Kami Mampus, dah lah tu, Luka, Paragraf Ketujuh, Ulama dan Ambigu Penguasa, Aku dalam Aku, Dia sudah dekat, Monumen Polong, Marsinah, Seteru,  Habis Manis Sepah Didedah, Mei 1998, Ini bukan Gurauan, Suara Lorong kamar, Pagi Presiden, Akan Kugugat kau, Menokak Luka pada Parut Puru (semuanya ada 19 puisi). Bila dilihat dari tema-tema yang ingin diangkat oleh penulisnya, maka tema-tema kritik sosial, sebagai tema utama. Hal ini tak heran, karena Agoes juga adalah aktifis  pergerakan dan termasuk pegerakan buruh. Tak heran bila dia mengangkat dan menulis puisi berjudul Marsinah, seorang buruh wanita di Sidoardjo, yang memimpin demosntrasi buruh dan akhirnya pihak pengusaha atau bersama pemegang kekuasaan menjinakkannya dan  menjadi tidak bernyawa,  dan sampai kini tidak jelas bagaimana proses penegakan hukuamnya.  Terima kasih Marsinah, engkau telah mengajarkan aku arti perjuangan  dan arti kemerdekaan orang-orang kecil di negeri ini/ salam hangatku dan kuletakkan sekuntum bunga dimakammu bukti bahwa perjuangan buruh tidak akan pernah  usai di tanah Indonesia ini.
Bagaimana penulis, melihat alam Riau yang kaya raya? Seperti juga penyair Aceh Fikar W Eda, ternyata mereka berdua  satu pandangan dan penilaian, walau dengan ekspresi kata-kata yang berbeda. Fikar cukup memilih kata-kata dalam jumlah yang minimal, sedangkan Agoes memilih banyak kata-kata yang merupakan narasi sendiri. Ini perbedaan  pilihan saja. Dalam judul, Sedot Terus sampai Pupus Biar Kami Mampus, Agoes menulis seagai berikut : Entah apalah jadinya perut bumi Riau hari ini/ beribu-ribu pipa  yang tertancap tegap yang mengisap minyak beratus ribu barel setiap harinya/ entah berapa juta ton gas yang diinjeksikan masuk dalam rongga perut bumi itu/entah berapa kubikuap yang disemprotkan dalam celah-celah  selit perut bumi itu/ entah berapa banyak molekul kimia masuk dalam reservoir perut bumi itu//……/  Aku dan sakai hanya bisa membayangkan, termenung dan diam berjuta pertanyaan//…../akankah tanah ini akan tenggelam sekalian menyeret kami ikut bersama gas, uap dan kimia itu//…/  Aku hanya berkata “ kalau ini bencana ekologis maka ketahuilah oleh kalian bahwa di tanah ini masih ada aku dan sakai yang akan menggugat kejahatan ini/.

Dalam soal kritik sosial yang berkenaan dengan sumber daya alam, agaknya rata-rata penyair mempunyai persamaan persepsi, bahwasanya Indonesia ini kaya dalam sumber daya alamnya, tetapi yang menikmatinya adalah kaum penjajah asing yang telah berhasil menekan, memperkosa atau membeli kesetiaan birokrat negeri ini,  sehingga terlihat dari luar bahwa penjajahan itu telah memperoleh legalitas dari penguasa negeri ini. Saya ingin menyandingkan tema-tema  dari beberapa puisi sebagai berikut:

Dalam isu-isu yang lain, yang dalam beberapa bulan ini viral, ternyata Agoes melihat negara ini, melalui pemerintahnya, menyimpan kebingngan yang dalam, ketika negara menghadapi sejumlah fatwa ulama atau menghadapi ulama yang berpendapat tidak searah dengan politik kebijakan negara. Ia menulis dalam judul Ulama dan Ambigu Penguasa. 
Kadang nak berkata apa/ ketika apa yang terjadi depan mata/perkara agama semacam dibuat seperti permainan/hanya dengan sebuah ketidak konsistenannya sikap/padahal sebuah fatwa bukanlah perkara mainan/ tapi para pengausa entah paham entah tidak// mereka tidak peduli ketika marwah fatwa ulama/hanya menjadi olok-olokan atas apa yang mereka buat/ hanya dengan kebesaran hati ulama untuk istiqamah menjaga ummat di tengah ambigu penguasa/ hari ini masih ada aura kesejukan kebangsaan itu terasa meski dalam ruang membahang/

Penyair Agoes, memang nampaknya harus memperkaya metafora dan perlambangan dalam setiap penulisan sajak-sajaknya, sehingga narasi yang ditulisnya akan semakin hidup dan mampu meninggalkan lebih banyak kesan, sekaligus menjadikan pembaca akan liar dalam menafsirkannya. Demikian juga dengan diksi (pilihan kata) dimana  kemampuan seseorang akan diuji. Semakin dia lihai dan cerdik dalam memilih kata yang pas untuk sajak-sajaknya, maka dia akan semakin meninggalkan kesan bagi pembacanya.  Demikian juga memperluas pergaulan dengan kalangan penyair dan penulis ataupun budayawan. Membaca karya orang lain  akan memperkaya kosa kata yang akan digunakan dalam proses penulisan.  Banyak di Indonesia, kesempatan untuk menulis puisi untuk dimuat dalam antologi puisi bersama,  dan kesempatan ini memang  harus diikuti untuk mempermatang pengucapan dan pemilihan kata-kata.     Apalagi media online juga menyediakan ruang sastra  budaya, dengan redaksi terdiri dari mereka yang peduli pada kemajuan seni sastra di Riau ini. Artinya tidak ada alasan untuk mengatakan keterbatasana media untuk saat sekarang ini bagi duniakreatifdan kepenulisan.  Dari Dumai, saya kira di masa depan harus muncul banyak penulis dan penyair Riau, bahkan bukan hanya penyair, tapi juga cerpenis, dan novelis. Bahkan suatu saat, antologi bisa dirancang dari Dumai, misalnya penerbitan antologi Dumai Kotaku,  atau Selat Melaka halaman bermain kami, atau  lainnya.  Selamat untuk rekan Agoes S. Alam, dan selamat untuk rekan-rekan seniman Dumai. 
Dari sini, dari Dumai Kita Harumkan  Negerinya  Kaum Penyair ini ! 
Pekanbaru, 15 Nobember 2010.

Biodata : HUSNU ABADI adalah  salah satu dari   Deklarator Hari Puisi Indonesia, di Pekanbaru, November 2012.  Penerima  Z. Asikin Kusumaatmaja Award, dari Perhimpunan Penulis Buku Hukum Indonesia, pimpinan Prof. Dr. Erman Rajagukguk, 2014;  Penerima Penghargaan  Sastrawan Budayawan Sagang, 2015;  Penerima penghargaan Sastrawan Budayawan Sanggar LDT  UIR, 2005.     Buku puisinya  Lautan Kabut ( UIR Press, 1998) ;   Lautan Melaka (UIR Press, 2002) ; Lautan Zikir (UIR Press 2004); Bersama Fakhrunnas MA Jabbar menerbitkan  Di Bawah Matahari, 1981 dan  Matahari Malam Matahari Siang, 1982.  Buku lainnya:    Ketika Riau, Aku Tak Mungkin Melupakanmu (UIR Press, 2004) dan  Leksikon Sastra Riau  (UIR PRESS-BKKI RIAU, 2010).  Sejak 2005 menjabat Ketua Umum BKKI (Badan Kerjasama Kesenian Indonesia) Provinsi Riau. Tahun 1980 an  bersama Ibrahim Sattah mendirikan Yayasan Puisi Nusantara (YPN). Sedangkan dalam pembinaan seni mahasiswa, menjabat  Ketua Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Provinsi Riau , masa bakti 2001-2008.  Kini redaktur budaya Samudera Kata, Media Online Tiras Times, Pekanbaru (sejak 2020). Lahir di Majenang, 1950, dan kini sebagai dosen pada Fakultas Hukum UIR, Program Magister ilmu Hukum Pascasarjana UIR dan UNRI, berjabatan  Associate Professor/Professor Madya (Lektor Kepala). (hs)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan