

Pengasuh :
1. Husnu Abadi
2. Fakhrunnas MA Jabbar
Suara adzan membangkitkan arwah leluhurku
Berabad-abad terkubur waktu. Kesedihanmu
Adalah mendung yang akan menjadi suka cita
Setelah hujan turun. Begitulah kita mengagumi
Apa yang pernah jatuh sebelum senja menjerau
Aku tulis puisi ini sebelum huruf-huruf gugur, sebelum
Kata-kata hancur. Masih ada sekincir harapan yang
Dipelintir angin semilir agar tak ada lagi embunan
Airmata. Biarlah dukamu menguap ke ketiadaan
Suara adzan keluar dari speaker. Menjenguk sebuah
Kuburan yang dikeramatkan. Orang-orang tafakur
Menghidu aroma bunga, aroma doa. Tercium juga
Tetesan keringat. Suara adzan melurungi rongga
Semesta. Lalu matahari terbit dari mata anak-anak
Bersama cahaya aku mengukur bayangan langit:
Menyaksikan ruh-ruh bersayap putih beterbangan
Depok, 2020
Segenggam doa yang kutanam di langit
Sudah tumbuh menjadi bintang-bintang
Aku terus berdoa. Mengiringi perjalanan
Tubuh, perjalanan ruh. Hingga matahari
Naik ke puncak ubun-ubun. Mungkin ada
Yang masih terbata-bata mengeja pesan
Rahasia. Bahwa air akan kembali ke laut
Ada angin di beranda: merangkai rekuim
Dan menggambar surga. Orang-orang
Bermata gerimis mengaji detak jam
Aku ingin lebih banyak lagi berdoa
Tumbuh menjadi bintang-bintang
Berpijar, berdenyar melesat secepat
Kilat ke sayap-sayap malaikat. Kini
Doaku adalah bintang yang bercahaya
Di atas kubur-kubur nenek moyang
Depok, Oktober 2020
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com