

II. Kembara Sang Tokoh
SANG TOKOH tetiba merasa kesakitan. Tubuhnya seperti terkena godam tak terpekirakan. Sakit bukan alang kepalang. Tak pernah dia merasakan hal seperti itu. Kesakitan yang tak
mampu lagi diurai dengan kata-kata.
Mau menjerit mulut seperti terkunci. Mau mengeluh pun sudah tidak tahu bagaimana caranya. Sang Tokoh tak berdaya sama sekali.
Manakala Sang Tokoh sudah pasrah. Sudah sumarah. Sudah menerima apa adanya keadaan dirinya, rasa sakitnya malah berangsur menghilang. Perlahan-lahan, sampai lenyap. Entah kenapa. Sampai akhirnya tuntas. Rasa sakit itu sudah tak ada lagi sedikit pun.
Sebaliknya Sang Tokoh merasa segar. Dirinya tak merasakan apa-apa lagi. Dia seperti sedang mengambang di udara ruang yang tak terbatas. Kala itu tak ada batas antara ruang dan waktu bagi Sang Tokoh. Dirinya merasa ringan. Tak ada beban. Kemana dia berpikir disitu dia berada.
Dari kejauhan di alam yang berbeda, Sang Tokoh melihat beberapa orang mengeliat sambil mengerang. Lalu terkulai. Tak berapa lama kemudian Sang Tokoh melihat orang-orang yang menggerang tersebut muncul jalan di dekatnya. Mereka melangkah tanpa menoleh. Wajahnya tak berekspresi. Menatap ke depan. Tak jelas tujuannya, lantaran di ujung mereka lantas seperti menghilang. Entah kemana.
Dan, hai itu, Sang Tokoh melihat seorang temannya nun di tempat tidur di sebelah rumah sakit, tersenyum sendiri. Dia terlihat riang. Lalu seperti juga lain-lainnya yang sudah, temannya itu begitu saja telah muncul di dekatnya. Tapi dia cuma berjalan lurus kaku. Dia tak menenggok sama sekali ke arah Sang Tokoh. Selain seperti tak kenal, juga seperti tak ada hubungan apa-apa antara Sang Tokoh dengan temannya. Ingin rasanya Sang Tokoh memanggil atau menengurnya, tapi sama sekali tak ada suara apapun yang keluar. Dia tak dapat berkomunikasi apapun dengan temannya itu. Si teman berlalu tak ambil peduli kepada Sang Tokoh. Sama pula dengan yang lain, temannya itu menghilang di ujung sana.
Sang Tokoh tak dapat dan tak mampu berpikir apa yang sedang terjadi. Dia hanya merasa peristiwa yang dialaminya tanpa dapat mengetahui bagaimana sejati peristiwa-peristiwa itu dialaminya.
Dalam ketidakjelasan itu, Sang Tokoh seperti merasa ada dua kekuatan yang membimbing, atau mungkin tepatnya memaksanya, mengikuti mereka. Kekuatan yang tidak terlihat namun terasa benar kehadirannya.
Sang Tokoh tak faham apakah dia sudah beranjak jauh, atau masih dekat dari keberadaan awalnya. Demikian pula Sang Tokoh tak mengerti apakah dia masih baru sebentar ataukah sudah lama sejak pergi dari keberadaannya semula. Tak hanya itu, bahkan Sang Tokoh tak dapat lagi membedakan di ruang mana dan waktu kapan dirinya berada.
Sang Tokoh hanya merasa sampai pada suatu keadaan dia seperti sedang berzikir dan dapat melihat serta mendengarkan dirinya sendiri melakukan monolog puitis:
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah.
Tidak! Mataku tidak tertutup.
Tidak! Kesadaranku tidak hilang
Tapi dimanakah aku?
Tubuhku begitu ringan, bahkan seakan tak ada
Aku serasa menembus tujuh langit
melewati bulan, melewati matahari.
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah
Aku melihat dua mahluk memandang tajam ke arahku.
Mereka menunjuk-nunjukku. Boleh jadi berdikusi tentang aku
Satu menunjuk-nunjuk ke arah depan
satu lagi sebaliknya menunjuk-nunjuk ke balakang. Lantas mereka menghilang begitu saja
membiarkan aku kembali sendirian.
Di depan aku melihat pemandangan lapang tak berbatas
orang-orang berwajah murung dengan derita lalu lalang.
Preeaaattt!!!
Tiba-tiba petir menyambar seluruh manusia di sana.
Tak ada tubuh yang tidak hangus.
Mereka mengerang, merintih dan menjerit,
tapi mereka masih tetap hidup.
Tubuh mereka penuh luka dan nanah.
Nyeri.
Bau.
Lalu: buuaaarrr!
Manakala tubuh masih sedemikian sakit bukan alang kepalang
munculah tsunami mengulung semuanya,
padahal gelombangnya yang datang lahar tak terperkiraan panasnya.
Sebagian terpental-pental. Sebagin tergulung ombak lahar.
Tentu, tentu, orang-orang itu berteriak kesakitan
Ngeri luar biasa.
Lebih ngeri lagi mereka semua masih hidup.
Itulah orang-orng yang penuh derita
tiada akhir. Mereka menunggu masuk kawah derita abadi.
Sementara aneka ragam mahluk seram dan sadis, bentuknya tak beraturan, bergentayangan.
Ada yang kepalanya bertanduk tunggal dengan taring tajam
menembus bibirnya sendiri. Matanya satu di dahi satu di dagu.
Ada pula yang lidahnya menjulur menyemburkan cairan beracun.
Dan: Bum!!
Tiba-tiba-tiba beberapa dari mereka telah berada
di belakangku
dekat sekali.
Rupanya mereka mengancam diriku.
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah
Makhluk-makhluk itu berhenti sejenak.
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah
Perlahan para mahluk kejam itu meninggalkanku.
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah
Aku berbalik kembali memandang ke depan. Segalanya kini telah berubah.
Hamparan pemandangan yang serba indah.
Serasi.
Pohon buah-buahan segar ada dimana-mana.
Semua tersedia. Para mahluk berinteraksi dengan kebahagiaan.
Aku menatap lebih jauh lagi. Belum sempat aku bertanya-tanya, apakah ini potongan surga,
sebuah karpet panjang terpentang di hadapanku.
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah
Perilaku zikir yang telah mendarah daging pada diriku.
Aku kira telah diberi jalan petunjuk ke arah surga, setidaknya dalam persepsiku. Tak hayal aku meloncat ke atas karpet itu.
Ada perasaan tentram meliputi diri
Damai.
Bahagia.
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah.
Laa Ilaaha Illaahu: tiada Tuhan melainkan Allah (1).
Sang Tokoh tak tahu apakah monolog itu benar terjadi, ataukah sekedar ilusi belaka saja. Dia pun binggung membedakan mana realitas dan mana yang bayangan semata. Segalanya bagi Sang Tokoh terasa tak dapat dibedakan lagi.
Dua kekuatan yang membawa membuat Sang Tokoh melihat sebuah cahaya terang benderang tapi menyejukan. Sang Tokoh ingin bertanya-tanya apakah itu mungkin Kekuatan Yang Maha Kuasa. Rupanya, meski sekedar dalam pikiran aja, pertanyaan itu diketahui oleh dua kekuasaan yang membawanya.
“Bukan. Itu bukan Yang Maha Agung yang kau maksud. Kau tak akan mampu melihat langsung Dia, karena bukanlah level manusia untuk melihat-Nya,” sebuah jawaban hadir tanpa suara, tapi jelas sekali.
Sang Tokoh terus dibawa, entah kemana. Setelah perjalanan yang berlika-liku tapi terasa lurus, dia seperti diminta tidur. Dirinya bagaikan merasa dimasukin berbagai aura dan cahaya. Sang Tokoh lagi-lagi tak faham apa gerangan hal itu. Dia di bagian akhir cuma merasa mendengar, “Jaga amanah ini.”
Sang Tokoh tetap tak faham apa dan bagaimana yang terjadi pada dirinya. Ada sesuatu yang tiada. Tak terjadi apapun, namun jelas dialaminya.
Samar-samar Sang Tokoh dapat mendengar dialog antara suara. Tapi suara-suara itu tak beraturan sehingga tak jelas. Sang Tokoh hanya mendengar jelas selintas bagian dialog dan memahaminya.
“Belum waktunya!”
“Jadi harus dikembalikan?”
“Ya. Bawa kembali yang bersangkutan!”
Sang Tokoh tak tahu menahu suara dialog dari mana dan antar siapa. Hanya dua kekuatan yang membawanya melepaskan dirinya begitu saja. Lantas menyuruhnya pergi. “Kembali sana! Kembali!” Dia mendengar jelas perintah itu.
Kini Sang Tokoh merasa melayang turun. Segala kejadian yang dialami sirna begitu saja dari ingatannya. Sang Tokoh merasa matanya letih terlalu lama terpejam. Dia ingin segera membuka matanya…..*
Bersambung …
_____
(1) Dikutip dari Kumpulan Puisi Religi “Mata Burung Gagak Gitaris Rock,” karya Wina Armada Sukardi, 2022, berjudul “Zikir.”