

Penulis novel “Pada Sebuah Kapal” yakni Nurhayati Dini (Nh Dini) pernah menulis tentang sosok kepenyairan pujangga Amir Hamzah . Bagi NH. Dini puisi Amir Hamzah merupakan sebuah pengalaman korelatif dengan dirinya yang ketika itu mengalami sakit kanker dan para dokter memprediksi tentang kematiannya. Dini bertemu dengan puisi Amir hamzah yang sebagian puisinya bernada masgul dan nyanyian sedih bangsawan Melayu.
Ketika pernah singgah di SMA Negeri 1 Medan, saya mengajak sang novelis wanita ini berbicara dengan siswa SMA di kelas IPA (1989) Beliau berbicara tentang novel Pada Sebuah Kapal yang di masa itu menjadi pergunjingan sastra di kalangan siswa SMA. di Indonesia termasuk di Medan.
Namun, Nh Dini lebih banyak menyinggung tentang puisi penyair Amir Hamzah. Nh Dini nenyebutkan bahwa puisi cinta terhadap kekasih yang banyak diungkapkan Amir Hamzah memiliki konteks puitik dengan syiar-syair Jawa kuno yang terhimpun dalam macapat (sejenis nyanyian puisi Jawa klasik) Sebuah macapat ‘Maskumambang’ bernada ragu, mengawang, hingga sampai kepada kesedihan. Apabila lagu itu didendangkan oleh seseorang yang tahu menghayati hati mendengar bisa terhanyut, merenung hingga sedih dan pilu.
Maskumambang adalah nama dari salah satu bentuk puisi berlagu yang bernama Macapat. Menurut Doktor Sri Hastono, mengapa ia disebut Macapat, belum dapat dipastikan. Yang jelas menurut ‘jarwo sosok’, macapat berarti maca papat-papat. Artinya membaca dengan antara empat-empat suku kata.Kebenaran tentang hal ini di Jawa sampai saat ini belum dapat dipastikan. Maskumambang (Hadiluwih, 1987) memang rnembawakan suasana sendu. Namun, sebenarnya, masih ada dua pilihan lagi paling tidak yang berangkali justru lebih tepat. Pertama, ‘Asmara dana’. Nama jenis lagu ini berasal dari ‘Smara’, asmara jualah artinya, dan ‘Dahana’, api. Nah, jadilah ia ‘api cinta’.
Dengan demikian, bentuk kesenduan di sini tentu berkaitan dengan asmara. Kedua, ‘Megatruh’, Megat, dari kata pegat, artinya cerai. Semestera run, atau roh, artinya nyawa, kalau sudah cerita tentang perceraian antara jiwa dan raga, tak pelak lagi, kesenduan tentu berkaitan dengan kematian. Kenapa bukan dua bentuk terakhir ini yang dipilih, akan tetapi justru Maskumambang, belum diketahui secara jelas, Terluput dari pengamatan Nh.Dini, pada bait ketiga , ada; satu/dua kata lagi yang punya makna khas pada konteks sastra Jawa , yaitu ‘ Murca Kanda’, Mur” berarti hilang atau menghilang. Sementara kanda adalah kata atau kata-kata. Kata-kata yang hilang : ? Atau kehilangan kata-kata ? Tak pula tepat demikian . Sebab, kanda juga bisa berarti-‘ cerka dalam ilmu pedaiangan gaya. Jogjakarta. Cerita itu biasa disampaikan oleh dalang, akan tetapi terkadang juga termasuk janturan menceritakan sesuatu sambil berlagu. Kalau kita kembalikan pada konteks syair itu sendiri, dapat diduga bahwa ia memang telah kehilangan. Namun, mungkinkah kanda di sini adalah kanda? Kalau demikian, tentu maknanya lain lagi.
Ada satu catatan lagi dari syair Amir Harmzah yang berkaitan dengan kata Jawa. Dikutipkan sebagian dari, padanya sebagai berikut:
“Hanyut aku, kekasihku/ Hanyut aku!/Ulurkan tanganmu, tolong aku /Sunyinya sekelilingku!/ Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati, tiada air menolak: ngelak/ Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku sebabkan diammu./Langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam/Tenggelam dalam malam /Air di atas menindih keras /Bumi di bawah menolak ke atas Mati aku, kekasihku, mati aku! (Puisi “Hanyut Aku”)
Penggunaan kata ‘n g e l a k’ memang banyak dipersoalkan. Terus terang, bagi kita di Sumatra Utara ini, membaca tulisan ‘menolak-ngelak’, pasti terbaca ‘menolak ngelak’. Kebetulan, makna kata menolak dan mengelak memang bisa disejajarkan. Mengelak juga bisa berarti menghindarkan. Namun, kelihatannya ia harus dibaca ‘ngelak’, Dengan dibaca sedemikian, ia memang menjadi berarti ‘haus’, dari kata Jawa . Konon, kata ngelak sengaja dipilih untuk mengejar irama yang sejajar antara kata ‘menolak’ dan ‘ngelak’. Penafsiran ini lebih kena apabila kita kaitkan dengan kalimat berikutnya, yang berbunyi: ‘Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu …! dan seterusnya. Masih banyak karya Amir Hamzah yang bisa dibahas dalam kaitannya dengan kemampuannya menggunakan idiom Jawa ini, namun, dalam hal ini, apakah dengan demikian ia meng-Indonesia ?
Kiranya dalam hal ini perlu pula dipisahkan kemampuan pribadi Amir Hamzah dengan nafas perjuangannya. Beberapa catatan lain mengungkapkan pula peran ini. Pada tuJisan ini telah dikemukakan pula peran Amir Hamzah, beserta tokoh-tokoh lain dalam berupaya menggunakan bahasa Melayu atau yang kemudian disebut sebagai bahasa Indonesia. Tokoh-Pujangga Baru ini sejak semula senantiasa mempengaruhi rekan-rekannya untuk senantiasa mempergunakan bahasa Melayu. Bahkan pada pertennian resmi. Kendati saat itu ada pelarangan dari pemerintah Belanda. Di samping perhimpunan pergerakan Indonesia Muda, mereka juga menerbitkan majalah ‘Garuda Merapi ‘. Redaktur yang berkedudukan di Magelang dijabat oleh Sudiro, di Jogjakarta dijabat oleh Sutikno Padmosumarto dan di Sala dijabat oleh Amir Hamzah.
Melalui majalah ‘ Garuda Merapi ‘ inilah kaum pejuang memperoleh laporan tentang kegiatan serta program kerja Indonesia Muda. Di sela kesibukannya itu ia masih sempat mengirimkan karangannya ke majalah ‘Timboel’, Pada tahun 1933 barulah nomor pertama penerbitan ‘Poejangga Baroe’ muncul. Tentu tak lepas pula dari penanganannya bersama-sama dengan rekan-rekannya yang lain, termasuk Sutan Takdir Alisyahbana, Armyn Pane,dan Sanusi Pane.
Kegiatan Amir Hamzah yang lain adalah mengajar di Perguruan Rakyat. Amir sering membacakan prosa dan syairnya di depan kelas. Memang majalah ‘Poejangga Baroe’ sudah menjadi bacaan murid-murid Taman Dewasa Raya, termasuk di Sekolah Menengah Atas Taman Siswa di zaman penjajahan.
Amir juga membacakan terjemahannya dari Bhagawad Gita. Yang paling mengesankan ialah bagaimana Amir sangat menghayati keraguan Arjuna, tokoh wayang dari pihak Pendawa, sewaktu harus berperang menghadapi Adipati Kama yang sesungguhnya masih saudara kandungnya sendiri. Bagaimana Kresna, pelindung serta penasehat para Pendawa akhirnya dapat menyadarkan sang Arjuna. Amir juga suka memperkenalkan karya dan tulisan Sanusi Pane dari kumpulan Madah Kelana.
Demikian selintas pintas pertemuan pujangga Amir Hamzah dengan sastra Jawa dan Bhagawat Gita dari sastra Timur India. **
Medan, 8 April 2025
Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan