Sastra sebagai Medium Komunikasi: Pesan Kontekstual dalam Cerobong Tua Terus Mendera: Oleh M Badri

76

Setiap melihat cerobong asap pabrik, sering terngiang di kepala saya: Nguuuuuuuuuuuuuunggggg……. Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiikkk!!! Dua kata ini terus membekas. Dua kata pembuka cerpen berjudul Cerobong Tua Terus Mendera. Judul cerpen itu pertama kali saya baca di penghujung tahun 2004, di majalah sastra Horison.

Saya sudah cukup lama mengenal Raudal Tanjung Banua (Saya memanggilnya: Bang Raudal), bukan hanya karya-karyanya, tapi juga secara personal. Sekitar dua dekade lalu, ketika melakukan perjalanan Pekanbaru-Bogor-Blitar, saya sempatkan singgah di Yogyakarta. Raudal menjemput saya di stasiun Lempuyangan, naik motor ke selatan, melalui “Jalan Paris”. Saya sempat menginap di rumah keluarga Raudal dan Kak Ida yang hangat, di Bantul. Bersama Raudal dan Indrian Koto (Kini dikenal sebagai pemilik penerbit dan toko buku JBS), saya berkesempatan bertemu beberapa sastrawan muda Yogyakarta. Maka, ketika diminta membahas buku terbaru Raudal ini, saya tidak mungkin menolak.

Buku Cerobong Tua Terus Mendera (Shira Media, 2024) ini berisi 11 cerpen yang diterbitkan dalam rentang waktu 2004-2021. Saya bukan kritikus sastra, apalagi akademikus sastra (meskipun diembel-embeli akademisi). Hanya penikmat sastra, yang kebetulan juga (sesekali) menulis sastra. Maka, saya ingin mengulas cerpen-cerpen dalam buku ini, dengan sudut pandang berbeda. Saya meyakini, pengarang adalah seorang komunikator. Maka, karya sastra (cerpen, puisi, novel) sejatinya adalah media komunikasi. Sebagai salah satu genre seni, sastra bukan sekadar teks penghibur. Jika merujuk frasa Marshall McLuhan paling terkenal “The Medium is the Message” di mana media yang digunakan untuk menyampaikan pesan lebih penting daripada isi pesan itu sendiri, sastra salah satunya. McLuhan (1964) meyakini, setiap media menciptakan lingkungan unik yang membentuk cara orang berpikir, merasa, dan berinteraksi satu sama lain. Misalnya, membaca buku menciptakan pengalaman yang berbeda dibandingkan menonton televisi, meskipun isinya sama.

Menjadikan seni sebagai media komunikasi, sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu. Sunan Kalijaga misalnya, menjadikan seni dan budaya sebagai media komunikasi profetik (Paaneah et al., 2019). Sastra bisa menjadi media komunikasi yang kuat untuk menjembatani perbedaan budaya dan pemahaman antar bangsa (Kusniarti, 2012). Bahkan, yang cukup melegenda, Nandon Smong sebagai sastra lisan Aceh yang dikomunikasikan turun-temurun, mampu menyelamatkan masyarakat Simeulue dari bencana tsunami (Rahmadansyah & Juliani, 2023).

Mengapa sastra bisa menjadi media komunikasi? Sederhana saja, sastra dapat menyederhanakan istilah-istilah keilmuan yang rumit menjadi narasi yang menyenangkan dan mudah dipahami, sehingga dapat menjangkau banyak orang (Awa & Widjayanto, 2024). Sastra merupakan bentuk komunikasi yang paling kuat, lebih dari sekadar hiburan. Sastra, baik cerita maupun karya tulis, memiliki kekuatan untuk mencerminkan dan membentuk sikap, nilai, dan keyakinan masyarakat (Bacon, 2024). Sell (2000) memandang sastra sebagai komunikasi yang sangat interaktif. Ia menolak model pesan searah, menekankan bahwa menulis dan membaca adalah dialog nyata yang menciptakan interaksi.

Selanjutnya, saya melakukan koding sederhana untuk mengulas buku kumpulan cerpen Cerobong Tua Terus Mendera ini. Mengungkap beberapa pesan tersembunyi dalam teks, terselip di antara narasi. Misalnya, dalam cerpen Cerobong Tua Terus Mendera, yang dijadikan judul buku ini, Raudal menggambarkan kisah pilu Wiji, seorang buruh pabrik gula yang kesurupan setiap mendengar bunyi uap ketel yang menyatu dengan asap pabrik yang keluar melalui cerobong. Akibat trauma masa lalu, diperparah luka sejarah, dan derita cinta. Mengambil angle industri gula, Raudal menyematkan pesan ironi korupsi dalam tata niaga gula. Tahun 2003 misalnya, masa cerpen itu ditulis, publik dibuat gaduh dengan kasus korupsi proyek impor gula oleh salah satu BUMN, yang merugikan negara hingga Rp26 miliar.  Hasil panen tebu turun drastis, sementara gula selundupan menjebol pelabuhan dan gudang-gudang, bahkan yang tertangkap basah sengaja dilelang pemerintah (Hal. 5).

Dalam cerpen yang menjadi jawara Anugerah Sastra Horison 2004 ini, Raudal juga menyampaikan pesan-pesan konflik pemerintahan: Pusat-Daerah, apakah karena kebetulan pada masa penulisan cerpen ini juga terjadi konflik serupa antara pemerintah Indonesia dengan salah satu daerah istimewa? Cerpen ini juga menceritakan sejarah konflik Mataram dengan perdikan (daerah otonom) Mangir. Konflik yang berakhir dengan kematian Pemimpin Mangir (Ki Ageng Mangir) di tangan Raja Mataram (Panembahan Senopati), akibat muslihat cinta melibatkan Sekar Pembayun, putri Panembahan Senopati.

Soal ini, Pramoedya Ananta Toer dalam buku drama Mangir (KPG, 2009) menulis, Panembahan Senapati, Raja Mataram kurun 1575-1607, yang bercita-cita menjadi penguasa tunggal, menundukkan perlawanan gigih penduduk desa Mangir dengan cara kotor dan keji. Wanabaya atau Ki Ageng Mangir, pemimpin desa yang letaknya kurang dari 20 km dari Ibukota, dirayu putri kesayangan Senopati, dijebak, dan kemudian dibunuh dalam sebuah pertemuan keluarga. Dalam cerpen Raudal ini, Wiji, pemuda desa Mangir era modern, meskipun mengalami luka karena cinta, seperti menjadi antitesis sejarah cinta Ki Ageng Mangir. Tapi ini pertanda baik? Hati Ki Ageng kita ndak luruh digoyang-goyang, ndak seperti moyangnya yang akhirnya menyerah kepada raja yang sah. Dengan demikian, jiwanya tertolong, tidak sampai edan karena punya istri cuantik. (Hal. 11).

Cerita tentang derita asmara juga dapat dibaca pada cerpen Sri Tanjung Jaya Prana yang menjadi bagian buku ini. Sementara itu dalam cerpen Matinya Seorang Guru Mengaji, Raudal melalui sudut pandang Aida, menceritakan pengabdian tulus Uncu Eba, seorang guru mengaji yang keras tapi penuh penderitaan: kemiskinan, penyakit, dan konflik keluarga. Raudal menggunakan metafora kuat dan bahasa puitis untuk menggambarkan realitas sosial yang kontras. Cerpen ini menyampaikan pesan kritik halus terhadap masyarakat yang sering kali melupakan jasa guru agama. Uncu Eba, yang berjuang tanpa gaji, menjadi simbol pengorbanan yang tidak terbalaskan.

Bahwa sebagi guru mengaji dengan tanggung jawab dunia-akhirat ia tak digaji, itu jelas kealpaan masyarakat kampung, tapi itulah hukum yang digariskan. Selain sedikit uang “sedekah lampu” yang jumlahnya tak tentu, seorang guru mengaji hanya mendapat zakat fitrah sekali setahun. Tak lebih. (Hal. 27)

Cerpen Ke Kota, di Kota, Dia Duduk di Muka menceritakan romantika asmara awak bus, yang digambarkan berada di daerah pesisir Sumatera Barat. Para pengguna bus, juga angkutan kota, pasti tahu bahwa perempuan cantik biasanya memiliki hak istimewa untuk duduk di muka, di samping sopir. Selain menceritakan realitas kehidupan jalanan, Raudal sedikit menyematkan kalimat satir, ihwal kekuasaan.

Kuceritakan ini kepada Anda, bukan lantaran aku tak “naik pangkat” jadi sopir, sebab itu memang tidak mudah; barangkali sesulit melakukan kudeta—pernah kubaca sedikit kisah ’65 di sekolah—SIM yang tak murah dan mana ada orang yang berkuasa mau menyerahkan tahktanya? (Hal. 42)

Cerpen Aida Kreol mengisahkan Aida, seorang perempuan “kreol” atau berdarah campuran banyak suku. Dalam perjalanan pulang ke kampung suaminya, Kudal, di Sumatera Barat, ia merenungi identitas dirinya yang rumit. Masa lalunya yang penuh kesulitan dan perasaannya yang minder membuat Aida terobsesi dengan kisah-kasih Kudal. Namun, saat tiba di kampung Kudal yang damai, Aida akhirnya menyadari bahwa ia tidak perlu memungut masa lalu orang lain untuk melengkapi dirinya. Di balik semua itu, sebenarnya Raudal mencoba melontarkan pesan kritik sosial, antara lain diskriminasi pembangunan.

Maklum, kemiskinan mendera sebagian besar keluarga di kampungnya, dengan jalan raya yang dibiarkan rusak dan lapangan kerja yang sulit. Pendidikan anak-anak terbengkalai, padahal letaknya hanya beberapa ratus meter dari pasar induk kabupaten dan tak sampai lima kilo meter dari kantor bupati. (Hal. 57)

Nepotisme di dunia pendidikan juga tidak luput dari pesan yang disematkan dalam cerpen ini. Misalnya teks berikut, apakah Anda pernah mengalami? Setiap kali ada lomba, guru-guru di sekolah tidak pernah mendaftarkan dirinya untuk ikut serta. Ia sering tidak tahu ada lomba, tahu-tahu sudah ada siswa yang tampil atas nama sekolah. Entah bagaimana caranya, teman-temannya yang dari penampilan memang lebih menarik itu sampai bisa mewakili sekolah. Padahal kemampuan mereka dalam baca puisi atau mengarang, menurut Aida biasa-biasa saja bahkan terkesan dipaksa-paksa. (Hal. 58)

Cerpen Lebaran di Laut, di Laut… Raudal kembali menggunakan tokoh Kudal, perantau yang rindu lebaran di kampung halaman, rindu pada Ibu. Perantau yang bekerja di kapal penangkap ikan, bisa berbulan-bulan di lautan. Raudal menceritakan kehidupan orang kapal dengan detail. Di sisi lain, ada narasi menarik tentang lemang kareh, inyiak belang, dan metafora hiu harimau yang menggerogoti kaki ibu, digambarkan sebagai juragan kapal, rentenir ikan, pemilik kedai tuak, si tukang pukat, dan sebagainya.

Pada cerpen Ibrahim dari Barus, Raudal bukan hanya menyajikan cerita sejarah (dengan sumber riset yang dijelaskan di catatan kaki), tetapi juga sebagai refleksi spiritual. Penulis mengangkat kembali nama Sultan Ibrahim Syah, Raja Hilir Barus, yang terlupakan di balik keagungan Hamzah Fansuri. Kisah ini menegaskan bahwa Barus adalah panggung bagi banyak tokoh besar, terlepas dari asal-usul mereka (Tuan Ibrahim sendiri ditelusuri silsilahnya hingga ke Tarusan, Minangkabau). Cerpen ini berhasil memadukan sejarah, tasawuf (wujudiyah), dan narasi lisan (kaba), menutupnya dengan pengalaman mistis sang narator di makam Ibrahim. Ini adalah renungan mendalam tentang asal-usul, keadilan, dan harga sebuah nama.

Tulisan Terkait

Puisi-Puisi Dienullah Rayes

Berita Lainnya

Puncak cerita adalah tragedi pengkhianatan oleh Raja Hulu Barus, Marah Sifat, yang menyebabkan Barus diserang oleh Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Kematian tragis Tuan Ibrahim yang dipenggal kepalanya justru memicu peristiwa yang lebih besar. Kepala Tuan Ibrahim yang dipersembahkan di istana Aceh, dengan sorot mata yang “masih nyala,” menciptakan sugesti spiritual yang melumpuhkan dan membuat Sultan Iskandar Muda jatuh sakit. Adepan dalam cerpen ini sejatinya menegaskan pentingnya menguji informasi, tabayyun, sebab hoaks bisa menjadi sumber petaka. Sultan, kata Hamzah, menyerang Ibrahim tanpa menyelidiki kebenaran kabar utusan. (Hal. 93)

Pesan kritik sosial terhadap intrik politik dinasti disampaikan Raudal dalam cerpen Keluarga Ampuntuan. Meskipun terinspirasi Klan Ampatuan, yang menjadi dalang pembantaian politik paling kejam di Filipina, pesan politik dinasti ini relevan dengan kondisi politik di mana saja, termasuk Indonesia. Politik dinasti yang umumnya menjelma dinasti kekuasaan, menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaan, merusak sistem demokrasi. Ia hanya merasa perlu mengganti pasangan wakilnya, dari Subandi menjadi Amrozi Rifai, masih sepupu, sebahaimana kepala dinas banyak dari kalangan sepupunya sebab itu modal merawat kekuasaan. (Hal. 81).

Ini bukan sekadar cermin realitas, tetapi cerpen ini merekonstruksi realitas politik dinasti yang langgeng. Politik dinasti Tokoh Kita yang bertahan karena didukung dari segala penjuru. Seperti di negeri ini? Kini kita punya dinasti lokal yang sambung-menyambung, berjajar pulau demi pulau, dalam naungan undang-undang yang manis dan sopan, tak perlu ada pembantaian. (Hal. 83).

Cerpen berjudul Kepala Siluman, Ular-ular Gelondongan, dan Naga Sisik Hitam, Raudal menggali psikologi batin manusia yang terikat pada lingkungan dan kenangan pahit. Cerpen ini menyajikan banyak metafora, bermula dengan “kepala siluman” sebagai metafora tandan buah sawit. Kemudian “ular-ular gelondongan” yang bermakna kayu-kayu hasil penebangan liar yang dihanyutkan ke sungai. Terakhir “naga sisik hitam” yaitu kapal tongkang pemuat batubara. Menurut Khristiyanti & Supriyanto (2018), Raudal memang kerap memunculkan permasalahan lingkungan dalam karyanya.

Aku percaya bahwa kebun sawit yang dibuka hampir nseluas bumi di banua, pertanda bala. Dan aku melihat apa yang tidak dilihat orang: gelindingan kepala siluman. Warnanya hitam kemerahan, disodok galah-galah bertangkai panjang, jatuh menyeringai, bergelindingan (Hal. 115).

Dulu, aku melihat ular-ular gelondongan, berderet dalam ikatan, diseret dari hulu ke kuala dan aku melawannya. Sebab ular-ular itulah yang telah menelan abah kita, meski kepadaku dijelaskan bahwa beliau tewas dihantam pohon rebah. Tetap saja aku tak percaya. Aku merasa abah telah dipaksa atau terpaksa masuk hutan dikerahkan perusahaan kayu. Abah berburu pohon-pohon, dengan chain-saw dan gergaji yang menderu. Ketika abah ditandu tak bernyawa ke luar hutan, sejak itulah aku melihat kayu-kayu yang hanyut di sungai menjelma jadi ular-ular gelondongan! (Hal. 115).

Di depan kami perahu-perahu membongkar muatan. Ada satu perahu membongkar barang pecah-belah, mengonggoknya di depan kami sehingga menutupi pandangan kami ke sungai. Ketika barang-barang itu diangkut ke dalam pasar, halangan terbuka, saat itulah aku melihat naga sisik hitam muncul dari kelokan sungai! (Hal. 115).

Dalam cerpen Toko Wong, Raudal merekonstruksi sejarah kelam 1965, membawa kita menyusuri sebuah kawasan kota tua, yang mulai pudar seiring pudarnya kisah-kisah masa lalu. Penelusuran saya, toko itu dan sejarahnya memang ada, di Loloan Barat, Negara, Jembrana, Bali. Raudal berhasil membangun suasana suram dan mencekam melalui deskripsi arsitektur tua yang rusak, lumut, dan rembesan air hujan, seolah bangunan tersebut memendam duka yang tak kunjung kering.

Imajinasi Raudal, Toko Wong bukan sekadar bangunan kosong, melainkan monumen bisu dari peristiwa huru-hara politik 1965 yang brutal. Cerita-cerita yang beredar tentang Toko Wong sebagai tempat pembantaian—mulai dari selongsong peluru, genangan darah, hingga penemuan kerangka di sumur belakang—menghadirkan kengerian secara tersirat. Kontras dengan gambaran keragaman kota yang damai, keberadaan Toko Wong menohok ingatan kolektif.

Cerpen terakhir Sapu Tangan dari Kayeli, seperti puzzle yang menghubungkan pengalaman personal dengan percakapan imajiner melalui tiga pucuk surat terlipat: Surat Sri Latu tentang perempuan dari tanah Jawa yang dijadikan jugun ianfu hingga ke Pulau Buru, Surat Ibu Ratu/ Ibu Raja yang meminta Pram menuliskan kisah Sri Latu, dan balasan Surat Pram yang memberitahu bahwa dia telah telah menerima surat pembebasan, juga sudah mengumpulkan cukup bahan dan siap menyusun tulisannya.

Sesampai di Jawa nanti, saya akan lanjut menyusun bahan kawan-kawan yang terkumpul. Sehelai sapu tangan yang Ibu titipkan, telah menuntun saya pada judul rancangan sebuah buku: Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer… (Hal. 142).

Gaya Penulisan Raudal

Gaya menulis Raudal Tanjung Banua menjadi kekuatan utama kumpulan cerpen ini. Ia menggunakan bahasa yang cair namun sarat metafora, menciptakan narasi yang mengalir liris dan puitis. Diksi yang matang berhasil membakar imajinasi pembaca, seolah membawa kita langsung ke dunia yang ia ciptakan. Sebagai seorang komunikator, Raudal bukan menulis cerita nirmakna. Banyak pesan-pesan sosial, moral, dan spiritual yang menjadikan cerpen-cerpen dalam buku ini menarik secara kontekstual. Terlebih cerpen-cerpen ini ditulis berdasarkan riset yang kuat (banyak referensi dalam catatan kaki), juga pengalaman dari perjalanan-perjalanan, yang ramuannya menciptakan imajinasi komunikatif.

Dari aspek bahasa kritik, yang digunakan Raudal juga cukup beragam. Adakalanya menggunakan bahasa santai, tersirat, tajam, bahkan ada pula beberapa kritik yang disampaikan menggunakan bahasa humor (Febriyanto et al., 2021). Bagi Raudal, kebudayaan pesisir penuh dinamika dan memiliki pesona. Sehingga banyak cerpen Raudal yang menonjolkan tentang kehidupan manusia pesisir dengan kebudayaannya yang khas dan unik (Suaka, 2019). Selain itu, menurut Yudistira (2024) yang sebelumnya menulis resensi buku ini, tema-tema pada cerita Raudal di dalam ini ini tidak bisa lepas dari tema-tema sosial serta terasa kuat sekali akar kebudayaan dan ingatan orang pesisir. Pembaca bakal kerap berjumpa dengan kata ”laut”, ”ombak”, ”batu”, ”kerang”, ”karam”, ”ikan”, dan ”pantai”.

Raudal memiliki gaya bercerita yang mengalir dan fleksibel (luwes), seolah-olah sedang mendongeng. Kepiawaiannya dalam memilih dan menempatkan diksi berhasil menggugah imajinasi pembaca. Hal ini membuat pengalaman membaca terasa sangat menyenangkan dan memikat. Selain itu, Raudal juga sangat lincah dalam berpindah-pindah sudut pandang, baik sebagai orang pertama (Aku) maupun orang ketiga (Dia/ Mereka), yang semakin menghidupkan dan mendekatkan alur cerita kepada pembaca.

Raudal tidak sekadar bercerita. Sebagai komunikator, ia membangun atmosfer yang kompleks dan berlapis. Dialog-dialognya singkat, namun sarat makna, seringkali memberi ruang bagi pembaca untuk berefleksi dan menciptakan makna mereka sendiri. Kekuatan narasi ini terletak pada kemampuannya untuk tetap personal dan intim, bahkan ketika mengangkat isu-isu universal dan berat. Pembaca tak hanya membaca ceritanya, tetapi juga merasakan gejolak batin dan nasib tragis para tokohnya. Tabik!

Rumah Rimba, 2025
www.negeribadri.com

Referensi
Awa, C. R. B., & Widjayanto, F. R. (2024). Karya sastra sebagai sarana literasi politik: Novel” Bungkam Suara” karya JS Khairen sebagai narasi melawan propaganda terkomputasi. Jurnal Politik Indonesia, 10(2).
Bacon, O (2024). Communication through Literature. Retrieved from: https://www.yourmarketingteam.co.uk/blog/communication-through-literature.html
Banua, R.T. (2024). Cerobong Tua Terus Mendera. Shira Media
Febriyanto, D., Anista, E., Widodo, M., & Juniar, E. (2021). Kritik sosial dalam cerita pendek karya Raudal Tanjung Banua. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 21(2), 197-206.
Khristiyanti, D., & Supriyanto, T. (2018). Nature Environment Representation in Raudal Tanjung Banua Poetries: Exocriticism Review. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 7(2), 154-164.
Kusniarti, T. (2012). Teks Sastra Sebagai Media Komunikasi Antarbangsa (Kajian Atas Novel Dari Fontenay Ke Magallianes Karya Nh. Dini). Bahasa dan Seni, 11(1).
McLuhan, M. (1964). Understanding media: The extensions of man. McGraw-Hill Book Company.
Paaneah, D. Z., Sunardi, S., & Wuryani, E. (2019). Pemahaman Syair Tembang Lir-Ilir Karya Sunan Kalijaga dalam Pembelajaran IPS pada Siswa Kelas VII B Smp Kristen Satya Wacana Salatiga. Satya Widya, 35(2), 140-147.
Rahmadansyah, R., & Juliani, R. (2023). Fungsionalisasi Budaya Lisan Nandong Smong di Desa Salur Kecamatan Teupah Barat Kabupaten Simeulue Provinsi Aceh. SOURCE: Jurnal Ilmu Komunikasi, 9(2), 138-147.
Sell, R.D. (2020). Literature as Communication: The foundations of mediating criticism. John Benjamins Publishing Company.
Suaka, I. N. (2019). Kebudayaan Pesisir dalam Antologi Cerpen Ziarah Bagi yang Hidup: Kajian Antropologi Sastra. Wacana Saraswati Majalah Ilmiah Tentang Bahasa Sastra Dan Pembelajarannya, 19(1), 4-4.
Yudistira, A (2024). Labirin Liris tentang Orang-Orang Kalah. Diakses dari: https://www.jawapos.com/buku/015448406/labirin-liris-tentang-orang-orang-kalah

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan