
Suka-duka Menjadi Pramugari Haji: Dari Duduk Di sebelah Mayat hingga Dua Kali Naik Haji (Bagian Kedua dari 2 Tulisan-Habis)
Suka-duka Menjadi Pramugari Haji: Dari Duduk Di sebelah Mayat hingga Dua Kali Naik Haji (Bagian Kedua dari 2 Tulisan-Habis)
Pulang Haji Mestinya Sabar
Pernah suatu ketika aku lagi menyediakan makan siang di lorong tengah pesawat, seorang ibu tiba- tiba dengan tangannya bekas suapan nasi mencolek aku untuk minta minum. Padahal dia sudah diberi minum sebelumnya. Sebenarnya tidak masalah juga apabila penumpang meminta tambahan minuman lagi. Tapi persoalannya, si ibu yang mencolekku dengan tangan penuh sambal yang membuat baju seragamku kotor. Awalnya aku sempat kesal, tapi lama-lama aku berusaha sabar dan memahaminya sehingga aku tidak marah. Itulah para jamaah dengan kepolosan dan sifat ketidak-tahuannya dalam banyak hal. Bisa dimaklumi, mereka mempunyai latar belakang kehidupan dan pendidikan yang berbeda- beda.
Ada juga beberapa temanku yang marah menghadapi keadaan seperti itu. Tapi setelah dijelaskan mereka paham dan mengerti. Oleh sebab itu tak semua pramugari yang mau ikut penerbangan haji karena keberatan menghadapi hal- hal tersebut.
Untuk ikut penerbangan haji, pramugari harus mendaftar lebih dulu dan bersedia ditempatkan di home base mana saja. Setelah fase keberangkatan menuju Arab Saudi selesai dan jamaah menunaikan rangkaian ibadah haji, kami baru bisa kembali ke Jakarta dan pulang ke rumah. Tapi apa bila ada yang mau menunaikan ibadah haji, kami bisa ikut rombongan haji dari Garuda sampai selesai menunaikan rangkaian ibadah haji. Setelah selesai berhaji bisa kembali lagi ke Jakarta.
Duduk Di sebelah Mayat
Cerita lucu dan membuat aku mual adalah ketika salah seorang penumpang buang air besar di wastafel toilet. Aku tidak habis pikir bagaimana penumpang itu bisa naik ke atas dan BAB di wastafel yang biasa digunakan untuk cuci tangan. Belum lagi kalau menghadapi penumpang CJH yang sakit dalam pesawat bahkan sampai meninggal.
Aku pernah mengalami jamaah meninggal di pesawat. Pesawat baru saja take off dan penumpang tersebut tiba tiba meninggal mendadak tanpa sebab yang jelas . Kalau di antara penumpang tahu tau ada jamaah yang meninggal, pasti mereka tidak akan mau duduk bersebelahan dengan mayat. Untuk itu kami terpaksa berbohong dan mengatakan penumpang tersebut sedang sakit atau tidur.
Kejadian lain, dalam suatu penerbangan haji, ada penumpang laki-laki penderita diabetes yang kakinya luka karena kakinya luka terinjak waktu melempar jumrah. Lukanya agak membusuk dan menimbulkan aroma tidak sedap. Akibatnya jamaah ini dijauhi oleh penumpang lain sambil mengerutu. Akhirnya kami berinisiatif untuk menaburi kopi di sekeliling jamaah ini sehingga baunya agak berkurang.
Kejadian-kejadian begitu membuatku merenung, semestinya jamaah yang baru selesai menunaikan ibadah haji lebih sabar. Tapi kenyataannya malah terbalik: suka marah dan tidak sabar. Ibarat orang bilang bukanya makin baik sepulang haji malah bertambah aneh kelakuannya.
Dua Kali Menunaikan Haji
Selama aku bekerja sebagai pramugari dan sering melayani penerbangan haji, aku berkesempatan dua kali menunaikan ibadah. Kalau ibadah umroh rasanya tak terhitung lagi aku laksanakan. Pokoknya setiap terbang ke Jeddah, aku dan beberapa memanfaatkan kesempatan berumroh.
Alhamdulillah cita cita masa kecil untuk bisa mengunjungi beberapa negara sudah terwujud. Aku bersyukur sudah bisa menunaikan ibadah haji juga. Aku teringat surah Ar- Rahman ayat ke-13…yang maknanya berbunyi: “Maka nikmat Tuhan yang mana lagi kah yang kamu dustakan.” ***