Syekh Sulaiman ar-Rasuli dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah: Antara Pendidikan, Tradisi, dan Perubahan Sosial: oleh Dr. H. Al Fitri J Chaniago, S.Ag., S.H., M.H.I.

136

Syekh Sulaiman ar-Rasuli (1871–1970)
Syekh Sulaiman ar-Rasuli, yang lebih dikenal dengan sebutan Insyiak Candung, adalah salah satu ulama besar Minangkabau dan tokoh sentral dalam perkembangan pendidikan Islam tradisional baik melalui surau maupun madrasah di Indonesia, khususnya di Sumatra Barat. Kiprah beliau tidak hanya terbatas pada pengajaran ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga pada upaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan klasik yang berakar kuat pada Mazhab Syafi’i dan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Melalui dedikasinya dalam dunia pendidikan, Insyiak Candung berhasil membentuk sistem pembelajaran Islam yang terstruktur tanpa meninggalkan ciri khas lokal Minangkabau. Ia memadukan nilai-nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dalam praktik pendidikan, sehingga melahirkan generasi ulama dan cendekiawan yang tidak hanya mendalam dalam ilmu agama, tetapi juga arif dalam menyikapi realitas sosial masyarakat.
Peran besarnya dalam mendirikan dan mengembangkan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) menjadikan beliau sebagai pelopor gerakan pendidikan Islam tradisional yang berpengaruh luas dan berkelanjutan hingga kini.

Latar Belakang dan Pendidikan
Syekh Sulaiman ar-Rasuli lahir di Candung, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada tahun 1871. Sejak usia dini, beliau telah menunjukkan kecintaan yang besar terhadap ilmu agama dengan menempuh pendidikan di berbagai surau terkenal di Minangkabau, yang pada masa itu menjadi pusat pembelajaran Islam dan pembinaan ulama. Di surau-surau inilah beliau ditempa dengan disiplin keilmuan, adab, serta tradisi intelektual Islam yang kuat.

Kehausannya terhadap ilmu pengetahuan mendorong Syekh Sulaiman ar-Rasuli untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Tanah Suci Mekkah. Di pusat peradaban Islam tersebut, beliau berguru kepada para ulama besar dan mendalami berbagai disiplin keilmuan Islam secara sistematis dan mendalam. Proses pendidikan ini tidak hanya memperkaya wawasan keilmuannya, tetapi juga membentuk kedalaman spiritual serta keteguhan manhaj keilmuannya.

Syekh Sulaiman ar-Rasuli dikenal sebagai ulama yang memiliki penguasaan kuat dalam Fiqh Mazhab Syafi’i, berpegang teguh pada aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, serta memiliki kedalaman dalam tasawuf yang tercermin dalam akhlak dan keteladanan hidupnya. Di samping itu, beliau juga menguasai bahasa Arab dan ilmu alat sebagai fondasi utama dalam memahami dan mengkaji khazanah keilmuan Islam klasik. Kombinasi keilmuan inilah yang menjadikan Insyiak Candung sebagai sosok ulama yang otoritatif, moderat, dan berpengaruh luas dalam dunia pendidikan Islam di Minangkabau dan Indonesia.

Peran dalam Pendidikan Islam
Sekembalinya dari Tanah Suci Mekkah, Insyiak Candung tidak hanya membawa keluasan ilmu, tetapi juga visi besar untuk membangun dan memperkuat pendidikan Islam di tanah Minangkabau. Beliau kemudian mendirikan dan mengembangkan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Candung, sebuah lembaga pendidikan Islam yang berakar pada tradisi surau namun dikemas dalam sistem madrasah yang lebih terstruktur. MTI Candung selanjutnya menjadi model pendidikan Islam tradisional yang berpengaruh luas di Minangkabau.

Dari lembaga inilah lahir jaringan Tarbiyah Islamiyah yang berkembang pesat dan menyebar ke berbagai daerah di Sumatra bahkan ke sejumlah wilayah lain di Indonesia. Jaringan ini berperan penting dalam mencetak ulama, guru, dan tokoh masyarakat yang berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i, sekaligus mampu menjawab tantangan sosial zamannya.

Dalam sistem pendidikan yang dibangunnya, Insyiak Candung menekankan beberapa prinsip utama;
1) Pelestarian tradisi keilmuan klasik melalui pengajaran kitab kuning sebagai sumber utama pembentukan otoritas keilmuan Islam.
2) Pentingnya keseimbangan antara adat Minangkabau dan syariat Islam, sehingga pendidikan tidak tercerabut dari akar budaya lokal.
3) Beliau menegaskan bahwa pendidikan akhlak dan adab harus berjalan seiring dengan penguasaan ilmu pengetahuan, karena menurutnya ilmu tanpa adab akan kehilangan makna dan keberkahannya.

Prinsip-prinsip inilah yang menjadikan MTI Candung dan jaringan Tarbiyah Islamiyah sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mencetak insan berilmu, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak, beradat, dan berkontribusi bagi umat dan bangsa.

Tokoh Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI)
Syekh Sulaiman ar-Rasuli merupakan pendiri sekaligus tokoh utama Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), sebuah organisasi yang pada awal berdirinya berorientasi sebagai gerakan sosial-keagamaan dan pendidikan. PERTI didirikan dengan tujuan utama menjaga dan melestarikan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah serta Mazhab Syafi’i di tengah menguatnya arus pembaruan pemikiran Islam pada masa itu. Organisasi ini menjadi wadah bagi para ulama tradisional untuk mempertahankan kesinambungan tradisi keilmuan Islam klasik sekaligus merespons dinamika sosial umat secara arif dan proporsional.

Dalam perjalanan sejarahnya, PERTI mengalami perkembangan peran, tidak hanya sebagai organisasi keagamaan dan pendidikan, tetapi juga bertransformasi menjadi kekuatan sosial dan politik yang berpengaruh pada masanya. Kendati demikian, Syekh Sulaiman ar-Rasuli tetap konsisten memposisikan dirinya sebagai ulama pendidik dan pemersatu umat, yang menempatkan kepentingan persatuan Islam di atas kepentingan politik praktis.

Sikap beliau yang menjunjung tinggi kearifan lokal Minangkabau serta prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah tercermin dalam pandangan dan arah perjuangannya. Insyiak Candung menegaskan bahwa pembaruan dan perubahan sosial harus dilakukan tanpa menanggalkan akar tradisi dan identitas keislaman masyarakat. Karena itu, meskipun PERTI pernah terlibat dalam dinamika politik nasional, figur Syekh Sulaiman ar-Rasuli tetap dikenang sebagai ulama yang menyatukan ilmu, adat, dan akhlak dalam satu kesatuan perjuangan dakwah dan pendidikan.

Pemikiran dan Sikap Keulamaan
Insyiak Candung dikenal sebagai sosok ulama yang tegas dalam prinsip keilmuan dan akidah, namun tetap bijaksana dan santun dalam sikap serta metode dakwahnya. Keteguhan beliau dalam menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dan Mazhab Syafi’i tidak menjadikannya eksklusif atau keras, melainkan dibarengi dengan kearifan dalam menghadapi perbedaan pandangan di tengah umat.

Dalam konteks dinamika pemikiran Islam pada masanya, Syekh Sulaiman ar-Rasuli secara tegas menolak pertentangan tajam antara kelompok tradisional dan modernis yang berpotensi memecah belah umat. Beliau lebih mengedepankan dialog yang konstruktif, pertukaran gagasan yang berlandaskan dalil, serta adab ilmiah sebagai fondasi utama dalam perbedaan pendapat. Bagi Insyiak Candung, perbedaan bukanlah alasan untuk saling menegasikan, melainkan sarana untuk saling memperkaya pemahaman keislaman.

Pandangan dan sikap keulamaan tersebut dirangkum dalam semboyan pemikirannya yang sangat terkenal dan hingga kini tetap relevan, yakni: “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”

Semboyan ini menegaskan keyakinan beliau adat dan budaya lokal harus berpijak pada nilai-nilai syariat Islam, sementara syariat Islam itu sendiri bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah. Prinsip inilah yang menjadi landasan utama pemikiran dan gerakan dakwah Insyiak Candung, sehingga ajaran Islam dapat tumbuh dan berkembang secara harmonis dalam kehidupan masyarakat Minangkabau tanpa kehilangan substansi ajarannya.

Wafat dan Warisan
Syekh Sulaiman ar-Rasuli wafat pada tahun 1970 dalam usia hampir satu abad, menutup perjalanan hidup seorang ulama besar yang seluruh pengabdiannya diabdikan untuk ilmu, pendidikan, dan umat. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi masyarakat Minangkabau, tetapi juga bagi dunia Islam Indonesia secara luas.

Warisan Insyiak Candung tidak semata-mata terwujud dalam bentuk lembaga pendidikan seperti Madrasah Tarbiyah Islamiyah dan organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), melainkan juga dalam ribuan murid yang telah beliau didik dan tersebar di berbagai daerah. Para murid inilah yang kemudian melanjutkan estafet keilmuan dan dakwah beliau, menjaga kesinambungan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah perubahan zaman.

Selain itu, Syekh Sulaiman ar-Rasuli juga meninggalkan karya-karya tulis serta jejak pemikiran yang menjadi rujukan dalam dunia pendidikan dan keilmuan Islam. Lebih dari itu, warisan terbesarnya adalah tradisi keilmuan yang hidup tradisi yang menempatkan ilmu, adab, adat, dan syariat dalam satu kesatuan yang harmonis. Hingga hari ini, pemikiran dan teladan Insyiak Candung tetap relevan dan terus menginspirasi pengembangan pendidikan Islam yang moderat, berakar pada tradisi, serta responsif terhadap dinamika masyarakat.

Daftar Pustaka
Arifin, Zainal. Ulama Minangkabau dan Peranannya dalam Pendidikan Islam. Padang: IAIN Imam Bonjol Press, 2005.
Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana, 2013.
Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942. Jakarta: LP3ES, 1996.
Tim Penulis PERTI. Sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Bukittinggi: Penerbit PERTI, 1985.

Dr. H. Al Fitri J Chaniago, S.Ag., S.H., M.H.I., Wakil Ketua Pengadilan Agama Kota Cimahi Kelas IA (Alumnus Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung Tahun 1994 dan Ketua Umum DPD Pemuda Tarbiyah Islamiyah Bandarlampung Periode 1995-2000)

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan