Lautan Keempat Ala Husnu Abadi | Catatan Bambang Kariyawan Ys

74

LAUTAN KEEMPAT ALA HUSNU ABADI

Ketika melihat daftar isi dalam buku ini, ada ketemu puisi yang berjudul “Tanjung Uban Kepagian”. Puisi ini bagi saya memiliki dua daya tarik. Menarik karena isi puisinya dan menarik karena nama tempatnya Tanjung Uban yang disebut penulis sebagai kampung halaman saya. Tanjung Uban sebuah kampung kecil di Bintan, Bundanya Tanah Melayu.

Pagi di Tanjung Uban

Segera hilang dan meredup

Aku tetap membawa bendera

Yang selalu kukibarkan

Selama ada matahari pagi (h. 138).

Sepertinya Husnu Abadi, penulis buku ini sangat paham segala seluk beluk tentang kampung kelahiran saya, Tanjung Uban dan sekitarnya. Hal ini tertuangkan dalam puisi-puisi yang berbicara tentang kampung halaman saya. Puisi itu berjudul “Mencari Megat”, “Taman Ini Kunamakan Taman Megat. Begitulah.”, “Gunung Bintan”, dan “Penyengat 2018”.

Mengapa Lautan?

Lautan secara sederhana dapat kita pandang sebagai hamparan luas perairan yang menghampar. Di dalamnya mengandung beragam biota kehidupan yang beraneka warna. Namun kita dapat meletakkan kata lautan dalam pandangan lain sebagai sesuatu yang teramat luas dan dalam. Ketika kata “Lautan” ditempatkan pada pilihan kata dalam sebuah judul karya (apalagi karya puisi) maka pemaknaannya akan semakin luas dan dalam.

Husnu Abadi, penyair dari Riau ini telah memilih kata “Lautan” sebagai identitas dalam karya buku puisinya. Cara ini merupakan strategi membentuk keunikan dalam berkarya. Cara yang akan dikenang bahkan dinanti. Buku puisi yang sedang kita bincangkan ini berjudul Lautan Taj Mahal (2021). Buku keempat yang lahir dengan tetap memilih kata “Lautan” sebagai judul buku. Buku sebelumnya berjudul Lautan Kabut (1998), Lautan Melaka (2002), dan Lautan Zikir (2004).

Tentang ketiga “Lautan” sebelumnya pernah dibahas secara khusus oleh Budayawan Riau, UU Hamidy dalam tulisan beliau yang pernah dimuat dalam RIAU POS, 2 Maret 2008 dan 9 Maret 2008. Serta dalam buku Lautan Taj Mahal ini direpro dan diletakkan sebagai Pengantar dengan judul “Husnu Abadi, Penyair Tiga Lautan”.

Lautan Taj Mahal memuat 98 puisi yang ditulis dalam rentang waktu 2004 – 2021. Selain 98 puisi juga memuat Pengantar dari UU Hamidy, puisi tentang Husnu Abadi oleh rekan penyair, dan testimoni dari beberapa rekan penyair.

Mengapa Taj Mahal?

Pilihan judul Taj Mahal diletakkan pada kata Lautan tentu penyair punya alasan tersendiri. Taj Mahal dianggap simbol kesetiaan. Siapapun tahu bahwa Taj Mahal termasuk simbol keajaiban dunia yang dibangun atas dasar cinta. Ada pesan menggelorakan ke arah yang lebih mendunia dengan meletakkan kata Taj Mahal pada judul buku ini. Kita dapat nikmati bait-bait tentang “Taj Mahal” yang bicara tentang setia,

Oh Taj Mahal

Yang tak pernah gelisah

Yang tak pernah sepi

Dan tak pernah sunyi

Dan aku merasa malu ketika melihat ke belakang

Ketika makna kesetiaan yang sering berceceran

Atau yang sering dipertukarkan (h. 47).

Sosiologi Sastra

Dalam kajian sosiologi sastra latar belakang penyair selalu akan mengiringi karya yang dituliskannya. Ditulis secara sengaja ataupun tidak akan terus mempengaruhi. Salah satu latar yang mempengaruhi berupa latar pekerjaan penyair. Sebagai pengajar di Fakultas Hukum, beberapa puisi dalam Lautan Taj Mahal menggambarkan nuansa gugatan akan ketidakadilan. Dapat kita lihat pada puisi “Telah Bertahun Kubangun Negeri Ini”,

Telah bertahun kubangun jembatan ini agar orang-orang pinggiran mudah ke seberang

Mengapa engkau masih saja menghitung-hitung peruntungan

Orang-orang pinggiran telah bertahun bertahan dalam derita

Janganlah mereka dikesampingkan

Janganlah mereka dinistakan (h. 37).

Sebagai pengajar Hukum dan penyair semacam ada keluasan dalam melakukan gugatan atas ketidakadilan yang ditemui. Suara jalur hukum tidak tembus, maka bait-bait puisi pun menjadi pilihan. Teringat kita akan ucapan terkenal dari Presiden John F. Kennedy,”Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya”. Puisi-puisi menggugat ketidakadilan pun hadir dalam puisi-puisi yang berjudul Negeri Kami, Ketika Air Menyela, Sajak Anggara Kepada Angeline dan puisi lainnya.

Jejak Kembara

Puisi-puisi dalam buku ini pun dapat kita pilah-pilah menjadi bagian tema hasil menapaki berbagai belahan dunia dan negeri kita dalam rekam jejak sejarah melalui medium puisi. Penyair tentu tidak akan membiarkan kenangan begitu saja ketika berada di negeri dan kota lain. Dengan cara yang elegan setiap tapak dan kenangan berada di tempat yang dilalui digores melalui bait-bait yang tentu saja teramat liris. Dari judul-judul puisi yang ditawarkan kita langsung dapat melihat puisi tersebut berkisah tentang negeri, kota, tempat, dan peristiwa yang dikunjunginya.

Selain puisi “Taj Mahal”, puisi lain yang hadir sebagai hasil jejak kembara penyair antara lain “Sajak yang Lahir dari Kampung Ayer”, “Cilegon”, “Perjalanan Malam Blitar-Bengkulu”, “Pantun Senandung Tanah Merah”, “Menetes Air Mataku di Selat Bosporus”, “Museum Hagia Shopia”, “Hagia Sophia pada Jumat 24 Juli 2020”, “Kelantan”, “Museum Quran Pattani”, “Gunung Bintan”, “Tanjung Uban Kepagian”, “Penyengat 2018”, “Ziarah Kudus”, dan “Kota Tinggi”. Puisi-puisi yang disusun dengan apik menempelkan jejak dan peristiwa pada tempat yang dikunjungi dengan kenangan berupa kopi, masjid, istana, pelabuhan, dan sungai. Tidak menutup kemungkinan bila karya fiksi seperti ini dapat menjadi sumber bahan sejarah. Kita simak diantaranya penggalan dari puisi “Menetes Air Mataku di Selat Bosporus”,

Menetes air mataku di selat ini

Mengingat engkau penuh seluruh

Sang Sultan Muda

Al Fatih namanya

Tahun 1453, kejadiannya

Kuremas makammu sebagai penanda kerinduan (h. 115).

Tentang Nama dan Kerabat

Lautan Taj Mahal sepertinya sebagai puisi yang disusun penyair dengan menyebutkan nama. Nama-nama tersebut kemungkinan berupa kerabat penyair dan seseorang yang ingin disejarahkan melalui puisi. Persembahan khusus penyair untuk kerabatnya dapat dilihat dari puisi “Mengenang Abah Jumadi Safar”, “Doa untuk E. Ahmad Sofian”, dan “Nik”. Sedang puisi bernama yang secara khusus ingin disejarahkan berjudul “Sang Guru Ahmad Tohari”, “Nawla”, “Suaramu, Khaira”, “Ainun”, “Sajak Buat BJ Habibie”, “Prince Songkla Suatu Senja”, “Mencari Megat”, “Suara Melala untuk Aung San Suu Kyi”,  “Mencari Megat”, dan “Nasehat Abraham Lincoln”.

Beridentitas

Lautan Taj Mahal menjadi buku puisi beridentitas. Identitas pertama tentunya melanjutkan kata “Lautan” sebagai kata pertama dalam judul bukunya.  Pada buku ini ditambahkan identitasnya sebagai buku puisi yang unik karena terdapat puisi-puisi yang ditulis oleh rekan penyair tentang Husnu Abadi. Puisi “Aku Ingin Bersamamu” (Hasmiruddin Lahatin Aisyah), “Doa Dalam Doa” (Dinullah Rayes), dan “Tentang Jalan Lempang Itu” (Fakhrunnas MA Jabbar) sebagai rekan yang selalu bersama dalam kepenyairan,

Ketika kita bicara tentang jalan

Yang lempang saja

Katamu, mari ke sana

Mari (h.150).

Buku ini juga memiliki keunikan dengan hadirnya apresiasi berupa testimoni tentang penyair dari rekan-rekan terbaik penyair. Salah satunya dari Dinullah Rayes,

Husnu Abadi bukan hanya seorang penyair tapi dia juga seorang pensyarah yang menekuni hukum. Sajak-sajak baladanya yang tematik dan indah adalah suatu kekuatan yang menggugah dan dimiliki sang penyair yang rendah hati (h. 157).

Bagaimanapun Lautan Taj Mahal telah menjadi salah satu buku yang mewarnai kekayaan literasi di negeri ini. Tahniah.

Bambang Kariyawan Ys., Sastrawan.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan