Olimpiade Sains dan Hilangnya Peran Guru: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

243

Saat penulis masih bangku SMA, mengikuti lomba akademis mewakili sekolah adalah kebanggaan tersendiri. Saat itu pernah mengikuti lomba karya tulis ilmiah dan lomba cerdas cermat. Kedua lomba tersebut diikuti dengan tanggung jawab dan dibawah bimbingan seorang guru dan terjadi proses transfer ilmu pengetahuan “lebih” dari guru kepada penulis. Melalui serangkaian jadwal latihan benar-benar dedikasi seorang guru ditunjukkan karena tentunya telah mengambil jadwal istirahat seorang guru untuk diri dan keluarganya. Penulis benar-benar merasakan peran guru dalam membimbing dan mengarahkan sehingga penulis meraih capaian terbaik dalam lomba-lomba yang diikuti. Kebanggaan penulis dapat memberikan sumbangan terbaik untuk sekolah dan keberhasilan ini tak lepas dari peran guru.
Seiring perubahan waktu dan menggeluti dunia pendidikan sebagai profesi, sepertinya ada yang hilang dalam mengikutsertakan anak-anak murid dalam kompetisi akademis seperti saat ini dikenal dengan Olimpiade Sains. Memang saat ini sepertinya sekolah-sekolah berpacu untuk meraih yang terbaik dalam lomba tersebut. Kebanggaan luar biasa bila salah satu murid kita dapat mengukir prestasi dengan membawa medali dalam ajang lomba tersebut. Tidak berhenti di situ. Penghargaan-penghargaan berikutnya bila murid-murid kita memperoleh medali maka telah menanti sederet penghargaan susulan dari berbagai pihak. Dari Dinas setempat, dari Pemerintah dengan Bantuan Operasional Sekolah Prestasi, masuk kampus favorit, dan sanjungan pada sekolah yang muridnya meraih medali. Dapat dikatakan capaian medali yang diperoleh sebagai barometer kualitas sekolah.
Namun kenyataan di lapangan, ada sesuatu yang telah keluar dari koridor lomba yang pesertanya adalah seorang murid sekolah. Mari cek data, sekolah-sekolah yang meraih medali hanya dicapai oleh sekolah-sekolah yang cenderung itu-itu saja. Sekolah-sekolah lain sepertinya terpinggirkan. Analisis di lapangan menunjukkan hanya sekolah yang memiliki anggaran besar yang dapat membawa anaknya meraih capaian tertinggi dalam olimpiade sains ini. Selain anggaran besar tentunya tetap diwakili oleh anak-anak ajaib yang gila akan belajar sains juga sebagai prasyarat. Namun sayangnya keberhasilan anak-anak peraih medali tersebut sepertinya telah menghilangkan peran guru.
Dalam pelaksanaannya persiapan olimpiade sains telah menjadi bisnis pendidikan yang sangat menggiurkan. Hadir pelatih-pelatih dan lembaga-lembaga khusus yang menawarkan jasa atau diminta jasanya oleh pihak sekolah yang memiliki anggaran besar meminang pelatih-pelatih/lembaga-lembaga tersebut untuk membimbing anak-anak murid di sekolah. Peran guru sepertinya hanya fasilitator dalam pelaksanaan bimbingan yang dilakukan oleh pelatih tersebut. Mengingat soal-soal yang diujikan tidak akan sanggup dijawab oleh guru secara keseluruhan. Tingkat soal sepertinya dibuat memang untuk berfikir tingkat tinggi. Sebagai perbandingan soal untuk anak SMA levelnya untuk sarjana tingkat akhir bahkan untuk pasca sarjana.
Kondisi ini membuat guru kehilangan percaya diri di hadapan anak-anak muridnya karena kesulitan soal yang diujikan. Sehebat apapun guru tentunya perlu konsentrasi dan fokus tinggi untuk membimbing anak-anak murid meraih capaian terbaik. Perlu diingat guru memerlukan perhatian pada anak-anak murid yang lain karena tugasnya dalam mengajar.
Asumsinya dengan kondisi tersebut, bila ingin meraih capaian terbaik dalam olimpiade sains yang dianggap menjadi salah satu barometer pendidikan maka prasyaratnya sekolah harus punya anggaran besar dan pelatih khusus/kerjasama lembaga khusus. Dimana peran guru? Sepertinya esensi pemerataan kesempatan untuk sekolah-sekolah lain meraih capaian terbaik dalam olimpiade sains hanya sekedar mimpi.
Penulis memberikan catatan, kembalikan esensi Olimpiade Sains sebagai ajang kompetisi anak-anak murid kita dalam pembentukan karakter di bawah bimbingan seorang guru. Perlu revisi standar soal yang diujikan sehingga memberikan kesempatan pada seorang guru untuk melakukan bimbingan terbaik dan percaya diri di hadapan muridnya. Dengan cara ini akan muncul pemerataan kesempatan menyalurkan mimpi-mimpi anak-anak murid dan sekolah yang tidak pernah mencicipi capaian itu akan muncul dan terjadi persaingan yang masuk akal untuk sebuah lomba yang bernama olimpiade sains.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Penulis: Guru di Pekanbaru.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

1 Komentar
  1. Rusno mengatakan

    Semoga tulisan ini dibaca oleh para pemangku kepentingan utamanya para pengambil kebijakan. Perlu re-evaluasi lagi terhadap berbagai kegiatan lomba yang orientasinya sudah terdistorsi. Peserta didik dari kelompok ekonomi menengah atas cenderung menguasai berbagai perlombaan karena mereka mempunyai capital yang cukup sehingga mampu mendatangkan berbagai pembimbing, pelatih dan narasumber. Bagaimana mungkin peserta didik dari kelompok ekonomi menengah bawah mampu bersaing yang pembimbingnya hanya dari guru mereka di sekolah dengan penguasaan materi sebatas kurikulum nasional sementara yang dilombakan sudah sangat tinggi levelnya.

    Yuuk kita buat lomba yang natural sesuai dengan resources yang dimiliki sekolah.