

Oleh: Muhammad AsqalanieNeSTe
Ternyata aku tak bisa meninggalkanmu, puisi. Demikian ucap Sugiarti pada pembukaan puisinya berjudul “TERNYATA AKU TAK BISA MENINGGALKANMU”. Pada puisi yang sama, namun di bait yang berbeda ia menulis: tuhan mungkin membenciku/ menelantarkanmu adalah dosa,/ jernih bisik naluri/ melambailambai sepertiga malam//
Dalam buku kreatifitas FLP Pekanbaru yang sempat saya kuratori, saya menemukan bahwa Sugiarti kecil memulai riwayat tintanya dari cerpen. Ia menulisnya dengan tulisan tangan. Karena pada masa itu komputer masih dianggap barang aneh. Ya, Sugiarti kecil dengan semangat menuliskan cerpen demi cerpen, mengumpulkannya dalam satu bundel dan menyodorkannya ke pada teman-temannya di sekolah. Teman-temannya suka. Mereka tertarik membacanya. Lalu ia pun tercambuk.
Tapi Sugiarti menoreh prestasi menulisnya berawal dari puisi. Dengan modal iseng-iseng ia mengikuti lomba puisi di sekolahnya. Ternyata iseng-iseng berhadiah. Tak kepalang ia meraih juara pertama.
Bertahun-tahun kemudian. Sugiarti telah mengeksplorasi tintanya ke berbagai muara; cerpen, puisi, esai, resensi, artikel, karya tulis dll. Tapi ada satu hal yang mungkin membuat kita bertanya “kenapa Sugiarti menulis?”
Aku merasa tak punya sesuatu yang membanggakan di dunia ini, maka ketika aku mulai menulis aku merasa betapa kemudian dunia memandang ke arahku. Tak terhenti di situ, aku bahkan yakin bahwa akhiratku pun akan bisa kuraih dengan penaku yang terus kuupayakan mampu mengalirkan tinta-tinta kebermanfaatan.
Itulah dan begitulah Sugiarti. Ia selalu tak pernah lepas dari kata Tuhan.
Betapa pun Sugiarti berkata aku, kau atau apalah, ujungnya tetap Mu. Dan saya khawatir bahwa Sugiarti adalah seseorang yang rajin dikunjungi sepi. Maka aku dan kau yang ia bahasakan tak lebih adalah dirinya. Solilokui.
Sekilas memang, tampak aku dan kau adalah dua insan yang berbeda. Tapi cobalah kita lihat dengan saksama:
aku menemukan kerinduanku telah tersemat pada rintikrintik embun di wajahmu.
kiranya hendak kita berpetualang ke jabaljabal masa lalu usang menghilang.
paruh waktu tempo dahulu adalah bahar cinta kita pada Nya,
tidak kah kau lupa pertemuan menghimpit asa di dada mempertaruhkan segenap linangan air mata.(penggalan“AKU DAN KAU MUSYAFIR WAKTUMU”)
Ah, kurasa penyair tidak berbicara kepada kita (pembaca). Tapi kepada dirinya sendiri. Dengan arah pembicaraan menuju Tuhan. Tentang pemberian keyakinan pada keraguan dalam dirinya sendiri.
Pekanbaru – Kubang Raya, 2014 -2021
Biodata : Muhammad AsqalanieNeSTe. Menulis puisi sejak 2006. Adalah youtuber di channel Dunia Asqa. Menjadi Mentor Menulis Puisi & Quote Online. WA: 0819 4940 2585
Suka❤️
Begini ya cara memahami puisi dari sudut pembaca keren👍👍👍