Bayang-Bayang di Jalan Pulang, Ketika Film Viral, Mitologi Hidup, dan Mental Anak Anak Dipertaruhkan: Catatan Daris Kandadestra

13

Selesai shalat magrib di mushala, Mustaqim—bocah sepuluh tahun, anak tetangga sebelah
rumah—menghampiriku.
“Om , nanti pulang samaan ya,” ujarnya.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Jalan pulang kami memang melewati sisi rumah yang masih rimbun oleh pepohonan, semak belukar. Bagi orang dewasa, itu sekadar lorong sunyi. Namun bagi anak seusia Mustaqim, bayang-bayang dan gelap yang mengendap selepas magrib bisa berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
“Aku takut, Om, lewat sini,” katanya pelan.
“Takut kenapa? Takut ular?” tanyaku mencoba menenangkan.
“Takut itu, Om… kuyang,” jawabnya pelan.
Aku terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Namun, di situlah aku sadar: ketakutan ini bukan sekadar ketakutan biasa. Ia sudah lebih dulu tumbuh di pikiran seorang anak. Ketakutan yang lahir dari sesuatu yang lebih besar—ditanam oleh layar kecil, viralitas, dan imajinasi kolektif orang dewasa.

Kuyang: Dari Mitologi ke Layar Lebar serta Ketertarikan Masyarakat Indonesia pada Mistis
Kuyang bukan cerita baru. Ia adalah bagian dari mitologi masyarakat di Kalimantan, hidup dalam tradisi tutur, diwariskan dengan jeda, penjelasan, dan batas usia. Dalam cerita lama, kuyang digambarkan sebagai sosok perempuan yang dipercaya dapat melepaskan kepala dan organ tubuhnya untuk terbang mencari mangsa. Dalam tradisi lisan, kuyang adalah symbol yang berfunsi sebagai pengingat moral tentang pelanggaran, tentang bahaya, tentang sesuatu larangan yang tidak boleh ditiru.
Namun, ketika mitologi ini diangkat ke budaya populer—terutama lewat film horor—maknanya bergeser. Cerita yang dahulu hidup dalam konteks budaya kini disajikan dengan visual yang realistis, musik mencekam, dan promosi masif di media sosial.
Tak ada pengantar budaya. Tak ada peringatan usia yang bermakna. Yang tersisa hanya gambar, potongan pendek visual kepala terbang, suara jerit, dan efek kejut beredar cepat lewat TikTok, Reels dan Status WhatsApp keluarga—hal tersebut cukup untuk membekas di kepala anak-anak.
Bagi orang dewasa, film hanyalah hiburan. Bagi anak-anak, ia bisa menjadi “kenyataan”.
Indonesia memiliki relasi yang sangat dekat dengan mitologi dan dunia gaib. Dari pocong, palasik, leak, hingga kuyang—cerita-cerita ini diwariskan lintas generasi. Ketika film dan media digital memviralkan kembali mitos-mitos tersebut, masyarakat seakan menemukan ruang nostalgia sekaligus sensasi.
Masalahnya, tidak semua penonton memiliki filter yang sama.

Tulisan Terkait

Mitologi : antara Budaya, Hiburan, Tanggung Jawab serta Dampak Psikologis pada Anak
Mitologi bukanlah musuh. Ia adalah kekayaan budaya. Namun cara kita menyajikannya di era digital menentukan dampaknya. Film horor boleh hidup, tapi literasi tontonan harus ikut tumbuh.
Ketika anak takut, respons kita sering dangkal: “Ah, itu cuma film.”
Ketika anak menangis, kita menertawakan: “Penakut.”
Padahal yang perlu dipertanyakan bukan keberanian anak, melainkan sistem yang membiarkan horor mengalir bebas ke ruang privat anak-anak. Algoritma media sosial tidak peduli usia. Konten paling ekstrem justru paling mudah viral. Ketakutan dijadikan komoditas, dan anak-anak adalah penonton yang tak pernah dimintai persetujuan.
Industri akan berkata: ini hiburan.
Orang dewasa akan berkata: itu urusan orang tua.
Keduanya setengah benar, sekaligus setengah lari dari tanggung jawab. Dalam hal ini, literasi tontonan sama pentingnya dengan literasi membaca.
Dalam konteks budaya, mitologi seharusnya menguatkan nilai, bukan menanam trauma. Ketika kuyang dilepaskan dari konteksnya, ia kehilangan fungsi edukatif dan berubah menjadi sekadar alat kejut.
Yang ironis, kita bangga menyebut diri bangsa yang kaya budaya, tetapi gagal melindungi generasi paling muda dari sisi gelap komodifikasi budaya itu sendiri.
Psikologi perkembangan telah lama mencatat bahwa anak usia sekolah dasar belum memiliki kemampuan penuh untuk membedakan fiksi dan realitas, terutama ketika fiksi itu disajikan secara visual realistis. Paparan konten horor pada usia ini kerap dikaitkan dengan peningkatan kecemasan, gangguan tidur, mimpi buruk, dan ketakutan situasional yang menetap.
Yang jarang dibicarakan: ketakutan itu sering tidak hilang begitu saja. Ia berpindah bentuk. Dari takut kuyang, menjadi takut gelap. Dari takut gelap, menjadi takut ruang sunyi. Dari takut ruang sunyi, menjadi rasa tidak aman yang dibawa sampai remaja.
‘Ketika mitologi divisualisasikan secara ekstrem tanpa pendampingan, anak-anak tidak belajar memahami budaya—mereka justru belajar untuk takut dan merasa terancam.
Mustaqim bukan pengecualian. Ia adalah potret kecil dari masalah yang lebih besar di masa depan.

Jalan Pulang yang Aman
Malam itu, Mustaqim akhirnya sampai di rumah. Ia tersenyum, berpamitan, dan menutup pintu. Jalan setapak itu tetap sama. Tidak ada yang berubah—kecuali maknanya di kepala seorang anak. Jalan setapak itu tetap sama: pohon, semak, gelap. Yang berubah hanyalah cara anak-anak memaknainya. Di zaman layar menyala di genggaman, mitologi tak lagi hanya hidup di cerita lisan —ia bisa ikut pulang, menumpang di imajinasi anak-anak.
Jika jalan pulang saja tak lagi aman dalam imajinasi mereka, barangkali yang perlu kita takuti bukan kuyang, melainkan cara kita membiarkan ketakutan tumbuh tanpa kendali.
Dan di situlah kita perlu hadir: memastikan bahwa budaya tetap hidup, tanpa harus menumbuhkan ketakutan yang terlalu dini.

Pekanbaru, 17 Februari 2026

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan