

Wajah Kebudayaan sebagai sistem sosial terdiri dari aktifitas manusia yang berkomunikasi, serta bergaul satu dengan lain, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun mengikuti pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan. Manusia sebagai “khalifah“ makhluk Allah yang tertinggi tak henti-hentinya berusaha berpikir, mempunyai kebutuhan hidup yang berkesinambungan. Kemajuan dan perubahan sosial yang diakibatkan teknologi modern menghasilkan kemakmuran hidup bersama. Namun sesudahnya baru terasa kemajuan teknologi menimbulkan masalah-masalah sosial. Adanya gejala-gejala seperti kemiskinan, pelacuran, frustasi, kenakalan dan kejahatan merupakan konsumsi siaran dan berita bagi masyarakat.
Perubahan sikap dan tingkah laku mengakibatkan juga perubahan mental. Sebagaimana disindir oleh Frank Eloyd seorang Amerika yang melukiskan manusia (kota) bagaikan ternak goblok atau kelompok semut yang berputar-putar bingung mencari lubangnya. Merenggangnya ikatan ke kerabatan akibat perkembangan sistem kemasyarakatan dan perekonomian masyarakat. Fungsi kekerabatan diambil alih oleh pendidikan formal di sekolah.
Berbeda dengan anak-anak yang dididik dalam alam tradisional hanya sedikit kemampuan untuk berkembang, dan lebih mengutamakan peran orang tua sebagai tokoh informal yang berpijak pada tradisi yang kuat. Kondisi ini mengakibatkan sukar mengadakan pembaharuan dan perubahan sehingga perkembangan jiwa individu sulit untuk dilaksanakan. Itulah sebabnya perubahan jalan pikiran sosial ke jalan pikiran ekonomis sulit untuk dilaksanakan.
Perubahan yang ditawarkan teknologi, misalnya menghilangnya kereta kuda, pedati yang anti polusi telah diganti oleh seperangkat budaya Colt dan Suzuki sebagai sarana transportasi. Perubahan sosial semacam ini menimbulkan bentuk difusi, suatu kontak masyarakat dengan dunia luar mengakibatkan kehidupan sosial suatu masyarakat berubah sesuai dengan model masyarakat luar.
Kasus menarik sebagai contoh adalah kontak dunia pabrik dan mesin dengan dunia pedesaan. Betapa rapuhnya sikap masyarakat yang tinggal berdampingan dengan dunia industri. Pembangunan pabrik baru seperti LNG, pabrik pupuk dan semen di daerah Aceh telah menyebabkan rakyat mendapat sejumlah uang ganti rugi yang cukup lumayan. Bagai orang yang menemukan ‘lampu aladin’ masyarakat berlomba-lomba menjadi konsumer sang pembeli yang bersemangat untuk memiliki yang ditawarkan oleh kenikmatan teknologi.
Dulu, masyarakat desa tidak pernah melihat bis dan menonton video/televisi, akan tetapi setelah ia bertemu dengan petualangan teknologi ia tak bisa menghindar dan segala macam jenis perangkat modern itu.
Syahdan, demikianlah masyarakat agratis tradisional yang mengalami transisi sosial ini mulai menerima mitos-mitos baru dan kejutan teknologi yang memberikan kenikmatan indera dan kenyamanan. Namun solidaritas dalam kesenian tetap ingin dipertahankan. Oleh karena itu ia merupakan satu wadah tempat bertemunya komunitas (kebersamaan) dalam menghayati ritus ibadah, seni tradisional yang diwariskan turun-temurun, dongeng-dongeng dan karya seni lainnya.
Barangkali, Pekan Kebudayaan Aceh yang usai berlangsung adalah sebuah peristiwa yang tidak sekedar turisme sejarah masa lampau, tetapi bagaimana masyarakat Aceh dapat memandang dirinya kembali dalam perpacuan sejarah masa depan. Dalam persepsi budaya masa lampau, kebudayaan Aceh telah mewariskan sejumlah literatur seperti Sejarah Melayu, Bustanus Salatin dan struktur pemerintahan yang cemerlang.
Seperti Pantun Aceh yang berbunyi: Adat bak Po Teumeurouhom: Hukum bak Syiah Kuala; Kaneun bak Putroe Phang; Reusam bak Bentara. Pantun ini menjadi dasar dalam melaksanakan sistem pemerintahan yang dapat disebutkan sebagai “Rukun Negara”, yang berarti adat-istiadat di tangan Sultan, hukum syariat ditentukan oleh utama (kaum cendikiawan), peraturan oleh Puteri Pahang, dan sopan santun ditentukan oleh hulu balang raja.
Proses transisi sejarah budaya memperlihatkan kelambanan apabila masyarakat tidak lagi responsif, tetapi sekedar penonton budaya dan bukan sebagai partisipan budaya, sikap, kepempimpinan, yang tertutup, kaum cendikiawan yang bisu, melemahnya struktur kekerabatan, dan tipisnya budaya menghormati orang tua dan sesamanya.
Dengan begitu diperlukan suatu masyarakat modern yang mengandalkan prestasi ilmiah, profesi, budaya dan karier dan mengutamakan orientasi kerja dibandingkan orientasi status (gengsi sosial). Dengan demikian mata rantai tradisi cemerlang masa lalu dapat disambung oleh generasi penerus yang dapat menghasilkan suatu mozaik budaya yang dianyam dan dirakit sesuai dengan motif-motif kebijaksanaan dan kecerdasan tanpa harus membuang dana sekedar nostalgia atau paket wisata.