Esai dan Kritik : Membaca Asap dan Membaca Azab (?)

322

Seorang penyair dari Vietnam, Nik Mansour Nik Abdul Halim, melukiskan secara deskriptif keadaan ketika sebuah kebakaran melanda sebuah negeri. Katanya:

Orang-orang tua terkulai

Gajah-gajah berdiri lunglai

Lihatlah, asap hitam naik dari jauh

Orang-orang membakar tunggul

Lihatlah, asap putih naik ke langit

Orang-orang mengoperasikan pabrik

Tanah basal gundul dan berdarah

Langit merah darah

(Puisi  Darah dari Hutan).

Sementara itu, penyair Patani Thailand, Phaosan  Jehwae, menggugat perangai penyelenggara negara, baik itu politikus maupun para pemimpin daerah dan pemimpin negara, yang dikatakan hanya mengutamakan pendapatan asli daerah atau pemasukan  anggaran negara ataupun perbuatan memperkaya diri sendiri dengan cara-cara rasuah.

Rasuah dan politikus

Mengubah jalan menjadi sungai

Mengubah sungai menjadi gurun

Mengubah bukit hijau  menjadi padang pasir

Mengubah udara segar menjadi asap beracun

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Ancaman Itu Semakin Nyata!

Mengubah manusia menjadi iblis

Mengubah dunia menjadi neraka 

(Puisi: Rasuah)

Penyair emas  dalam antologi puisi ini, Rida K Liamsi,  dalam puisi pendeknya, yang berjudul Ratap Azab Asapmenyindir para ekonom yang hanya mementingkan keuntungan semata tanpa memperdulikan dampaknya atas lingkungan hidup, dalam jangka panjang.

Pagi ini ekonomi memerlukan

Ceritera untuk manaikkan marginnya

Devisa kita sedang sekarat dan memerlukan nyawa anakmu

sebagai story portopolionya

Tanamlah sawit

supaya kau tak hanya merasa pedih kehilangan buah hati

Kau perlu juga ceritera untuk medsosmu 

yang backbonenya dibayar

Dari ratap azab asap mu

(Puisi: Ratap Azab Asap)

Kepada semua penyair yang telah lolos, kami ucapkan selamat dan atas kebersamaan kita selama ini dalam berlayar  di perahu perpuisian, akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Perlawanan kaum penyair memang tidak akan segarang kalau kawanan buruh dan mahasiswa melakukan perlawanan, apalagi kalau tentera ! Namun memperbaiki tabiat negara, kesantunan dan keadaban negara, sedikit banyaknya, dapat dilakukan oleh kaum seniman ini. 

                                                                                Negeri Busthanul Katibin, 16 September 2019

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan