Suara-Suara Yang Tersembunyi | Esai : Husnu Abadi

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

SUARA-SUARA YANG TERSEMBUNYI   

WS Rendra menyatakan bahwa dia bukanlah pernyair salon, yang mengisahkan indahnya angin dan taman bunga, tetapi akan berdiri menjadi saksi atas peristiwa yang ia hadapi, termasuk ketika berhadapan dengan kekuasaan yang keras kepala. Wiji Tukul, yang nasibnya sampai hari ini tidak bisa dijelaskan, hilang entah kemana, melakukan perlawanan dengan kata-kata. Hanya ada satu kata, LAWAN !  Seorang pengajar di Unika Bogor, Dr. Ahmad Sastra,  menulis buku puisi, berjudul Jangan Teriak Merdeka, Malu Kita. Bahkan sebuah antologi puisi yang dipesembahkan untuk memperingati 15 Tahun perjanjian  damai Helsinki antara GAM dan RI, diberi judul SEPERTI BELANDA. Hampir setiap detik puisi dilahirkan, oleh siapa saja, apakah mereka itu sudah bertahun menulis ataupun mungkin juga yang baru kemarin sore.

Kawasan Riau, yang merupakan kawasan kebudayaan dengan gelar Busthanul Khatibin, tamannya para penulis, tentu saja merupakan titik-titik simpul dari gerakan kebudayaan ini. Penulis pantun, puisi, syair, gurindam terus saja beralih generasi.

Ekspresi intelektual memang boleh saja dituangkan dalam makalah, paper, buku akademis atau lainnya. Tetap ekspressi intelektual juga mengalami kepuasaan tersendiri bila dituangkan melalui media syair, atau puisi, atau karya sastra lainnya. Penyair besar dari negeri Pakistan, Muhammad Iqbal, menuangkan sebagian karya intelektualnya lewat syair-syair naratif, seperti syair SYIKWA dan JAWABI SYIKWA (Keluhan dan Jawaban atas Keluhan).  Dalam syair itu, Iqbal melakukan kritik atas penyakir kemunduran yang menimpa ummat.

Kehadiran antologi yang ditulis Alaiddin Koto, seorang pengajar senior di sebuah universitas di Riau ini , tentu saja akan menambah penulis kampus, yang memilih media ekspresi kegelisahan intelektualnya tidak saja lewat buku atau jurnal akademis semata.  Ia telah melebarkan sayapnya.

Ini negeriku/dulu tidak seperti ini/berani hadapi penjajah/ /ini negeriku/dulu tidak seperti ini/ malu ketahuan maling//  ini negeriku/kini tidak seperti dulu/

Husnu Abadi adalah Ketua Badan Kerjasama Kesenian Indonesia (BKKI) Provinsi Riau, menulis antologi puisi Lautan Kabut (1998) , Lautan Melaka (2002),  Lautan Zikir (2004)   dan Lautan Kerinduan (2021). Penerima hadiah Sastra SAGANG (2015).  Pengajar di Fakultas Hukum UIR. 

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan