Esai : Kesederhanaan Cerita, Nilai yang Memukau – Riki Utomi

Kesederhanaan Cerita, Nilai yang Memukau

oleh Riki Utomi

Sewaktu kecil ketika masih duduk di bangku SD, saya pernah membaca cerita-cerita anak karangan Enid Blyton[1] yang terkumpul dalam banyak seri bukunya. Kini saya membaca kembali di umur yang berbeda, namun cerita tersebut masih membekas di hati. Membekas yang bukan sakadar ingat, tetapi lebih dari itu, ada semacam getaran batin yang kuat ketika membacanya kembali. Hal itu sekaligus—seolah-olah pula—saya kembali ke masa lalu, ke masa ketika masih duduk di bangku SD itu sambil meresap cerita-ceritanya yang sungguh menggugah. Bahkan, saya masih hafal beberapa kisahnya sebelum saya membuka buku-buku itu kembali.

Blyton, dalam banyak karangannya, memang terlihat langsung menyentak. Ia tidak bertele-tele, tetapi menggiring langsung dengan kalimat pembuka yang menyentuh ke hal yang hendak diceritakan.  Kita langsung menguntitnya pelan-pelan, larut, terbawa arusnya dengan kisah-kisah pertikaian tokoh-tokohnya, namun tetap Blyton mengisinya dengan nilai-nilai nasihat berharga untuk diresapi di tengah-tengah cerita atau juga di akhir cerita. Sebelum itu, di tengah cerita, ia juga mengisinya pada masalah yang sepele, remeh-temeh, mungkin juga dapat kita sebut biasa-biasa saja namun Blyton mengemasnya dengan gaya yang pas dalam sajian memikat untuk anak-anak hingga cerita dapat menggugah hati. Selain tentu, ilustrasi gambar-gambar dari cerita itu yang sangat memikat membuat cerita makin menarik.

Hal itu memang sebuah siasat yang bagus untuk kategori cerita anak. Anak-anak pada dasarnya senang diajak kepada cerita yang ringan, ringkas, langsung kepada pokok masalah, tetapi juga perlu usaha agar cerita itu tidak hambar dan membosankan maka cerita seperti itu juga mesti dipertimbangkan sisi konflik yang diciptakan hingga anak—dalam pemikiran seusianya—mampu menangkap maksud dan pesan (nilai-nilai) cerita itu dengan baik. Kepiawaian pengaranglah yang diperhitungkan dalam hal ini. Sejauh mana ia bisa “memanjakan” anak agar tetap larut dalam cerita yang dikisahkannya. Bentuk demikian membuat anak larut membaca. Anak akan terbawa pikirannya, perasaannya, emosinya, bahkan mungkin khayalannya dari hal-hal kisah tokoh-tokoh itu, atau pula ia semakin mendapatkan “jangkauan” inspirasi yang tidak pernah disangka-sangkanya dari pembacaan itu, hingga selesai membaca mampu membuat hatinya luluh dan sadar, sekaligus termotivasi atau pula bangga dengan apa yang telah dilakukan para tokoh, sehingga ia ingin pula menjadi seperti tokoh fiktif itu.

Dalam banyak cerita Blyton, memang kisah disajikan sangat menyentuh. Dengan kalimat sederhana namun kaya pesan mampu menyimpan daya gugah untuk dilakukan, begitu pula adanya dorongan agar anak sadar akan hal-hal buruknya selama ini dan ia akan berusaha berubah. Seperti  adanya “teror mental” yang disuguhkan, namun pelan-pelan, tidak memaksa, hati-hati, dan penuh siasat, hingga kisah demi kisah dapat dicerna dengan baik oleh anak. Di samping itu, perbuatan tokoh-tokoh yang kadang ada tak menyenangkan, mampu dibuat sadar oleh sesuatu (apakah sikap orang lain atau tokoh-tokoh khayalan[2]) yang sesuatu itu tak disangka-sangka, hingga anak dapat merasakannya bahwa itu salah. Sedangkan perbuatan tokoh-tokoh yang menyenangkan (baik) dapat menjadikan sebagai motovasi yang kuat tentang penanaman sikap (karakter) bagi anak.

Belajar dari hal-hal kecil

Hal-hal yang berada di sekeliling kita yang biasa-biasa saja tampaknya sejatinya sesuatu yang dapat menjadi pelajaran berharga. Apalagi hal ini diberikan kepada anak sebagai proses penumbuhan karakter. Hal ini dikisahkan oleh Blyton dengan apik lewat antara lain ceritanya berjudul “Kucing yang Terlupakan”. Sungguh sederhana, barangkali juga hal-hal sepele dan remeh-temeh (mungkin kelihatan remeh-temeh) namun sebenarnya sesuatu yang besar dan berdampak pada pengaruh karakter seseorang. Dikisahkan sebuah keluarga yang memelihara seekor kucing jantan berbulu tebal. Tapi sayang sekali, hampir semua anggota keluarga itu tidak tertarik dengan kucing itu. Padahal kucing itu bagus dan jinak. Ia suka menolong menangkap tikus-tikus bila malam hari. Namun mereka tidak ada perhatian sama sekali pada kucing itu.

Hingga pada suatu hari, keluarga itu semuanya hendak pergi berlibur selama satu bulan. Sayang, kucing bernama Sootikin itu mereka ditinggalkan begitu saja di luar rumah. Tidak diperhatikan sama sekali, tidak diberi makan, dan selama satu bulan itu tidak mendapatkan tempat untuk tidur yang menyenangkan. Hanya Billy, satu-satunya yang memperhatikan Sootikin. Billy anak yang baik dan penyayang. Ia heran melihat Sootikin yang mengeong-ngeong sepanjang hari karena kepalaparan hingga membuatnya kini kurus kering dan juga sakit. Hingga suatu ketika Sootikin memberanikan diri menghadap Billy meminta belas kasihan, hal itu membuat Billy sedih dan hampir saja tidak mengenalnya. Lalu segera Billy memberitahu ibunya untuk memberikan sedikit sisa makanan. Kucing itu akhirnya makan dengan lahap. Billy juga menyediakan kardus yang hangat untuk kucing itu beristirahat hingga Sootikin dapat tidur nyenyak. Hingga di akhir cerita, ketika satu rombongan keluarga itu pulang, mereka heran mengapa kucing mereka itu sangat dekat dan manja kepada Billy dan lebih heran lagi kucing itu tidak mau pulang kembali ke rumah mereka. Kini kucing itu telah senang diperlakukan dengan baik oleh tuan barunya, Billy. Ia menganggap Billy lebih layak sebagai tuan karena begitu perhatian dan menyayanginya sepenuh hati.

Ya, hanya masalah kecil. Tentang kucing yang terlupakan. Kucing yang mungkin di mata kita bisa hidup sendiri tanpa kita perhatikan, bukan? Yang bagi kita tidak ada masalah kalau tidak sama sekali diberikan fasilitas, sebab hewan mamalia itu mampu berdikari. Namun, di tangan kreatif Blyton, hal itu mampu dibawanya menjadi cerita menyentuh bagi anak. Bagaimana anak dibentuk karakternya untuk menyayangi binatang piaraan. Bahwa dalam hidup ini kita harus memiliki sikap mulia dan saling membantu, bukan hanya kepada sesama manusia tetapi juga kepada hewan dan juga tumbuhan. Sifat penyayang dan saling membantu mampu menjadikan manusia memilki derajat tinggi di sisi Tuhan yang Maha Esa, dan dapat bermanfaat bagi kehidupan ini. Begitulan gambaran yang ingin ditawarkan Blyton dari kisah kucing yang dilupakan itu. Tentu, hal ini lebih menyentuh lagi oleh mereka yang sangat penyuka kucing.

Kisah lain yang juga memberi pengaruh penanaman karakter berjudul “Tak Berani”. Mengisahkan seorang anak lelaki bernama Alec. Ia sebenarnya anak yang sehat dan kuat, berbadan tegap dan tinggi, kakinya panjang dan tegas, sorot matanya tajam dan bening. Namun sayang, ia selalu saja enggan kalau diajak bergabung dengan kawan-kawannya untuk bermain bersama. Padahal orang lain yakin kalau ia diajak lomba berlari akan sangat laju dan cepat larinya. Mereka—orang-orang itu—menilai Alec seorang anak yang sempurna fisiknya. Tetapi tetap saja Alec masih enggan untuk diajak bergabung bermain bersama. Ia lebih senang menyendiri, bermain sendiri tanpa kawan, padahal situasi tempat itu ramai dan riuh dengan anak-anak sebayanya. Hal itu membuat ibunya jengkel dan cemberut melihat sikap Alec. Ibunya sudah sering menasihati agar Alec membuang sikap malu, takut, dan tidak percaya diri itu.

Suatu ketika di pantai, sekelompok anak dan seorang instruktur melakukan senam. Namun tiba-tiba angin berhembus kencang membuat topi Pak Instruktur melayang. Alec kebetulan melihatnya dan ia juga melihat anak-anak lain berlarian menyelamatkan topi bundar lebar itu. Mereka semua tampak berusaha mengejar semampunya meraih topi itu hingga hampir jatuh ke tepi ombak di pantai. Alec tergerak hatinya ingin menyelamatkan. Spontan ia berlari kencang dan tanpa disadarinya ternyata larinya begitu cepat mengalahkan kawan-kawannya yang lain. Hingga akhirnya ia bisa meraih topi itu tanpa jatuh ke laut. Akhirnya semua orang bertepuk tangan kepadanya. Mereka kagum dengan lari Alec yang laju, cepat, dan kuat. Dari persitiwa itu, kini membuat Alec tidak takut lagi untuk mencoba sesuatu. Ia juga mulai percaya diri bermain dengan teman-teman lain. 

Hal yang juga sebenarnya sepele, namun tidak bagi Blyton. Sebab, itu sebuah sikap manusia yang harus diubah. Kita yang membacanya juga tahu benar bahwa sikap-sikap tokoh anak bernama Alec itu tidak bagus. Di sini Blyton menyuguhkan pesan mendasar dalam hidup, bahwa kita sebenarnya tidak kalah dengan orang lain dan kita bisa berbuat hal terbaik yang membawa manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Kisah lain yang menggugah adalah “Gadis Berupa Buruk”. Blyton seperti ingin mengajak anak-anak berpikir tentang nilai-nilai kebaikan dari seseorang tanpa melihat wajah orang itu. Setiap manusia yang berbuat baik akan mendapatkan lebih banyak teman dan kasih sayang dari mereka. Blyton juga ingin memberikan pandangan pada anak-anak untuk tidak bersikap membeda-bedakan teman-temannya dari bentuk wajah, tubuh, latar belakang keluarga, ekonomi, dan lain-lainnya. Anak-anak digiring ke cerita yang membuat mereka larut ke konflik-konflik yang dialami tokoh. Tersebutlah tokoh bernama Katie yang memiliki paras jelek; kurus, rambut tipis awut-awutan, pakaian kusam, dan tidak mengenakkan ketika di lihat. Namun siapa sangka bahwa dia adalah orang yang paling luwes dalam segala hal; senang membantu tanpa pamrih, senang memberi, suka tersenyum, gampang bergaul, tidak membeda-bedakan usia ketika bergaul, membuat siapapun yang kenal dengannya akan merasa senang. Hal itu dibuktikannya ketika saat ulang tahun bu guru di sekolah. Ia sadar bahwa tidak dapat memberikan kado mewah, namun Ia tetap memiliki ide untuk memberikan sesuatu pada gurunya. Ia pergi ke hutan kecil lalu memetik bunga berwarna-warni dan meletakkannnya dalam pot mungil. Hal itu sangat menyentuh bagi bu guru.

Hanya Doreen yang mengatakan kalau Katie seorang yang menyebalkan. Sebab Doreen selalu menilai Katie dari segi fisik dan pakaian. Ia selalu menilai Katie seorang yang kumuh karena selalu berpakaian apa adanya, ditambah wajahnya yang sangat tidak menarik—sungguh tidak cantik, kata Doreen selalu. Hal itu selalu disebutnya ketika berkumpul bersama teman-teman. Namun Doreen tetap heran setengah mati karena selalu saja mereka menyebut Katie sebagai sosok yang baik dan menyenangkan.

Hal itu akhirnya dapat menjadi bukti bagi Doreen ketika pada suatu ketika ia mendapatkan kesulitan dan ketakutan ketika saat mencari buah berry di hutan kecil. Ketika sedang memetik ia disergah seekor anjing yang mencoba mengganggunya. Doreen ketakutan dan mencoba berlari, naas, ketika ia mencoba berlari bajunya yang cantik dan mahal tersangkut ranting-ranting pohon dan semak-semak. Ia memekik dan menangis. Namun tanpa disadarinya, Katie datang menolong karena ia ternyata juga sedang memetik buah berry yang tak jauh dari situ.

Katie datang bergegas dan langsung menyergah, mengusir anjing itu. Ia juga dengan penuh perhatian menuntun Doreen yang kesakitan akibat terkena ranting-ranting pohon. Katie menawarkan Doreen ke rumahnya untuk mengobati sekujur tangan yang terluka. Ketika di rumah, Doreen tersentuh melihat Katie yang sangat baik kepadanya; membalut luka-lukanya dan juga menampal rapi-rapi pakaiannya yang terkoyak. Hal itu membuat Doreen menyesal karena selama ini telah menilai Katie sebagai teman yang jelek. Akhirnya, dari persitiwa itu, Doreen semakin menyayangi Katie dan bersahabat akrab. Malah ia duluan yang akan marah bila ada orang mengata-ngatai atau mengejek Katie.

Dari hal itu ada nilai-nilai pembelajaran yang sangat mulia. Anak-anak di giring kepada rasa empatinya untuk menjadi sosok yang baik. Nilai-nilai kebaikan yang menyentuh, yang menggugah, yang terarah, yang berkesan ditawarkan dengan apik oleh Blyton. Blyton mengarahkannya dengan gaya sederhana dari sikap-sikap tokoh, lalu menggiring anak-anak untuk sadar arti penting menghargai sesama, tidak menilai dari segi lahiriah pada diri seseorang, namun sebaliknya harus menghargai dari hati dan sikap perbuatan, tidak sungkan atau malu menolong orang lain yang kesusahan, sebab hal itu mulia yang membuat orang lain senang, karena membuat orang lain senang akan membuat hati kita juga senang, lalu kebaikan akan datang pada diri kita. Begitulah.

Berikut kisah berjudul “Lucy Periang dan Dicky yang Membosankan”. Dalam kisah ini Blyton tidak menawarkan jalan keluar bagi tokoh antagonisnya, namun ia membiarkan tokoh itu menemui takdirnya—hal ini sebuah gambaran kalau ia sudah tua nanti—menjadi orang yang tidak disenangi oleh semua orang karena sikap yang tidak baik. Barangkali ini trik lain bagi Blyton dalam membawakan cerita-ceritanya. Biasanya Blyton akan menawarkan solusi, memberi jalan keluar, atau membuka sebuah celah “akibat” bila hal buruk dari sikap anak itu tidak berubah. Namun dalam cerita satu ini tidak demikian. Tokoh antagonis bernama Dicky sebagai sosok anak yang memiliki sikap pesimis, malas, tidak yakin, ragu, penakut, cemas, tidak mau bergaul, tidak percaya diri, dan pokoknya sangat menyebalkan—apalagi ditambah wajahnya yang tidak suka tersenyum membuat wajahnya selalu merengut dan kusut seperti kain lap—dibiarkan oleh Blyton apa adanya tanpa “mengajak” tokoh itu berubah dari sikap-sikap buruk itu.

Di sini, Blyton seperti menawarkan kepada anak-anak tentang hal-hal konkret yang terjadi pada Dicky bila mereka terus-menerus tidak berubah menjadi orang baik. Memang, Blyton menggiring kisah itu dengan apik, dengan memberi pandangan menohok pada pembaca bahwa tokoh seperti Dicky sudah bisa dipastikan akan melarat hidupnya ketika di masa tua kelak. Blyton memberi gambaran bahwa Dicky akan tidak memiliki kebahagiaan. Ia akan hidup sendiri dan menderita. Tidak memiliki anak-cucu. Sepanjang waktu ia hanya berkutat dan mengeluh pada dirinya sendiri dengan wajah yang semakin semrawut dan memuakkan. Itulah sebagai tawaran gambaran yang dibuat Blyton sebagai masukan, pandangan, atau pula kritikan kepada anak-anak yang apabila tidak mau berubah untuk menjadi pribadi yang baik.

Kisah sederhana yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan ini berawal dari tokoh Dicky yang selalu merasa dirinya tidak bisa apa-apa, padahal ia sosok anak lelaki yang memiliki bentuk fisik yang bagus. Hal ini terbalik dengan Lucy, ia anak perempuan yang periang. Selalu tertawa, senang bermain, dan bergaul dengan teman-temannya. Dimanapun Lucy berada ia pasti selalu mendapat kawan. Sebagai teman dekat, kadang Lucy dibuat jengkel oleh Dicky. Sebab ada saja alasan Dicky untuk tidak mengikuti, padahal alasan itu bukan semestinya sebagai alasan yang tepat. Seperti ketika berjalan untuk bertamasya, Dicky selalu mengeluh kakinya letih, ketika diajak bermain sembunyi-sembunyi ia selalu megeluh tidak pandai bersembunyi, ketika diajak bermain jigsaw, ia selalu merasa akan kalah dan menganggap Lucy selalu pintar dan menang, ketika diajak liburan ke rumah saudara jauh, Dicky selalu mengeluh itu adalah hari yang menyebalkan dan membosankan.

Hal-hal yang pesimis, putus asa terus merasuk hati Dicky. Hal itulah yang terus dimilikinya hingga ke masa tuanya. Blyton tidak bertele-tele dalam memberikan gambaran itu, namun kita yakin anak-anak akan mampu menangkap pesan moral dari kisah-kisah yang singkat dan tepat dari penyampaian khasnya. Blyton mampu memberi lompatan-lompatan cerita hingga kita merasakan bahwa anak-anak yang membaca kisah ini tidak pusing memaknai atau tidak perlu letih dalam membacanya. Anak-anak akan mudah menangkap maksud dan mudah mencernanya. Di akhir kisah, anak-anak akan menangkap makna (nilai-nilai pendidikan) yang terkandung di dalamnya bahwa sikap seperti tidak patut dipertahankan.

Kisah selanjutnya yang tak kalah menarik adalah “Putri Raja dan Gadis Desa”. Dimana kisah ini menceritakan dua sisi kehidupan yang kontras, yaitu antara sosok gadis kaya dan sosok gadis miskin. Kisah ini mengajak anak-anak berpikir bahwa tidak perlu menilai jauh tentang kehidupan orang lain. Sebaliknya mengajak untuk senantiasa bersyukur dalam hidup ini.

Anna seorang anak dari keluarga miskin dan serba kekurangan. Ia selalu memandang Putri Peronel sosok yang kaya raya, selalu tampak berjalan dengan gaun yang bagus-bagus bersama pengasuhnya. Sebagai seorang putri dari keluarga kaya dan berpengaruh, Anna yakin bahwa Putri Peronel selalu makan yang enak-enak setiap hari, berganti-ganti gaun yang indah, tidur di kasur empuk dan mahal, perawatan kecantikan yang lengkap, dan disanjung-sanjung oleh banyak orang. Anna lama-lama merasa iri dan minder, sebab ia hanya anak dari keluarga serba kekurangan. Untuk makan sehari-hari sangat susah, dan selalu ia memakan makanan dari sisa adik-adiknya ditambah makanan itu tidak terlalu mengenakkan, apalagi lezat. Ia selalu berpakaian lusuh dan tak jarang bertampal di sana-sini karena pakaian itu sudah lama dan rapuh, sedangkan untuk membeli pakaian baru rasanya hampir tidak mungkin. Ia selalu diminta mengalah kepada adik-adiknya untuk hal-hal lain, dan ia hampir setiap hari selalu sibuk dalam rutinitas membantu orang tua bekerja. Anna menilai hidupnya tidak semujur Putri Peronel yang selalu tersedia semuanya tanpa harus berekeluh-kesah, pusing, dan letih. Anna semakin sedih melihat nasibnya.

Namun, ternyata Anna salah. Justru ia heran ketika suatu ketika Putri Peronel berlari menuju padanya. Ia bercerita panjang lebar tentang dirinya yang merasa selalu “tersiksa” oleh kemapanan hidup itu. Putri Peronel—dalam pengakuannya itu—justru resah dan letih pada segala rutinitas yang membelenggunya. Setiap kali makan ia merasa seperti menjadi anak kecil, diambilkan oleh pembantu. Ia tidak dapat melihat para pembantu istana memasak, padahal ia ingin sekali memasak; meracik bawang, tomat, dan memotong kentang juga keju. Saat ingin tidur, para pembantu sibuk menunggunya mengganti pakaian tidur, dan membereskan dengan teliti tempat tidurnya. Saat ia ingin pergi keluar istana, ia malah dimarah ayah-ibunya karena merasa berbahaya bagi dirinya. Ia benar-benar tidak boleh keluar tanpa sepengetahuan pihak istana, jadi harus keluar bersama pengasuh. Putri Peronel benar-benar merasa terkekang. Hatinya dongkol dengan segala peraturan itu. Ia justru iri meliahat kehidupan Anna yang selalu bebas kemana-mana tanpa terikat ini-itu. Ia bebas berjalan-jalan ke hutan-hutan kecil memetik bunga, ke kebun memetik sayur, tomat, bawang, dan lada. Ke pasar untuk berbelanja atau bermain-main bersama kawan-kawan tanpa pandang siapa dia. Putri Peronel juga cemburu melihat Anna yang memiliki banyak adik yang selalu ceria, memiliki ayah-ibu yang selalu perhatian kepadanya dengan memberi kebebasan dalam hidup.

Anna hanya melongo mendengarkan segala keluh-kesahnya. Ia benar-benar tidak percaya bahwa Putri Peronel seperti itu. Selama ini ia menganggap Putri Peronel selalu hidup dalam kesempurnaan dan bahagia. Ternyata tidak. Untuk itu, ia mengajak Anna untuk bertukar hidup sehari saja. Putri Peronel memberi usul kalau mereka saling menyamar. Anna berpakaian gaun cantik Putri Peronel, sedang Putri Peronel akan memakai pakaian buruk dan lusuh milik Anna. Setelah itu, keduanya berjanji untuk saling tukar tempat tinggal. Anna diminta untuk pergi ke istana sedang Putri Peronel akan pergi ke gubuk Anna. Anna heran bukan kepalang sebab Putri Peronel tampak begitu bahagia ketika memakai pakaiannya yang buruk, lusuh, dan bertampal-tampal itu, ia tampak riang berlarian menuju gubuknya. Sedangkan Anna sendiri tampak kecut, gamang, dan melongo sendiri ketika memakai gaun indah milik Putri Peronel itu. Tapi ia sudah berjanji dengan hal itu, maka ia pun melangkah ke istana.

Singkat kisah, di gubuk Anna, Putri Peronel ternyata sangat bahagia dalam hidup yang sederhana itu. Ia benar-benar ingin menikmati terus hidup yang apa adanya tanpa banyak aturan dari sebuah kemewahan yang berlebihan di istana. Sedangkan Anna merasa mulai tertekan batinnya ketika berada di istana. Di istana itu tidak seperti yang ia bayangkan dahulu yang menurutnya selalu enak dalam menikmati hidup. Kini ia merasa hidupnya tidak sebebas seperti biasa; penuh aturan, tidak boleh ini-itu, harus selalu tunduk pada segala aktivitas istana, harus patuh pada pelayan dan pengasuh, tidak boleh keluar tanpa tahu siapapun dari pihak istana. Kini ia menyadari mengapa Putri Peronel malah ingin menjadi seperti dirinya. Anna berubah menjadi takut ketika di dalam istana. Lalu di tengah malam, ia pun diam-diam melarikan diri untuk pulang kembali ke gubuknya.

Kisah sederhana ini begitu menggugah. Blyton mengajak anak-anak untuk berpikir tentang kehidupan yang dijalani. Sekaligus mengajak berpikir kritis tentang hidup, bahwa kita jangan tergiur pada kesenangan hidup orang lain. Sebab belum tentu orang yang kita anggap kaya dan senang itu bahagia menurut kita, namun sebaliknya, bisa jadi mereka justru tidak senang dengan apa yang ada pada diri mereka. Sebaliknya pula kita tidak perlu menilai orang miskin itu melulu menderita. Boleh jadi mereka yang hidup apa adanya lebih bahagia dalam menjalani hidup ini daripada orang kaya dan mereka lebih memiliki rasa syukur yang tinggi kepada Tuhan. Blyton memberikan nilai-nilai kehidupan yang mengajak anak-anak sadar dan mau berterima kasih kepada Tuhan, tidak menilai berlebihan pada kehidupan orang lain, serta menerima hidup apa adanya tanpa rasa iri, cemburu, dan sakit hati.

Anak ibarat kertas putih yang masih banyak tempat untuk ditulis atau dilukiskan. Ia wadah yang mampu mengisi apapun. Ia mengisi apapun dengan penuh, menerima segala sesuatu dengan cepat dan mencerna dengan lugas. Maka, perlu orang dewasa—siapapun dia—untuk ikut memberikan saringan dari wadah itu agar tersaring dengan baik, agar wadah terisi hal-hal yang mampu memberikan manfaat pada diri anak. Motivasi, pendidikan, penanaman nilai luhur, sikap hidup, yang semuanya menjadi karakter mulia pada sosok anak. Maka kisah-kisah dalam cerita Enid Blyton ini mampu menjadi jembatan penghubung dalam penanaman nilai-nilai mulia itu. Kisah yang banyak memberikan bimbingan, kesadaran, pandangan hidup, motivasi, dan semangat menjadikan kisah-kisah Blyton tetap awet sepanjang masa dan layak untuk dibaca berulang-ulang. (*)

Selatpanjang, 16 Januari 2021


[1] Seorang penulis buku cerita anak berkebangsaan Inggris. Ia adalah salah satu penulis buku cerita anak yang paling terkenal pada abad ke-20. Sebab, walaupun buku-buku karangannya itu telah berusia sangat tua, cerita dan bahasanya tidak pernah ketinggalan zaman.

[2] Sebagian ceritanya muncul tokoh-tokoh dongeng yang khas dalam cerita rakyat Eropa, seperti kurcaci dan peri.

Riki Utomi menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karya puisinya tersiar di beberapa media Riau Pos, Batam Pos, Tanjungpinang Pos, Koran Riau, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Lampung Post, Banjarmasin Post, Serambi Indonesia, Majalah Sabili, Redaksi Apajake, Media Indonesia, Indo Pos, Koran Tempo, Kompas. Juga terangkum dalam antologi Jazirah Sastra, Banjarbaru’s Rainy Day Festival, Puisi untuk Lombok, Negeri Sawit, Dari Negeri Poci, 999: Sehimpun Puisi Penyair Riau, Matahari Sastra Riau, dll. Bekerja dan tinggal di Selatpanjang, Riau.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan