

Di ruang sunyi itu pada halaman berukuran sedang, kira-kira seratusan lembarnya, kata-kata Iyut Fitra bergetar pelan. Bukan dentuman keras, bukan pula slogan penuh amarah. Justru lewat dengung lirih yang terus merambat, pembaca diajak merasakan tanah yang retak, bendera yang kehilangan tiangnya, dan rumah yang entah di mana letaknya. Dengung Tanah Goyah bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan alarm halus yang mengingatkan kita: ada yang goyah di bawah pijakan negeri ini.
Sejak halaman awal, pembaca disambut oleh puisi “arah pulang.” Di sana, tokoh “ia” berjalan bimbang, tertegun di bawah cahaya lampu-lampu jalan, lalu bertanya lirih: ke mana arah pulang? Pertanyaan sederhana itu justru memantul jauh, menggaungkan kegelisahan manusia modern yang sering merasa hanyut dalam usia, kehilangan jejak, dan gamang mencari rumah yang sejati.
Lalu ada “tanah goyah”, puisi yang menjadi poros utama judul buku ini. Tanah tak sekadar tanah fisik, melainkan juga tanah leluhur, tanah air, tanah identitas—yang kini rapuh di bawah tekanan zaman. Dalam “negeri berpagar rimbun,” pembaca diajak menatap kontras antara negeri yang seharusnya hijau dan rimbun dengan kenyataan yang terhimpit oleh pembangunan agresif dan ketidakadilan. Sedangkan “negeri tanpa bendera” mengungkapkan getirnya kehilangan simbol dan identitas, seolah bendera—penanda kebanggaan—tak lagi berkibar di dada rakyatnya.
Pada “alu patah tiga”, Iyut memasukan unsur lokalitas yang kuat di mana Alu Patah Tiga merupakan pepatah yang aslinya berbunyi “Alu Tataruang Patah Tigo Samuik Tarinjak Indak Mati” yang secara mendasar menunjukkan ketegasan menolak kerusakan dengan menyuarakan kebenaran dalam sunyi.
Kumpulan puisi iyut ditutup dengan “jalan-jalan yang dialih orang lalu“. Puisi itu seolah memberikan pertanda akhir perjalanan panjang seorang “ia” yang mencoba tetap berdiri di tanah goyah dengan sebuah pertanyaan. mendalam “inikah negeri kita?” Meski itu bukan jawaban akhir sebuah perjalanan panjang.
Buku ini menuai banyak ulasan positif. Kritikus mencatat kekuatan utamanya pada relevansi tema: kerusakan alam, kehilangan kebijaksanaan lokal, krisis identitas. Semua isu itu sangat aktual dan terasa dekat dengan kenyataan sosial Indonesia hari ini.
Berbeda dari penyair yang memilih bahasa protes lantang, Iyut Fitra menulis dengan gaya sunyi. Laporan juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 menyoroti bagaimana subjek liris “ia” dalam puisi-puisi Iyut Fitra lebih banyak diam, mencatat, atau menunggu. Tidak frontal, tapi tetap tajam. Cara ini dianggap berhasil membangun kesadaran tanpa harus bising. Pembaca tidak didikte untuk marah atau setuju. Mereka diajak merenung, merasakan getar tanah, lalu menemukan sikap sendiri.
Pada acara bincang buku sastra Suku Seni di Pekanbaru, Dr. Roziah, akademisi yang akrab disapa Kak Ozi memaparkan bahwa Dalam puisi “dunia yang mendudu” Iyut menegaskan makna kesetiaan yang tidak rapuh meski berulang kali dikecewakan. Diksi menunggu dipahami sebagai keyakinan pada kepastian, bukan sekadar menanti. Tema ini dikaitkan dengan pengalaman perempuan yang tetap setia meski ditinggalkan atau dikhianati, bahkan setelah kematian pasangan. Ia juga menyoroti tema-tema puisi Iyut yang menunjukkan keangkuhan penguasa, krisis social-ekologis, kesenjangan harapan dan kenyataan, hingga pesan bagi para penyair itu sendiri.
Dalam kesempatan yang sama dalam diskusi tersebut, Redovan Jamil, M.Pd yang akrab disapa Jamil menyoroti pergeseran subjek puitik dari “aku” menjadi “ia,” yang memperluas dimensi personal menuju persoalan sosial, budaya, dan ekologis. Tema krisis identitas, kegelisahan terhadap modernitas, serta trauma bencana menjadi benang merah dalam puisi-puisi tersebut. Jamil kemudian menutup dengan catatan bahwa Dengung Tanah Goyah memperlihatkan kegelisahan penyair sekaligus penyelesaian atas tema-tema lama dalam karya Iyut. Ini memperkaya tema bahwa puisi-puisi dalam buku ini berbicara bukan hanya tentang alam dan lingkungan tapi juga kehilangan moralitas, kehilangan tempat pulang, kehilangan kehilangan identitas dan kehilangan cinta.
Namun, ada juga catatan kecil. Beberapa pembaca merasa puisi-puisi dalam buku ini kadang mengulang tema yang serupa: kerusakan, kegoyahan, kehilangan. Hal ini bisa membuat satu puisi “menggemakan” puisi lain. Selain itu, kepadatan simbol membuat makna terasa eksklusif dan samar sehingga pembaca yang tidak mengenal konteks lokal bisa kehilangan sebagian lapisan makna sehingga perlu pembacaan beberapa kali untuk bisa membuka lapis-lapis pesan yang tersimpan itu. Bahasa yang digunakan kaya metafora dan simbol. Lampu, tiang cahaya, tanah, dan gulungan lengang menjadi jembatan antara pengalaman sehari-hari dengan kegelisahan batin yang lebih dalam. Meski begitu, kritik ini tak mengurangi pencapaian buku. Justru menunjukkan bahwa Dengung Tanah Goyah berhasil membuka ruang diskusi yang luas.
Dengung Tanah Goyah berhasil menorehkan jejak penting. Ia masuk tiga besar Sastra Pilihan Tempo 2024, sebuah pengakuan bahwa suara lirih yang ditawarkan Iyut Fitra mampu menggema lebih jauh. Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi; ia semacam catatan kesaksian, bahwa tanah yang kita pijak tengah berguncang, dan kita semua sedang mencari arah pulang.
Puisi-puisi Iyut Fitra di sini tidak memberi jawaban final. Mereka hanya mencatat, menatap, dan bertanya. Tapi dari catatan dan pertanyaan itu, lahirlah kesadaran. Bahwa kita sedang hidup di tanah yang goyah, bahwa negeri ini tengah mencari arah pulang, bahwa bendera bisa hilang dari dada rakyatnya jika kita abai.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan buku ini. Ketika membaca Dengung Tanah Goyah kita ibarat berdiri di tanah yang bergetar. Kita merasakan dentuman kecil yang merambat ke kaki, lalu menjalar ke tubuh, hingga ke kepala. Dengung itu tidak selalu keras, tapi konstan, membuat kita sadar: ada sesuatu yang retak di bawah pijakan. Ia bukan sekadar kumpulan kata, melainkan semacam alarm sunyi. Dengungnya tak akan berhenti, sampai kita benar-benar mendengar.
Pekanbaru, 23 September 2025