Jadayat : Berdoa

BERDOA

Doa kekanak-kanakan lebih didengar Tuhan berbanding doa gaya ilmiah; tersusun rapi, dengan data yang lengkap, berstruktur dalam pembuktian laboratoris. Begitu pula doa yang dipanjat lewat gaya puisi, gurindam dan efek pantun, juga “kurang berkenan” di depan Tuhan. Kenapa? Tuhan lebih tau puisi, maha piawai ihwal syair. Sebab, Dia Maha Kumandang. Bahkan wahyu-wahyu yang diturunkan-Nya kepada para Nabi dan Rasul, mengatasi puisi (supra puisi). Di sini, penyair, akan menjadi lucu jika mengajar Tuhan berpuisi, meng-hayun Tuhan lewat gurindam, membuai Tuhan lewat syair, talibun atau pun pantun. Serasa dalam majelis adat dan riang ria di lembah istiadat.

Doa dengan ucapan yang terbata-bata, lenguhan tiada daya, atau malah dalam gaya kanak-kanak (polos), mungkin lebih mudah ‘menggoda Tuhan’ berbanding gaya bersyair dan bergurindam. “Syair dan gurindam itu untuk kalian sajalah wahai manusia. Untuk Aku, kunci dari segala doa itu adalah ketulusan dan kepasrahan”. Apatah lagi doa yang dipanjatkan dalam sebuah majelis formal yang dihadiri para raja dan pejabat pemerintah, belum tentu doa-doa formal ini bertolak dari kepasrahan dan ketulusan. Doa formal akan berlangsung dalam keformalannya pula; melayang secara formal pula. Dan doa-doa jenis begini senantiasa berulang-ulang dalam segala bentuk upacara yang dihadiri oleh para petinggi negara. Dia tak lebih dari susunan acara yang termaktub dalam buku agenda upacara.

Doa yang panjang, senyap, diam dan takzim selalu diperlihatkan oleh seorang Katholik kala akan memulai santap makan (siang, malam dan sarapan). Bentuk nan tulus, pasrah terpapar dari raut wajah yang membisu di depan hidangan makanan. Dan, tersiullah sebuah kisah seorang Ulama yang berkunjung ke sebuah gereja dan disambut oleh dewan Pastor. Sang Ulama yang elegan ini, tanpa ragu memulai kisah tentang seorang Pastor yang pergi berburu dalam kerimbunan belantara rimba di sebuah senja. Di dalam hutan, dia bersua seekor harimau. Lalu, beberapa ketika senjata laras panjang yang dikepit sang Pastor itu pun menyalak “dar dor dar dor dor…” Walhasil sebiji peluru pun tak mengena ke tubuh harimau. Meleset semua sentakan sang Pastor. Peluru tumpas. Kini giliran harimau yang mengaum dan mengejar Pastor. Putih telapak kaki Pastor berlari mencari tempat aman. Keadaan kian mendesak. Pastor tiada pilihan. Sebab, dia berada pada posisi yang terpojok. Di sebuah lidah bukit yang terjal, kiri kanan terhidang jurang tajam. Akhirnya, dengan pasrah, Pastor ‘mematikan’ badan dan mempersilakan harimau memangsa tubuhnya yang letoi. Sekian lama dia bersimpuh di depan harimau, tak ada reaksi sedikit pun. Akhirnya dia memberanikan membuka mata dan bertanya kepada harimau: “Kenapa engkau diam saja? Sekian lama engkau diam dan tak memangsa aku yang sudah pasrah?” ujar sang Pastor kepada harimau. Tak lama kemudian harimau menjawab: “Aku sedang berdoa menghadap makanan, memang agak lama”. Rupanya harimau tau bahwa yang akan dimangsakannya adalah seorang penganut Katholik. Sehingga dia pun berdoa gaya Katholik ketika akan santap makan.

Doa seorang gembala di depan Nabi Musa adalah doa gaya kanak-kanak. Namun dari sisi pencapaian rohani, dia telah berada di pucuk rohani. Sebaliknya, Nabi Musa hanya merasa bahwa dirinyalah yang ‘tinggi hati’. Sehingga menganggap doa tulus dan penuh pasrah dari seorang gembala, tak lebih dari celetukan seorang gembel, seorang jongos, setara serapah dan seranah yang tak layak dihidangkan di depan Tuhan. Mulut yang merapal doa jenis ini layak dibungkam, pikir Musa. Ooww sama sekali tidak dan tak. Di depan Tuhan, sekali lagi doa itu kuncinya adalah tulus dan pasrah, bukan kelengkapan data dan efek bebunyian layaknya pantun dan gurindam. Maka, kita bebas berdoa dalam gaya dan cara masing-masing. Bisa dalam kalimat terbata, senyap dan diam, terkulum dan menghiba yang tak direkayasa. Tentang doa, Rumi memberi andaian mutual antara hamba dan Tuhan;

Bukan hanya orang dahaga yang mencari air,

Air pun mencari orang dahaga

Doa, dalam pandangan Niffari, seorang teolog yang menekuni kajian sufisme tentang doa berkata: “Memberi adalah kuasa-Ku; andai Aku tak menjawab doa mu, Aku tak akan membuat agar engkau meminta”. Nabi Musa yang merasa “tinggi hati” kala mendengar doa seorang gembala, masih sempat menjahit doa sufistik begini: “Ya Tuhan, Engkau memerintahkan agar aku bersyukur atas rahmat-Mu, dan kesyukuran ku sendiri adalah rahmat dari Mu”. Lalu, bagaimana bunyi doa sang gembala di depan Musa? Beginilah sedutannya: “Ya Tuhan, Engkau memilih (siapa yang Kau mau); di mana Kau? Aku ingin menjadi hamba Mu; Dan menjahit sepatu Mu, dan menyisir rambut Mu; Aku ingin mencuci baju Mu dan mencari kutu Mu dan mengantar susu pada Mu, wahai yang ku muliakan; Aku ingin mencium tangan Mu kecil dan menggosok kaki Mu mungil; dan bila tiba waktu tidur, ku sapu bilik Mu kecil; Wahai Engkau, jadilah semua kambingku laksana kurban bagi Mu, wahai Engkau yang kuseru dengan wah dan aduh!”.

Doa, sebagaimana ibadah adalah dzikir. Dan dzikir  adalah sunyi. Maka, rahasia dari dzikir adalah sunyi yang sempurna. Bukan kehebohan. Ilham dari doa Musa yang ‘merasa sombong’ itu memberi percikan kepada Ibn ‘Ata ‘Allah yang berdoa dalam (format) frasa yang berhampiran; “Ya Tuhan, bila kami tak Kau beri iman, kami tak kan beriman, dan bila lidah kami tak Kau fasihkan untuk berdoa, kami tak berdoa”. Dan… tulisan ini memang sengaja mengambil judul dengan bunyi lebih aktif, “Berdoa”, sebuah kata kerja, bukan kata benda, apatah lagi (bukan) kata sifat. Sehingga doa adalah sebuah ikhtiar yang aktif, mengejar dan berkejar yang tak semestinya heboh. Kata kerja tak pula memuntut semuanya harus dilakukan dalam kerja serba heboh-bising. Ada kerja yang dilakukan dalam senyap dan sunyi. Ya…. Sunyi.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan