Jadayat : Musicaquixote

MUSICAQUIXOTE

Musik, sebuah jalan seni yang lain. Musik tak dapat menunjuk karakter atau obyek karyanya secara visual, juga tak menjelaskan karakter dan obyeknya dalam kata-kata. Lalu, tentang representasi seni, apakah seni musik memang memiliki bawaan alaminya untuk merepresentasi obyek atau subyek, sehingga dia mampu mengangkat dirinya untuk menduplikasi alam atau malah melakukan semacam imitasi terhadap (alam); karakter dan obyek? Kita rujuk sejenak kisah petualangan Don Quixote yang amat terkenal dari Miguel de Cervantes yang cukup kaya kaidah representasinya melalui kata-kata dan kemampuan Cervantes dalam menjahit kata-kata yang berjulur-julur. Dalam dunia musik, komposer Austria beraliran klasik bening bernama Richard Strauss (1864-1949) menggambarkan petualangan Don lewat nada-nada. Mampukah nada-nada menjelaskan atau merepresentasikan karakter Don Quixote secantik kata-kata dalam puisi atau pun novel? Andaikan Strauss tak membubuhkan judul pada komposisinya itu dengan “Don Quixote”, maka para pendengar atau penikmat musik itu, akan berimajinasi dengan jalannya sendiri-sendiri. Atau malah, ketika Strauss membubuhi komposisi itu dengan judul yang lain, maka terjadi konstruksi yang berbeda pada telinga pendengar mengenai komposisi musik itu. Tak sedikitpun menyinggung apatah lagi merepresentasikan petualangan Don. Begitu pula halnya ketika ada pementasan “musikalisasi puisi” yang cenderung dilakukan demi melayani ranah “kanak-kanak” para sastrawan? Jebleg… (idiom singkat orang Jawa, hanya untuk menunjukkan peristiwa kaget dan “minta ampun”).

Ihwal yang sama akan terjadi pada seni visual; yang juga berbeda dengan seni musik itu. Ambillah kanvas, lalu seorang pelukis mendatangi kanvas itu dengan kesadaran penciptaan melalui pena atau kuas lukis. Dia pun melukis sebuah rumah dan sebatang pokok kayu. Orang, para penikmat akan mengatakan memang ada keterwakilan alamiah dari lukisan itu mengenai rumah dalam kebun, atau kebun dan rumah, pondok dalam kerimbunan. Apakah seni musik bisa menyembulkan representasi alamiah itu dalam kerimbunan nada? Tentu saja tidak, terkecuali sang komposer membubuhi judul atau tema musik itu secara nyata di atas kertas komposisinya itu. Maka, seni musik lebih mengedepankan “rasa” dan “medan pengalaman” untuk dinikmati, bukan dipertengkar dalam hujah-hujah literer dan visual. Karena laluan seni musik itu sendiri adalah bunyi. Dia memang sebuah jalan nan lain. Sebagaimana lainnya, pengucapan dan pengungkapan sastrawi melalui pena Fyodor Dostoyevsky pada sebatang jalan sastra, dengan Leo Tolstoy pada lebuh sastra yang lain (walau sama-sama Rusia). Demikian pula, terbangun pematang jalan yang satu pada pelukis Prancis abad ke-19 Paul Cezanne, dengan Piere Auguste Renoir dengan jalan yang lain (memang satu bangsa Prancis kok). Begitulah pengucapan, pengungkapan seni, walau masih dalam satu genre, tetap menyisakan perbedaan representasional alamiahnya.

Debussy menghadirkan komposisi yang dekat dengan bunyi air, namun tak bergetar nyalak air (takut terkesan memaksakan) dalam komposisinya bertajuk “Reflexion in the Water”. Debussy lebih mengandalkan “suasana hati” dari komposisinya itu. Dia tak hendak menjelaskan ruang kanak-kanaknya dalam bermusik. Lalu? Kesimpulan untuk musik dan representasi adalah; bahwa musik bukanlah untuk diklasifikasi sebagai seni yang represesntasional, paling tidak dalam makna secara langsung dari “representasi” yang sejauh ini berlaku pada seni yang lain. Daya kritis para kritikus seni lebih lanjut melontarkan pertanyaan yang tak selesai:”Lalu, apa yang menjadi alami dalam sebuah representasi?”. Apakah seni adalah duplikasi atau imitasi ke atas realitas? Alias, seni adalah wujud bayang-bayang mengenai penampakan realitas (kebenaran sejati, liyan)?  Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terkesan “pilon” atau malah membingungkan? Atau sebuah pertanyaan yang berlimpah jawaban cerdas? Salah satu jawaban itu terhidang dalam karya Emile Zola (1840-1902), dalam “Le Roman Experimental”; Zola mengadvokasi sebuah novel yang menyerupai tindakan investigasi ilmiah ke atas  (terhadap) realitas. Di sini plot tak mendapat tempat, hanya sekedar satu aspek realitas, yang dilakukan melalui pencarian dan penelaahan. Melalui jalur ini, sebuah kisah akan terbentang tanpa melalui usaha kesadaran yang bersifat imajinatif. Tokoh, perorangan atau pun sekelompok figur di dalam penceritaan itu akan digambarkan, dan dari mereka segala aksi akan berloncatan satu sama lain secara pesat dan lincah. Di sini, seni diposisikan semacam “laporan” (reporting) atas atau pada segala peristiwa dan ihwal yang sedang berlangsung, atau malah sesuatu yang telah terjadi pada setangkai waktu yang huyung.

Kata-kata tak berwarna. Dia datang dengan netralitas alami. Begitu pula, warna tak bermakna dan amat tawar di gendang telinga manusia. Ihwal yang sama, melekat pada nada dan bunyi, dia tak bermakna apa-apa, kecuali hasil dari sebuah kesepakatan sosial yang amat berpusat pada citra antropo-sentrisme; segala makna, segala warna dan segala bunyi adalah hasil konstruksi manusia dalam kolektivitas budayanya masing-masing. Dari sini tersuling kemurungan, kemalangan, kejelitaan, keindahan dan merdunya kata-kata, bunyi dan warna (relativitas budaya). Netralitas kata, bunyi dan warna mengalami “peringkusan kreatif” oleh kesadaran penciptaan dan kesadaran kreatif manusia demi menghidangkan sajian berupa makanan batin kepada segenerasi manusia, sekumpulan manusia, atau bahkan sebangsa manusia yang diturunkan secara sadar dalam lembaga pendidikan, lembaga kesadaran stoici (kesadaran yang saling menguntungkan); sebuah jalan platonis untuk mengangkat prabawa bangsa menjadi lebih cerdas, lebih mementingkan kemanusiaan yang berbasis pada “etika kemakhlukan”, demi memperkukuh jalan-jalan spiritual yang ditempuh dan dipilih oleh setiap individu, setiap insan dan segenap manusia. Kata, warna dan bunyi, dia tak lebih dari semacam “state of mind” (keadaan) yang serba meleleh dan licin. Namun, leleh dan licin itu, berkat antropo-sentrisme, dia mengalami peristiwa, kental dan kesat. Dia dikonstruksi bersama oleh manusia dalam kepentingan “duplikasi” atau “imitasi” realitas yang sayup, agar mendekat dan tak berjarak. Dan, “duplikasi” dan “imitasi” ke atas realitas yang samar, sehingga dia mengungkapkan dirinya dalam bentuk-bentuk penampakan nyata, walau legam bak bayang-bayang di tengah hari nan tegak.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan