JADAYAT : Tash Rabat

TASH RABAT

Ruang (spatial) serba senyap. Sunyi dan seterusnya,… diam mengulum. Itulah Tash Rabat. Sebuah nama yang menjingkang orang menjadi “kurang ajar” kepada sejarah. “Kurang ajar” kepada peradaban. Apakah ‘kurang ajar’ ini semacam makhluk taqlid,  sekaum dengan jenis kehendak serba bid’ah peradaban? Tash Rabat, sebuah nama dengan letak tempat yang sangat terpencil di atas planet ini. Terletak di atas 3200 Meter dari permukaan laut (Sea Level), Tash Rabat menyimpan segala impian, kehendak, kenangan, kamus “kurang ajar”, sekaligus perbincangan dan segala harumnya sejarah laluan Jalur Sutera (Silk Road) yang melintas di wilayah pegunungan Kyrgishtan, yang berbatasan dengan Cina. Orang terkadang silau dengan gemerlap Bishkek yang metropolitan itu dengan sejumlah keganderungan K-Pop yang menyerbu anak-anak muda melantai dan merumput-tarian di atas taman-taman Ibukota nan luas. Mereka bangga menjadi orang Asia. Kyrgish itu sendiri bermakna kumpulan dari 40 suku yang bergabung menjadi satu bangsa modern di Asia Tengah. Sejarah Kyrgishtan tak bisa dilepaskan dengan tumpukan bebatuan dan ‘lumpur lekatan’ sehingga menjadi gunungan dan sekaligus “istana” bagi pengembara yang menempuh ribuan kilometer dalam gegap gempita caravan yang memikul produk olahan dan hasil bumi dari Timur ke Barat atau sebaliknya, vice versa; dan itulah Tash Rabat.

Tash Rabat terletak di pelintasan nan gemuruh (itu dulu). Berada di Provinsi Naryn, yang dibangun oleh “klan” Tursun Shutabaeva, berfungsi sebagai rumah rehat dan merebah dari segala jengah, penat dan letih dan kemudian dikenal dalam bahasa karavan sebagai “caravanserai” yang berserak dari Kyrgishtan hingga Turki. Tash Rabat memiliki 31 bilik dengan susunan bebatuan yang bertindih-tindih, rekatan clay mortar, juga gypsum mortar yang amat menawan, tanpa tiang tengah (tiang mercu). Kubah ukuran gergasi juga dibangun di atas tumpuan bebatuan yang bertumpuk-tumpuk, berlapis-lapis tanpa disemen secara “concreete”.

Tash Rabat tak sekedar nama, tapi jauh dari itu, dia adalah “jenama” (benchmark) tentang kisah dan ihwal yang tak lekang oleh gumpalan dan tindihan sejarah yang bertimpuk-timpuk, saling bertindih dan menindik. Setiap orang yang sadar tentang harumnya sejarah penaklukan, wanginya sejarah perjalanan, dakwah dan perenungan  merindukan akan tapak, maqam, atau apa pun namanya (monument?); sehingga segala yang melekat di dinding bebatuan itu bukanlah kumpulan siulan hantu, bukan pula kisah tempat tanpa penghuni. Tak sekedar pelepas penat, Tash Rabat sekaligus adalah simbol dan simbiosis tentang hadirnya oase di tengah kegersangan kepungan gunung-gunung keras dan cadas-cadas zig zag tempat anak-anak muda Kyrgish melatih dan berburu hewan-hewan liar dengan bantuan seekor elang yang terlatih melayang dan menjunam; di celah-celah gunung batu menghadap danau asin Issyk-Kul tak jauh dari Bishkek. Danau ini adalah danau asin terluas kedua di muka bumi. Tepatnya, Issyk-Kul terletak di sebelah utara pegunungan Tian Shan yang terkenal wangi itu. Berburu dengan seekor elang, telah berlangsung ribuan tahun di tanah Kyrgish ini. Cakar, kuku dan taji elang bersembilu, terjun bak peluru menerkam mangsa. Kaum remaja dusun Kyrgish merespon kejadian ini tanpa ekspresi. Jua dalam senyap.

Sebagai bangunan, Tash Rabat nan menawan di kepung pengunungan yang bisu, namun dia “berbicara” secara sejarah. Ruang utamanya dalam bentuk bundar untuk menopang kubah yang menjadi ruang transisi dari empat sudut, yang berfungsi sebagai tempat menyuling dan mengintai ke arah luar dan menelisik pergerakan lalu lintas caravan atau pun perompak benua yang berhajat buruk dan membangun mimpi hitam bagi pedagang dan peniaga di sepanjang pelintasan jalur sutera. Dia bukan wujud dari benteng “kurang ajar”, tapi adalah “jumlahan mata kamera” alamiah yang menyasar para rombongan “pencedera” peradaban melintas, demi membangun peradaban sisian (kelam) yang lain. Tash Rabat, adalah tegakan raksasa bersaksi mengenai sejarah bagi orang Kyrgish yang menjelita di sekitar rantau distrik At-Bashy dengan serangkaian kisah heroik seorang arjuna yang mengejar kudanya melintas sejauh 380 Km dari Uzbekishtan hingga menerobos Kyrgshtan hari ini. Bagi mereka yang rindu dengan petualangan peradaban dan sejarah, takkan mudah melupakan Tash Rabat di tengah sejarah Kyrgish yang rimbun merimba. Bangsa ini tergolong makhluk Asia Tengah yang Turko-Mongol. Berkulit halus, berhidung lancip, berbadan ramping. Anak-anaknya amat juwita dan lawa-menawan. Keindahan dunia kanak-kanak, terpercik bak ‘dunia surga’ yang disembulkan di antara gunung-gung gemulai nan   teduh di lengkung lembah Kyrgish itu.

Sebagai jenama, Tash Rabat yang dihimpit beban sejarah yang tua dan endapan harapan kebangkitan bangsa Asia yang menakluk dunia Barat lewat jalur kontinen maha luas ini telah melahirkan figur-figur besar semacam Jenghis Khan dari tanah Mongolia, juga Tamerlane (Timurlenk atau Amir Timur) yang hari ini bisa diziarahi makam harumnya di kota Samarkand (Uzbekistan). Figur-figur penakluk Asia ini adalah juga sederet jenama yang menggerunkan Barat, sekaligus menanam rasa ingin tahu bangsa di Barat sana untuk menyelam kedalaman ‘lautan spiritual’ bangsa Timur, ketinggian peradaban, kepiawaian dalam penataan taman Timur, karya agung arsitektur Timur yang aduhai itu. Sekali lagi sisi “kurang ajar” Timur kepada peradaban Barat, dipertontonkan secara gagah dan ranggi di sini. Tak sekedar itu, kepiawian Asia Tengah dalam olahan gandum dan bijian sebagai makanan utama, kemudian menjadi sajian roti yang hangat dan mampu memecah kebekuan musim dingin. Tradisi spa (bertengas/ bertangai) Asia Tengah yang dibalut hangatnya air danau asin Issyk-Kul menyegar.

Figur-figur penakluk kontinen (benua) ini juga jadi penggesa orang Eropa untuk berkelana dan melakukan ekspedisi ke Timur. Demi sebuah perjalanan untuk “mengetahui” dan “mendalami” walau berbungkus dagang dan turisme individual. Maka, tersebutlah nama Marcopolo dari Venesia (Italia utara) yang melakukan perjalanan “kultural” yang dihiasi dengan kerimbunan catatan perjalanan yang menggambarkan kekaguman demi kekaguman yang terhidang sepanjang surga Asia Tengah, hingga Asia Timur. Dan memang harus kagum penuh decak.

Kita. Akankah kita mampu membangun jenama monumental hasil karya tulis atau pun arsitektur manusia yang terbelit di dalamnya setumpuk figur yang meniupkan ekspirasi (tak sekedar inspirasi) menggelung renjana, sehingga dia menjadi penggesa orang-orang dari negeri-negeri nun untuk datang dan terpukau mengeja atau melakukan imla terhadap sejarah kita yang besar dan kawi. Akankah jenama yang ada di benua Melayu ini, setara dengan eksotisme yang diemban dan diendap oleh Tash Rabat?

Ya. Tugas sejarah telah terhidang di depan mata dan hidung anak-anak Melayu yang tak semestinya menghadirkan jenama-jenama yang serba ecek-ecek…; Pulau Zakat lah, Quran Center lah, Islamic Center lah. Nikola Tesla berkata lirih: “Be alone, that is the secret of invention; be alone, that is when ideas are born”. Kalau tidak, kita akan memupuk sejumlah generasi yang “penyesal dan senang berkesal-kesal dalam menjalani kehidupan yang serba serempak dan bergempita ini, tanpa mengenal lika-liku hidup yang bersunyi senyap. “The wisest are the most annoyed at the loss of time”, sindir Dante Alighieri. Sebelum semuanya berlaku senyap dan mengejek…: Mencemeeh dalam diam.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan