Kedudukan Novel Lanun Alang Tiga Menjadi Kekuatan Sejarah Rantau Melayu: Catatan Joni Hendri

125

Tentu saja, penulis yang betul-betul penulis tidak bisa menulis tanpa persiapan apa-apa. Mereka kaya pengalaman, bacaan dan riset yang begitu banyak. Kepekaan batin dan imajinasi saling berkoneksi. Apalagi kebahasaan dalam menuangkan cerita. Maka apabila sudah terbangun akan hal itu. Maka mudah bagi penulis untuk mengawali cerita yang akan ditulis.

“Sastra Indonesia mempunyai jumlah penulis yang bukan main banyaknya. Tapi kebanyakan mereka hanya melongok sastra sebentar, kemudian pensiun. Ada pula yang setelah melongok sebentar kemudian tidur, melongok lagi sebentar, untuk kemudian tidur lagi, entah sampai kapan keterlibatan mereka dalam sastra hanyalah sepintas-lalu.”

Begitu kata Budi Darma di dalam sebuah esainya. Agaknya itulah sebuah kerisauannya melihat penulis Indonesia hari ini. Namun ketika kita melihat sosok penulis novel Lanun Alang Tiga Rida K Liamsi. Maka ungkapan Budi Darma itu terbantahkan. Sebab sampai hari ini sosok Rida K Liamsi masih terus menulis bukan sekedar sepintas-lalu. Ia terus menuangkan sejarah ke dalam tulisannya. Terus bergelut dengan teks sastra.
Begitulah penulis sungguh-sungguh seperti Ridak K Liamsi. Ia bisa mengemas sejarah dalam bentuk cerita yang relevan dengan anak muda hari ini. Kemudian mengabadikan teman-teman dekatnya dengan memasukannya menjadi tokoh ke dalam cerita. Umpama menarik kereta sejarah dengan menggunakan kuda. Bisa saja kudanya ditaruh di belakang kereta agar bisa mendorong kereta tersebut atau menaruhnya di depan agar kuda sanggup menarik kereta itu. Begitu seorang Rida K Liamsi mengemas sejarah ke dalam novelnya ini. Sejarah tentang jejak-jejak perjalanan suku Iranun, bangsa lanun yang bermula dari abad ke-15. Bagaimana perjuangan Sultan Yahya untuk merebut kembali Kerajaan Siak dari Syaid Ali, cucu Raja Alam yang berkerjasama dengan penjajah yaitu Belanda.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa nama Alang Tiga merupakan sebuah nama pulau yang berada di Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, Pulau Alang Tiga. Pulau itu memang menjadi pusat kekuasaan Raja Lanun yaitu Tok Lukus atau sebagian orang menyebutnya Raja Tembing. Sebagai ilustrasi kalau saja tiba-tiba disuguhkan pada kita kitab Tuhfat al-Nafis atau Salalatus Salatin dan novel Lanun Alang Tiga, yang secara garis besar mengisahkan sejumlah sejarah rantau Melayu. Merujuk pada riwayat yang sama, dapat dipastikan kita semua akan memilih pada novel Lanun Alang Tiga. Kenapa begitu? Tanpa mengecilkan kedua naskah agung tersebut. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa hidup di zaman serba instan dan pragmatis ini, membaca Tuhfat al-Nafis dan Salalatus Salatin merupakan sebuah kerja yang membutuhkan cara baca yang khusus dengan pemahaman dan kemampuan yang khusus pula. Namun ketika kita membaca Lanun Alang Tiga seolah-olah kita sedang membaca kedua naskah agung itu. Membaca sesuatu yang lampau, jauh dari kehidupan kita. Namun terasa dekat dengan kita. Artinya ada yang sedang berdenyut pada nadi kita, sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai ‘kuburan’. Ada ketertarikan yang kuat dari dalam diri kita untuk ikut memiliki sejarah yang tak bisa dipisahkan dari diri kita. Inilah perkerjaan penafsiran yang harus dimiliki dari teks masa lalu. Betapa dahsyatnya daya kreatif yang tertuang dalam karya. Misalnya sebut saja Pramoedya Ananta Toer dalam karya tetralogi Bumi Manusia-nya yang membeberkan peristiwa juga mengangkat tentang sejarah bangsa ini yaitu perebutan kekuasaaan tahun 1965. Atau pengarang Inggris, James Joyce dengan judul novel Ulysses yang mengolah mitologi Yunani juga tentang sejarah. Begitulah realitas sejarah yang terus mempertahankan akurasi data yang faktual ke dalam karya-karya sastra. Dan semangat itu menjalar dalam novel Lanun Alang Tiga karya Rida K Liamsi ini. Semangat yang dibangun dengan cara kerja kreatif yang serupa dengan nama yang saya sebutkan di atas.
Novel Lanun Alang Tiga tidak hanya sekedar novel yang menceritakan tentang kisah cinta seorang laki-laki dan perempuan atau tentang sejarah saja. Akan tetapi novel ini menampilkan persoalan sosial yang dihadapi beberapa kelompok masyarakat Melayu. Misal perebedaan suku, sulit untuk menikah dengan lain suku. Menariknya dari kompleksitas persoalan yang ditampilkan di dalam novel ini yaitu dikemas dengan gaya bercerita yang sederhana, sehingga cerita yang ditampilkan mengalir dengan lancar.
Novel ini menampilkan sejarah lanun atau pun bajak laut di bumi Melayu. Penyajian novel ini seakan-akan meluruskan pemahaman si pembaca bahwa lanun atau bajak laut itu bukanlah penjahat yang sering dipahami oleh masyarakat banyak. Novel ini membawa kita ke ranah sejarah bahwa lanun atau bajak laut berperan penting dalam melindungi kemaharajaan Melayu. Bahkan mereka berjuang mati-matian dalam mempertahankan kedaulatan kerajaan Melayu. Hal itu dapat kita pahami pada dialog pertanyaan Nadin ke Prof. Kazai:

“Keturunan Iranun yang diangkat jadi Panglima Besar Reteh itu terjadi pada masa Kerajaan Riau-Lingga sudah pindah ke Lingga. Kononnya itu adalah wasiat dari Sultan Mahmud Riayat Syah kepada anaknya Sultan Abdul Rahman Muazam Syah I sebagai tanda terima kasih kepada orang-orang Iranun yang telah membantu Riau lepas dari cengkeraman Belanda. Tapi, wasiat itu belum terlaksana karena niat Sultan Abdul Rahman untuk mengangkat bekas pemimpin lanun itu sebagai panglima besar di Reteh, terus-menerus ditolak Belanda karena Belanda masih dendam dengan orang-orang Iranun yang dulu pernah menghancurkan Belanda di Tanjungpinang” (hal-156).

Kutipan dialog ini mempertegaskan bahwa lanun berperan penting dalam mempertahankan kerajaan Melayu. Menjadi benteng dari serangan Belanda ketika itu. Mereka mengawasi laut beserta selat-selat menjaga kapal kerajaan ketika berlayar. Peristiwa ini menjadi simbol akan sebuah perjuangan demi kekuasaan untuk mempertahankan Riau-Lingga. Sultan Mahmud Riayat Syah juga menjadikan wasiat itu agar anaknya Sultan Abdul Rahman Muazam Syah 1 mudah menyusun strategi dalam pekerjaan mempertahankan kerajaan.
Lanun bukanlah penjahat yang dipahami secara luas. Lanun merupakan ungkapan atau sebagai simbol perlawanan orang Melayu terhadap penjajah. Perlawanan yang membangun kekuatan Melayu dengan Melayu lainnya. Misalnya Melayu Mindanao. Melayu Pattani, Melayu Johor, Melayu Trenggano, Melayu Kepulaun Riau dan Melayu Melaka. Di dalam novel Lanun Alang Tiga ini hal tersebut menjadi jalan cerita. Perjalanan seorang tokoh Encik Nadin. Seorang wartawan surat kabar Suara Borneo, Kinabalu, Sabah, Malaysia.
Indragiri seakan-akan menjadi benang merah sejarah, yang menyatukan berbagai sejarah Melayu. Maka di dalam novel Lanun Alang Tiga ini mengambil latar Indragiri. Misalnya kita kutip dialog Prof. Kazai dengan Camat Ibrahim:

“Ya, sekarang disebut Sungai Indragiri. Entah mana dulu, sungainya atau kerajaannya yang ada di hulunya yang disebut Indragiri. Dulu nama sungai ini, Batang Kuantan karena ke arah hulunya ada Kerajaan Kuantan dan Sang Sapurba pun, seperti diceritakan dalam Hikayat Hang Tuah, pernah jadi raja di Kerajaan Kuantan sebelum terus ke hulu dan menjadi raja di Minangkabau,” kata Prof. Kazai “Dalam Salalatus Salatin atau Sejarah Melayu dan catatan lainnya, kerajaan yang ada ke sebelah hilir Kuantan ini, disebut Kerajaan Kritang, mengikut nama kota yang di sana. Tapi nama Indragiri itu, justru disebut dalam Salalatus Salatin ketika Sultan Melaka, Mansyur Syah pergi ke Majapahit dan Betara Majapahit menghadiahkan Indragiri ini menjadi negeri jajahan Melaka setelah Mansyur Syah menikahi Ratu Galuh Chandra Kirana, putri Betara Majapahit,” lanjut Prof. Kazai” (hal-153).

Dari kutipan itu jelas sekali bahwa novel Lanun Alang Tiga merakit sejarah itu dari benang merahnya yaitu Indragiri. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kerajaan Indragiri berdiri sekitar tahun 1337 Miladiyah. Atau bisa dikatakan kerajaan Kandis, sebab berada di perairan aliran Batang Kuantan berdiri abad 1 sebelum Miladiyah (Masehi). Kalau merujuk dari Kerajaan Kandis, bisa tarik kesimpulan bahwa kerajaan yang berada di perairan Indragiri ini adalah kerajaan tertua di rantau Melayu. Mungkin ini menjadi alasan penulis untuk mengambil awal cerita dari Indragiri.
Kemudian Kerajaan Lingga, adalah setting sentral yang bergulirnya peristiwa-peristiwa novel ini. Dari sana awal urainya sebagai sendi kehidupan berbagai dalam kehidupan para bangsawan. Raja Ali, adalah seorang tokoh bangsawan berdarah campuran Melayu-Bugis yang berperang merebut kekuasaan menginginkan jabatan.

“Ada catatan yang menyatakan, bahwa ketika Tengku Muda Muhammad, Raja Muda Riau dari sebelah Melayu ketika berperang melawan Raja Ali, yang dipertuan muda dari sebelah Bugis, berebut kuasa jabatan yang dipertuan muda, Tok Lukus dan pengikutnya telah ikut berperang membantu Tengku Muda Muhammad. Mereka mengirim 80 buah perahu perang ke Riau dan mengepung armada perang Raja Ali di muara Sungai Carang. Akibat campur tangan para Ilanun ini, Raja Ali akhirnya mundur dan bersedia berdamai. Itulah yang kemudian melahirkan Perdamaian Bulang yang mengakhiri perang saudara itu meskipun Perdamaian Bulang itu dikatakan sangat merugikan pihak Melayu. Tapi, karena tak mau mendurhaka pada sultan, Tengku Muda Muhammad menerima keputusan damai, namun dia tak mau dilantik jadi Temenggung Riau, Johor, dan Singapura, sampai akhir hayatnya,” cerita Prof. Kazai” (hal-176).

Hemat saya, cerita dalam novel ini mempunyai konflik yang berpengaruh terhadap lanun yaitu Tok Lukus. Memberi pengaruh besar terhadap pergerakan kekuasaan Kerajaaan Melayu. Maka tidak salah jika lanun atau bajak Melayu dalam kisah rumpun Melayu merupakan sesuatu yang sangat penting kita ketahui. Agar tidak salah menilai bahwa lanun atau bajak laut itu penjajah. Dan juga menjadi kekuatan sejarah di rantau Melayu. Novel Lanun Alang Tiga juga menggambarkan kisah tentang perebutan kekuasaan antar saudara. Akibat campur tangan Belanda.

Kedudukan Cinta Akan Menghapus Keinginan Orang Tua
Tema cinta menjadi mata air yang tak akan pernah kering dalam dawat pengarang. Maupun dalam diri manusia yang masih berstatus hidup di muka bumi. Rida K Liamsi terus menulisnya dengan berbagai variasi yang dikemas dengan begitu menarik. Dalam novel Lanun Alang Tiga pengarang mengangkat makna cinta bagi manusia. Bagaimana Julia dan Awi, menyelesaikan persoalan cinta. Dan juga percintaan beda kasta yang dialami Tok Lukus dengan Tengku Maimunah dalam sejarah. Sama dengan kisah cinta Awi dan Julia.
Mereka memperjuangkan cinta dan mengalaminya. Julia rela meninggalkan kedua orang tuanya demi menyatukan cinta mereka. Sedangkan Ami Mat sangat menginginkan Julia menikah dengan keturunan Iranun saja. Walau pun Awi orang yang rajin beribadah, namun tidak menjadikan hal itu nomor pertama bagi Ami Mat. Begitu kuatnya Ami Mat mempertahankan keturunan Iranun. Namun apalah daya, hal itu hanya sebatas keinginan, yang mudah dikalahkan oleh kemurnian cinta. Sebab rasa cinta tidak bisa dihalangi oleh status sosial, etnis dan agama dll.
Novel Lanun Alang Tiga ini juga membuka ruang pembaca untuk mendorong agar menafsirkan sendiri makna dari cinta lewat cuplikan-cuplikan hubungan antar tokoh. Misalnya hubungan Nadin dengan Ami Mat dan juga Julia. Kemudian hubungan Julia dan Awi. Ditampilkan secara elok. Sehingga pembaca akan terasa menyatu dan masuk dalam suasana cerita. Cara seperti ini membuat suatu karya sastra sangat bermakna. Tidak terkesan membaca gaya yang menulis seperti teks khutbah. Bukankah orang sangat menyukai ceramah atau khutbah? Tentu saja suka pada ruang dan waktu tertentu.
Namun dalam waktu terbuka dan di tempat terbuka kebanyakan orang lebih suka dibawa mengalami dan merasakan kebenaran itu dari pada diberi ceramah atau khotbah. Di sinilah peran karya sastra terutama novel menyampaikan kebenaran. Terutama kebenaran cinta yang sesungguhnya. Karya sastra mampu menyampaikan kebenaran dengan membawa pembaca merasakan kebenaran melalui penokohan yang dibangun oleh sorang pengarang.
Pesan cinta yang ada di dalam novel Lanun Alang Tiga tidak diindrokrinisasikan. Namun disampaikan dengan cara mendorong pembaca untuk merasakannya melalui hubungan antar tokoh dalam novel tersebut. Begitulah ketulusan cinta yang kita rasakan di dalam novel ini. Cinta bisa merubah manusia ke arah jalan yang hitam dan putih.
Sekali lagi, pembaca diberi jalan untuk menempuh makna cinta yang dialami Tok Lukus dan Tengku Maimunah, Awi dan Julia juga Nadin dan Haini. Apakah Julia terguggah dengan Nadin yang mempunyai pekerjaan sehingga bisa memudarkan rasa cintanya kepada Awi. Jawabannya tentu tidak artinya kedudukan cinta tidak bisa dibayar dengan apapun. Sebab cinta mempunyai jalannya sendiri menuju tujuan yang telah ditakdirkan. Ketulusan cintalah model yang paling berharga dibandingkan jabatan dan uang.

Aspek Kepengarangan
Dari segi kepengarangan, sepengetahuan saya ada dua faktor yang mempengaruhi sang pengarang dalam penulisan noval Lanun Alang Tiga ini. Pertama, sejarah memang menjadi modal utamanya. Sebab sosok Rida K Liamsi memang mencintai sejarah. Karena baginya sejarah Melayu mempunyai misteri dan sisi menarik untuk digali, dieksplorasi dan ditafsir ulang. Kedua, profesi pengarang sebagai seorang jurnalis, terlihat dari cara penceritaan yang lugas, sederhana dan langsung membuat pembaca mudah memahaminya. Mesti tema yang diangkat sangat berat yaitu sejarah rantau Melayu. Perjalanan seorang jurnalis Nadin terlihat dipengaruhi oleh pengalaman pengarang sebagai jurnalis.
Mari membaca agar sejarah dunia Melayu tidak terkubur dalam lautan masa lampau. Agar anak-anak masa depan tidak kehilangan jejak sejarahnya. Dekatkanlah diri dengan sejarah Melayu.***

Rimbo Panjang, 2024

 

Joni Hendri, S.S kelahiran Teluk Dalam, 12 Agustus 1993. Pelalawan. Alumnus Jurusan Teater AKMR. Dan juga alumnus Jurusan Sastra Indonesia FIB Unilak. Karya-karya berupa naskah Drama, Essai, Cerpen, dan Puisi. Sudah dimaut di beberapa antologi dan media seperti: Jawa Pos, Riau pos, Solo Pos, kompas.id, Dll. Bergiat di Rumah kreatif Suku Seni Riau dan bergiat di Komite Teater Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP). Sekarang mengajar di SD Negeri 153 Pekanbaru.
No Kontak/Wa : 0812-6629-3982

 

 

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan