LELAKI tua itu serupa hantu. Ia bermukim di antara rerimbunan pohon tua dalam hutan mangrove yang dinamainya sebagai Bandar Bakau. Di daerah sekitar tempat tinggalnya, bahkan seantero Kota Dumai, tak ada yang tidak mengenalnya. Bahkan berapa orang di sana menjulukinya Penunggu Hutan Bakau. Ia tak menampik, sebab memang demikian adanya. Namanya Darwis Mohammad Saleh.
Untuk menjumpai Darwis tidaklah sulit. Jika tidak sedang memberikan pelatihan kepada Kelompok Tani Hutan, Kelompok Sadar Wisata, dan kelompok masyarakat lainnya, lelaki dengan rambut dan janggut putih itu sehari-hari menghabiskan waktunya di kawasan hutan di sudut ingar-bingar Kota Dumai. Sehari-hari, ia mencurahkan perhatiannya dalam mengelola kawasan wisata Bandar Bakau. Sesekali juga menyibukkan diri dengan mencipta puisi, atau menyusun naskah teater, dan monolog, serta kegiatan lainnya yang berhubungan dengan seni dan budaya.
Untuk mencapai Bandar Bakau, sebelum terhubung oleh jembatan Dermaga C Pelindo I yang membuat Bandar Bakau bisa ditempuh dari Jalan Sudirman seperti sekarang, jalan menuju Bandar Bakau ditempuh melalui Jalan Syech Umar, arah ke Purnama. Dari Jalan Syech Umar ke dalam Bandar Bakau melalui Jalan Nelayan Laut kurang lebih 1 km tembak lurus ke arah dalam hingga langsung tertumbuk bertemu laut. Di sini juga sudah ada restoran yang menjual aneka menu seafood yang cukup terkenal di Kota Dumai. Akses masuk ke dalam sudah gampang ditempuh, meski jalan cukup sempit akibat perumahan penduduk yang padat dan kondisi jalan beton yang cukup rusak. Letak Bandar Bakau tak jauh dari restoran seafood.
Suasana di Bandar Bakau memang persis seperti gambaran mengenai daerah pesisir itu sendiri, berubah-ubah. Area utama Bandar Bakau sendiri tidaklah mengecewakan sebagaimana dugaan awal dari pengunjung yang sudah lama tidak datang berkunjung ke sana.
Sebagai lokasi yang diperuntukkan sebagai kawasan wisata minat khusus, Bandar Bakau menyajikan pengalaman menyusuri hutan mangrove menggunakan jembatan titian. Bukan sekadar menyajikan suasana melihat mangrove saja, melainkan juga bisa menjadi ajang edukasi terkait satwa yang berasosiasi dengan hutan mangrove. Di sana juga dikenalkan mengenai Situs Legenda Putri Tujuh yang diyakini sebagai asal-muasal Kota Dumai.
Kisah legenda ini menceritakan mengenai peperangan yang terjadi antara Kerajaan Seri Bunga Tanjung yang dipimpin oleh Ratu Sima dan pihak Pangeran Empang Kuala dari Kerajaan Aceh.
Konon, Ratu Sima memiliki tujuh orang putri yang cantik jelita, dan dari ketujuh orang putri tersebut, putri bungsulah yang tercantik di antara mereka. Putri ini bernama Putri Mayang Sari—dalam riwayat lain disebut Mayang Terurai atau Mayang Mengurai karena rambutnya yang panjang terurai.
Pada suatu hari, ketujuh putri itu sedang mandi di Lubuk Sarang Umai. Karena asyik mandi sambil bersendau gurau, mereka tidak menyadari kehadiran Pangeran Empang Kuala beserta para pengawalnya yang kebetulan lewat di daerah itu.
Sontak Pangeran Empang Kuala jatuh cinta melihat Putri Mayang Sari. Singkat cerita, pangeran memerintahkan pengawalnya untuk melamar Putri Mayang Sari. Nahas, lamarannya ditolak, sebab dalam adat yang berlaku, pantang bagi seorang adik untuk melangkahi kakaknya, dan yang lebih berhak menerima pinangan tersebut adalah putri tertua mereka. Tidak terima dengan penolakan, Pangeran Empang Kuala kemudian menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Perang berlangsung kurang lebih selama empat bulan, hingga pada bulan keempat, perang dihentikan dan Pangeran Empang Kuala memutuskan untuk kembali ke Aceh.
Sepeninggalnya, ketika menyusuri Sungai Dumai, buah-buah bakau yang tumbuh di sepanjang muara Sungai Dumai berjatuhan dan menimpa kapal mereka hingga menyebabkan keseluruhan awak kapal meninggal dunia.
Berdasarkan cerita tersebut, nama Dumai diyakini berasal dari D’Umai, yang berarti di Lubuk Sarang Umai, tempat Pangeran Empang Kuala melihat Putri Mayang Sari pertama kali. Sedangkan daerah tempat peristirahatan Pangeran Empang Kuala dinamai Bangsal Aceh. Sedang daerah muara Sungai Dumai di sepanjang Bandar Bakau diklaim sebagai kawasan tempat tewasnya rombongan Pangeran Empang Kuala.
Sebagai penunjang untuk menyajikan pengalaman berwisata, di area komplek Bandar Bakau, terdapat bangunan rumah panggung khas Melayu yang diperuntukkan sebagai balai adat dan ruang pertemuan, serta ada gerai penjualan oleh-oleh khas Dumai. Ketika sore hari, pengunjung bisa menyaksikan matahari terbenam dari sisi terluar Bandar Bakau dengan latar pelabuhan yang bersanding dengan area mangrove.
Sayangnya, saat ini kondisi dari fasilitas yang dibangun pada kurun 2011-an silam, hasil bantuan dari berbagai lembaga dan CSR perusahaan, itu sudah rusak tak terawat. Bahkan jalan masuk utama ke dalam Bandar Bakau harus dipalang dan terpaksa dialihkan akibat sudah rusak dan dibuatkan jalan baru, sehingga pengunjung harus memutar arah ke Jembatan Dermaga C. Itupun mau tidak mau harus melewati sedikit jalan tanah berlumpur yang berlubang cukup dalam akibat sering dilewati truk bermuatan.
Keberadaan kawasan hijau serupa Bandar Bakau di sela daerah pekat polusi Dumai memang ibarat oase di tengah gurun. Akan tetapi, berdirinya Bandar Bakau dan terkelolanya bukan tidak ada masalah dan segala macam drama yang mengikutinya.
Dulu, menurut Darwis, nama asli daerah itu adalah Kampung Kedondong. Sedang penamaan Jalan Nelayan Laut itu tak lain, pada kurun tahun 60-an, di daerah tersebut memang merupakan pemukiman nelayan. Memasuki tahun 70-an, pembangunan dan industri yang mulai merayap di Dumai mengancam kelangsungan hidup nelayan kecil, hingga kemudian, mereka mulai beralih profesi, bahkan juga beralih tempat tinggal—sehingga Kampung Kedondong yang menjadi perkampungan nelayan hanya tinggal cerita. Kawasan tersebut dijadikan kawasan pelabuhan yang masuk dalam pengelolaan PT. Pelabuhan Indonesia I cabang Dumai.
Untuk masuk area utama Bandar Bakau melalui gerbang bertuliskan Café Redam Piloe yang dikelola oleh anak muda binaan Darwis, pun ada juga semacam homestay Dumai Merindu yang masih dalam tahap renovasi.
Dari gerbang menuju ke dalam sudah menggunakan jembatan titian (jeti) permanen selebar kurang-lebih 2 meter yang terbuat dari coran beton. Sebelumnya hanya berupa pondasi beton dengan lantai kayu yang ketika pasang tinggi, kayunya melapuk dan bisa menyebabkan terpuruk.
Menyusuri hutan mangrove cukup menyenangkan, kendati cuaca Dumai yang panas, tapi berasa sejuk sebab terlindung oleh pohon-pohon mangrove yang tingginya sudah melebihi belasan meter dengan kerapatan yang cukup padat. Macam-macam jenisnya. Ada pohon bakau (Rhizophora apiculata), belukap (R. mucronata), api-api (Avicennia sp), kedabu (Sonneratia ovata), perepat (S. alba), teruntum (Lumnitzera sp), Piyai (Acrostichum sp), dan lain sebagainya.
Melewati Café Redam Piloe menuju ke arah kediaman Darwis, terdapat dua orang wanita muda yang sedang memasukkan lumpur ke dalam polybag. Di depan mereka, teronggok ratusan bibit api-api dalam satu kantong plastik berwarna putih yang akan disemai mereka ke dalam polybag tersebut.
Lebih jauh lagi masuk ke dalam, tepat di ujung jeti, kita akan menemukan jeti melebar dengan luasan yang cukup sebagai panggung yang dimanfaatkan untuk pameran dan aksi teatrikal yang bernama Panggung Seni Mohammad Saleh Abdul Jalil. Masih di komplek panggung itu juga, di sudut kanan, terdapat sebuah pondok berukuran kurang lebih 2x3m yang dimanfaatkan sebagai hunian oleh Darwis beserta istrinya.
Darwis duduk setengah bersila pada kursi plastik berwarna merah pudar yang catnya mulai mengelupas. Dia baru saja pulang dari acara penanaman mangrove di daerah Purnama—setelah menghadiri simbolisis penanaman mangrove, program CSR salah satu perusahaan.
Mengenakan setelan serba hitam, membuat ia semakin sangar dengan destar hitam khas pendekar membalut kepalanya yang beruban. Tak lupa celana pangsi hitam dan kaos berwarna sama bergambarkan bakau. Darwis yang sudah melewati usia separuh abad tidak menunjukkan ekspresi lelah, seakan tidak kenal dengan kata tersebut.
Ia tengah terlibat perbincangan panas dengan rekannya, Agoes S. Alam. Terdapat tiga orang lagi laki-laki yang—kebanyakan dari mereka adalah budayawan dan seniman yang tinggal di Kota Dumai—menyimak dengan saksama. Gerak-gerik mereka berubah-ubah, tergantung siapa yang berbicara. Ketika Darwis yang bicara, mereka melengongkan kepala ke arahnya sambil sesekali mengangguk. Lalu, ketika Agoes yang bertutur, mereka akan memutar pantatnya sedikit menghadap Agoes. Topik pembicaraan berubah-ubah, namun mendadak panas ketika membahas mengenai masa depan Dumai, masyarakat Melayu, dan status Bandar Bakau.
Awalnya, Agoes menyentil mengenai situasi politik saat ini yang berkembang jelang pemilihan umum kepala daerah, dan pemilihan presiden. Kemudian beralih lagi kepada resesi dan kemiskinan ekstrem, seperti yang terucap dari mulut Muhammad Adil, Bupati Kabupaten Kepulauan Meranti beberapa bulan silam yang sempat membuat Kementerian Keuangan panas-dingin. Agoes bercerita mengenai peluang dan lapangan kerja untuk masyarakat Melayu di Dumai.
Darwis menimpali dengan nada jengkel, “Di sini seharusnya orang-orang menciptakan lapangan pekerjaan, bukan mencari pekerjaan.”
Kejengkelan Darwis bukan tak beralasan. Meski memaklumi mengenai kondisi ekonomi masyarakat akar rumput Kota Dumai yang banyak di bawah garis kemiskinan, namun bagi Darwis ada beberapa hal yang prinsipil yang tidak bisa ditawar. Ia menyayangkan kehadiran preman-preman, yang notabene putra daerah, marak memalak.
Belum lagi jual beli lahan di ujung jembatan dermaga Pelindo. Sayangnya, Pelindo sendiri tidak mengetahui hal ini, dan malah sibuk mengurus keberadaan Bandar Bakau. Darwis geram. Rahangnya yang sudah mulai kehilangan gigi itu menggeretak.
“Kita perlu (mem)buat gerakan menempeleng saudara sendiri. Murah benar kau jual Melayu!” geramnya sembari memeragakan gerakan menampar angin pakai punggung telapak tangan, seakan-akan menampar seseorang yang dianggapnya menjual Melayu dengan harga murah itu.
Di tungku dapur depan pondoknya, Istri Darwis sibuk menjerang air untuk membuat kopi sambil berbincang dengan ibu Darwis dan istri Agoes S. Alam. Sesekali menambah tumpukan kayu kering dan kemudian meniup bara agar apinya nyala. Setelah mendidih, ia menyeduh kopi ke dalam teko plastik berwarna hijau dan menghidangkan di meja kayu tempat Darwis dan teman-temannya duduk. Tanpa dipersilakan, mereka kemudian menuang kopi ke gelas masing-masing.
Uap panas mengepul dari cangkir retak seribu berwarna putih dengan motif keluk hijau lumut. Mereka menyeruput perlahan kopi buatan istri Darwis sambil menikmati desir angin yang menyelinap di sela pokok bakau. Berada di bawah rerimbun bakau yang hijau, dan angin yang semilir, ternyata belum mampu mengusir suasana panas kota minyak itu sepenuhnya.
Darwis semakin membuat gerah dengan berkisah mengenai asal mula bagaimana ia bisa “terjebak” di Bandar Bakau dan menjalani kehidupan yang, bagi sebagian orang, merupakan jalan yang sulit dan tidak mau ditempuh.
Sekitar tahun 1997, Darwis yang memang putra asli Dumai ini pernah membawa Rendra Afandi, anak pertamanya yang masih berusia 3 tahun, bersampan menyusuri muara Sungai Dumai. Bagi sebagian orang ketika itu, termasuk pantang larang untuk membawa anak kecil ke daerah sungai dan hutan. Menurut kepercayaan masyarakat sana, dikhawatirkan anak tersebut akan keteguran oleh makhluk tak kasat mata. Bagi Darwis tak demikian. Keteguran di sungai itu bukan sebab gangguan dari jin, mambang, dan sejenisnya yang usil, melainkan cara dari sungai untuk meminta pertolongan.
“Sungai itu tengah sakit.”
Ia menyusuri sungai dan melihat kira-kira separah apa “penyakitnya”. Sekitar daerah Nerbit, Darwis yang mengayuh sampan bersama Rendra, berjumpa dengan Orang Akit.
Orang Akit, atau juga dikenal dengan Suku Akit, merupakan salah satu sub-suku dari ras Proto Melayu yang mendiami wilayah pesisir Riau. Mereka juga dikenal sebagai salah satu puak dari Suku Laut yang hidup di sampan-sampan dan bersifat nomaden. Menurut pengakuan Darwis, pada masa ia mengajak Rendra kecil itulah terakhir kali ia menemukan Orang Akit hidup di sampan.
“Sekarang mereka (Orang Akit) sudah menyebar di konter-konter HP. Sudah tidak ada lagi hidup di sampan-sampan. Sudah kehilangan budayanya. Sudah tidak ada lagi budaya berpantun yang diiringi musik dengkung-nya,” keluhnya sedih.
Darwis mencontohkan lagi, “Budaya pesisir itu datang dari (me)laut, duduk, menjerang air, bersembang (berbincang) sambil membetulkan jaring. Kembalikan budaya itu.” Ia merindukan masa-masa silam.
Darwis merasa risau. Sebagai seorang budayawan cum seniman, ia resah memikirkan bagaimana nasib anaknya kelak, di tengah ancaman penggerusan budaya. Saat itu ia belum tergerak dalam isu penyelamatan lingkungan. Namun ia melihat penggerusan budaya baik pada Orang Akit maupun orang Melayu sendiri sebagai sebuah ancaman serius.
“Sebelum bergerak dalam penyelamatan lingkungan pesisir, saya melihat ada abrasi lain yang lebih berbahaya. Itulah abrasi budaya,” ujar Darwis mantap. Matanya yang tua itu tetap nyalang serupa sorot mata elang.
Pada tahun 1998, semasa Indonesia reformasi, Darwis seperti diberikan panggung. Ia semakin menjadi-jadi, berorasi ke sana-kemari menyambut semangat reformasi. Bahkan anak bungsunya dinamakan Gelombang Reformasi, mengenang kisah yang terjadi masa itu.
Lain halnya dengan Tyas AG yang datang belakangan ketika majelis diskusi sudah hampir bubar. Ketika masa reformasi, Tyas yang ketika itu masih berada di Pekanbaru, memutuskan pulang kampung ke Dumai. Ia, dan kebanyakan dari mereka, para budayawan, tergerak membangun kampung halamannya dengan semangat otonomi.
Tak ayal, bagi sebagian orang, momen persiapan otonomi daerah kerap dijadikan sebagai ajang untuk memperoleh keuntungan pribadi. Kisruh semasa fase membangun negeri sering dijadikan ajang untuk saling unjuk gigi, dan tak jarang berujung kepada konflik antar mereka sendiri.
Mulai dari aksi oknum yang memalak perusahaan dengan dalih kontribusi terhadap daerah, hingga aksi premanisme lainnya. Tentu saja perusahaan dengan mempertimbangkan segala risiko yang ada lebih memilih untuk mengeluarkan sedikit uang, untuk kemudian ‘memegang’ putra daerah yang menjadi kepala preman di sana agar bisnisnya lancar.
Darwis dan Tyas tak luput dari godaan tersebut. Darwis yang memang kritis mengenai pembangunan di daerahnya sering mendapat sogokan dari perusahaan yang dirongrongnya, tentu saja ia menolak. Imbasnya dirasakan Darwis kemudian. Ia kesulitan ekonomi dan tidak punya pekerjaan tetap. Jangankan untuk menyekolahkan anaknya, untuk makan sehari-hari saja ia sering kesulitan.
“Istri saya lebih sering menggantikan saya berjualan di pasar untuk mencari nafkah,” kenangnya.
Darwis bersama dengan Tyas AG, dan beberapa orang budayawan lainnya, mendirikan organisasi budaya yang dihuni oleh budayawan dan seniman lokal Dumai yaitu DEKAM (Depot Kreativitas Anak Melayu Dumai). Pada masa itu mereka berjuang mengedukasi pemuda-pemuda terkait pentingnya kembali ke budaya asalnya.
Suatu senja, Darwis berdiri di pantai daerah muara sungai Dumai. Olehnya terpandang kilang-kilang minyak dan pelabuhan bersanding dengan mangrove dan pulau yang menggenting akibat gerusan abrasi. Ia terenyuh. Sebagai seorang yang bukan berlatar seorang praktisi lingkungan, tiba-tiba Darwis terpikir bagaimana cara menyelamatkan lingkungan tersebut.
Perlu pendekatan yang lebih humanis dalam merangkul semua pihak untuk menyelamatkan lingkungan. Dan ia merasa pendekatan yang sudah dilakukannya selama ini melalui aspek budaya merupakan langkah yang tepat dilakukan. Tiba-tiba ia teringat kepada Legenda Putri Tujuh yang diyakini merupakan legenda mengenai asal-muasal nama Kota Dumai.
Kemudian entah karena dorongan apa, Darwis beraksi spontan, memintas sebuah papan yang hanyut di pinggir pantai. Berbekal cat dan peralatan seadanya, ia kemudian menggoreskan cat tersebut ke sebuah papan dengan tulisan, “bakau ini dilindungi” dan memasang di komplek hutan mangrove di Bandar Bakau yang ketika itu masih berupa kawasan di bawah pengelolaan PT. Pelindo I.
Tentu saja tindakan Darwis menimbulkan polemik. Perwakilan dari PT. Pelindo I cabang Dumai langsung bereaksi dengan mengundang Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memperoleh klarifikasi mengenai status perlindungan bakau. Berdasarkan informasi dari dinas tersebut, diketahui bahwa mangrove bukanlah jenis tumbuhan yang dilindungi, dan status kawasan juga menunjukkan kalau Bandar Bakau berapa pada kawasan Area Penggunaan Lain (APL) yang berarti tidak masuk ke dalam status kawasan hutan .
Darwis berkilah. Ia beralasan bahwa mangrove di muara Sungai Dumai harus dilindungi bukan sebab jenisnya, maupun status kawasan hutan, melainkan kaitannya dengan situs budaya, yaitu situs Legenda Putri Tujuh.
Ia bersama kawan-kawannya di DEKAM, mencoba untuk menggali informasi lebih dalam mengenai kaitan antara cerita Putri Tujuh dengan lingkungan pesisir dengan melakukan kegiatan penyisiran ke dalam hutan mangrove Sungai Dumai untuk menginventarisasi buah-buah dari jenis bakau (propagul) yang menjadi penyebab kematian pasukan Pangeran Empang Kuala.
Berdasarkan pengamatan mereka dari berbagai jenis propagul bakau yang dikumpulkan, mereka berkesimpulan bahwa jenis bakau yang (diyakini) membunuh rombongan Pangeran Empang Kuala adalah dari jenis bakau hitam (Rhizophora mucronata), atau dalam bahasa setempat disebut belukap. Jenis ini tergolong sudah cukup langka ditemui di daerah Dumai.
Langkah dan tujuan Darwis semakin jelas. Mereka harus menyelamatkan pesisir muara Sungai Dumai dan mangrove sebagai bentuk komitmen terhadap menjaga agar Situs Putri Tujuh tetap ada.
Kemudian, pasca reformasi, ia bersama anggota DEKAM yang lain membentuk organisasi pemuda yang bertujuan untuk penyelamatan pesisir yang bernama Pecinta Alam Bahari (PAB) pada 16 Agustus 1999 dengan lokus kegiatan terpusat di muara Sungai Dumai yang diyakini sebagai tempat situs Legenda Putri Tujuh berada. Kawasan ini kemudian dinamakan sebagai Bandar Bakau dengan luasan awal pada saat penetapan sekitar 2,5 hektar. Penamaan Bandar Bakau ini dipilih berdasarkan kesepakatan dan deklarasi oleh sejumlah tokoh masyarakat bersama pemerintah daerah setempat, sebagai upaya konservasi bakau di muara Sungai Dumai.
Meski kebanyakan diisi oleh anggota DEKAM, sengaja dibentuk organisasi yang baru untuk memisahkan tujuan organisasi, di mana DEKAM fokus kepada kegiatan kebudayaan, sedangkan PAB yang satunya fokus pada penyelamatan lingkungan berbasis pendekatan budaya.
Gebrakan pertama yang dilakukan oleh PAB di bawah pimpinan Darwis adalah aksi Kembali Ke Laut. Kegiatan mereka dimulai dengan berenang sejauh 7 kilometer, atau sekitar 4,35 mil laut dari Batu Panjang, Kecamatan Rupat ke Dumai. Tujuan gerakan ini adalah sebagai bentuk protes terhadap industrialisasi dan privatisasi kawasan pesisir oleh perusahaan yang mengakibatkan akses melewati laut susah diperoleh.
Tidak berhenti sampai di situ saja, pada kurun waktu 2000-anPAB kemudian mengadakan Deklarasi Bakau dengan poin; menuntut penghentian pembangunan pelabuhan Dermaga D oleh PT. Pelindo I, dan menanam bakau sebagai upaya menyelamatkan lingkungan pesisir yang dikaitkan dengan situs budaya Legenda Putri Tujuh.
“Masyarakat harus dikembalikan ke habitat endemik budayanya,” jelas Darwis mengenai alasannya menyandingkan antara kelestarian pesisir dan budaya.
“Macam mana mengembalikan budaya itu? Di sinilah ada kawasan ekonomi biru, hutan produksi terbatas sebagai kampung nelayan (maksudnya merujuk kepada pemanfaatan status hutan untuk pengelolaan berkelanjutan). Ini solusi,” cetus Darwis dengan logat melayu aksen Dumai yang kental.
“Dulu lain. Saya dibantu oleh pemuka adat Melayu Dumai ketika memperjuangkan Bandar Bakau ini.” Ia mengenang bagaimana peran dari Lembaga Adat Melayu Dumai masa silam begitu menyokongnya memperjuangkan PAB yang tidak lagi dirasakannya saat ini. Ia berujar bahwa kaitan antara lingkungan dengan peningkatan ekonomi ini erat kaitanya, dan dibutuhkan bantuan dari semua aspek, termasuk lembaga adat.
“Kelemahannya sekarang ini lembaga yang berinduk pada kebudayaan setempat khususnya Dumai, tidak bekerja untuk ini. Contoh, tahukah Lembaga Adat Melayu Kota Dumai berapa orang Melayu yang wajib menerima BLT (Bantuan Langsung Tunai)? Atau tahukah tahukah Lembaga Adat Melayu Kota Dumai berapa jumlah anak Melayu yang wajib menerima beasiswa?”
Kendati saat itu sudah dilaksanakan Deklarasi Bakau, bukan serta-merta langkah dari PAB mulus tanpa hambatan.
Tyas AG mengenang masa-masa awal mereka bergerak melakukan ekspedisi ke dalam hutan-hutan mangrove. Pernah suatu ketika mereka sedang melakukan kegiatan di daerah muara Sungai Dumai, pada saat yang bersamaan juga ada militer sedang melakukan latihan di sekitar sana. Rombongan militer itu usil melakukan latihan menembak dengan menembaki perairan ke arah mereka. Tentu saja cukup membuat nyali mereka ciut ketika itu.
Darwis tertawa menimpali kisah Tyas. Ia juga menjelaskan masa awal-awal membangun PAB merupakan masa terberat. Baik dari segi finansial, maupun fisik. Pernah mereka menyusuri hutan dan rawa berhari-hari hanya demi mengetahui kondisi mangrove di sana, meski tidak berbekal ilmu mengenai survei struktur komunitas mangrove, suatu metode standar mengetahui bagaimana kondisi kesehatan mangrove.
“Ketika itu belum ada jembatan titian seperti sekarang. Kita harus masuk lumpur, keluar-masuk rawa membawa peralatan. Tim yang mencari nasi yang paling merasakan kesusahan. Bisa sampai berhari-hari hanya untuk membeli nasi keluar dan membawa ke dalam kembali jika persediaan habis, sedangkan yang lain menunggu di dalam (hutan).”
Konflik demi konflik mewarnai hari-hari Darwis. Pada tahun 2005, untuk kegiatan pembangunan dermaga dalam rangka Proyek Pengembangan Pelabuhan Dumai Jangka Pendek Tahap 1, PT. Pelindo I Cabang Dumai melakukan penebangan bakau di Pulau Ancak. Penebangan ini menimbulkan reaksi dari tokoh masyarakat dan tokoh adat dan para pemuda yang berujung kepada aksi demonstrasi dan menuntut PT. Pelindo bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan.
Beruntung konflik dapat terselesaikan melalui penandatanganan nota kesepakatan antara PT. Pelindo dengan Pemko Dumai dan masyarakat yang kemudian menetapkan Kawasan Lindung seluas 2,6 hektar di kawasan Bandar Bakau oleh Pemko Dumai, serta melaksanakan pembangunan Monumen Situs Legenda Putri Tujuh. Kemudian menetapkan batasan yang jelas antara Kawasan Bandar Bakau yang dikembangkan menjadi obyek wisata dan PT. Pelindo I untuk kawasan pelabuhan.
Pria yang menerima Anugerah Kebudayaan Riau tahun 2021 dari Dinas Kebudayaan Provinsi Riau ini sering dicap aneh. Betapa tidak, kebanyakan orang tidak memahami motivasinya mempertahankan Bandar Bakau sebagai daerah yang mau dibangun. Ia berjuang untuk sesuatu yang bukan untuk dimilikinya. Bahkan untuk berjuang mempertahankan Bandar Bakau agar tidak dikembangkan menjadi areal dermaga, Darwis harus merelakan kehilangan masa-masa emas tumbuh kembang ketiga anaknya.
“Saya merasa berutang kepada anak-anak. Sepanjang hidup saya memperjuangkan Bandar Bakau ini, saya tidak memiliki momen mesra bersama anak-anak. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibunya. Saya harus menunggu mereka berusia dewasa terlebih dahulu baru bisa memberikan mereka pengertian.”
Ketika ditanya apakah ia pernah berkonflik dengan anak-anaknya terkait ketiadaan sosoknya sebagai ayah bagi mereka, Darwis menjawab tidak pernah.
“Kuncinya pada istri. Kepada istri saya bilang bahwa saya tidak pernah berencana hendak menjadi kaya. Ia salah pilih orang jika berharap harta. Tapi saya tekankan mengenai makna menjadi orang bermanfaat bagi orang lain. Untungnya ia mengerti. Bahkan ia yang sering menggantikan saya berjualan di pasar. Waktu saya seringkali dihabiskan untuk pergi rapat, pertemuan, dan lain sebagainya. Untungnya juga, abah saya waktu itu sering mendampingi cucunya memberikan ilmu agama.”
Darwis berpegang teguh bahwa apabila segala sesuatu diserahkan kepada Allah, maka Allah akan memberikan yang terbaik. Itu yang dilakukan Darwis. Ketika ayahnya naik haji tahun 2007 silam, alih-alih minta didoakan agar bisa naik haji juga, Darwis malah minta ayahnya berdoa di depan Ka’bah, agar Allah mendudukkan Bandar Bakau dengan sebaik-baik kedudukan.
Ayahnya kaget bercampur heran. Kendati prihatin dengan permintaan Darwis yang tergolong aneh, ayahnya ketika itu menepati doa yang dimohonkan anaknya. Sekembalinya ke Dumai, sepulang dari menunaikan ibadah haji, ayah Darwis menemuinya di Bandar Bakau dan berkata kalau permintaan Darwis sudah dilakukannya.
Tepat empat puluh hari setelah pertemuan mereka, ayah Darwis meninggal dunia. Benar saja, entah kebetulan atau bukan, doa tersebut dijawab Tuhan sembilan tahun setelahnya dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.903/MENLHK/SETJEN/PLA.2/12/2016 Tentang Kawasan Hutan Provinsi Riau.
SK ini menetapkan kawasan hutan di Provinsi Riau seluas ± 5.406.992 hektar, yang mana, salah satu kawasan yang ditetapkan adalah Bandar Bakau menjadi Hutan Produksi Terbatas (HPT).
Dengan demikian, maka status Bandar Bakau yang sebelumnya berstatus Area Penggunaan Lain (APL) dinyatakan batal dan terjadi penambahan luas menjadi 26 hektar, setelah sebelumnya hanya seluas 2,5 hektar saja.
Dengan terbitnya terbitnya SK.903/MENLHK/SETJEN/PLA.2/12/2016 bukan berarti tugas Darwis selesai. Masih ada PR besar yang menantinya, yakni mempertahankan Bandar Bakau dan mengawal statusnya hingga Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Provinsi Riau resmi ditetapkan.
Malahan, kembali ia harus menelan pil pahit. Terbitnya SK tersebut membutuhkan pengorbanan yang sangat besar. Lagi, ia harus kehilangan orang yang paling berharga di hidupnya.
Darwis diam sejenak, pandangannya dilemparkan jauh. Matanya yang sudah berwarna kelabu itu tidak mampu menyembunyikan kerinduannya kepada Latina M. Saleh, istri pertamanya yang mendampinginya berjuang sedari nol.
Latina berpulang beberapa tahun silam berpulang tepat pada pada saat buka puasa pertama, 1438 H yang jatuh pada tanggal 6 juni 2016, beberapa hari setelah ia dikembalikan seusai diculik malam oleh orang tak dikenal sekitar tahun 2016 silam.
Malam itu adalah malam yang paling kelam sepanjang hidup Darwis. Ketika langit berubah pekat, Bandar Bakau yang hanya diterangi lampu sederhana itu menjadi saksi bagaimana ia dijemput beberapa orang berperawakan gagah dengan pakaian gelap.
Latina sontak panik, namun Darwis meyakinkan Latina bahwa ia tidak akan diapa-apakan. Ketika dibawa, ia sempat berpesan kepada Latina bahwa jika sampai waktu tertentu ia belum juga pulang, Latina disuruhnya untuk mencari bantuan.
Darwis tidak mengetahui ia dibawa ke mana, sebab sepanjang perjalanan di dalam mobil, matanya ditutup. Sesampai di lokasi, ia ditodong menggunakan senjata dan ditekan untuk melepas pengelolaan kawasan konservasi Bandar Bakau.
Darwis bergeming. Bukannya takut, darahnya mendidih ketika diancam seperti itu. Ia tidak merasa apa yang diperbuatnya adalah sesuatu yang salah. Untung saja Tuhan masih belum mau memanggilnya. Darwis masih dibutuhkan di Dumai untuk menyelesaikan perjuangannya.
Setelah bernegosiasi segala macam, merasa menemukan jalan buntu, si pengancam akhirnya mengembalikan Darwis ke kediamannya. Mereka sadar potensi bahaya yang lebih besar jika orang berpengaruh seperti Darwis kenapa-napa.
Meski Darwis kembali tanpa kurang satu apapun, kondisi Latina sejak malam itu tidak sama lagi. Ia yang selama ini bertahan mendampingi Darwis melewati badai prahara dalam memperjuangkan Bandar Bakau, mencapai titik jenuh. Tubuh rentanya yang sudah lelah itu perlahan menyerah.
Ia pun berpulang mendahului suaminya meninggalkan anak-anak mereka dan sisa perjuangan yang belum usai tepat sembilan hari sebelum terbit SK 903 tahun 2016 itu.
Bandar Bakau seperti kehilangan ibu untuk mereka. Terlebih lagi Darwis. Kehilangan istri membuatnya kehilangan separuh jiwanya. Ia terkenang bagaimana Latina mendampinginya hidup susah selama ini. Mulai dari mengambil perannya untuk mencari nafkah dengan berjualan di pasar, hingga urusan membesarkan anak-anak. Pun Latina juga selalu terlibat keluar-masuk hutan mangrove ketika mereka melaksanakan ekspedisi tujuh pulau di Selat Rupat, 2012 silam.
Di laman Facebooknya, Darwis menuliskan kehilangannya terhadap Latina dengan syair berlatarkan foto nisan Latina.
“sampai di ujung kamu mengusung daku, BUNDA KUALA. Ada yang terbawa di antara amanah yang masih belum selesai”
Agoes S. Alam, salah seorang saksi hidup yang menyaksikan dan mendampingi Darwis memperjuangkan Bandar Bakau. Dengan nada geram ia berujar, “Sebenarnya pemerintah maunya apa? Darwis di sini bukan hendak memperkaya diri. Ia melindungi daerah ini agar tak dibabat habis. Bayangkan kalau bakau-bakau ini habis, banjir rob yang terjadi beberapa saat silam bakal sering terjadi. Burung-burung tak lagi hendak kawin. Monyet-monyet tak lagi ada di sini. Lihat saja tingkah mereka,” ujar Agoes sembari menunjuk monyet yang bermain berebutan nasi bungkus yang dicuri dari dapur Bandar Bakau. Tangannya sibuk membersihkan sisa nasi yang hinggap di bajunya setelah sesaat berjatuhan bak putik bunga gugur dari pohonnya disebabkan oleh monyet.
Agoes menyayangkan bahwa perhatian dari pemerintah terkait penyelamatan lingkungan sangat minim. Hingga saat ini Darwis masih sering menerima intimidasi dan bujukan untuk merelakan kawasan Bandar Bakau agar bisa dikelola untuk kepentingan industri dan usaha.
Menurutnya lagi, ada permasalahan yang menarik yang membedakan Bandar Bakau dengan situs konservasi mangrove di daerah lain. Di Bandar Bakau terdapat konflik antara industri dan investasi, dengan alam yang harus diselamatkan.
“Perjuangan di Bandar Bakau dihadapkan dilematis bukan hanya menyelamatkan lingkungan dengan penanaman bakau, melestarikan, tapi juga berjuang terkait legalitas, bertahan dari pengusiran dan tekanan segala macam. Menariknya konfliknya di situ.”
Berdasarkan hal tersebut, kemudian Agoes tergerak untuk membuat film pendek dokumenter bertajuk Penunggu Bandar Bakau yang meliput keseharian Darwis. Agoes kaget melihat respon film tersebut demikian hebat, sehingga kemudian Darwis diundang pada kurun 2007 ke kementerian.
Lebih lanjut, Agoes mengatakan bahwa, kalau konflik yang ada di Bandar Bakau tidak segera diselesaikan, barangkali lama kelamaan pesisir habis. Sebagai contoh, Agoes menyebutkan bahwa pada dasarnya penyelamatan lingkungan bukan berarti mengenyampingkan investasi.
“Investasi wilayah bisnis tanpa memikirkan keseimbangan lingkungan juga tidak memungkinkan. Tentu kalau misal dilepas begitu saja, semua bakal dibangun oleh mereka (pengusaha). Suatu kebanggaan juga bagi mereka dengan pembangunan dan investasi yang masuk. Sebaliknya, bagi pegiat lingkungan, kebanggaan mereka adalah seberapa banyak alam di Bandar Bakau tetap tegak dan lestari. Dua kebanggaan yang saling berantuk. Dan ini juga didukung pula oleh pemerintah dari Kementerian Investasi. Padahal di sinilah peran dari pemerintah dibutuhkan. Sebijaknya pembangunan itu bisa dilakukan tanpa harus menghilangkan apa yang sudah ada. Jika kawasan ini dirusak, secara sadar maupun tidak, pemerintah sudah melanggar HAM. Betapa tidak, kita butuh oksigen dan udara yang bagus. Pun dunia hari ini juga sudah bicara tentang lingkungan hidup.
“Pemerintah masih belum memperhatikan lingkungan secara serius. Semangat membangun masih berupa infrastruktur. Kita tidak menolak itu (infrastruktur). Maaf cakap ni ya, biar sedap diskusi sikit, hilangkan tangki tu semua, kita tanam bakau, ada dak rob masuk ke Dumai tu?” ujarnya dengan logat Melayu yang kental.
“Berapa banyak duit Semarang tu. Bangun turap segala macam, penuh juga (genangan banjir rob).” Ia mengenang mengenai banjir rob yang masuk ke Dumai beberapa bulan silam, yang sudah sampai ke jantung kota.
Darwis turut menimpali bahwa dampak positif industrialisasi di Dumai ini dirasakan timpang. Di daerah Kampung Penempul, Kelurahan Geniot, Kecamatan Sungai Sembilan misalnya, untuk mencapai lokasi tersebut harus menggunakan perahu boat selama kurang lebih sejam dikarenakan jalan yang tidak memungkinkan melalui akses daratan. Di sana juga terdapat kampung nelayan terakhir di Dumai yang mana tidak memiliki penerangan sama sekali. Mirisnya lagi, di sana terdapat seorang nelayan pengerih perempuan—pengerih merupakan salah satu alat tangkap ikan yang lazimnya dilakoni oleh laki-laki—yang menghidupi dua orang anaknya. Saampai saat ini, menurut Darwis juga belum ada tindakan nyata dari pemerintah untuk pengentasan kemiskinan ini.
“Seharusnya regulasi terkait sabuk pantai ini diperkuat. Kita bukan menolak investasi, cuma masalahnya, investasi di Dumai kebanyakan mintanya di pinggir laut. Sebulan saja sekitar 1.600 kapal tangker merapat di Dumai. Apakah mereka mau menjadikan seluruh pesisir di Dumai industri? Apakah mereka tidak mau menyerahkan 26 hektar untuk dikelola untuk penghijauan. Kalau mau dihabiskan, zalim betul kita terhadap alam ini. Kalau kita tidak bisa mengatur dengan regulasi, khawatirnya ke depannya bakau hanya tinggal nama.” Agoes menunjuk salah satu pohon bakau yang baru mencapai diameter 30-an cm meski sudah berumur sekitar 30 tahun.
“Apakah ini nak dijaga atau tidak? Daripada payah-payah, baik sama-sama kita lempunkan (bakar) saja lah Bandar Bakau ini. Supaya kita tak ada tanggung jawab lagi. Ketika kita mau melestarikan, masih juga dirongrong, mau diambek segala macamnya. Kalau ndak, bebaskan! Bebas betul. Jadikan ini hutan,” ujarnya berapi-api.
“Apakah pemerintah tidak peduli dengan Bandar Bakau? Negara ini bukan dagang. Jangan profit oriented, lah. Atau buka betul ke dunia luar. Kasih tahu ke PBB. Hai, PBB! Hai, Indonesia. Hai, Dunia! Ini Bandar Bakau, kita bakar saja! Pemerintah Indonesia sudah tidak peduli lagi!” teriak Agoes. Suaranya parau, sesekali terbatuk, entah akibat asap rokok yang memenuhi rongga dada, atau karena teriakan barusan.
Mendengar sindiran Agoes terhadap pemerintah dengan perkataan hendak membakar Bandar bakau, Darwis tertawa. Namun matanya tidak dapat menyembunyikan kegetiran mengenai nasib Bandar bakau ke depannya.
Darwis mengisap rokoknya dalam. Kopinya yang di gelas sudah tandas. Yang di teko pun demikian. Ia beringsut ke arah istrinya yang masih duduk di tungku depan kediaman mereka, meminta tambah dibuatkan kopi lagi. Sedang Agoes, masih tetap berapi-api. Kacamatanya terlihat berembun, mulutnya bergetar menahan gejolak perasaan.
“Ketika PBB bicara Hari Bakau, semua sibuk menanam bakau. Tapi kenyataannya kegiatan penyelamatan bakau tak didukung. Kegiatan G-20 kemaren, semua sibuk menanam bakau. Artinya, bakau bagian dari tanggung jawab moral pemimpin dunia untuk menyelamatkannya. Semangat itu yang (perlu) kita ambil. Bahkan Pak Erick Thohir ikut menanam bakau juga. Maka sebagai Mentri BUMN, lepaskan lah sertifikat (kepemilikan PT. Pelindo) ini. Daerah ini enklave-kan saja lah. Jangan Darwis juga yang dirongrong mau diusir dari sini. Ini melanggar HAM. Negara ini juga punya kepentingan terhadap alam,” keluh Agoes. Ia mendengus kesal.
Enklave yang dimaksud Agoes adalah pemilikan hak‐hak oleh pihak ketiga di dalam kawasan hutan. Dapat berupa permukiman dan atau lahan garapan.
Darwis diam saja mendengar amukan Agoes. Seolah kerisauannya sudah diwakilkan oleh sahabatnya itu. Seakan tidak puas dengan kisruh di daerah pesisir, Darwis kemudian mencoba mencari daun-daun muda untuk dikaderisasi meneruskan perjuangan dalam penyelamatan lingkungan, entah itu di daerah pesisir maupun daerah terestrial.
Khaidir, pemuda yang berasal dari Desa Buruk Bakul, Kabupaten Bengkalis, turut belajar kepada Darwis.
“Ingin mengambih tuah beliau,” ucapnya, lalu ia melanjutkan, “kalau masalah teori, saya rasa sudah dapat di bangku kuliah dulu di Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Hanya saja, saya butuh belajar dan meniru mental beliau menghadapi segala macam intimidasi dan godaan ketika melakukan aksi penyelamatan lingkungan.”
Memang, sejak 2007, Darwis sudah sering memberikan kuliah umum dan pendampingan praktek lapang mahasiswa, meski ia hanya tamatan SMEA. Hebatnya lagi, ia hapal jenis-jenis mangrove di daerah Dumai, berikut nama latinnya.
Darwis juga turut membina Kelompok Tani Hutan di daerah-daerah sekitaran Dumai. Pada Maret 2021 silam, ia mengadakan penyelamatan Lansekap Senepis yang menjadi habitat Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan membuat Deklarasi Senepis yang turut dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau, serta tokoh masyarakat seputaran Dumai. Sebulan kemudian, Siti Nurbaya, Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan datang ke sana dan mengadakan audiensi dengan masyarakat.
Darwis mengemukakan bahwa pada saat observasi, sehari menjelang Deklarasi Senepis maret 2021, mereka mendapat info kambing masyarakat dimangsa oleh harimau, meski pada saat deklarasi oknum lurah dan masyarakat sekitar lokasi kejadian sibuk menyembunyikan persoalan tersebut. Lucunya lagi, sepulang dari Deklarasi Senepis, di Senepis, mereka kembali mendapat informasi penebangan hutan oleh masyarakat, seakan kelompok Tani Hutan dan Deklarasi Senepis hanya untuk kepentingan politis dan seremonial saja.
Walaupun dikecewakan berkali-kali, Darwis tidak merasa jera. Sadar bahwa usianya tak lagi muda, sembari mencari kader penerus, ia tetap melakukan perlawanan-perlawanan dengan kegiatan teatrikal. Bahkan ketika dijumpai pada 18 Februari 2023, Darwis dan teman-temannya tengah mempersiapkan kegiatan monolog bertajuk Hungkal: Jalur Purba Kedunguan yang turut mengundang Fedly Aziz, Ketua Dewan Kesenian Kota Pekanbaru.
Tyas AG menjelaskan bahwa hungkal sendiri berasal dari bahasa Melayu yang berarti protes karena kekecewaan yang mendalam. Alasan mereka mengangkat tema ini untuk menunjukkan tekad mereka yang, meski tidak punya harta dan kuasa, tetap berjuang dan konsisten dalam penyadartahuan serta melindungi lingkungan pesisir.
Tyas menyebutkan bahwa ide pementasan monolog ini dikemukakan secara mendadak oleh Agoes S. Alam. Bahkan, penamaan panggung teater Mohammad Saleh Abdul Jalil juga ide dari Agoes yang secara spontan menggabungkan nama Mohammad Saleh dan Abdul Jalil yang tak lain adalah ayah dari Darwis Mohammad Saleh, dan ayah dari Tyas AG.
Ketika ditanyakan alasannya menginisiasi teater ini, Agoes menjawab dengan diplomatis, “Harusnya permasalahan mengenai lingkungan hidup ini diperhatikan oleh pemerintah, bukan oleh Darwis. Orang-orang seperti Wis ni bukannya musuh pemerintah. Kenapa kita harus berteriak dengan suara-suara lantang, karena mereka (pemerintah) tidak peduli. Sehingga kemudian keluar kata-kata kasar saja lagi. Ini (Bandar Bakau) bukan hanya kawasan pariwisata saja, melainkan fungsi sebagai paru-paru dunia. Ini bukan hanya hanya bicara Dumai, melainkan dunia. Janganlah dikonflikkan. Saat ini Bandar Bakau belum ada penerusnya. Kalau nanti Wis (Darwis) mati, bagaimana nasib Bandar Bakau ini? Kalau bahasa Latin-nya, Quo vadis!”
Hari sudah petang, air laut mulai pasang, dan mereka kemudian harus bersiap-siap untuk pementasan malam. Darwis kemudian menambahkan, “Ya, selagi masih bisa hungkal, kami akan tetap hungkal. Sebab hanya hungkal saja yang kami punya dan bisa.” [*]
Windi Syahrian saat ini bermastautin di Pekanbaru, Riau. Bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan, UPT. BPSPL Padang, sebagai Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir (PELP) Ahli Pertama. Meminati kepenulisan fiksi dan non fiksi. Beberapa cerpennya pernah terbit di media cetak (lokal dan nasional) dan daring, seperti: Harian Singgalang, Harian Riau Pos, Harian Kompas, Harian Republika, Harian Jawa Pos, asyikasyik.com, lensasastra.id. Pernah menjuarai lomba esai bertema mangrove yang ditaja Kemangteer (2020), juara 1 lomba cipta sastra kategori cerpen (Dewan Kesenian Riau, 2022), dan juara harapan 1 Lomba Penulisan Sejarah Lokal Riau (Disbud Riau, 2022). Beberapa karya tulis ilmiahnya juga sudah diterbitkan pada beberapa jurnal terakreditasi. Pada akhir 2022 silam mengikuti kursus jurnalisme narasi yang ditaja Yayasan Pantau.