Puisi-puisi Fakhrunnas MA Jabbar – Legenda Riau

Fakhrunnas MA Jabbar

Kering

siapa tumpahkan airmata di tanah kering sedang musim tak berubah rupa
di kelopak pilu mengalir darah
tak sewarna jiwa
bermuara jua
di mata
saat dedaunan meranggas jatuh tersipu di mata air keruh riak tak sewarna jiwa
ribuan sungai mencari tanya di mata
siapa tumpahkan airmata di rawa pesing sebab kemarau silaukan mata
di bawah matahari
tak sewarna jiwa
hanya ada lengking
ribuan sungai bermuara
di mata
siapa tebang batang sampai tumbang di rimba-rimba sedang kayu tak pulang
siapa buang biang limbah di samudera sedang ikan tak tenang
siapa keruk pasir di tebing sungai sedang arus tak sampai-sampai
jangan keringkan airmata sesiapa di rawa yang kering
sebab kemarau
kian nyaring
pb. 0206

Legenda Riau

siapa berjejak tinggalkan pijak siapa bernada tinggalkan suara siapa beraja tinggalkan tahta siapa beriau tinggalkan kicau
begitulah negeri tak berpisau tapi silau dipandang para pendatang berabad-abad dibabat diperah berdarah-darah
setiap yang datang tak pulang-pulang
setiap yang pergi tak kembali lagi
setiap menggali tak pergi-pergi
setiap mendulang berulang-ulang
gerau rimau tersuruk di rimba-rimba dipukau mata gergaji riak minyak terpijak di bawah tanah dipompa tak henti
desah kimah di lembah menghisap limbah berjuta kali ikan-ikan berlompatan ke permukaan disebat pukat tak henti
ombak pun mengejar ombak yang kukejar dari natuna ke selat melaka
di pantai-pantai nyiur tak lagi melambai dipukau airmata nelayan yang berurai keruh laut karena dikeruk pasirnya limbah pun diserak di riak ombak
teripang dan udang tak bertumbuh ditimpa cernas
legenda riau
tak tercatat di sejarah tertimbun igau
tak sudah-sudah
pkrc, 0206

Selat Melaka

saat terguncang aku
di riak gelombang selat melaka teringat aku
pada gagah hang tuah laut berkejaran
di lipatan alun ngalir sejarah darah tanah melayu berabad sudah
amuk laut
amuk hang tuah
anak negeri dari melaka
tanah melayu merah bersimpah darah
saat terbius mimpi aku
di atas riak gelombang selat melaka
hang tuah datang
temberang
aku pun rindu pulang mengulang sejarah
mendulang sejarah
melaka, 02

Sungai

di manakah ujung sungai yang ngalir, Kekasih
di sisa mimpi terakhir rayap embun menyapu muka di manakah ujung sangsai tak pernah usai
di telapak tersirat garis bak sungai
di situ terbentang
menuju sepi
di mana-mana ada sungai yang ngalir di mana-mana beku
di mana-mana muara
tapi sungai tak ngalir
seperti nasib orang-orang di seberang itu
di manakah ujung sungai yang ngalir, Kekasih
mungkin di sisa mimpi terakhir
riau,850206

Perahu

perahukah itu kusapa dari awan
lambaian tangan
embun jatuh di buritan
riak kehidupan
merangkak melaju
menuju selatan
nasib berpacu
tak tahu bertuju
perahukah itu titik alit dikepung lautan
membelah riak tak bersorak
memacu gelombang tak bertepi sedayung. sudah
tak henti~henti
jmb.830206

Mata Kapak

mata kapak setajam kapak hati terbelah
orang-orang membelah hari
hidup singkat
diserbu ragu
dengan kapak orang-orang memburu matahari
ambil bara ambil api perih
bakar jiwa bertahun-tahun
mata kapak
siapa meng.asah kini
orang-orang membalut takut
di pusar diam
sejuta orang hari ini memanggul kapak
setajam lidah kata-kata
kapak hitam membelah malam
mata kapak tak pernah diam
pb. 860206

Menunggu Senja

seorang pertapa menakik sepi
di halimun garang cahaya di mulut gua
matahari diam
suara kunang-kunang terbawa maung laut
seseorang datang terpincang
dan kelam senja memanjang
pb.850206

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan