Menyimak Puisi Ahmadun Y. Herfanda: Catatan Shafwan Hadi Umry

35

Membaca puisi Ahmadun Yosi Herfanda (Sembahyang Rumputan, 2005) kita diajak penyairnya memasuki wilayah relegius-semangat keagamaan yang mengembang dalam renungan intelektual-tanpa tercerabut dari dunia keseharian. Posisi penyair yang menempatkan dirinya dalam wilayah relegius selalu mengedepankan pertemuan personal seorang makhluk dengan Al-Khalik. Peran penyair dalam posisi ini selaras dengan peran ulama yang memiliki tugas komunikasi dengan umat. Ia harus dekat dengan umat manusia. Ia tidak boleh terpisah dan membentuk kelas elite tersendiri.

Puisi-puisi Ahmadun bergelimang dengan nuansa relegius yang bersuasana dakwah kontemporer yang disampaikan dengan gaya naratif. Ia berbeda dengan puisi sufi Hamzah Fansuri yang sarat dengan muatan simbolisasi dan berdakwah secara kultural dalam dimensi Kemelayuan dan Ketuhanan.

Ahmadun perlu menyampaikan main set proses kreatifnya dalam mukadimah kumpulan puisi ini dengan kata-kata: “Bagi seorang Muslim, berbicara tentang tujuan hidup akan selalu sampai pada pertanyaan tentang tujuan penciptaan manusia sendiri. Seperti ditegaskan Allah SWT di dalam Alqur’an, yakni sebagai abdillah (abdi Allah) sekaligus khalifatullah (wakil Allah) di bumi. Bagi seorang abdillah, tujuan hidup adalah pengabdian sekaligus penyerahan diri secara total kepada Al-Khalik (2005:11). Pada puisi pertama penyair menulis:

Kau jadikan bintang-bintang
Selalu bertasbih padamu
Kauciptakan pohon-pohonan
Selalu berzikir padamu.
O, Allah , anugerahi aku kesetiaan
Tanganku menjadi tanganmu

Dalam kepercayaan agama Islam, Tuhan lebih dekat dengan hamba-Nya seperti dekat-Nya dengan urut leher manusia itu sendiri. Oleh karena cinta Tuhan meletakkan dua malaikat di pundak manusia (malaikat karibin dan katiban).

Karena cinta tuhan meletakkan
Dua malaikat di pundakmu
-inilah pengasuh-pengasuhmu
kata Tuhan, sayap-sayapnya bisa
membawamu terbang ke langit
sekaligus berpijak di bumi lagi

Puisi yang berjudul Sungai Iman membaca pembaca kepada kesadaran relegius yang dalam.

Sungai itu panjang sekali
Mengalir ke dalam tubuhmu
Dengan penuh cinta aku pun berlayar
Bersenandung dalam konser ikan-ikan
Sungai itu dalam sekali berpusar dalam palun jiwamu
Dengan penuh gairah aku pun menyelam menangkap makna hidup pada mata kerang

Puisi Ahmadun ini mengigatkan kita pada puisi Hamzah Fansuri

Aho segala kita yang membawa iman
Jangan berwaqtu mengaji Quran
Halal dan haram terlalu bayan
Jalan kepada Tuhan dalamnya iyan

(Jejak Sufi Hamzah Fansuri, 2003:62)

Dalam hubungannya dengan proses mendekatkan diri kepada Allah-semacam pencarian taqarrub (mendekatkan diri), penyair Ahmadun berkata:

Iqrakku lapar tapi tak mau ikan
Tak mau nasi tak mau tahu tak
Mau buah kecuali buahmu
Iqrakku haus tapi tak mau air
Tak mau madu tak mau arak tak
Mau anggur kecuali anggurmu

Dalam gaya retorika penyair berulang-ulang bertanya dengan segala hasrat hati untuk mencari Tuhan :

Tulisan Terkait

Kalau buahmu tak ada
Bagaimana ku harus melunasi laparnya
Kalau anggurmu tak ada
Bagaimana ku harus basahi
Kerongkongannya
Kalau kau tak ada
Bagaimana ku harus bilang padanya

Iqrakku menjerit
Menahan lapar
Iqrakku merintih
Menahan hausnya

(Sajak Lapar)

Sikap kepenyairan berdekatan dengan sikap kebatinan suatu pengalaman spritual yang bermain dalam latihan kerohanian. Pada puisi Sajak Kepompong penyair Ahmadun menulis :

Berabad-abad aku tersesat
Terjebak dalam zatku sendiri
Menggelepar aku bagai kelelawar
Sia-sia mencari mataharimu
Beribu jenar pun menjerit
Kelaparan dalam diriku

Bangunlah, hai kepompong jiwa
Buka sayapmu terbang kepadaku
Suaramu bergetar di ruang kalbu
Membujuk siti jenarku
Terbang ke apimu
Tapi tetap merajuk ia
Membawaku ke bilik-bilik hampa
Jika ingin tuhan
Carilah aku, katanya
Aku bersemayam dalam dirimu.

Penyair mengibaratkan dirinya sebagai kepompong yang bakal menjadi kupu-kupu dan terbang mencari Tuhan kemana-mana. Namun, Tuhan bersemayam dalam diri manusia itu sendiri. puisi ini mengingatkan kita kepada puisi Hamzah Fansuri tentang asal muasal ombak dari air, kekal dengan air, dan kembali kepada air. Seperti diuraikan Muhammmad Utman El-Muhammadi (2003:67):

Dengarkan sini hai anak ratu
Ombak dan air asalnya satu
Seperti manikam muhit dan batu
Inilah tamsil engkau dan ratu

Pada puisi Sembahyang Rumputan, penyair mengemasi pergulatan kerohanian seorang anak manusia yang hidup dengan beberapa perjanjian (komitmen)

Walau kaubungkam suara azan
Walau kaugusur rumah-rumah tuhan
Aku rerumputan
Takkan berhenti sembahyang
: Inna shalaati wa nusuki
Wa mahyaya wa mamaati
Lillahi rabbil alamin

Topan menyapu luas padang
Tubuhku bergoyang-goyang
Tapi tetap teguh dalam sembahyang
Akarku yang mengurat di bumi
Tak terhenti mengucap shalawat nabi

Sembahyangku sembahyang rumputan
Sembahyang penyerahan jiwa dan badan
Yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
Sembahyangku sembahyang rumputan
Sembahyang penyerahan habis-habisan.

Demikian beberapa nukilan puisi-puisi Ahmadun Yosi Herfanda yang terekam dalam kumpulan puisi Sembahyang Rumputan (The Worshipping Grass) edisi dua bahasa (Inggris-Indonesia) Penerbit Bening Jakarta tahun 2005.

Penulis adalah Dosen UISU Medan .

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan