Mozaik : Amoy Kota Seribu Kelenteng

Singkawang Makin Cantik, Siap Sambut Wisatawan - Pontianak Post

Amoy Kota Seribu Kelenteng

Seperti yang pernah saya janjikan dalam kolom ini, bahwa saya akan menulis tentang Kota Singkawang. Sebuah kota tambang yang terletak dibagian utara Kalimantan Barat.  Tidak ada penerbangan langsung menuju Singkawang, melainkan harus mendarat terlebih dahulu di Bandara Supadio Pontianak. Setelah saya keluar dari bandara Supadio, saya mencari transportasi menuju Singkawang. Tidak jauh keluar dari bandara saya mendapatkan loket agen perjalanan  Pontianak – Singkawang. Setelah memesan tiket dan beberapa menit kemudian sekitar pukul 13.00 waktu setempat kami pun berangkat.  Perjalanan dari Kota Pontianak persisnya dari Bandara Supadio ke Kota Singkawang dengan menggunakan mobil travel Toyota Kijang memerlukan waktu lebih kurang 3,5 hingga 4 jam tergantung kecepatan dan kepadatan lalu lintas. Tidak sampai satu jam perjalanan, kami berhenti di tugus khatulistiwa yang letaknya sesungguhnya tidak begitu jauh dari Kota Pontianak. Kata Pak Sopir,”Sekadar berfoto karena belum pernah.” Tentu saja ini menarik, karena tugu khatulistiwa (Equator Monument) ini sudah saya ketahui sejak masih di bangku  Sekolah Dasar.

Setelah terlibat dalam beberapa aksi foto-foto, perjalanan dilanjutkan. Perjalanan menuju Kota Singkawang menyisir bagian utara Kalimantan Barat. Jika merujuk pada peta di google map, maka kita dengan jelas melihat jalan yang menyisir sepanjang tepian pantai pesisir barat pulau Kalimantan. Jalan negara beraspal yang tidak begitu lebar ini hampir mirip dengan jalan-jalan Pantura pulau Jawa pada tahun 1980an. Terkadang sesekali saya  mengintip tepian  laut dari balik jendela mobil  sambil berangin-angin. Rumah-rumah penduduk berada di kiri kanan jalan lintas dan tentu saja banyak kita berhadapan dengan jembatan-jembatan kecil di sepanjang jalan karena adanya alur air parit atau sungai menuju laut.

Singkawang atau Shan Khew Jong  dalam lafal Khek atau Hakka (salah satu suku orang Tionghoa), secara harfiah berarti gunung mulut lautan. Artinya suatu daerah yang terletak di ketinggian yang berada di kaki gunung dan hamparan lautan luas. Sore hari saya tiba di penginapan dan malam harinya   berkeliling kota. Tidak memerlukan waktu lama, jalan-jalannya pendek, kendaraan tidak padat, masih banyak bangunan rumah lama. Sebagaimana saya ungkapkan di atas, julukan kota seribu kelenteng memang patut diberikan kepada Singkawang. Memang ada banyak kelenteng yang saya temui di sana.

Kota ini memiliki tradisi ritual tatung yang luar biasa ramai terutama pada saat perayaan festival Cap Go Meh. Ritual tatung adalah suatu tradisi dimana seseorang mengalami trance (dipercaya kerasukan  dewa) yang dapat melakukan komunikasi secara langsung dengan manusia. Dan melalui sosok tatung itulah komunikasi dapat dilakukan sehingga biasanya ritual ini membawa sejumlah manfaat kebaikan dan keselamatan.

Esoknya, pada kesempatan yang sama, saya juga sempat berkunjung ketempat pembuatan gerabah, kerajinan keramik. Desa Sakok terkenal dengan pengerajin keramik yang diproduksi secara tradisional. Di sini juga bisa kita temui “Tungku Naga” yaitu tungku pembakaran keramik yang berbentuk naga dan amat disakralkan. Sepertinya kisah ini unik ketika mengelaborasi mitologi dengan karya seni dan hasilnya adalah sebuah karya seni dengan estetika dan nilai ekonomis tinggi.

Pada malam harinya  saya  sempat diajak Om Achan (orang yang dikenalkan oleh Dr.Hasan Karman) untuk makan malam bersama.  Tapi bukan di Kota Singkawang, melainkan di Kota Pemangkat yang jaraknya lebih kurang 50 KM dari Singkawang menuju bagian utara. Beliau bercerita bahwa dia berasal dari Sambas tetapi sudah lama tinggal di Singkawang.  Dan Pemangkat ada diantara Singkawang dan Sambas. Malam itu saya yang menyetir  dan kami menuju Pemangkat hanya untuk agenda makan malam saja. Sekitar  satu jam perjalanan santai kami tiba dan sayang, malam itu saya sulit menikmati pesona Pemangkat. Pada kesempatan itu hanya terlihat oleh saya  bangunan balai adat yang kebetulan kami lintasi.

Suatu momen yang sulit dilupakan memang, makan malam yang mengasyikkan bersama Om Achan.  Di sana saya dikenalkan dengan beberapa temannya yang kesemuanya kebetulan orang Tionghoa. Sekitar satu jam kami makan bersama dan kongko-kongko, akhirnya kembali ke Singkawang.

Esensi daripada kunjungan saya  ke Singkawang adalah untuk mendapatkan sejumlah informasi tentang  kajian terhadap etnis Tionghoa. Singkawang memang kota dengan mayoritas etnis Tionghoa, dari empat walikota  dan satu diantaranya pejabat walikota, dua diantaranya adalah orang Tionghoa yaitu Dr. Hasan Karman yang pernah saya sebutkan dalam tulisan saya yang lalu, dan Tjhai Chui Mei  yang menjabat sejak 17 Desember 2017. Tjhai Chui Mei bahkan seorang  perempuan Tionghoa yang sebelumnya terjun dalam dunia politik. Ia juga pernah menduduki kursi DPRD  Kota Singkawang dan memenagkan kontestasi pemilihan Walikota Singkawang.

Selain mendapat julukan kota seribu kelenteng, Sigkawang dikenal juga dengan kota amoy. Julukan pertama kesannnya religius tetapi julukan kota Amoy terkesan  pejoratif.  Dari informasi yang saya dapatkan, jukukan kota Amoi ini bermula ketika pada tahun 1960an di kota Singkawang memang banyak pedagang kue sore hari (jajanan sore) yang dipajang di pinggir-pinggir jalan di sekitar kota. Oleh karena yang jualan adalah anak-anak gadis Tionghoa yang biasa dipanggil dengan Amoy, maka panggilan itu kemudian menjadi akrab dan sebutan itu berkembang. 

Kemudian sekitar tahun 1970an, setelah adanya  beberapa kebijakan pemerintah Orde Baru terhadap berbagai pelarangan baik aktivitas, pendidikan, dan perdagangan; ada banyak perempuan Tionghoa Singkawang yang semula disebut Amoy mulai keluar dari Kota Singkawang, diantaranya ke Jakarta, Surabaya, Hongkong, Taiwan , dan Malaysia untuk mencari pekerjaan baru. Lama-kelamaan jumlah pedagang kue jajanan pasar itu berkurang dan akhirnya memang tidak kita jumpai lagi sekrang ini amoy-amoy yang ramai berjualan itu.

Yang tersisa hanyalah sebutan kota Amoy, namun penyebutan itu lebih kepada pejoratif dan realitanya untuk masa itu disaat kunjungan saya memang masih terdapat praktik-praktik prostitusi terselubung yang perempuannya berasal dari kalangan Amoy. Maka semakin sengitlah sebutan kota Amoy sebagai julukan kepada Singkawang yang memang sesungguhnya banyak amoy-amoy yang cantik-cantik nan manis juga baik-baik budi bahasa dan perilakunya. Namun sayang disayang, label Kota Amoy sulit dihapus. Tapi hari ini Singkawang dipimpin oleh “seorang Amoy” juga yang semoga saja membawa perubahan yang lebih baik.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

1 Komentar
  1. Wahid mengatakan

    Ya betul amoy nya cantik cantik saya lihat sendiri karena saya sdh 5 kali kesana