MOZAIK : Dari Museum Sampurna Hingga Jembatan Merah

Dari Museum Sampurna Hingga Jembatan Merah

Ini bukan kunjungan pertama saya ke Surabaya, karena Surabaya sesungguhnya bagi saya tidaklah begitu asing. Tapi entah mengapa, kunjungan saya kali ini sengaja memang untuk menikmati keberadaan Surabaya mulai dari kuliner hingga hiburan. Kisah ini terjadi pada tanggal  27 Oktober 2010. Saat itu untuk pertama sekali saya berkunjung ke Museum pabrik rokok kretek Dji Sam Soe Samporna yang berada di jalan Sampurna Kota Surabaya. Ada hal yang menarik dari kunjungan itu; sekitar 30 hingga 50 meter sebelum saya masuk ke area Museum Sampurna, aroma tembakau sudah tercium kuat. Saya bukanlah  seorang perokok, tetapi aroma tembakau memang rasanya dapat “menenangkan” pikiran. Dalam batin saya, barangkali candu inilah yang menyebabkan para perokok sulit melepaskan diri dari cengkrapan candu rokok.

Tiba di depan gedung Museum, bangunan yang berpilar empat buah itu di bagian atas paling depan tertulis “Samporna”, kemudian dibawahnya “N.V. Handelmij – Samporna” lalu diikuti baris bawahnya “ Sigaretten Fabriek”, selanjutnya dibawahnya lagi tertulis nama “Liem Seng Tee”, serta tulisan yang paling bawah adalah “Anno 1932”. DSementara di depan pintu masuk bagian kiri dan kana nada tulisan angka “1893” dan percis di atas pintu besar ada huruf Mandarin warna merah “王” dalam lafal Hanyu Pinyin “Wang” yang bisa berarti Marga Wang atau juga Raja. Tetapi jika dilihat pada malam hari, ternyata dipuncak bagian teras museum dipasang lampu berbentuk tulisan “王”.

Bangunan museum ini benar-benar bercerita tentang kesuksesan seorang Liem Seng Tee membangun kejayaan bisnis kretetknya. Ada banyak benda-benda bersejarah yang ada kaitannya dengan  bisnis Liem Seng Tee yang dipajang di museum, diantaranya sepeda yang dipakai untuk  berkeliling kampong jualan tembakau, mesin penggulung cerutu, tetapi yang paling menyita perhatian saya adalah satu unit mobil Rolls-Royce berwarna merah maron dengan plat polisi SL 234. Saya coba mencari tahu tentang mobil ini, eh, ternyata itu mobil dipakai salah satu generasi keluarga Sampurna yang bersekolah di Singapura.

Pada kesempatan itu saya diajak pemandu yang kebetulan seorang cewek ramah kelahiran Pulau Bengkalis Provinsi Riau. Tetapi saya sudah lupa namanya. Dialah yang menuntun saya ke lantai dua dan dari sana saya bisa melihat dengan jelas para mbak-mbak pekerja yang sedang melinting cigarette. Saya amat kagum dengan cara kerja mbak-mbak itu karena kelincahan dan akurasi tangan mereka melinting kertas rokok super ligat. Barangkali karena mereka sudah terbiasa dan sudah bertahun-tahuan menekuni bidang itu. Memang, dalam hal ini pekerjaan manusia seperti itu masih menawarkan nilai cita rasa yang tinggi untuk sebuah “kretek”. Dalam padangan saya, Museum Sampurn ini sangat menginspirasi dan edukatif.

Dilain kesempatan, saya mengunjungi masjid Cheng Ho yang ada di jalan Gading, Ketabang Kecamatan Genteng Kota Surabaya. Masjid itu unik karena mengadopsi gaya arsitektur China yang jika dilihat sepintas lalu seakan seperti layaknya bangunan rumah mewah yang ada di negeri Tiongkok sana. Selidik punya selidik ternyata masjid Cheng Ho tidak ada hubungannya sama sekali dengan  peristiwa tokoh Cheng Ho. Kalau di Jawa Tengah ada Klenteng  Sam Po Kong yang merupakan tilasan Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Kong. Nah, kalau Masjid Cheng Ho sama sekali beda kisah, karena pendiriannya pun ada campur tangan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Jawa Timur. Jadi, nama Masjid Cheng Ho digunakan sebagai penghormatan atas tokoh Muslim Cheng Ho yang melakukan perjalanan muhibah dalam penyebaran agama Islam di Nusantara.

Masjid Cheng Ho ini sepertinya terinspirasi dari Masjid Niu Jie di Baijing karena mirip sekali bentuk arsitekturnya. Dalam bangunan juga ada kaligrafi aksara China yang menghiasi langit-langit masjid. Masjid ini tidak memiliki sudut mati (lancip) tetapi semuanya dibuat bersegi delapan (oktagon) dengan mengusung filosofi kepercayaan orang-orang Tionghoa. Warna masjid dominan merah, hijau, kuning, dan biru yang merupakan simbol dari kebahagiaan, kemakmuran, kemasyuran, dan harapan. Jadi nilai filosofis Tionghoa mendominasi pada masjid Cheng Ho ini. Ya, setidaknya Masjid Cheng Ho dapat dijadikan tempat wisata religi yang merepkesikan adanya simbol harmonisasi pada penyebaran agama Islam dalam perbedaan budaya.

Sesungguhnya, bila berkunjung ke Kota Surabaya ada banyak tawaran wisata, misalnya seperti yang sudah saya ceritakan di atas, Museum Rokok Kretetk Dji Sam Soe Sampurna, Masjid Cheng Ho, Masjid Agung Sunan Ampel yang merupakan komplek pemakaman Sunan Ampel, Nyai Codrowati, Mbah Bolong, Mbah Soleh, Mbah Asya’ri, Makam Suhada Haji,juga ada Makan Famili Coa. Untuk yang terakhir, jika merujuk nama Famili Coa, tentu ada hubungannya dengan marga Coa keluarga Tionghoa. Nah, bagi peminat riset hubungan Tionghoa dan Islam dalam kaitannya terhadap penyebaran Islam di Tanah Jawa, ini menarik tentunya.

Saya terkenang juga dimasa-masa lalu ketika berada di Kota Surabaya, malam Minggu acapkali pergi ke Panggung Hiburan Rakyat (PHR) untuk nonton ludruk. Ludruk atau boleh juga disebut tonil, adalah seni panggung rakyat Jawatimuran yang terkenal dengan “benyolannya” yaitu lawakan-lawakan yang menghibur. Biasanya sebelum lakon utama tampil, selalu ada pembukaannya dimulai dari munculnya tarian pembukaan. Tempat yang beberapa kali saya kunjungi yaitu yang berada di depan tidak jauh dari jalan Rajawali. Jadwal Ludruk tidak mesti malam Minggu, terkadang ada saja jadwal tampil pada malam-malam tertentu.

Kalaupun malam Minggu tidak pergi mencari hiburan di PHR, kita sebenarnya masih bisa mencari makan ala Lamongan yang banyak sekali di seputaran jalan Kedongdoro. Jalan yang siang hari dipenuhi penjual mesin dan spare part, pada malam hari disulap jadi tempat wisata kuliner; mulai pecel lele hingga seafood ada di sini. Ya, tentu saja seafood ala Suroboyoan.

Sebenarnya masih banyak sekali tempat-tempat wisata yang punya cerita tersendiri di Surabaya, katakanlah ada Jembatan Merah yang masih bertahan dan menginspirasi Gesang menciptakan sebuah lagu melepas sang kekasih menuju medan pertempuran di Surabaya. Jembatan Merah ini berada ti antara jalan Rajawali dan Kembang Jepun. Walaupun jembatan itu tidak seindah lagu  Jembatan Merahnya Gesang, tetapi setidaknya Sang Maestro mengingatkan kita begitu dalam suatu peristiwa yang ada di atas Jembatan Merah. Jadi ada nilai sejarah dalam suatu peristiwa dimasa Revolusi  Kemerdekaan.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

2 Komentar
  1. DEVIARNI mengatakan

    Sangat inspiratif. Bisa jadi referensi

  2. DEVIARNI mengatakan

    Luar biasa. Kalimat lugas ringan mudah dipahani