Mozaik : Sate Jaran No, Kupat Tahu Yes

Sate Jaran No, Kupat Tahu Yes

Kota-kota dan desa-desa di Jawa tengah bagi saya sesungguhnya tidak asing. Artinya, saya sudah terlalu sering mengunjungi objek-objek wisata atau terkadang hanya sekadar penasaran terhadap  spot wisata, lalu mencari tahu dimana tempatnya. Nah, yang ingin saya tuturkan kali ini adalah suatu cerita yang menurut saya mendatangkan kesan mendalam sebagai seorang penganut Naturalism. Kesan kesederhanaan, natural, fenomena sosial budaya yang mengalir begitu secara alamiah membuat saya takjub untuk unrusan ini. Sebab itu pula saya lebih memilih travelling “one man show” ketimbang harus bawa keluarga atau teman yang belum tentu sejalan dengan keinginan kita.

Tulisan ini ditukil dari kisah salah satu episode travelling saya sekitar awal tahun 2018, percisnya 12 Januari 2018. Saat itu saya naik Bus Damri dari Yogya menuju Magelang. Pilihan ini karena selain ongkosnya murah, juga dapat leluasa menikmati panorama sepanjang jalan. Jelasnya, lebih nyantai.  Setiba di Magelang, saya cari ojek dan kemudian menuju Hotel Sriti yang ada di jalan Daha/Tengkon, Kemirirejo, Magelang Tengah. Saya sengaja mencari hotel yang berkelas dengan pertimbangan selisih harga tidak begitu besar dari hotel atau wisma, jadi pikir-pikir lebih baik tidur ditempat yang nyaman. Setidaknya menikmati hidup, dalam batin saya kira-kira terbersit begitulah.

Setelah check in, seperti  biasa, saya selalu keluar ngluyur, kalau itu kota maka saya akan berjalan keliling kota atau jalan sebisanya. Kalau di pedesaan ya jalan sebisanya juga. Memang, saya mengamalkan jalan kaki karena selama touring biasanya juga melahap beberapa kuliner yang mengandung kolesterol. Jadi sebagai penyeimbang, jalan kaki adalah alternatif olah raga terbaik tentunya.

Magelang itu berasal dari kata “Tepung” dan “Gelang”, yang berarti “mengepung rapat seperti gelang”. Magelang juga dikenal dengan julukan Kota Militer, karena menjadi pusat Sekolah Akademi Militer ada di sini. Uniknya, kota ini dikelilingi lima gunung yakni Gunung Merbabu, Merapi, Sumbing, Telomoyo, dan Menoreh. Letak kota Magelang cukup strategis, karena berada dijalur utama Semarang-Yogyakarta. Kota Magelang berada di 15 KM sebelah utara Kota Mungkid, 75 KM sebelah selatan Semarang, dan 45 KM sebelah utara Yogyakarta. Magelang merupakan dataran tinggi yang suhu udaranya termasuk sejuk.  Itulah sedikit  deskripsi tentang Kota Magelang.

Hari mulai sore, tetapi cuaca masih terang. Ketika saya berjalan tidak jauh dari Hotel Sriti, beberapa ratus meter, masih berada disekitar jalan Daha, mata saya tertuju pada satu warung. Saya tertarik karena di situ ada tulisan “sate jaran” alias sate daging kuda. Dalam bahasa Jawa, jaran artinya kuda.   Walaupun saya tertarik, tetapi saya tidak mencobanya jadi tidak tahu bagaimana sensasinya.   Selanjutnya, hanya beberapa kali jepretan dan dengan wajah mesam-mesem saya berlalu dari sana. Dalam batin saya, tentu saja ada yang mengidolakan sate jaran sebagai makanan pavorit penambah semangat. Konon katanya sate jaran bisa menambah semangat. Semangat juang atau semangat tempur! Ini lagi-lagi  myth value yang  yang ditawarkan.

Selanjutnya kaki saya terus menelusuri emperan kota seputaran Jalan Pemuda terus menuju atas yang nantinya akan bertemu di Alun-Alun Magelang. Jalan Pemuda ini termasuk daerah Pecinan di Magelang. Pusat pertokoan dan memang konsentrasi bisnis orang-orang Tionghoa ada di sini. Juga di ujung pertigaan antara alun-alun dan Jalan Pemuda ada sebuah Wihara yang cukup megah dibangun di situ. Kalau kita berada di halaman wihara maka disebarang jalan percis di depan wihara ada sebuah patung berwarna putih yaitu Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda yang ditempatkan di pinggir jalan Pemuda tetapi masih didalam area alun-alun.

Di salah satu sudut alun-alun ada satu buah menara air yang dikenal dengan Water Toren atau Menara air. Bila malam hari terbaca jelas  “Magelang  Kota Sejuta Bunga” yang ditempatkan disisi teratas menara air. Menara ini dibangun pada tahun 1916 (zaman Belanda), kemudian resmi melayani air bersih pada tahun 1920. Menara air ini dibangun oleh seorang arsitek kebangsaan Belanda bernama Herman Thomas Karsten. Saat ini bangunan tersebut dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Magelang.  Sementara itu, di tengah-tengah lapangan alun-alun ada sebatang pohon berjenis beringin yang diameternya cukup besar dan amat rimbun. Biasanya banyak pengunjung duduk atau lesehan dibawah rindangnnya.

Tidak jauh dari Water Toren ini ada banyak makanan yang bisa dinikmati, mulai dari kelas angkringan, warung sederhana hingga lesehan. Di jalan Alun-alun Utara ada banyak Kupat Tahu Magelang yang bisa dinikmati. Nah, karena hari sudah mulai magrib, kali ini saya coba  Kupat Tahu Magelang, dan kesannya lumayan nikmat. Yes, sensasinya dapat.  Selepas menikmati kupat tahu, hingga malam saya terus berada di seputaran alun-alun sambil mengamati dan menikmati seliweran masyaraat kota Magelang yang ngumpul di situ. Sudah menjadi fenomena umum, setiap alun-alun selalu ada wahana mainan anak-anak; mulai dari jenis boom-boom car hingga kuda-kudaan dapat dinikmati anak-anak.

Selain menikmati ramainya Alun Alun Kota Magelang, sebenarnya di Magelang ada banyak lokasi edukatif, misalnya Gedung Museum Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, percisinya  berada di kompleks Rumah Dinas Residen Kedu (lebih dikenal dengan Keresidenan). Museum ini  letaknya juga tidak jauh dari Alun-Alun. Saya masih menyematkan waktu untuk masuk ke dalam museum dan lauar biasanya dibuka untuk umum tanpa dipungut bayaran.  Di sini ada banyak anak sekolah yang barangkali dapat tugas dari gurunya lalu mencari tahu tentang tugasnya di sini. Jadi ada banyak sekali ornamen edukasi yang dapat diperoleh di museum ini. Setidaknya di sini kita dapat melihat buku-buku laporan pemerikasaan keuangan, foto-foto ketua BPK serta sekretaris umumnya.  Di sini juga ada dijumpa barang berharga lainnya sperti mesin tik yang pernah digunakan dalam membantu kegiatan kerja BPK.

Seperti yang saya ungkapkan di atas tadi, ada banyak anak sekolah yang berkunjung ke di museum ini. Dan salah satu momen yang berkesan bagi saya tentulah mengajak anak-anak sekolah itu untuk foto bersama.  Jepret!

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan