MOZAIK : Surabaya Kota Kenangan

Surabaya Kota Kenangan

Tulisan ini tersinspirasi ketika saya sedang memutar lagu keroncong perjuangan berjudul “Surabaya” yang dibawakan oleh Sundari Soekotjo. Pada kolom ini Senin lalu saya menulis tentang Museum Sampoena, Jembatan Merah, dan Ludruk yang semua ini tentu saja juga menjadi ikon Kota Surabaya. Memang, dengan keterbatasan kolom ini saya harus menyambungnya pada terbitan kali ini, dan saya akan membawa pembaca mengenal lebih dekat hal-hal yang berhubungan dengan Surabaya dan sekitarnya. Sebagai catatan, tentu saja saya selalu menawarkan hal-hal baru dari cerita saya ini, setidaknya memberikan inspirasi tentang suatu hal yang sesungguhnya sepele tetapi bisa menjadi referensi yang informatif.

Untuk pertama sekali ketika belasan tahun lalu kaki saya menginjak Surabaya, saya diajak teman makan lontong balap. Semula saya bingung juga apa itu lontong balap. Saya coba terka dan buat guyonan; Apakah setelah makan lontong lalu balapan? Atau balapan dulu siapa menang baru dapat makan lontong? Ini tentu saja guyonan yang menggelikan, bukan? Untuk mengobati rasa penasaran, akhirnya kami mencari lontong balap tetapi maaf saya sudah lupa lokasi pertama saya makan lontong balap. Seingat saya, warung itu warung tenda pinggir jalan dengan dua meja panjang dan beberapa kursi. Di atas meja ada kaleng krupuk dan sate kerang yang sudah ditusuk lidi. Sate-sate itu ditempatkan di piring terbuka tanpa penutup sehingga semua orang yang duduk di sekatnya pasti tahu kalau di situ ada sate kerang.

Kami pesan dua porsi, dan dalam hitungan menit pesanan datang. Sebelum saya makan, saya amati terlebih dahulu benda apa gerangan yang namanya lontong balap? Ternyata ada lontong beberapa potong, tauge (kecambah), tahu goreng yang sudah dipotong-potong, juga perkedel, dan disiram kuah kecap manis. Kuahnya seperti kuah tahu goreng ala Medan; terasa manis dan sedikit pedas, ya pedasnya orang Jawa tentu berbeda dengan pedas nya orang Sumatra. Lalu oleh teman saya disarankan untuk ambil beberapa tusuk sate kerang sebagai kawan makannya. Nah, itulah yang namanya lontong balap. Sayang, saya coba cari tahu tentang sejarah lontong balap tetapi taka da satu orang pun mengetahui dengan jelas asal nama lontong balap.

Akhirnya, belakangan ada seorang teman saya yang asal Surabaya Nuriadi namanya. Dia sudah lama tinggal di Riau tetapi asalnya diseputaran jalan Kedondong Kota Surabaya. Menurut dia, asal sebutan lontong balap itu bahwa dulunya para penjual lontong balap dipikul. Karena barang bawaannya berat dan banyak, si pemikul biasanya berjalan cepat agar pikulan tidak terasa berat. Karena jalannya yang cepat itulah seakan si penjual layaknya orang balapan berjalan akhirnya orang-orang menyebutnya lontong balap yang merujuk pada sipenjual lontong berjalan seakan lagi balapan. Terlepas benar tidaknya cerita teman saya ini, tapi masuk akal juga cerita itu bila dianggap sebagai asal muasal sebutan lontong balap.

Sewaktu maraknya Lumpur Lapindo, saya masih sempat singgah di Sidoarjo untuk meninjau beberapa lokasi terdampak lumpur. Sebagaimana diketahui, akibat proses kerja yang gagal dari PT Lapindo Brantas. Semburan lumpur panas tempat pengeboran PT Lapindo Brantas  yang terjadi sejak 29 Mei 2006 membuat sejumlah desa di Sidoarjo mengalami kerugian besar. Pusat lumpur panas menyembut ada di Porong yang letaknya tidak begitu jauh di selatan Kota Sidoarjo. Saat ini saya tidak mengetahui dengan jelas kondisi pasca lumpur panas Lapindo, tetapi saat itu sekitar tahun 2008, kondisi sangat memprihatinkan. Namun demikian pun, tetap saja ada dua sisi  sudut pandang. Sisi pertama bencana lumpur Lapindo dianggap sebagai suatu malapetaka, dan itu jelas tentunya. Sisi kedua, bencana yang sudah terjadi tidak mungkin dihindari karena memang sudah terjadi, tetapi ada banyak masyarakat mengambil kesempatan atas momentum itu sebagai daya tarik wisata. Saat itu ada banyak orang yang penasaran terhadap fenomena lumpur Lapindo, maka beduyun-duyun orang datang ke lokasi itu, khususnya Porong. Salah seorang yang penasaran itu adalah saya untuk hadiri di sana.

Namun demikian, saya lebih tertarik dengan Kota Sidoarjonya. Kota ini menyediakan banyak ikan salai khususnya ikan bandeng. Bagi peminat ikan salai, rasanya di Sidoarjo tidak kekurangan untuk menyediakan berbagai pilihan atas ikan asap; mulai dari ikan asap bandeng tanda duri (fresto) hingga yang natural (berduri). Ukuran ikannya pun beragam, ada yang kecil sampai ada yang 60 centimeteran. Soal kemasan; ada yang kiloan eceran hingga ada yang sudah dikemas kotak atau dikemas plastic kedap udara. Ikan-ikan salai bandeng ini tersaji di sepanjang jalan lintas Surabaya – Sidoarjo.  Sebenarnya, sentra usaha ikan asap ini ada di Kecamatan Sedati dan Tunggulangin. Namun yang terbesar ada di Desa Penatarsewu masih di Kecamatan Tunggulangin.

Kembali ke Kota Surabaya, satu jenis makanan yang juga unik yang pernah kalaupun tidak selalu saya makan yaitu “rujak cingur”. Makanan khas Surabaya ini menurut saya merupakan akulturasi dari selera Jawa Timuran Surabaya dan penyedap rasa Madura. Rujak cingur berbahan lontong, sayur kangkung rebus, tauge, tahu atau tempe goreng yang dipotong kecil-kecil dan beberapa jenis buah seperti timun acar, jambu air, kedondong, bengkuang, atau jenis buah lainnya lalu disirami bumbu kacang yang sudah digiling dengan petis. Lalu ada moncong sapi (lunak) yang sudah direbus dan dipotong kecil-kecil secukupnya dicampur lalu diaduk dengan bumbu kacang yang sudah digiling dan ditambahkan petis secukupnya. Cingur dan petis inilah menuru saya yang berasal dari Madura, sementara buah dan sayur merupakan khas Surabayaan. 

Memang, bagi sebagian orang yang tidak terbiasa dengan aroma petis, tentu saja tidak menyukainya. Tetapi bagi sebagian orang yang menyukainya, justru akan menaikkan seleranya. Bagaimanapun rujak cingur ini merupakan khas Surabaya yang sesekali perlu dicoba untuk sekadar mengetahui cita rasanya,  atau barangkali justru akan tetap menyukainya.

Satu hal lagi di Surabaya, ada banyak bangunan tua yang dijadikan cagar budaya dan tentu saja pemerintah memayunginya dengan SK Walikota, misalnya, sehingga bangunan-bangunan tua masih fungsional dan terjaga. Di sini juga dengan mudah dijumpai makam Dr. R. Soetomo yang dianugrahi gelar sebagai Bapak Pergerakan Nasional Indonesia yang terletak di jalan Bubutan tidak jauh dari Tugu Pahlawan Surabaya. Jadi ada banyak destinasi baik kuliner maupun sejarah yang dapat ditemui di sini. Ya, di kota Surabaya, Kota Kenangan. Kota Pahlawan.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

1 Komentar
  1. DEVIARNI mengatakan

    Ringan mudah dipahami