MOZAIK : Sihir Danau Toba Tak Sakti Lagi

Sihir Danau Toba Tak Sakti Lagi

Siapa yang tidak terkagum melihat indahnya Danau Toba? Ya, sebuah danau tektovulkanik yang terbentuk sebagai akibat adanya letusan berupa gempa tektonik pada sekian ribu tahun lalu, dan luar biasanya tangan Tuhan ikut campur di situ, yaitu menyediakan sebuah pulau nan romantic, Pulau Samosir namanya. Sakin kagumnya, pernah terungkap oleh saya pada seorang pemandu saat menjelaskan keindahan Danau Xi Hu, Hangzhou, Tiongkok yang terkenal dengan Kisah Ular Putih; saya katakan Danau Toba sepuluh kali lebih indah dari Danau Xi Hu. Dan pemandu  itu pun terdiam sejenak. Tidak tahu apa yang dipikirkannya.

Saya yang cukup lama tinggal di Sumara Utara tentu tahu percis nama Danau Toba, Parapat dan Pulau Samosir yang ketiganya dianggap ikonik wisata di Sumatra Utara. Seingat saya sekitar tahun 1982, semasa masih remaja, saya pernah untuk pertama kali berkunjung ke Danau Toba, dan pagi-pagi hari sekitar jam delapanan mandi di tepian danau. Pertanyaannya: Sensasi apa yang saya dapat? Wow!   Sensasi yang saya dapatkan adalah rasa gemetaran karena kedinginan. Ya, air Danau Toba yang sangat dingin dan sakin dinginnya gigi atas dan gigi bawah seakan saling beradu. Tubuh saya gemetaran dan tentu saja sebagai seorang remaja, saya tidak berani berlama-lama mandi di sana.

Nah, itulah sensasi pertama yang saya dapatkan semasa pertama sekali mengunjungi Dana Toba. Saat itu saya tidak sempat berkunjung ke Tomok atau Tuk Tuk, hanya sampai Kota Parapat yang ada di sekitar tepian Danau Toba. Selanjutnya ada beberapa kali saya berkunjung ke tempat yang sama ini, namun saya ingin berturtur tentang kunjungan saya pada 6 Juli 2008 lalu. Sudah cukup lama juga sebenarnya, tetapi ini merupakan sebuah kenangan untuk membandingan masa kunjungan saya 40 tahun lalu tentunya.

Untuk saat ini, jika ingin berkunjung ke Danau Toba, jalan-jalan amat lancar karena sudah di bangun Tol dari Medan sampai Tebing Tinggi, selanjutnya Tebing Tinggi menuju Pematang Siantar dan lanjut ke Parapat. Waktu yang diperlukan tidak sampai 4 jam perjalanan via Tol.

Sebenarnya, saat itu saya bersama keluarga full family melakukan perjalanan dari Perbaungan, Green Hill Sibolangit, lalu menginap di  Brastagi,  dan seterusnya melanjutkan perjalanan ke Parapat. Lalu pulangnya lewat Kota Pematang Siantar.  Jadi rute perjalanan memutar dan memang ada banyak view pemandangan yang didapat sepanjang perjalanan. Hal ini saya lakukan karena kedua putri dan istri saya memang belum pernah mengunjungi tempat-tempat ini, jadi dapat juga sensasinya.

Setibanya kami di Parapat kami menginap di Hotel Niagara Lake Toba & Resort yang saat itu rate-nya Rp 1.000.000,- Ini room rate untuk 13 tahun lalu, sebuah harga yang lumayan fantastis, bukan? Saat itu seingat saya memang akan ada even sehingga sudah banyak hotel yang dipesan. Jadi wajar saja kalau harga kamar hotel naik fantastis.

Di Paarapat saya masih sempat menikmati masakan khas Batak yaitu ikan mas arsik. Kebetulan saya memang peggemar makan ikan, kalaupun ada club kumpulan penggemar makan ikan tentunya saya sudah pasti ikut. Menurut saya Ikan mas arsik ini bumbunya mirip dengan bumbu masak ikan asam pedasnya orang Melayu. Asam pedas ada kuahnya, sementara arsik tidak berkuah, kering. Aroma bumbu sangat mirip, namun yang membedakan cuma ada bumbu tambahan dari daerah masing-masing, misalnya arsik ada dimasukan kacang panjang, bawang batak, dan rebung muda ke perut ikan mas, sementara asam pedas terkadang diberi tambahan tempoyak yaitu asam durian (durian yang diasamkan). Dalam pesta-pesta adat orang Batak, ikan arsik ini menjadi menu utama sebagai sajian khas. Tanpa ikan arsik rasanya menu pesta kurang greget.

Pagi itu kami menumpang feri  menuju Tomok. Tomok adalah sebuah desa yang terletak di pesisir Pulau Samosir. Desa ini bisa dicapai dengan menumpang feri dari Ajibata. Beberapa menit setelah kapal berlayar, kami dibawa menuju ke sebuah tebing batu yang ada batu berbentuk anjing. Ya, kalau dibayang-bayangin dengan pikiran anjing ya mirip, kalau dibayang-bayangin dengan pikiran bentuk lainnya juga bisa saja. Namanya Batu  Gantung. Batu Gantung pun menjadi legenda, cerita rakyat yang berkembang mengisahan tentang seorang gadis yang mau dikawinkan dengan seorang pria bodoh tetapi kaya. Gadis itu menolak dan memilih bunuh diri bersama anjing setianya yang terjun  ke dalam danau tetapi rambut dan anjingnya tersangkut  dahan pohon yang tumbuh di tepi jurang dan lama kelamaan menjadi batu. Kisah itupun sudah saya dengar sewaktu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar karena banyak guru-guru saya boru Batak. Saya masih ingat ada Bu Siregar guru matematika yang selalu menjitak kepala saya, Bu Nasution yang suaranya menggema seisi sekolah, juga ada Bu Saragih Kepala Sekolah yang sanger. Duh! Ini hanya kenangan relevansi antara cerita Batu Gantung dan si penutur cerita.  Tentu saja cerita ini berkembang di kalangan masyarakat Batak.

Tidak lama kemudian kapal tiba di pelabuhan Tomok dan kami mulai naik ke darat. Dengan berjalan kaki beberapa ratus meter kita sudah jumpa dengan Komplek Makam Tua Raja Sidabutar. Di sini kita tidak usah menggunakan pemandu, sebab sudah ada pemandu yang berkisah tentang sejarah Makam Tua Raja Sidabutar. Makam-makam batu yang berbentuk sarkofagus ini konon sudah mencapai umur 450 tahun lebih jika merujuk pada kisah regalia keberadaan Raja Sidabutar dan keturunannnya di Pulau Samosir.

Setelah puas mendengar pemandu berkisah tentang makam Raja Sidabutar dan keturunannya, tidak jauh dari sana kita bisa menikmati musik Gondang Batak dan menari bersama patung kayu  Si Gale-Gale.  Si Gale-Gale ini sebenarnya berasal dari Tapanuli Utara atau Toba Holbung, tetapi kemudian tradisi ini menyebar hingga ke Samosir dan di Samosir orang menyebutnya si Raja Manggale atau Si Manggale. Patung Manggale berukuran sedang percis ukuran manusia normal dan diberi pakaian khas Batak. Patung ini bisa menari diiringi music Gondang Batak tetapi tentu saja yang menggerakkannya manusia yang ada dibalik tirai. Cerita lengkap si Manggale ini tentu saja dapat dibaca dibanyak literatur seperti Wikipedia dan lainnya.

Sayangnya, sepanjang perjalanan Ajibata – Tomok – Ajibata, saya melihat banyak tambak ikan dan sisa makanan ikan di permukaan danau. Memang, satu sisi ingin menghidupkan ekonomi kerakyatan, tetapi pada satu sisi lain ada yang dikorbankan yaitu nilai alamiah dari sebuah eksotisme alam Samosir. Nilai-nilai naturalisme sudah hilang dan dikorbankan untuk sebuah kepentingan, termasuk sejak adanya perusahaan yang mengeksploitasi kayu hutan, pinus-pinus di sepanjang jalan Pematang Siantar menuju Parapat  terasa berkurang.  Air danau yang semula dingin sekarang terasa tak sesejuk dulu lagi. Aroma air pun sudah mulai terasa amis. Fenomena yang ada hanya ikan pora-pora subur berkembang biak karena ketersediaan makanan dari sisa tambak serta mulai banyaknya gangga dan lumut danau. Bagi saya, sihir Danau Toba sekarang tidak sakti seperti dulu lagi. Demikianpun rasanya belum terlambat untuk menjaga maha karya Tuhan yang dititipkannya pada masyarakat Samosir. Horas!*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan