MOZAIK : Singgang Ayam Sang Sutan

Singgang Ayam  Sang Sutan

Beberapa tahun lalu saya diundang untuk menghadiri pesta adik laki-laki dari teman saya yang bernama Sukeno di Pandai Sikek dekat Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Teman saya itu memang “mereknya” Jawa karena namanya berbau nama orang Jawa, tetapi sesungguhnya “orangnya” asli Minangkabau. Ya, Sukeno memang berdarah Minangkabau berkampung Bukit Tinggi, Sumatra Barat.

Begitu mendengar nama Pandai Sikek, saya teringat dengan mata uang emisi 2001 nominal  “Lima Ribu Rupiah”  yang  bagian depan bergambar Pahlawan Nasional  Tuanku Imam Bonjol dan sisi satunya lagi gambar Gadis Pengrajin Tenun Pandai Sikek sebagai ciri khas Sumatra Barat.

Sebelumnya, Sukeno banyak bercerita tentang Nagari Pandai Sikek yang sesungguhnya termasuk dalam Kecamatan Sepuluh Koto Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatra Barat. Dia bercerita karena istrinya berasal dari sana yang kebetulan juga pandai menenun. Orang Minang menyebut “sikat” dengan “sikek”. Nagari Pandai Sikek itu memang memiliki sejarah  tersendiri bahwa di sana banyak sekali gadis-gadis yang berprofesi menenun. Ketika saya berkunjung ke sana, saya memang mendapatkan rumah-rumah lama yang masih berdiri utuh yang umumrnya mendekati  usia satu abad tetapi masih aktif digunakan. Salah satunya rumah Bagonjong yang berbentuk rumah panggung.  Rumah Bagonjong ini memang tidak begitu besar ukurannya karena barangkali dahulunya didirikan atas pertimbangan sejumlah kapasitas dari aktivitas masyarakat adat. Di dalam rumah tua itu saya temukan beberapa gadis yang sedang menenun tentu saja dengan alat tenun sederhana yang juga dikenal dengan alat tenun bukan mesin (ATBM). Bagi pecinta kain batik maupun kain tenun lainnya, kain hasil tenun ATBM pastilah lebih bernilai tinggi dari sisi seni dan ekonomisnya jika dibanding hasil kerja mesin.

Dari Nagari Pandai Sikek kita dapat memandang dengan jelas Gunung Singgalang. Cerita Sukeno, ada beberapa kali dia bersama beberapa teman melakukan pendakian Gunung Singgalang dan tiba di Kampung Melalak yang letaknya di seberang lereng Gunung Singgalang. Biasanya selepas Shalat Isa, mereka mulai mendakti dan beberapa jam kemudian istrahat didekat sebuah tower yang didirikan di atas lereng, lalu melanjutkan perjalanan dan tiba di Kampung Melalak sekitar subuh hari. Jadi, Nagari Pandai Sikek sesungguhnya masih sangat dekat dan kalaupun tidak disebut berada di seputaran lereng Gunung Singgalang.

Suasana pagi dan malam hari tentu saja di Pandai Sikek mirip dengan suasana di Bukit Tinggi, sejuk udaranya. Kualitas udara di sini tentu saja baik karena masih banyak pepohonan dan perswahan sebagai sumber pangan utama masayarkat Nagari Pandai Sikek. Apresiasi saya kepada masyarakat Nagari Pandai Sikek adalah mereka masih mampu mempertahankan kelestarian alam dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, dan salah satunya adalah tradisi Singgang Ayam.

Jadi, sebelum pesta pernikahan dilaksanakan, ternyata ada satu tradisi yang harus dilalui oleh mempelai laki-laki yaitu pemberian gelar adat kepadanya. Hari itu saya lihat tokoh adat Nini Mamak dan para sesepuh adat berkumpul di rumah keluarga mempelai dan disana saya tergugah dengan satu benda  yang mengundang rasa ingin tahu saya yaitu “Singgang Ayam”. Saya bertanya pada teman saya apa sesungguhnya yang sedang mereka  lakukan itu? Ternyata dalam adat tradisi Minangkabau Singgang Ayam merupakan kelengkapan dari sebuah acara adat. Saat itu adik Sukeno yang sehari-harinya dipanggil Niki ternyata dia diberi gelar “Sutan” tampil layaknya orang “dipersidangan”. Ya, dia dihadapkan pada sejumlah Nini Mamak, Datuk Nagari dan tokoh adat yang tentu saja menjalankan tradisi itu tidak serta merta begitu saja.

Dalam pengamatan saya, ada banyak hal yang dilakukan sebelum si mempelai laki-laki diberi gelar. Para tokoh adat saling bersambut pantun dengan menggunakan banyak sekali kiasan-kiasan benda-benda alam yang sesungguhnya saya sendiri tidak begitu paham. Bahasa Minangkabau yang dipergunakan pun banyak yang terasa asing di telinga dan memaksa saya untuk bertanya pada beberapa orang di sana, apa maksudnya. Bagi saya, bahasa Minangkabau sesungguhnya tidaklah begitu sulit, tetapi untuk bahasa yang dipergunakan dalam pemberian gelar adat ini, otak saya dipaksa bekerja keras. Sungguh sebuah sensasi yang sulit saya lupakan.

Biasanya ada beberapa gelar adat yang menjadi pilihan, misalnya ada Sidi atau Sutan dan lainnya. Jadi dengan diberinya gelar Sutan kepada seseorang, maka dikampung itu ianya akan dipanggil dengan gelarnya itu sebagai bentuk penghoratan kepada orang yang dianggap telah berhak menyandang gelar atas perlakuan adat.

Soal Singgang Ayam ini, memang tidaklah seterkenal “randang” di Ranah Minang”. Akan tetapi, Singgang Ayam terasa istimewa dan sedikit “magis” karena menurut literatur sejarah, Singgang Ayam disajikan pada pesta adat besar orang Minangkabau. Penyajiannya yang rumit dan jarang dilakukan membuatnya lebih terasa istimewa jika dibanding dengan randang yang lebih mudah disajikan dan terasa lebih umum. Apalagi konon orang-orang tua Minangkabau hanya akan potong ayam atau itik (ungags) jika ada pesta besar adat. Dan sebagaimana yang kita ketahui Singgang Ayam jelas berasal dari bahan dasar “daging ayam”. Rasanya pedas dan bumbunya mirip rasa rendang ayam. Jadi, Singgang Ayam merupakan alat kelengkapan dari sebuah tradisi adat pemberian gelar terhadap seseorang.

Sayang, Singgang Ayam Sang Sutan saat itu tidak sempat saya nikmati walaupun sesungguhnya citarasa Singgang Ayam justru saya dapatkan dari pesta adat teman saya yang lain.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan