Mozaik: Menyembelih Ayam Di Kandang Monyet

239

Ada banyak buku tentang seni perang ala Sun Tzu seperti Menang Dalam Persaingan (1993), Roman Klasik Sun Tzu Vs Bang Koan (1993), Seni Perang Sun Tzu & 36 Strategi yang ditulis Tjio Tjiang Feng (2007) dan tentu masih ada beberapa buku lainnya. Namun, bila anda baca buku Seni Perang Sun Tzu karya Wee Chow Hou dkk (1993), pada bagian pertama anda akan dapati ilustrasi penerapan perintah ala Sun Tzu terhadap 180 selir kesayangan Kaisar Ho Lu dari Wu. Suatu ketika kaisar Ho Lu meminta Sun Tzu mendemonstrasikan apakah karyanya dapat diterapkan pada pelatihan wanita. Untuk itu Sun Tzu mengatakan bahwa karyanya dapat diterapkan pada siapa saja termasuk pada wanita cantik dari istana.

Mendengar itu, Kaisar Ho Lu lalu memerintahkan Sun Tzu mendemonstrasikannya pada 180 selir istana termasuk dua orang selir kesayangannya. Sun Tzu membagi 180 wanita itu ke dalam dua kelompok dan masing-masing wanita dipimpin oleh satu selir kesayangan. Kedua selir itu bertugas memberi aba-aba kepada para selir lainnya jika mendengar aba-aba yang dibunyikan.

Lalu Sun Tu menabuh genedrang sebagai pemberi pertanda, tetapi yang terdengar adalah suara cekikikan dari para selir-selir kesayangan raja. Para selir mengabaikan suara gendering yang ditabuh Sun Tzu, dan terkesan seperti tada kejadian apa-apa. Kaisar Ho Lu bertanya pada Sun Tzu, mengapa hal itu bisa terjadi? Sun Tzu menjelaskan pada Kaisar Ho Lu bahwa jika perintah pertama tidak dilaksanakan, mungkin pemimpinnya yang tidak jelas dalam memberikan instruksi kepada para pasukannya. Lalu Sun Tzu menjelaskan lebih detail tentang cara bergerak, berbaris, maju-mundur, ke kiri-ke kanan dan sebagainya. Kkepada dua selir kesayangan yang diangkat sebagai komandan pasukan berbaris tersebut, bahwa jika mendengar suara aba-aba dari gendering yang ditabuh maka segera memberi perintah kepada pasukan masing-masing.

Sun Tzu melanjutkan, ia menabuh gendering sebagai pemberi aba-aba tetapi ia hanya mendengar suara tertawa dari para selir dan pasukannya. Lalu Sun Tzu menyatakan bahwa jika perintah sudah jelas diketahui tetapi para pasukan tidak menjelaskan maka yang salah adalah komandan di lapangan. Dalam kejadian ini, yang harus bertanggung jawab adalah kedua selir kesayangan raja yang menjadi komandan pasukan. Agar memberi contoh kepada yang lain, kedua selir itu harus diberi hukuman. Raja Ho Lu memohon kepada Sun Tzu agar kedua selir itu jangan dihukum, tetapi Sun Tzu dengan tegas menyatakan bahwa perintah harus dilaksanakan, bila perintah tidak dilaksanakan maka akan memberi conth jelek pada lainnya. Dengan sedih, Raja Ho Lu merelakan kedua selir kesayangannya dihukum mati. Lalu komando pasukan digantikan dua selir lainnya, dan kali ini semua perintah yang dilakukan diikuti semua selir sesuai arahan komandonya. Para selir bergerak ke kiri, ke kanan, maju, mundur dan seterusnya sesuai aba-aba. Tentu saja mereka takut mendapat hukuman yang sama seperti kedua selir kesayangan raja.

Dari sepenggal kisah startegi perang Sun Tzu, apa yang kita bisa simpulkan? Jawabnnya adalah teori yang bisa dipraktikan dan dibuktikan keterandalannya. Bukankah Raja Ho Lu bertanya bahwa teori baris berbaris bisa dipraktikkan pada siapa saja? Sun Tzu mengiyakan dan bersedia memberikan bukti pada raja Ho Lu. Pada akhirnya, Sun Tzu berhasil membuktikan bahwa teori barus berbaris bisa diterapkan pada sejumlah selir kesayangan raja Ho Lu dengan konsekuensi tertentu. Walau pada mula pelaksanaan memakan korban dua selir kesayangan raja yang dianggap sebagai suatu kegagalan, namun akhirnya kegagaglan itu terbayar dengan suksesnya Sun Tzu membuktikan teorinya.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Sun Tzu pada peristiwa itu (mengeksekusi mati dua selir) adalah bagian dari strategi perang Cina Kuno yang dinamakan “menyembelih ayam di kandang monyet”. Filosofi ini diambil secara empiris dari suatu pengalaman empiris, dimana aAda segerombolan monyet dalam suatu kandang yang sulit ditaklukkan. Untuk menenangkan para monyet liar itu, lalu dibawalah ayam ayam untuk disembelih di dekat kandang monyet itu. Setiap ada keributan yang dibuat para monyet, disembelih seekor ayam dengan sadis di dekat kandang mereka. Lama kelamaan para monyet menjadi tenang karena takut mendapat giliran disembelih karena membuat keonaran. Jadi, sebenarnya menyembelih ayam itu hanya suatu strategi yang bertujuan memberikan shock teraphy kepada para monyet liar, ya bertujuan menakut-nakuti semata.

Demikian juga tawanan perang yang dikumpulkan dalam suatu penjara lalu didepan pintu penjara selalu dilakukan penyiksaan atau eksekusi mati terhadap tawanan lain, setidaknya ini akan menjadikan gerombolan tawanan terganggu secara psikologis.  Jika musuh melihat perbuatan itu, setidaknya akan menurunkan nyalinya. Penerapan strategi perang kuno ini sangat terkenal dalam seni perang Tiongkok. Dan konteks ini tidak hanya berlaku pada situasi perang semata, melainkan juga

Nilai filosofis yang bisa ditarik adalah ketegasan pemimpin, patuh pada komando. Ketegasan pemimpin adalah suatu kesatuan perintah yang harus dijalankan. Jika perintah disepelekan maka kosekuensinya, artinya membantah perhadap atasan. Bawahan tidak patuh terhadap perintah atasan, dan itu dimaknai sebagai penyimpangan atas konsekuensi jabatan.

Menyembelih ayam di kandang monyet adalah suatu istilah yang cukup popular di kalangan etnis Tionghoa sampai saat ini. Strategi dagang hingga model pemerintahan tidak luput dari penerapan strategi ini. Satu diantara model penerapan strategi ini adalah kasus Jack Ma yang dirumorkan telah menghilang dari kemunculan selama lebih kuang dua bulan lamanya. Jack Ma pernah dinobatkan sebagai orang terkaya di daratan Tiongkok sebagai founder Alibaba Group perusahaan e-commerce terbesar di daratan Tiongkok. Kekayaan Jack Ma si mantan guru bahasa Inggris ini diperkirakan tidak kurang dari 854 triliun rupiah.

Tapi apa yang dialami Jack Ma akhir-akhir ini? Jack Ma seharusnya sudah paham bahwa dia lahir, besar, dan sukses di negeri yang model kepemimpinanya satu komando. Sebagai penguasa tunggal, tentu saja pemerintah Tiongkok tidak sembarangan bisa dikritik oleh orang yang merasa “liberal” karena kekayaannya. Ini tentu saja peradaban yang berbeda dari bangsa-bangsa di belahan Barat sana. Sampai hari ini kita memang tidak mengetahui secara jelas kabar Jack Ma, tetapi jauh hari sebelum Jack Ma ada kasus yang mirip dengannya yaitu Eli Abdulla CEO Xinjiang Yu Cheng (Jade City) Real Estate Development Ltd, perusahaan pengembang real estat yang berbasis di ibu kota Xinjiang, Urumqi. Eli Abdulla seorang pengusaha terkaya Uighur di Prefektur Hotan, Xinjiang, Cina, diduga dipenjara seumur hidup setelah menghilang selama lebih dari tiga tahun. Puluhan kerabat dan karyawannya  juga telah dijatuhi hukuman penjara. Eli Abdulla dijatuhi hukuman tentu saja ada hubungannya dengan kebijakan yang dilakukan pemerintah Tiongkok. Jack Ma juga mengkritik kebijakan pemerintah Tiongkok tentang kebijkan keuangan yang membuat Presiden Tiongkok Si Jing Ping tersinggung. Apa-apa yang dilaksanakan pemerintah Tiongkok adalah dalam upaya menjalankan strategi menyembelih ayam di kandang monyet, suatu strategi yang bersifat memberi efek jera tentunya. Walau kita pun belum tahu kabar pasti keberadaan Jack Ma, tapi demikianlah negaranya Jack Ma.*

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: 
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

4 Komentar
  1. Uki Bayu sedjati mengatakan

    strategi sun tzu dipraktekkan hon lu apakah sama kejamnya dgn kaisar yg menyerbu singosari dan Uyghur – yang sebagian warganya beragama Islam – beda dgn ‘agama’ penguasa. Naa, tokoh dibikin ‘hilang’ jadi ke’wajar’an (?) apalagi pemerintahan dikuasai faham komunis. Demikiankah, p. Nyoto?

  2. Md. HUSNU AB. mengatakan

    tulisan tuan Nyoto memberi pemahaman tentang berbagai taktik menaklukkan lawan …

    mantap…

  3. junaedi sikumbank mengatakan

    👉semoga covid game over dari NKRI dan tidak menyembelih kambing dikandang monyet Lagi.. 😅😑

  4. hendrik mengatakan

    Sangat Bermanfaat