Pentigraf : Mbok Asih – R. Amalia

Mbok Asih

Oleh R. Amalia*

Matahari mulai tenggelam di puncak peraduannya. Tampak jengkal langkah senja si mbok berusaha mengejar ketertinggalan masa karena sakit lambungnya yang kumat kemarin lusa. Karena sakitnya itu, si mbok tak bisa menjajakan ikan asin yang ia dapat dari juragan Karna. Si mbok sementara harus rehat sejenak. Kalau tak begitu, ia takut terpapar virus corona yang sudah genap setahun melanda di daerah yang mendapat julukan Kota Delta. Maklum, virus yang berasal dari Negeri Tirai Bambu itu tidak hanya menyerang sistem pernapasan, tetapi berkembang ke lambung juga.

Sore itu si mbok hampir lupa kalau ia harus mengambil stok ikan asin. Namun, karena kebutuhan hidup yang terus memanggil, ia terpaksa melangkahkan kaki berjalan ke kampung sebelah meski belum pulih sepenuhnya. “Tak apa. Aku pasti kuat,” tutur wanita yang biasa dipanggil Mbok Asih. Apa mungkin karena sifatnya yang suka memberi sehingga wanita paruh baya itu dipanggil dengan sebutan Asih. Ah, aku terlalu menerawang jauh, sedangkan Mbok Asih hampir sampai di tempat juragan Karna.

Berbekal zikir kepada Sang Pencipta, Mbok Asih pun sampai di depan rumah juragan Karna. Kurang beberapa langkah lagi, ia akan berjumpa dengan ikan-ikan asin yang selama ini setia menanti. Akan tetapi, suatu hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba tubuh Mbok Asih berubah kaku hingga tersungkur jatuh. Apa mungkin karena corona atau apa. Entahlah tiada yang tahu, tetapi yang jelas kini ruh Mbok Asih telah pergi jauh. Tinggallah amal kebaikannya dan jengkal langkah itu semoga berbuah surga.

*Pengajar di SDIT Insan Kamil Sidoarjo. Alumnus Sastra Indonesia-Unesa. Ia mengaku suka bercerita dan memotret.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.comPAGES: 1 2

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan