Pentigraf | Saat Menantimu Pulang : Filiya p Alfath

Lapangan Rumput Hijau

SAAT MENANTIMU PULANG

Senja mulai merunduk di ufuk barat, rona jingga menyembur di antara awan-awan. Lilla masih duduk di pelataran rumahnya. Seperti biasa, menunggu suami pulang dengan menyambutnya tepat di pintu rumah. Hari ini suaminya menelepon bahwa dia akan pulang lebih lama dari biasanya. Lilla duduk di balai bambu dengan sesekali mengelus calon buah hatinya dalam kandungan. Sesekali mulutnya berkomat-kamit mengajak berbicara bayi dalam perutnya. Terkadang doa-doa ia panjatkan sembari mengelus perut agar kelak si jabang bayi lahir dengan selamat.

Di sudut yang berbeda Ning Tini menyaksikan gelagat Lilla dari jauh. Tangannya mengepalkan tinju, entah berapa puluh kali selalu ia sampaikan kepada Lilla. Jangan pernah keluar rumah kala senja. Sedang Lilla asyik duduk di teras menanti suaminya pulang. Berulang kali dia wanti-wanti kepada Lilla agar membawa benda-benda tajam berukuran kecil untuk menjaga jabang bayinya. Benda semacam pemotong kuku, silet, peniti, jarum pentul dan sebagainya. Benda semacam itu dipercaya masyarakat sekitar sebagai azimat tolak balak.

Tini menghampiri Lilla dan mulai mencerocos seperti biasa.
“Kau tak membaca senjata kecil seperti yang selalu kusampaikan?”
“Tidak”
“Jika sesuatu terjadi pada bayimu, kau akan menyesal!”
“kiranya apa yang akan membahayakan bayiku? Tidak ada hal terjadi tanpa seizin Allah SWT. Dan sekalipun kau memaksaku, aku tidak akan meletakkan kepercayaanku pada azimat yang hanya membuatku bergantung padanya”
“apa yang membuatmu begitu yakin?”
“Aku percaya kepada Allah SWT, dan tidak akan menggantungkan kepercayaanku pada hal-hal selain itu”. Kemudian Lilla pergi masuk ke ruang tamu rumahnya. Dengan permintaan maaf yang tidak terucap. Ia mendelik ke arah jam dinding dan bergumam.
“lima menit lagi suamiku akan datang”. Tak lama kemudian pintu diketuk dan suaminya pulang.

Sambibulu, Februari 2021

Filiya p Alfath
Kelahiran Sidoarjo, Mei 1992 seorang ibu dengan dua anak. Pernah tergabung dalam penulisan beberapa antologi puisi dan cerpen bersama berbagai komunitas penulis di Sidoarjo. Antologi cerpen “hujan melukis lautan,” antologi puisi “tarian kaki langit”, antologi puisi “persembahan”, dan antologi puisi “segalanya serupa rambutmu”. Beberapa tulisan lain bisa dibaca di www.filiya.blogspot.com. Dan IG @fp.alfath

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan