Pentigraf : Kenangan Kecil di Desa – Lusi Hanasari

KENANGAN KECIL DI DESA

Aku masih ingat betul kenangan masa kecil di desa. Setiap kali libur sekolah, beberapa temanku akan datang ke rumah. Kami sangat antusias bermain apapun selagi hal itu menyenangkan. Sering kali kami bermain ke sawah. Menjelajahi petak demi petak hamparan sawah yang belum digarap pemiliknya. Berburu belut sawah yang bisa dimasak Mak. Untuk bisa menangkap belut, kami menggunakan teknik ngecop. Yaitu berburu belut menggunakan senar pancing yang lebih muda dan diberi umpan cacing atau keong kemudian dimasukkan ke lubang sarang belut. Untuk mengetahui adanya belut, dapat dilihat dari busa atau gelembung pada permukaan tanah. Tinggal dicari lubang yang terdapat busa telur belut di mana memiliki air berwarna kekuningan. Seharian kami bisa menangkap tujuh sampai sepuluh ekor belut.

Aku sangat ketagihan saat Mak memasak lauk belut goreng ditemani sambal bajak pedas bersama nasi jagung yang disajikan hangat. Senyum sumringah tergambar jelas pada raut wajah dan bibir kami saat menyantap masakan Mak. Makanan yang tidak mewah, bahkan sangat sederhana, membuat kami tertawa dan bahagia. Semenjak aku berkeluarga dan hidup di perkotaan, lalu lalang dan suara bising kendaraan menghiasi hari-hariku yang padat. Aku tidak lagi merasakan udara sejuk pedesaan dan mendengar gemercik air sungai membelah bebatuan apalagi suara jangkrik dan kodok bersahutan saat malam. Hanya rutinitas pekerjaan yang kulakukan. Selain pulang dan pergi ke kantor, aku sangat jarang melakukan liburan ke desa bersama keluarga. Usia Mak semakin bertambah. Katanya ia jenuh dengan suasana perkotaan. Untunglah istriku bisa merawat Mak dengan baik di kota metropolitan ini.

Kurencanakan pergi berlibur ke desa bersama keluarga. Hal ini kulakukan agar hati Mak merasa senang. Ia juga bisa mengenang masa kecilku saat masih di sana. Desa yang asri dengan hamparan sawah yang luas. Pepohonan menjulang tinggi serta barisan bukit berjajar membentuk layer sederhana berbalut warna hijau yang berasal dari rumput-rumput yang tumbuh liar. Suara kicau burung bercengkerama saat pagi, dan kebiasaan berangkat sekolah bersama teman-teman dengan jalan kaki. Ketika kami tiba di desa, mata Mak meneteskan air mata. Ia masih ingat betul saat kami masih tinggal di sebuah rumah sederhana bersama Bapak. Tatkala Bapak meninggal, aku menjadi tulang punggung keluarga. Aku bekerja sangat keras hingga mendapatkan beasiswa kuliah di kota. Berkat usaha dan doa Mak, alhamdulillah aku bisa membangun rumah sendiri dan hidup berkecukupan di kota.

Lusi Hanasari, seorang gadis pemimpi yang memiliki hobi menulis, membaca dan berkhayal. Berdomisili di kota Lamongan, Jawa Timur. Sampai saat ini masih tergabung dalam komunitas menulis anggota COMPETER (Community Pena Terbang) dan Tirastimes.com. Karya penulis juga tergabung dalam beberapa buku antologi puisi diantaranya manusia lilin, diafragma perjalanan malam, dan jarak (penerbit sabana pustaka, 2016). Ia juga masih aktif menjadi author di redaksi IB.Times.id.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan