PERSELINGKUHAN MADU || Yusmar Yusuf

Korupsi dan perselingkuhan itu laksana bersepupu. Dimulai dari suasana main-main, belai-membelai yang diawali dari keasyikan dalam sebuah tantangan baru. Cara selinap baru, menikung baru, dan bertopeng baru. Semua ini masuk dalam jenis dramaturgi yang berlandas pada semangat “hyperglossia” dari diksi bermain-main. Bermula dari main-bermain, jajal-menjajal, sebab di situ ada keasyikan, di sana ada tantangan, ada resiko yang mencabar, ada upaya menyelinap dan menelikung, dalam sebuah sensasi baru. Maka, terjadilah rasuah, sebutan lain untuk korupsi. Saban purnama, negeri ini dihiasi serangkaian perbuatan rasuah pejabat dan peneraju. Jalan sedih, atau proyek main-main? Bukan pula proyek niskala. Dia ada karena mental selingkuh atau perselingkuhan yang senantiasa dirawat; bak dosa putih. Begitu lah.


Homo Ludens sebuah tabal modern yang dilekatkan oleh filsuf Belanda Johan Huizinga (sekaligus judul buku). Manusia adalah makhluk bermain, suka bermain-main, walau permainan anak kecil sekalipun. Seorang dewasa, masih tetap menyisa “ruang kanak-kanak” di dalam dirinya. Namun, permainan kanak-kanak, didorong oleh kemauan fitri, desakan suci dalam sebuah lorong “rasa ingin tahu” dan “menjelajah dunia” baru demi perkembangan jiwa agar senantiasa mekar, tanpa interaksi mengejut (shock interrupted). Bermain-main ketika sudah dewasa, dia senantiasa dihiasi oleh serangkaian resiko, jika tidak dipadu dengan sekebat aturan dan tata laksana. Dulu ada idiom yang melayang-layang dalam ingatan kita masa Sekolah Menengah dari Louis XIV (Raja Prancis); “L’etat ces’t moi” (Akulah negara). Apa saja yang keluar dari mulut dan perkataan sang raja, adalah titah, adalah kemauan negara, dan harus dilaksanakan. Dia adalah undang-undang, hukum, bahkan sumber hukum tertinggi. Artinya, Louis XIV tidak menjarakkan dirinya dengan sistem. Dulu dan dulu juga, pidato-pidato Soekarno adalah sumber hukum, dia adalah hukum itu sendiri, wajib dilaksanakan. Ucapan Soekarno adalah lidah rakyat jelata, lidah bangsa. Juga, di sini, Soekarno tak membangun batas yang tegas antara dirinya dengan sistem. Antara penguasa dengan negara, idealnya dijarakkan oleh sebentang “pagar api”, bernama sistem. Sebaliknya, Sosiologi modern memperkenalkan sesuatu yang berseberangan sistem; yang kemudian dikenal sebagai “modal social” (social capital). Di mana duduknya ‘makhluk’ ini? Dia memposisi diri selaku musuhnya sistem.

Bagi makhluk Homo Ludens, rasuah atau korupsi ini adalah hasil dari keasyikan bermain-main. Dia sebuah “proyek main-main”. Permainan ini seakan menghidang ruang kitar zig zag untuk sebuah racing (pertandingan siapa cepat dan lekas, cekatan dan mampu menelikung dengan cepat), tanpa diketahui lawan. Bak dunia perselingkungan yang berlangsung dalam serba temaram, namun asyik-menggairah (ketika belum diketahui); memberi daya sensasi menggetar, ada tantangan imajinasi baru, ada ruang khayali baru yang amat sedap dikemas ulang dalam sentakan menggugup. Terkadang malah, berujung halusinasi sakau menyenak. Maka, jangan heran, gemeretap perlahan, curi-curi pandang, langkah pendek lewat sentuhan ujung kaki, agar derap kaki nan melangkah tak mengorak bunyi menabrak ruang-ruang pembatas banal dan gulita. Inilah dunia rasuah. Di ujung lorong gelap itu sudah ada pasangan selingkungan (sang pemodal, penyuap, penguasa atau pengusaha), juga dalam debar sensasional lain. Dari gugus narasi pendek ini, muncul sebuah kesimpulan awal: bahwa korupsi tidak berdiri sendiri. Korupsi pasti melibatkan orang-orang lain (ini jenis jejaring dari “modal sosial” itu). Lalu mereka yang terlibat dalam jejaring (networking) itu adalah sosok individu yang dipercayai bisa memikul “trust” (kepercayaan atau amanah) untuk setia dalam gelora “proyek kegelapan”. Ya, sebuah “kesetiaan proyek kelam mendungu”. Di dalam “proyek kelam” ini ada satu syarat lagi yang harus dipenuhi, yaitu “imbal-balik” (reciprocity). Inilah tiga pilar utama modal sosial yang digelegakkan dalam permainan “temaram” bernama korupsi atau rasuah. Tiga pilar ini, anti-sistem.

Sistem yang dibangun di luar diri penguasa, di luar diri individu, bermaksud membatasi kekuasaan diri penguasa untuk dan demi tata-laksana pemerintahan. Dia tak boleh melekat dengan dan dalam sistem itu sendiri. Lewat upaya ini, maka, siapa pun yang bekerja di luar sistem yang telah dibangun dan disepakati bersama, dia disebut sebagai malpraktik atau maladministrasi. Modal sosial, pada satu sisi adalah maujud dari kemauan positif sebuah bangunan masyarakat, namun dalam konteks berhadapan dengan sistem, dia malah menjadi instrumen yang paling ganas untuk jalan korupsi atau praktik korupsi. Sensasi yang dihadirkan dalam permainan yang menggerakkan “actor” (pelaku utama korupsi) dengan pelaku di seberangnya, melalui orang-orang kepercayaan (aktor-aktor sela/picisan) dengan memikul amanah (trust) untuk terjadinya imbal-balik (reciprocity), adalah model perselingkuhan yang sensasional, sebuah pengelanaan imajinasi dan daya khayali tinggi. Dan ini sebuah permainan jajal-menjajal, coba-coba, permainan ‘rasa’ tingkat tinggi, serba kualitatif. Segala sesuatu diukur dengan rasa, tiada padanan metrik, malah anti-metrik. Misal; dalam ayunan langkah senyap serba perlahan di lorong kelam-gelita itu, ada kecipas dan cuitan suara ayam berisik, dia menduga ada polisi yang lewat. Padahal ayam itu, tertimpa kayu condong yang rapuh usang sekian lama dimakan usia. Ini jenis kualitatif sensasional namun imajinatif. Dan para pengarang amat menikmati dunia imajinatif seperti ini. Waww… terhidang surga imajinatif baru.

Lantas, apakah para koruptor itu adalah sejenis pengarang (author), sejenis pujangga dalam sosok yang lain? Atau malah para pujangga dan pengarang adalah sosok peselingkuh yang merawat “dosa putih” (pia fraus)? Atau sebaliknya? Malah sang pengarang atau pujangga seperti saya ini punya potensi sebagai seorang koruptor dan sosok peselingkuh karena senantiasa merawat dan meramu imajinasi dan merindukan sensasi-sensasi baru yang menggetar dan berdaya ‘lepuh’ (novelty)? Sebuah penerawangan liar demi menyelamatkan muka. Dalam dunia perselingkuhan yang koruptif itu; pelibatan orang-orang lain (korupsi tak berdiri sendiri) adalah syarat mutlak; sementara “networking” itu sendiri berpembawaan eksklusif, “serba tertutup”. Bahwa pembawaan serba eksklusif dan tertutup itu adalah sebuah sensasi baru yang kerap menghasilkan getaran, halusinasi dan imajinasi baru yang serba tak terduga. Lalu, kapan khatam atau berakhirnya sensasi itu? Dia selesai untuk sementara, setelah “permainan” dinyatakan berhasil. Selanjutnya? Ingin merasakan dan memproduk sensasi “baru yang lain”, yang lebih bergelombang dan menantang dalam skala yang lebih agung. Kapan selesai? Semua getaran sensasional perselingkuhan itu akan tamat dan mengundang taubat, ketika permainan gagal. Tertangkap tangan… borgol pun menggelung di ujung lengan. Dunia bermain pun dinyatakan usai… gunungan sensasi berderai bak udang pepai.

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan