Nofirza Yang Tak Ingin Mengalah: Catatan M. Husnu Abadi

165

Pengantar: Berikut ini ulasan atas buku puisi Sentuhan Indah Nurani Kata, karya Nofirza Ganeftriah, Kota Padang, Tahun 2024, seorang guru senior, mengepalai sekolah menengah di kota Padang, dan beberapa tahun terakhir bergabung dengan kegiatan seni sastra yang ditaja oleh Perkumpulan Rumah Seni Asrizal Nur, Jakarta. Kegiatan terkini yang diikuti oleh Nofirza adalah Wisata Puisi Turki 2023 dan Festival Syair Internasional (2023) di Jakarta. Selamat membaca.
Ada sebuah pertanyaan dari seorang awam yang disampaikan pada acara temu sastrawan sebuah komunitas seni, apakah ada batasan umur, sampai berapa tahun dari usia seorang penulis, boleh terus menulis? Tentu saja pertanyaan ini terasa aneh namun bila direnung-renung ya masuk akal juga. Salah satu resep yang cerdas dari seorang Mahathir Muhammad, Perdana Menteri terlama dalam sejarah moderen Malaysia, dan kini berumur 98 tahun (lahir 10 Juli 1925), berpesan lewat video yang viral dimana-mana. Bila seseorang telah memasuki emas maka bila ingin tetap sehat dan berguna maka yang perlu dia rawat adalah fisik, makanan, dan pikiran. Pikiran dapat dirawat dengan membaca ataupun menulis. Bila seseorang punya kebiasaan menulis maka pastilah ia punya bacaan yang memadai.
Menulis bagi Mahathir adalah salah satu jalan dalam merawat kesehatan, khususnya bagi keluarga Emas.
Aktifitas menulis puisi adalah bagian yang cerdas dalam merawat kesehatan dan kebugaran seseorang pada usianya yang tak lagi muda. Sutarji Calzoum Bahri ( 82 tahun, lahir 24 Juni 1041), sampai saat ini masih terus menulis puisi. Bahkan puisi-puisinya kini semakin dalam dan menggunakan metafora yang berbeda dengan puisi ketika masa muda.
Di hadapan kita semua kini terletak sebuah buku puisi yang ditulis oleh seorang ibu, berusia emas, bernama lengkap Nofirza Ganefit Triah, berjudul Sentuhan Indah Nurani Kata, termuat sekitar 50 buah puisi. Selama ini beliau dikenal sebagai seorang pendidik/guru berstatus PNS, baik di SMA Semen Padang ataupun di SMP Negeri Padang, sampai saat beliau pensiun di awal 2024. Dan gelar akademik bidang pendidikan beliau peroleh dari UNP Padang, Sarjana Pendidikan (SPd), Tahun 1999. Kalau pada alinea pertama dari kata pengantar ini saya memulainya dengan kebugaran pada masa tua, maka tak salah juga hal itu saya tulis untuk mengantar buku Bu Nofirza ini. Mengapa ? Karena sang penulis ingin terus bahagia dan merasa smart dengan terus menerus menulis. Ini merupakan buku tunggalnya yang ke 2, setelah buku tunggalnya sebuah buku kumpulan pantun “Pituah Datuak” terbit tahun 2022. Kegemarannya menulis sejak muda, khususnya ketika menjadi guru, yang bersama sis-siswa lainnya mengasuh majalah dinding. Menulis apa saja, puisi, nasehat, humor, cerita mini, pantun, atau lainnya.
Sentuhan Indah Nurani Kata, dipilih sebagai judul buku nya, bukannya diambil dari sebuah judul puisinya, tetapi seluruh puinya ingin berbicara tentang nurani, bagian terdalam dan terjujur dari dirinya. Boleh jadi karena dalam alam Minangkabau, Bundo Kandung merupakan simbol dari kebijakan, kejujuran, kematangan, kedewasaan, keadilan dalam membawa masyarakat kepada alam yang sejahtera dan berkeadaban/berkebudayaan. Kalaulah terdapat cogan yang menyatakan bahwa Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, maka dimensi Ilaahi diserap dalam alam keasadaran masyarakatnya.
Dalam salah satu puisinya, Nofirza menulis sebagai berikut :
Pandangannya sangat dalam/jauh menembus angkasa/menghujam relung batin/tiada hambatan/lurus berarti/bersemayam disudut-sudut/
Saat tiba suatu peristiwa/sadarkah diri telah ada petunjuk/itulah tanda arah/mata hati masih sayang/arah kebenaran bercahaya/
(Puisi Mata Hati, bait 1 dan 4)
Dalam puisinya yang lain, saya ambil sebagai contoh, Rumahku Surgaku, sang penyair melukiskan betapa kedalaman ruhaninya dalam menghayati semua tuntunan Ilaahi, dalam berumah tangga, dalam kehidupan, dalam bermasyarakat. Coba dibaca beberapa bait dari puisinya itu:
Istana indahku amatlah molek/tempat berbaris sajadah/kalam Ilaahi bersahutan/hidangan yang Thoyibah/sederhana penuh cinta/
Kuingin pulang kata hari-hariku/memeluk cahaya disela-sela kaca/menyusup bak pantulan kilat zaitun/nikmat Allah mana lagi yang tak disyukuri?
(Puisi Rumahku Surgaku, baik 3 dan 6)
Dihadapan tuan dan puan sekarang ini, terbuka puisi-puisi Nofirza, seorang yang tak mudah menyerah pada kesepian, kesunyian, atau kesendirian. Ia selalu ingin juga mewarnai kehidupannya, dengan warna-warni yang mencerahkan. Siapa tahu kita semua dapat bersamanya untuk ikut serta di sana. Menulis baginya adalah untuk memecahkan kesendirian dan kesepian itu. Ia tak bersedia untuk mengalah, bahkan untuk sekejappun. Apalagi untuk selamanya.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Pekanbaru, 14 Juni 2024

PROF. MADYA M. HUSNU ABADI, S.H., MHUM., PH.D. adalah seorang Deklarator Hari Puisi Indonesia, di Pekanbaru, November 2012, Penerima: Z. Asikin Kusumaatmaja Award dari PPBHI Pimpinan Prof. Dr. Erman Rajagukguk (2014); Penghargaan Sastrawan Budayawan Pilihan Sagang (2015); Penghargaan Sastrawan Budayawan Sanggar LDT UIR (2005): Penghargaan MA’RIFAT MARJANI dari APHTN Wilayah Riau (2022). Buku puisi: Lautan Kabut ( UIR Press, 1998) ; Lautan Melaka (UIR Press, 2002) ; Lautan Zikir (UIR Press 2004); Lautan Taj Mahal (Salmah Publishing, 2021), Lahir di Majenang, 1950, memperoleh gelar SH (UIR), M.Hum (Unpad) dan Ph.D. (UUM Malaysia) dan kini sebagai Associated Professor pada UIR.

 

 

 

 

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan