Puisi By Tand, Romantik dan Kesunyian: Catatan Shafwan Hadi Umry

30

Pengantar

Barangkali waktu ini adalah momen yang terbaik untuk mengisi peluang yang disediakan DKM (Dewan Kesenian Medan) melalui komite sastra untuk membicarakan tiga penyair Sumatera Utara (B.Y. Tand, Damiri Mahmud, dan N.A. Hadian). Ketiga penyair ini sudah dikenal baik melalui hasil karya yang diterbitkan dalam bentuk buku maupun pembicaraan yang dilakukan para pengamat sastra di daerah ini. Misalnya, perbincangan sajak-sajak penyair melalui forum diskusi atau melalui berbagai media masa.

Barangkali DKM, saya, dan masyarakat pecinta sastra sama-sama bersepakat bahwa dunia sajak yang disajikan penyair adalah membicarakan tentang kita semua. Membicarakan tentang kegelisahan kita, tentang kesepian, dan kecemasan kita. Pandangan penyair dalam mengungkapkan struktur perasaannya yang merupakan pengalaman estetik berfungsi juga memperjelas perasaan kita. Pandangan penyair yang merupakan panoramik maupun analitik, memungkinkan kita melihat kehidupan kita ini penuh warna-warni dan mempunyai getaran realistiknya yang tersendiri.

Membicarakan puisi-puisi para penyair pada dasarnya mengungkapkan pengalaman sendiri. Dalam pengalaman estetik budi manusia memainkan peranan penting dalam melakukan semacam interpenetrasi (saling menerobos) antara jagad kecil dalam diri manusia dengan jagad semesta. Adakalanya seorang penyair membicarakan dirinya dalam alam semesta atau ia membicarakan keajaiban misterius alam yang menimbulkan inspiratif dalam dirinya.

Sajak hidup dalam dunia metafisis yang terkadang tidak mementingkan logika dan penalaran. Oleh karena itu yang dilihat sang penyair semacam intuisi yang meneruskan kesadarannya untuk melihat kehidupan ini dengan segala kegoncangan dan ketakjubannya. Salah satu sifat puisi modern, kata-kata yang dilepas oleh penyairnya melepaskan diri dari arti konvesi bahasa, dari arti sehari-hari lalu bergerak dalam momen motoris untuk mencapai arti dan makna yang baru dan tidak terdapat sebelumnya. Inilah sebabnya untuk menangkap makna keutuhan suatu karya yang dihasilkan para penyair modern sukar untu dirumuskan. Pada saat seorang penyair memakai kata-kata malah ia terlepas dari tirant benda-benda dalam lingkunganya. Bukankah 1001 benda dapat dicakup olehnya dalam satu ungkapan, kemudian benda di tangan atau diseberang sama kedudukanya, karena dengan kata la menjangkau ruang. Dengan kata ia menjangkau waktu. Keberanian penyair untuk menata bentuk-bentuk baru, lambang-lambang baru dalam masyarakat yang belajar bahasa semula memang dengan mengaitkan suatu kata dengan suatu benda yang bersifat konvensi. Keleluasaan penyair untuk memunculkan kata-kata atau simbol-simbol yang belum tertangkap dalam konvensi bahasa serta belum mengendap dalam bentuk. Di sinilah segi-segi bawah sadar manusia bermain dalam proses kreatifitas kepenyairan untuk memunculkan Imaji-imaji yang belum tertangkap dalam makna.

Kreatifitas banyak ditimba dari daerah bawah sadar manusia. Daerah ini sering pula secara naluri menunjang setiap gerak sadar kita yang jernih. Ungkapan dalam bentuk berpikir, Imaji, dan fantasi selalu dipungut dari perbendaharaan roh bawah sadar manusia. Sebagaimana yang dikatakan Fuad Hasan, “seorang artis kaya dan misiin sekaligus; kaya karena la senantiasa menatap keleluasaan kemungkinan untuk mencipta, miskin karena keleluasaan itu selalu diamati melebihi kemampuanya untuk mencipta. Ini pula barangkali yang menjadi satu di antara lain-lain sebab mengapa diduga orang bahwa sengketa sang artis yang paling dahsyat adalah dengan dirinya sendiri.” (1977: 633).

Kritik sastra modern pada hakekatnya menyingkapkan kembali pengalaman estetik penyair, oleh karena itu kritik sastra Justru menekankan dialog antara karya sastra dan pembaca. Sajak memerlukan dan berhak untuk dicurahi daya upaya total pula dari pihak pembaca yang bertanggung jawab sebagai pemberi makna pada sajak itu” demikian menurut A. Teeuw. Pembaca sebagai pemberi makna sajak sebagai dikatakan Teeuw mengisyaratkan bahwa pembaca sebagai partisipan yang aktif dan bersama-sama berada dalam suasana karya.

Publik puisi bukan lagi sekedar penonton tetapi juga pelaku. Hal ini mengubah sikap pengetahuan kepada pengalaman. Pembaca bukan mengetahui secara verbal tetapi mengalaminya atau merasakan suasana perasaan penyair sebagaimana la mengalami dan merasakannya sendiri. Oleh karena apa-apa yang disampaikan penyair adalah tentang persoalan kita, sejumlah kegelisahan dan kegembiraan kita. Berangkat dari sikap inilah kita mencoba memahami dan menikmati sajak-sajak penyair BY Tand.

Sajak-sajak B.Y. Tand dibangun dari imaji-imaji dan kata-kata yang manis dan mampu menekankan hati dan emosi pembaca. Simbol-simbol dan metafora dipungut penyair dari ekologi sosial dan interelasi situasional Dunia ekologi yang ditimba penyair dari sejumlah kata-kata ‘laut’, ‘badai’, dan ornamentasi pantai selalu ditemukan dalam ungkapan persajakannya. Keakraban penyair dengan sosok laut dan matahari merupakan pusat eksistensi manusia. Penyair misalnya menggambarkan alam dan manusia dalam situasi yang paling membutuhkan setiap saat. Alam yang pasif berubah menjadi alam yang aktif ditangan penyair karena alam itu diberinya bernyawa. Batu, daun, pohon, serta ombak dalam garapan penyair bukanlah sekadar lambang dalam artinya yang konvensional. Ia berubah menjadi arti yang personal dan universal.

Pemungutan kata-kata ‘badai’, dan ‘ombak selalu dominan digunakan B.Y. Tand bahkan menggambarkan sesuatu yang lebih besar dari kenyataan. la ingin melukiskan dunia, perasaan dan kesan-kesannya. Maka kesan itu diintensifkan serta diproyeksikan secara kuantitatif lewat pengalaman subyektif Misalnya, dapat ditemukan pada sajak yang berjudul, Tanyakan Batu-batu, Sajak Sehabis Mimpi, Di Antara Badai di Antar Senyap, dan Daun-daun Menatap.

Daun-Daun Menatap

Daun-Daun Menatap setelah hujan reda
kemana perginya deru angin yang menyebarkan
uap jerami dari ladang-ladang terbuka
sementara laut hijau di celah jari-jari hari
tiba-tiba memacakkan tiang-tiang
di beranda rumah tinggal.

Berita Lainnya

Barangkali dia kembali kepada ombak
Ibu kandung yang menyusuinya
sampai dewasa
kemudian menjadi badai
yang bakal menyinggahkan bayang-bayang panjang
di setiap pantai

(Episode)

Setiap karya seni tidak tumbuh dalam suatu kekosongan sosial, melainkan tumbuh dalam arus sejarah dan konteks sosial budaya. Penyair yang hidup dalam dunia modern senantiasa mengalami suatu ketegangan dengan dunia lingkungannya. la dapat merasakan isyarat-isyarat psikososial yang selalu menggoncangkan dan menggetarkan hati. Tidak mengherankan mengapa puisi modern tidak ditulis berdasarkan momen-momen tentang keindahan, melainkan oleh kejutan yang sedang mereka alami.

Melalui sajak-sajak Diam, penyair B.Y Tand telah menampilkan efek estetik dengan melakukan penyimpangan dalam pengucapan puisi-puisinya. Diam yang pasif telah diubah menjadi diam yang aktif. Pilihan kata ‘diam’ yang digunakan penyair menyarankan suatu kegelisahan yang bergerak dan bernyawa. Diam bukanlah sebagaimana yang dikatakan dengan “argumentum ex silentio” yang berarti diam untuk memberikan persetujuan, kalau pendapat Louis Gottschalk mau dipakai dalam pembicaraan ini. Diamnya B.Y. Tand adalah suatu kontras suatu penentangan sekaligus protes terhadap penbunuhan, penindasan atau kemunafikan manusia. Seperti dalam sajak Diam II penyair menulis:

Kau tuliskan diam di pasir-pasir
tak sempat terbaca angin
kau desahkan diam di gumam-gumam
tak sempat terdengar angin

Diamlah diam
angin terlalu sibuk
angin selalu sibuk, saudara
diamlah dalam diammu
arif dan bijaksana.

(Sajak Diam)

Dalam waktu dilanda kerancuan nilai-nilai dan struktur masyarakat amat mudah (untuk menuduh) bagi orang yang punya kekuasaan untuk memperbesar permusuhan. Dan adanya keresahan sosial itu sendiri mungkin mendorong mereka yang tidak terkena olehnya mengambil sikap berdiam diri. Meskipun demikian melalui pengalaman puitik penyair tidak mampu mendiamkan amarah yang tidak kunjung takluk dalam dirinya. Diam laut adalah diam yang menyimpan badai.

Kesadaran sosial penyair dalam sajak-sajaknya senantiasa menyuarakan protes sosial. B.Y. Tand adalah penyair komunikator yang memilih struktur percakapannya dalam dunia orang-orang kecil. la berusaha mengkomunikasikan keinginannya dan kehendak masyarakat biasa yang bergulat dengan berbagai ragam nasib manusia dan selalu terantuk dengan kegetiran dan kemalangan. Misalnya, sajak-sajak yang berjudul Seonggok Kata Berteriak, Kepada Jakarta, Komposisi, Sketsa V. Dalam sajak Kepada Jakarta, jelas sekali tergambar obsesi moral penyair yang ironis tentang nasib manusia yang tidak mampu menembusi tembok-tembok kekar struktur masyarakat kota yang saling tertutup. Penyair akhirnya melakukan gebrakan sosial yang nyaris menjadi semboyan dan petualangan.

Bionarasi

B.Y. TAND, Burhanuddin Yusuf Tanjung (atau dikenal sebagai B.Y. Tand atau Buyung Tanjung) melahirkan banyak karya dalam bentuk puisi, cerpen, dan buku. Ia menulis 20 puisi dan empat diantaranya diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda dan Inggris [yakni, De Tweede Ronde (1988); Tenggara: Modern Poetry in Southeast Asia (1989); Managerie I (1992); The Horizon of Hopes: Modern Indonesian Poetry of North Sumatra (1998)]. Dengan kerja kerasnya, Tand menjadi pujangga (Author) dengan 17 judul buku baik dalam bentuk antologi puisi, cerpen, dan esai Ia lahir tanggal 10 Agustus 1942 di Indrapura Kabupaten Asahan, ,,Nama Istri Rosni (Almh.), anak-anaknya : 1. Yose Rizal, 2. Nila Juwita, 3. Kartini, 4. Nizmawati, 5. Susilawati, 6. Iskandar Muda (Alm), 7. Taufiq Hidayat, 8. Agustini Evawati, 9. Sri Wahyuni, 10.M. Akbar Adami (Alm).Menulis sajak, cerpen, esei sejak tahun 1963. Selain selalu menerima berbagai penghargaan bidang penulisan karya sastra,memenangi Anugerah Puisi Putera Asia Tenggara (1984) yang ditaja Gapena.Penyair BY Tand menduduki peringkat II dalam kumpulan puisinya “Sketsa” dan Sapardi Djoko Damono peringkat I serta Zurinah Hasan (Malaysia) sebagai peringkat III. Puisinya diterbitkan dalam judul “Sajak Diam (Balai Pustaka, 1998) diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan Jerman. Ia sering diundang dan hadir dalam berbagai pertemuan sastrawan di Medan, Jakarta maupun Malaysia. Karya-karyanya dimuat di media massa Medan dan Jakarta serta Kuala Lumpur seperti Mimbar Umum, Waspada, Analisa, Horison, Berita Buana, Suara Karya, Suara Pembaruan, Merdeka, Pelita, Prioritas, Republika, Amanah, Basis, dan Dewan Sastra. Tand pernah kuliah di Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS) IKIP Negeri Medan pada 1969 (tidak selesai) dan pada 1975 ia kuliah di UISU Jurusan Sejarah (tidak selesai juga) Pada tanggal 22 Oktober 2000, musafir sastrawan asal Sumatra Utara ini meninggal dunia dengan tenang dalam usia 58 tahun di kampungnya Indrapura. (Tuah Esha)

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan