Puisi Simbolisme Soni Farid Maulana: Catatan Shafwan Hadi Umry

179

Puisi Simbolisme Soni Farid Maulana

Tulisan ini untuk menguak tabir larik puisi Soni Farid Maulana (lahir19 Februari 1962, Tasikmalaya Jawa Barat) dengan pendekatan simbol dalam teori Halley. Ada tiga kumpulan puisi sang penyair yang diambil sebagai mewakili sejumlah metaforisma dalam teori Halley (Metaphors,1980).

Pekerjaan seorang penyair atau sastrawan adalah menciptakan, sedangkan pekerjaan seorang pembaca sastra adalah memahami dan mendalami hasil pekerjaan satrawan itu. Bagi penyair, menurut Sartre , “bahasa adalah suatu struktur dunia luar. Pembicara berada dalam suatu situasi dalam bahasa.Ia dikurung dengan kata-kata . Sejumlah kata ini adalah penyambung-penyambung artinya, jepitan-jepitannya, sungut-sungutnya, kacamata-kacamatanya.(Lih. Soekito dalam Hadi, 2012) Ia mengolah gerak dari dalam, ia merasakannya seolah-olah sebagai badannya sendiri. Ia dikellilingi oleh sesosok badan kata-kata yang hampir tidak diinsafinya yang meregangkan aksinya atas dunia. Dengan kata lain penyair berada di luar bahasa.

Seorang penyair atau sastrawan yang menulis buku-buku untuk masyarakat umum tetap berada dalam bahasa.Namun, ketika ia menulis dalam genangan proses penciptaan maka yang terjadi adalah bahasa sebagai suatu dunia luar, karena ia sedang menciptakan objek-objek termasuk kata-kata secara kreatif. Sejumlah kata berupa jepitan dan sungut-sungut tadi berupa ungkapan metaforis berkonotasi semantik sebagai penyambung makna yang ingin disampaikan penyair kehadapan pembacanya.

Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk menganalisis sejumlah kecil puisi Soni Farid Maulana dari tiga buku kumpulan puisinya masing-masing berjudul Sehabis Hujan, Arus Pagi, dan Kisah Suatu Pagi dengan menggunakan pendekatan model Halley tentang simbol untuk mengetahui dan memahami ruang persepsi manusia dalam penciptaan puisi yang terdiri atas sembilan hierarki .

Perumusan masalah yang yang muncul adalah (1) Bagaimanakah simbol metaforisma dalam puisi karya Soni Farid Maulana yang mewakili ruang persepsi manusia? (2) Apakah makna simbol yang digunakan penyair sesuai degan klasifikasi Halley yang mencakup sembilan jenis kategori pada puisi karya Soni Farid Maulana?

Klasifikasi simbol yang dimaksud adaiah klasifikasi menurut Halley (1980) yang mencakup sembilan jenis kategori, yakni (a) being, (b) cosmos, (c) energy, (d) substance, (e) terrestial, (f) object, (g) living, (h) animate, dan (i) human. Penggunaan simbol-simbol metafora mengetahui ruang persepsi manusia dalam penciptaan puisi dapat mengikuti model Halley di atas yang terdiri atas sembilan hirarkhi tersebut.

Berdasarkan paparan di atas data yang digunakan sebagai landasan pembahasan dalam tulisan ini adalah larik-larik puisi yang merujuk ungkapan-ungkapan metaforisma pada puisi Soni Farid Maulana yang diambil sebagian dari buku “Sehabis Hujan”, (1976-1990) (b) buku “Arus Pagi” (Sehimpun Sajak 1996-2012) dan (c) Kisah Suatu Pagi, Sepilihan Puisi (2010-2017).

Untuk memudahkan penulisan penulis membatasi lima puisi sebagai populasi dengan mempertimbangkan keterbatasan waktu dan pembahasan. Tahap analisis awal adalah pembahasan dari aspek simbol yang terdapat pada puisi Soni Farid Mualana berdasarkan teori Halley.

1. Puisi Padang Bunga

Analisis Simbol pada puisi “Padang Bunga” di atas terbagi atas suasana ‘surga’ kegirangan batin sang penyair lebih dominan menguasai dirinya dibandingkan kegelisahan dan kemurungan hati. Hal ini terdapat pada simbol: surga, kecerahan, ketenangan, kegembiraan, kegirangan. Pada kegelisahan terdapat pada (kerisauan, keragauan, dan kegalauan). Alangkah bening dan sejuknya pandang matamu/bagai kehijauan rerumputan bagai sehabis hujan/Dalam hatiku/ada ruang yang menyimpan cahaya matamu.

2. Puisi Etsa

Penerapan Simbol Puisi “Etsa”. Analisis simbol pada puisi di atas menampilkan kegelisahan batin manusia yang menyadari atas semua dosa yang dilakukannya selama hidup. Hal ini ditandai pemakaian kata ‘arang’ (simbol kenakalan dan kejahatan) yang diulang sebanyak dua kali.

Kain kafan yang ditenun bulan/Terhampar di hadapan /hujan dinihari/adalah doa yang mengubah tanah yang berbatu/selunak tepung terigu. Dikedalaman kau dikuburkan/dankau/mata air yang tak pernah kering/menghanyutkan segala noda kehidupan/dari dadaku sehitam arang.

3. Analisis simbol yang ditemukan dalam puisi “Lengang” adalah panggilan pulang yang ditujukan kepada si aku lirik (sang penyair) Kepulangan ini bisa juga ditafsirkan keinsafan akan kematian yang diperkuat ‘suasana alam puisi yang begitu mencekam.

Ketika sebuah suara memanggil namaku/ Selantun mpu kembang, aku menoleh/ke kiri dan ke kananJuga menoleh semua arah/yang tampak hanya bayang-bayang/pohonan remang/cahaya bulan/sebentang langit/malam dengan sehampar kabut tipis/tembus pandang antara risik dan rumputan dan bisu bebatuan /aku hayati panggilan itu/ia isyarat panggilan pulang

4. Penerapan Puisi “Rumpun Bambu”: di bawah bulan biru/Desir daun bamboo menafsir rinduku/kepada-Nya/dari balik jendela/suara cengkerik/aku dengar malam ini/gelik suling dalam tembang/Cianjuran: mpu kembang/dan kau Po/mengekalkan semua itu/dalam garis warna tinta cina/di atas kertas sketsa mistik/menggetarkan jiwaku yang dalam.

Analisis simbol puisi di atas menceritakan kekaguman penyair/si aku lirik kepada pelukis Popo Iskandar (seniman pelukis Indonesia) yang mampu mengguratkan pena lukisannya ke hati dan jantung penyair Soni Farid Maulana.

5. Penerapan Puisi “Sajak Malam“: dalam gelap matamu bersinar/bagai cahaya bulan menerangi hatiku/burung malam tiada henti bernyanyi/seakan melepas isyarat akan rindumu/yang bara membakarku habis sudah/di arah kiblat kekasihku/aku ada/dalam ayat-ayatmu yang dilantunkan/para musafir/kau arus hidupku

Analisis simbol pada puisi di atas adalah menggambarkan kesadaran relegius sang penyair terhadap Allah Yang Mahakuasa melaluisaluran ayat-ayat yang dibacakan (dilantunkan) musafir yang singgah sejenak di dunia untuk kembali mengikuti ‘arus takdir’ yang ditetapkan Allah Yang Mahakuasa.

Simpulan

Hasil pengamatan terhadap 5 (lima) puisi Soni Farid Maulana berdasarkan distribusi ungkapan metaforisma di atas jumlah simbol bervariasi dengan ruang ‘human’ menempati jumlah terbanyak (44%) kemudian diikuti oleh object dan cosmos serta terrestrial yang berimbang (5%). Untuk kategori energy (8,5%) dan diikuti masing-masing living dan animate (4%). Kategori human sebagai simbol metafora pada puisi Soni Farid Maulana menunjukkan keberadaan kepenyairan Soni yang lebih bertumpu pada pengalaman batin, pengalaman personal yang dieksplorasi secara kuantitatif dan disampaikan secara heuristik melalui penglihatan dan pendengaran kepada pembaca dalam pengalaman secara korelatif yang juga pernah dialami pembaca .*

*Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan