

Penulis: Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Arsitektur Universitas Mercu Buana Jakarta
Perkembangan arsitektur kampung susun tidak terlepas dari industrialisasi dan pertumbuhan kota-kota besar. Pada masa ini, masalah perumahan menjadi semakin mendesak akibat pergerakan urbanisasi yang pesat. Sebagian besar arsitek dan perencana kota mulai mencari solusi untuk menyediakan hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan di bawah rata-rata. Di Indonesia, selain hunian rumah individu perencanaan kampung susun juga menjadi pilihan solusi terkait dengan masalah perumahan di perkotaan terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Kota Jakarta memiliki beberapa contoh kampung susun yang cukup terkenal, seperti Kampung Susun Akuarium dan Kampung Susun Kunir. Kampung susun ini dibangun untuk merelokasi warga yang tinggal di kawasan kumuh atau terdampak penggusuran.
Area Kampung Susun Kunir, sebagai salah satu saksi sejarah kawasan Kota Tua Jakarta, bukan sekadar tempat untuk tinggal, tetapi ruang hidup yang penuh kisah dan semangat komunitas yang telah berjuang dan harus tetap berjuang. Sebagai bentuk implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, Program Studi Arsitektur Universitas Mercu Buana menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat di Kampung Susun Kunir. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kontribusi nyata kepada kota dan penduduknya, dengan memadukan ilmu arsitektur dan kepedulian sosial. Pendekatan yang digunakan adalah arsitektur partisipatif dan kontekstual, melibatkan masyarakat dalam perancangan yang sesuai dengan lingkungan mereka.
Pilihan topik pengabdian masyarakat saat ini disesuaikan dengan kebutuhan warga terkait kualitas hidup saat ini sekaligus memastikan dampak positif jangka panjang untuk keberlangsungan komunitas di Kampung Susun Kunir. Contoh konkret meliputi optimalisasi desain pada area usaha warga untuk meningkatkan ekonomi lokal yang terletak di lantai dasar yang dipergunakan untuk usaha berjualan makanan dan minuman, perancangan ruang komunal yang ramah interaksi, pengembangan mushola sebagai ruang spiritual yang inklusif, hingga optimalisasi ruang terbuka hijau sebagai area bermain anak serta lahan hidroponik dan urban farming yang menunjang ketahanan pangan keluarga.
Ruang-ruang yang sebelumnya terabaikan dan tak terpakai, seperti area di antara bangunan, ditinjau ulang dan didesain ulang untuk dihidupkan kembali, memberikan fungsi baru yang lebih bermanfaat bagi warga. Selain itu, area teras unit, sentra kuliner, dan ruang usaha warga dioptimalkan melalui pendekatan desain yang efisien dan humanis. Untuk memastikan realisasi rancangan berjalan efektif, aspek teknis seperti rencana anggaran biaya dan penjadwalan pekerjaan juga disusun dengan cermat.
Kegiatan pengabdian ini tak hanya berfokus pada sisi visual dan struktural arsitektur, melainkan juga merambah nilai-nilai ekologis dan keberlanjutan. Ini diwujudkan melalui rancangan taman vertikal, sistem bank sampah, dan pemanfaatan elemen arsitektur yang adaptif terhadap konteks serta budaya lokal. Lebih dari sekadar membangun ruang, inisiatif ini menegaskan bahwa arsitektur berperan dalam membentuk hubungan antara manusia, lingkungan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Melalui kolaborasi erat dengan warga, pengabdian ini menjadi proses pembelajaran dua arah yang sangat berarti, di mana masyarakat berperan sebagai mitra aktif dan kampung menjadi ruang belajar nyata yang membumi.