Suara untuk Kelestarian Lingkungan dalam Buku Puisi “Membaca Laut pada Kampung yang Hilang”: Catatan Febrio Rozalmi Putra

228

Secara teori sosiologi lingkungan (environment sociology) merupakan cabang sosiologi yang memusatkan kajiannya pada adanya keterkaitan antara lingkungan dan perilaku sosial manusia. Perilaku sosial manusia akan berdampak positif atau negatif pada lingkungan itu sendiri. Lingkungan di sini dapat berupa pemanfaatan sumber daya alam, pencemaran dan kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh manusia dengan beragam alasan sebagai dampaknya.

Suara Gelisah
Enam puluh sembilan puisi pada buku serimbun puisi hijau “Membaca Laut pada Kampung yang Hilang” karya Bambang Kariyawan Ys merupakan suara gelisah terhadap kondisi lingkungan saat ini yang perlu menjadi perhatian kita. Seperti pada penggalan kalimat di bawah ini:
Menanti nelayan yang ditinggalkan ikan
Menghirup aroma laut yang tak asin lagi
Bercampur dengan aroma-aroma yang membau
Dari kiriman perjalanan angin utara
Menghitam dari bangkai kapal yang menua
Berkelebat gesit bak hantu laut
Membuang lendir limbah (h. 6)
Penulis menggugah hati kita dengan diksi yang indah dan penuh makna akan kondisi laut kita kini. Keresahan itu bukan hanya di laut, sungai, gunung, atau hutan saja. Penulis juga mengungkapkan pada lingkungan perkotaan. Seperti pada penggalan kalimat di bawah ini:
Seperti berkisah tentang hilangnya sesuap udara
Tersekap dalam polusi dari knalpot kendaraan melewati batas emisi
Kita dengar kicau burung yang asing di telinga
Tentang bau asap yang mengepul di pagi ini
Tentang suara-suara maki yang menusuk hati (h. 3).

Suara Marah
Manusia sebagai makluk sosial membutuhkan elemen dari luar dirinya. Salah satu elemen itu adalah lingkungan. Jika lingkungan itu dirusak atau tidak dijaga oleh segelintir orang maka yang akan merasakan bukan hanya mereka, tapi kita semua. Wajar kiranya kita marah pada tangan-tangan yang tak bertanggungjawab, pada mereka yang punya kuasa tapi terbelengguh, pada mereka yang ditutup matanya oleh kesenangan fana, dan pada mereka yang lupa kepentingan bersama. Penulis menyuarakan emosi marah itu pada puisi-puisi di bawah ini :
Kampung ini belum hilang …
Kampung ini belum tenggelam …
Kampung ini belum terbuang …
Belum !!! (h. 1)

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Pada siapa muak ini nak kurapalkan
Yang seharusnya bicara
Diam …
Yang seharusnya bertindak
Membatu …
Yang seharusnya menyelamatkan
Entah …
Pengecut !!! (h. 38)

Oooiiii semua mambang
Kularung rindu pada bumi yang satu
Oooiiii dimana …
Lantaklah ! (h. 47)

Pada satu sisi, manusia dipegaruhi oleh lingkungan. Tetapi pada sisi lain, manusia memiliki kemampuan untuk mengubah lingkungan. Ada kecukupan di lingkungan untuk kebutuhan manusia, tapi tidak untuk keserahakan. Puisi-puisi yang terdapat pada buku serimbun puisi hijau “Membaca Laut pada Kampung yang Hilang” ini, menyadarkan kita bahwa manusia sudah terlalu jauh mengubah lingkungan seperti, laut, sungai, hutan, udara, flora, fauna, dan elemen bumi lainnya. Akibatnya manusia itu sendiri yang akan kehilangan lingkungan dan menjadi susah.
Bentuk prihatin kita terhadap lingkungan yang sudah berubah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya yang diperbuat oleh penulis. Penulis menyuarakan dan mengajak kita untuk melestarikan lingkungan melalui diksi-diksi pada puisi dalam buku ini. Warisan termahal dan terbaik dari diri kita untuk lingkungan adalah keindahan akhlak kita padanya. Mari lestarikan lingkungan. Salam literasi hijau.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan