MENAFSIR SUBUH DALAM “KEHILANGAN TUHAN”

189

Dada penuh luka

Lukaku laku yang luka

Darah ngalir dalam nganga nganga di merah darahku

Subuhlah pengobatnya

Ini bukan subuh terakhir …

(Menabung Subuh, h. 183)

Sebait puisi tersebut berbincang tentang subuh. Subuh memiliki banyak hikmah dan misteri. Subuh di bulan-bulan biasa akan teramat berbeda dengan subuh di kala Ramadan. Gelombang keramaian memakmurkan masjid mendadak terjadi. Terlepas dari ini hanya sekedar fenomena, namun subuh tetap menyimpan hikmah dan misteri yang teramat sayang dilewatkan.

Kedahsyatan Subuh

Di antara waktu-waktu istimewa yang diciptakan Allah SWT untuk Muslim adalah saat Subuh. Di dalamnya terkandung banyak keberkahan. Begitu mulianya waktu Subuh, Rasulullah SAW secara khusus berdoa. ”Ya Allah berkahilah umatku selama mereka senang bangun Subuh.” (HR Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).

Rasulullah SAW mengungkapkan, bila umatnya bangun dan melaksanakan sholat Subuh berjamaah di masjid, maka Allah SWT akan melindunginya seharian penuh. Seperti dikatakan Jundab bin Sufyan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang menunaikan salat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. ” (HR Muslim).

Salat subuh berjamaah di masjid itu merupakan dasar utama kekuatan umat Islam. Kita ingat pernyataan jujur Golda Meir. Mantan Perdata Menteri Israel itu menyatakan “kami tidak takut kepada kaum muslimin. Yang kami takuti adalah ketika kaum muslimin salat subuh berjamaah di mesjid sama jumlah jamaahnya dengan jamaah salat Jumat”. Begitulah, ternyata salat Subuh berjamaah di masjid itu sumber utama kekuatan umat Islam.

Tafsir Subuh

Kedahsyatan salat Subuh menjadi inspirasi berkarya bagi seorang Jasman Bandul, pengajar kreatif dari Desa Bantul, Meranti. Dalam buku yang diberi judul “Kehilangan Tuhan”, diterbitkan DOTPLUS Publisher tahun 2022, penyair menghimpun 98 puisi dengan tema serupa berupa tema religi. Simbol-simbol religi Islam dan Ramadan (mengingat puisi-puisi ditulis dalam masa Ramadan dan covid) hadir memenuhi judul dalam buku. Sajadah, doa, kurma, beduk, salat, dan simbolik lainnya memberikan identitas buku puisi yang kuat mengingat mengangat satu tema yakni religi.

Simbol “subuh” menjadi pilihan penyair untuk mengulang-ulangnya dalam 11 puisi dengan judul sejenis. Dapat kita lihat “Subuh dan Hujan”, “Kuah Subuh”, “Jika Kehilangan Subuh”, “Subuh Tumpah di Telapak Tangan”, “Dialog Subuh”, “Menakik Subuh”, “Subuh yang Keduapuluh”, “Subuh”, “Lelaki dan Sebuah Subuh”, dan “Subuh dalam Tubuh”.

Beribadah subuh yang istiqomah memerlukan kekuatan hati untuk melawan godaan. Termasuk godaan cuaca. Kala hujan datang, berjamaah Subuh di masjid menjadikan keragu-raguan untuk melangkah. Bisikan-bisikan antara pergi ke masjid atau di rumah saja saling bergantian. Kala pilihan itu jatuh di rumah saja, terkadang muncul rasa sesal. Apalagi bila mengingat kembali kajian tentang hikmah Subuh berjamaah di masjid, kembali sesal melanda. Dapat kita lihat dalam puisi “Subuh dan Hujan”.

Sebab subuh ini teramat dingin,

Pintuku nyaris katup kembali …

Hujan menukik ke halaman rumah

Subuh lurus menuju fajar

Laraku belum tuntas

Puisi yang lain mengisyaratkan rasa sesal kala kehilangan subuh dalam “Jika Kehilangan Subuh”.

Sebak di waktu malam

Beberapa larik surel yang kuterima

Berita Lainnya

Selalu menemui haknya,

Dan kubalas dengan rela

Ia menjebakku.

Subuh akan runtuh.

Banyak cara menjaga sahur dan subuh kala Ramadan. Subuh kala puasa terasa beda dari subuh-subuh yang biasa. Rutinitas setelah salat lail kita perlu jeda untukmenyambut sahur dan subuh. Perlu lebih awal tidur untuk mengumpulkan energi terbaik. Meskipun sebenarnya tidur awal setelah Isya dalam berbagai kajian itu keadaan yang baik. Lihatlah puisi “Kuah Subuh”.

Tidurku lebih awal mala mini

Terasa singkat sekali

Anak-anak beduk menyusuri subuh

Menawarkan nyanyian riuh

“Kehilangan Tuhan” menjadi referensi subuh yang bermakna karena melukiskan subuh dalam masa bencana covid. Subuh yang sunyi karena sempat masjid dan rumah Allah lainnya ditutup. Dilihat kesunyian itu dalam “Dialog Subuh”.

Ini musim paling duka kematian dan

Kemiskinan merayap lancar

Umpama kerumuman kendaraan yang menyibukkan.

Walau subuh ini tanpa beduk,

Kau akan kuat merayakan musim ini.

Sebuah catatan saja, persebaran 98 puisi dalam buku ini akan lebih menguatkan tema bila setiap sub tema terhimpun dalam bagian yang sama. Struktur seperti itu akan membuat pembaca sangat menikmati pilihan-pilihan sub tema puisi yang ingin direnanginya. Secara filosofis mengapa tidak 99 puisi yang dituliskan agar membias pada 99 asmaul husna. Namun terlepas dari itu Jasman Bandul telah menghasilkan energi terbaiknya sebagai umat dan penyair melalui karya “Kehilangan Tuhan”. Tahniah.

Kita akan mengakhirinya

Jenak waktu yang singkat

Entah seberapa dalam terdiam

Subuh dalam tubuh

(Subuh Dalam Tubuh, h. 163)

Bambang Kariyawan Ys., Sastrawan

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

2 Komentar
  1. Daris Kandadestra mengatakan

    Amazing

  2. Daris Kandadestra mengatakan

    Ma sya Allah.