Imran duduk di atas sajadah berharap bisa menyelesaikan bacaan Alquran 30 juz di bulan Ramadan tahun ini.
Tekadnya untuk mengamalkan nilai Ramadhan sudah dia rencakan di setiap ramadhan datang.
Namum gangguan selalu hadir dengan berbagai alasan dan kondisi, dia belum pernah mengkhatam Al-Qur’an di setiap bulan Ramadan.
Ramadhan kali ini, semangat itu dia tanam lebih dalam lagi.
Melalui kegiatan santapan Ramadan dan kajian subuh, membuat ayah yang sudah menghidupi empat orang anak ini semakin termotivasi untuk menyesaikan khatam Al-Qur’an.
Setiap hal yang mengganggu dan menghalangi jalan menuju khatam Al-Qur’an, bisa diatasi oleh guru yang mengajar di bangku Sekolah Dasar ini.
“Ayah, Ari sebentar lagi tamat SMP dan ingin melanjutkan ke SMK Pertambangan.” Anak lelaki yang lebih tinggi dari dirinya mendekati sajadah biru yang terbentang.
Belum sempat Imran menanggapi, dari arah dapur, secepat kilat seorang wanita paruh baya langsung memberikan komentar.
“Ari, kamu harus tetap melanjutkan ke SMAIT di tempatmu sekarang saja.!”
Wanita yang sudah melahirkan Empat orang anak itu, memberikan bayangan bahwa anak laki-lakinya itu, jika keluar dari asrama dan akan sulit mengendalikan diri.
“Ari tidak mau melanjutkan lagi di sana. Ari mau masuk SMK Pertambangan supaya cepat dapat pekerjaan dan membantu biaya keluarga. Ari tak mau terlalu lama membebani orang tua!”
Imran menyudahi tadarus nya lalu melipat sajadahnya.
Ari membantu ayahnya untuk meletakkan Alquran dan sajadah ke tempatnya.
Imran mengajak Ari untuk duduk bicara serius.
Imran memulai penjelasannya, beliau tak melarang Ari untuk melanjutkan ke SMK Pertambangan. Dia menghela napas panjang, diusianya yang tidak muda lagi, belum ada anaknya yang bekerja apalagi menikah.
Usaha dan tekadnya untuk memaksa anak pertamanya untuk kuliah dan bisa mandiri untuk membantu adiknya, sepertinya belum ada hilalnya.
Mungkin itu pula yang merubah pola pandang ayah dan Anak itu.
Seolah Ari merasakan kegelisahan ayahnya yang selalu menunggu abangnya bisa segera ujian sarjana dan bekerja.
Kini Imran seolah berusaha melupakan kondisi anak pertamanya yang juga belum juga menyelesaikan kuliahnya, walaupun sudah berada di tahun akhir.
Sementara Irma mengkhawatirkan anaknya masuk SMK dan mudah terpengaruh oleh dunia luar seperti yang dialami anak sulungnya.
Diskusi keluarga kali ini tidak menghasilkan keputusan apapun. Mereka tetap pada pendapat masing-masing.
Imran sebenarnya sudah menyetujui permintaan Ari untuk melanjutkan ke SMK Pertambangan namun istrinya merasa bahwa anak bungsunya itu akan mendapat masalah besar jika berada di dunia luar.
Ari yang baru beberapa hari di rumah mulai gelisah, dia merasa keinginannya tak mendapat restu orang tua.Sementara dia sudah tak mau lagi untuk melanjutkan belajar di pondok pesantren tempat dia belajar saat ini.
Awalnya, lelaki yang rajin tadarus Al-Qur’ an itu ingin menyelesaikan belajar di pondok pesantren hingga tingkat SMA dan melanjutkan belajar ke Al Azhar Mesir. Namun akhir-akhir ini rencananya berubah drastis.
Sepulang salat tarawih, melihat ayahnya bertadrus Al-Qur’an. Dia pun ikut bertadarus bersama ayahnya lagi.
“Ari, kamu harus menyelesaikan khatam Al-Quran Ramadan tahun ini, ya.Sudah sampai juz berapa tilawahmu di pondok?”
Ari pun menjelaskan bahwa dia sudah mengkhatam Al-Qur’an dua kali di pondok dan bertekad mengkhatam Al-Qur’an selama berada di rumah satu kali lagi
Imran sangat senang mendengar penjelasan Ari.
Dia bisa merasakan perbedaan karakter Ari berbeda dengan abangnya. Dia pun yakin bahwa anaknya itu tak akan mudah terpengaruh dengan dunia luar seperti yang dikhawatirkan oleh istrinya.
Imran kembali fokus membaca Alquran untuk menyelesaikan nya. Setiap selesai membaca Alquran, dia berdoa kepada Allah agar anaknya mendapatkan jalan terbaik. Dia menghindari pertengkaran keluarga, dia lebih percaya keajaiban Allah sebelum dia meluluhkan hati istrinya untuk bisa menyetujui permintaan putranya. Permintaan putranya mendapatkan dukungannya karena usianya yang tak muda lagi Dia juga khawatir kalau dia tak bisa membiayai kuliah anaknya nanti.
Dia bimbang, sebenarnya dia tahu bahwa rezeki itu sudah diatur Allah, kita sebagai hamba hanya berusaha dan berdoa untuk menjalankan takdir Allah. Akan tetapi ketika dia memperhatikan perkembangan anak pertamanya, membuat dia menjadi ragu.
Dia tersentak dari pikiran buruknya, dan berusaha fokus meminta pertolongan hanya kepada Allah.
“Ya Allah, engkau maha mengetahui keadaan hamba-Mu. Kami makhluk yang lemah, yang banyak mengeleluh dan kurang bersyukur, ampunilah dosa dan kesalahan kami, melalu ramadhan tahun ini, dengan berkah tilawah Al-Quran ini dan amalan kami yang sedikit ini, berilah kami jalan keluar dari setiap yang kami hadapi. Lunakkan hati kami dan berikanlah yang terbaik untuk kami dan anak keluarga kami. Jika anakku melanjutkan ke SMK Pertambangan ini baik menurut-Mu, bukakanlah pintu hati istriku untuk mendukung rencana anaknya. Dan jika menurut-Mu itu bukan yang terbaik, maka masuklah Ilham ke dada anakku sehingga dia mampu menerima apa yang diputuskan. Aamin.
Imran larut dalam permintaannya, semoga mereka mampu menjadikan Ramadan yang berkah ini menjadi harapan makbulnya semua doa dan harapan.
Di malam ke dua puluh tujuh, Imran berhasil mengkhatam Al-Qur’an dan didampingi putra bungsunya. Malam itu hening, Imran mengajak putranya untuk meminta pertolongan Allah dan menjadikan Ramadan ini penuh keajaiban. Mereka berharap semua doa dan harapan terkabul.