dari mana airmata bermula
dari muara duka di lubuk dalam
riak tak ada gelombang pun tak
sembilu menyayat pilu
darah perih merendam rindu-rindu
orang-orang terkasih di mana-mana
melepas pilu di kepungan tirani besi
seorang muazin memanggil di ketinggian menara
burung-burung menitip sayap
berzikir dan barzanji
irama mencari not angka di kedalaman jiwa
suara bersahutan memanggil-manggil illaahi
dari mana airmata bermula
dari muara duka tak diam
ribuan abad rindu tak tertahankan
janji bertemu illaahi
dalam takzim dan tulus hati
semakin jauh berkayuh di perahu nikmat ini
jarak berpijak terus kurengkuh
ada di mana aku ini
dan belum juga bersua
kekasih abadi
kuhimpun segala jerit rindu
di kamar-kamar khalwatku
di malam-malam tahajud
menanti pertemuan yang terjanji di kitab suci
burung-burung menitip sayap
berzikir dan barzanji
airmata kini mencari sedu sedan di kelopak jiwa
masih adakah rongga bagi ruh-ku wahai Mahaabadi
perjalanan memang tak sebatas jarak
langkah tak sebatas pijak
rindu tak sebatas isak
bila ada rasa ingin yang tak terucap
hanya segala rindu terbelenggu
bertemu sang Mahaabadi di ruang tahajudku
walau kering airmata mencari sungai duka
dari nyanyian barzanji membasuh luka
rasa rinduku masih terbelenggu
menuju-Mu, Mahaabadi
Pekanbaru, 2003
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com